Claim Missing Document
Check
Articles

Found 6 Documents
Search

DESTINATION BRANDING WISATA BELANJA KABUPATEN MAGETAN (Studi Deskriptif Kualitatif Pada Sentra Industri Di kabupaten Magetan) Farida, Siti Ning; Suksmawati, Herlina -
Jurnal Bisnis Indonesia Vol 11, No 01 (2020): Jurnal Bisnis Indonesia
Publisher : Program Studi Ilmu Administrasi Bisnis

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kabupaten Magetan sudah cukup dikenal oleh masyarakat nusantara sebagai daerah pengrajin bahan baku kulit mulai dari proses bahan mentah menjadi bahan jadi, berbagai jenis olahan kulit samakan banyak diproduksi di daerah ini. Yang menjadi produk unggulan, salah satunya adalah sepatu kulit. Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan tahap pembentukan dan elemen pembentukan destination branding wisata belanja di sentra industri kulit di  Kabupaten Magetan. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori message production serta goals-plans-action model dari Dillard. Beberapa konsep yang digunakan adalah konsep mengenai identitas korporat, branding, destination branding meliputi tahapan dan elemen pembentukan destination branding. Hasil penelitian ini menunjukan tahapan pembentukan sentra industri kulit sebagai destination branding Kabupaten Magetan, diawali dengan menentukan segmentasi pasar, lalu selanjutnya membangun identitas dan yang terakhir adalah mengimplementasikan keberadaan sentra industri kulit sebagai destination branding. Elemen pembentukan sentra industri kulit sebagai destination branding Kabupaten Magetan ada pada produk yang dimiliki oleh sentra industri kulit tersebut. Ciri khas dan kelebihan produk yang dimiliki oleh sentra industi kulit membentuk elemen brand identity dan brand essence serta brand image pada destination branding Kabupaten Magetan.   Kata kunci : Destination branding, Brand Identity, Brand Image, Sentra Industri Kulit, Kabupaten Magetan.  
Persepsi Generasi Milenial Terhadap Hari Belanja Online Nasional Pada E-Commerce Shopee Nabila Dafa Purwa; Herlina Suksmawati
Expose: Jurnal Ilmu Komunikasi Vol 5, No 1 (2022)
Publisher : President University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33021/exp.v5i1.3533

Abstract

Hari Belanja Online Nasional atau yang disebut dengan HARBOLNAS merupakan hari dimana Shopee mengajak masyarakat mengenal kemudahan dalam berbelanja online. Fenomena Hari Belanja Online Nasional (HARBOLNAS) sangat digemari masyarakat luas. Hal tersebut dikarenakan Shopee mengadakan banyak promo gratis ongkos kirim dengan minimum belanja sehingga banyak mengubah presepsi masyarakat tentang belanja online. Namun dari fenomena tersebut masyarakat juga menganggap bahwa hal tersebut dapat membuat berperilaku konsumtif, karena dapat membuat masyarakat tergiur dengan adanya promo-promo menarik yang ditawarkan, dengan melibatkan Brand Ambasador ternama. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis persepsi generasi milenial terhadap Hari Belanja Online Nasional pada e-commerce Shopee. Metode penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif, dengan metode pengumpulan data menggunakan wawancara mendalam (in depth interview) dan observasi menggunakan google form yang di bagikan melalui Instagram dan Whatsapp untuk mencari dan menyaring informasi. Teknik analisis data menggunakan analisis model interaktif Miles, Huberman dan Saldana, yaitu melalui tahap pengumpulan data, kondensasi data, penyajian data, dan menarik kesimpulan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa mayoritas informan berpersepsi positif dengan banyaknya promo, diskon, gratis ongkir, voucher, cashback, sistem pembayaran yang mudah, serta barang lengkap dan up to date. Berdasarkan presepsi tersebut dapat disimpulkan bahwa tampilan Shopee dan brand ambassador tidak memberikan pengaruh kepada informan. Kata Kunci: e-commerce, belanja online, generasi milenial, hari belanja online nasional, persepsi
Cultural Tourism and The Use of Local Wisdom in The Bancakan Salak Galengdowo, East Java Herlina Suksmawati; Dias Pabyantara; Praja Firdaus Nuryananda
Journal of Indonesian Tourism and Development Studies Vol. 8 No. 1 (2020)
Publisher : Program Pascasarjana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The research aimed to elaborate on the common value represented by Bancakan Salak of Gelengdowo Village. Qualitative phenomenology was used to obtain a comprehensive understanding of the research problem. The data collection techniques used in this research is observation of both preparation and due day process. The semi-structured interview was conducted with the chief of the committee, local government representation, local youth figure, and two elders while checking the previous studies to get a comprehensive picture. The finding consists of three-part: (1) the preparation stage has substantial collectivism value, (2) the word bancakan finds its intrinsic value in the long tradition of bancakan practice by the community to express their gratitude upon God blessing, (3) the culture of almsgiving reflected in the tumpeng-shaped salak. The community has been practicing those three values since the beginning. Therefore it inspires and reflected in the creation of Bancakan Salak.Keywords: bancakan salak, Galengdowo, local wisdom, social practice.
PERSEPSI MASYARAKAT SURABAYA TERHADAP ISI PEMBERITAAN PERSYARATAN PERJALANAN DALAM NEGERI PADA MASA PANDEMI DI MEDIA ONLINE Ayu Nur Syahbani; Kusnarto Kusnarto; Dyva Claretta; Herlina Suksmawati
NUSANTARA : Jurnal Ilmu Pengetahuan Sosial Vol 9, No 8 (2022): NUSANTARA : Jurnal Ilmu Pengetahuan Sosial
Publisher : Universitas Muhammadiyah Tapanuli Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31604/jips.v9i8.2022.2820-2828

