Hardianti Hardianti
Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Makassar

Published : 5 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

STUDI KASUS MANAJEMEN BEBAN KELUARGA DALAM MERAWAT ANGGOTA KELUARGA GANGGUAN JIWA REPASUNG Rasmawati Rasmawati; Rahma Yulis; Hardianti Hardianti
Media Keperawatan:Politeknik Kesehatan Makassar Vol 10, No 2 (2019): Media Keperawatan : Poltekkes Kemenkes Makassar
Publisher : Jurusan Keperawatan Poltekkes Kemenkes Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (336.745 KB) | DOI: 10.32382/jmk.v10i2.1323

Abstract

Perawatan orang dengan gangguan jiwa repasung membutuhkan perawatan oleh keluarga dalam jangka waktu yang lama. Perawatan ini berpengaruh pada beban dan kejenuhan keluarga sehingga perlu mamajenem beban dalam merawat anggota keluarga yang mengalami repasung.  Tujuan penelitian ini untuk mengeksplorasi lebih mendalam mengenai manajemen  beban keluarga dalam merawat anggota keluarga gangguan jiwa yang mengalami repasung. Desain penelitian menggunakan kualitatif dengan pendekatan descriptive multiple instrumental case study. Dua kasus orang gangguan jiwa repasung dipilih untuk memberikan pemahaman mengenai manajemen beban keluarga dalam merawat. Partisipan penelitian berjumlah 6 orang keluarga subjek kasus. Data dikumpulkan dengan wawancara mendalam. Tiga kategori yang dihasilkan: Kurungan sebagai pilihan bentuk repasung; Persepsi Keluarga Terhadap Tindakan repasung; dan Manajemen beban dalam merawat anggota keluarga dengan gangguan jiwa repasung. Caregiver mengalami kejenuhan yang mengakibatkan keinginan untuk melepaskan anggota keluarga dan merawat di rumah sakit.
The Effect of Progressive Relaxation Techniques on Anxiety Levels in Schizophrenic Patients Esse Puji Pawenrusi; Suarni Suarni; Hardianti Hardianti; ST. Nadia Astuti
Jurnal Keperawatan Vol 14 No 3 (2022): Jurnal