Abstract

Penelitian ini menggambarkan persepsi masyarakat Surabaya mengenai isi pemberitaan persyaratan perjalanan dalam negeri pada masa pandemi di media online. Berdasarkan pantauan pemerintah pada akhir tahun 2021 bahswasannya gerakan vaksinasi telah memenuhi target dan kasus penyebaran Covid-19 sudah terkontrol. Sehingga terjadi pelonggaran mobilitas yang dimanfatakan masyarakat untuk melakukan kegiatan bepergian ke luar kota, mengingat sebelumnya pemerintah melanggar masyarakatnya untuk bepergian. Agar penyebaran kasus tetap terkontrol, pemerintah memperketat aturan atau syarat yang harus dipenuhi masyarakat sebelum bepergian yang tercantum melalui Surat Edaran Satgas Covid-19 Nomor 21 Tahun 2021. Selang beberapa hari kemudian, pemerintah kembali memperbarui persyartan perjalanan melalui Surat Edaran Menteri Perhubungan No. 90, lalu adanya pembaruan kembali melalui Surat Edaran Satgas Covid-19 Nomor 22 Tahun 2021. Perubahan kebijakan yang beberapa kali terjadi dalam waktu dekat tersebut menjadi fenomena sosial yang mengundang pro dan kontra sehingga menarik untuk diteliti. Penelitian ini menggambarkan persepsi masyrakat Surabaya dengan menggunakan metode kualitatif deskriktif. Data primer didapatkan dengan mewawancarai delapan informan dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan enam dari delapan informan tergolong persepsi negatif karena menyatakan ketidakefektifan persyartan, sedangkan dua informan lainnya tergolong persepsi positif karena berpendapat persyartan tersebut efektif.
REPRESENTASI MASKULINITAS TOKOH UTAMA DALAM FILM LIVE ACTION MULAN Jessica Wiguna; Herlina Suksmawati
NUSANTARA : Jurnal Ilmu Pengetahuan Sosial Vol 9, No 10 (2022): NUSANTARA : Jurnal Ilmu Pengetahuan Sosial
Publisher : Universitas Muhammadiyah Tapanuli Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31604/jips.v9i10.2022.3731-3745

Abstract

Isu terkait dengan kesetaraan gender dan maskulinitas yang melekat para perempuan masih menjadi topik yang krusial di masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk melihat bagaimana representasi maskulinitas Disney Princess dalam Film Live Action Mulan. Tidak hanya sebagai film Disney sederhana seperti pada umumnya yang menceritakan kehidupan seorang princess dengan ciri feminism lainnya, tetapi dalam film ini ada cerita yang lebih besar dan lebih dalam bahwa Film Live Action Mulan ingin mendobrak dominasi laki – laki di Tiongkok di mana laki-laki selalu dianggap lebih unggul dari perempuan dengan menghadirkan sisi maskulinitas dalam salah satu sosok karakter Disney princess. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode semiotika Roland Barthes. Hasil penelitian ditemukan representasi maskulinitas Disney princess dapat dilihat dari unsur penampilan, pakaian atau kostum, make up, lingkungan, gesture, dan ekspresi. Tokoh Mulan digambarkan sebagai sosok princess yang pandai menunggang kuda, dapat memimpin jalannya perang, menggunakan senjata dengan baik, dan dapat melindungi serta menyelamatkan rekan prajurit, Kaisar, dan dinasti. Mulan tidak membutuhkan sosok pangeran seperti princess pada umumnya karena Mulan dapat menjadi sosok seorang princess yang dapat diandalkan. Telah terjadi pergeseran moderat dalam penggambaran tokoh princess klasik ke princess kontemporer dengan sosok perempuan yang cantik dan superior yang diwakilkan oleh tokoh Mulan.
Advokasi Masyarakat Agraria di Kampung Adat Segunung Berdasarkan Penelitian Adaptasi Digitalisasi Wisata Pedesaan Praja Firdaus Nuryananda; Leily Suci Rahmatin; Herlina Suksmawati; Thufailah Nafiisah Bilqis
I-Com: Indonesian Community Journal Vol 5 No 1 (2025): I-Com: Indonesian Community Journal (Maret 2025)
Publisher : Fakultas Sains Dan Teknologi, Universitas Raden Rahmat Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70609/icom.v5i1.6713

Abstract

Kampung Adat Segunung is a rural tourism destination located in Jombang that has attempted to implement tourism digitalization through various initiatives. However, these efforts have yet to meet the expectations of local tourism officers. In response, our team, which is also responsible for community service activities, undertook three strategic steps to enhance the capacity of these managers: (1) providing digital literacy training, particularly in tourism marketing; (2) designing and producing roll-up banners in collaboration with Segunung Traditional Village and a local community support organization, Yayasan Akta Bumi; and (3) developing and simulating a tourism package rooted in local wisdom and organically emerging attractions within the village. These initiatives were carried out using the Participatory Rural Appraisal (PRA) approach while integrating the principles of Integrated Marketing Communication (IMC). Through these three measures, the team aims to strengthen the capacity of tourism managers in Segunung Traditional Village, ensuring that their digitalization efforts yield more effective and sustainable outcomes than previous attempts.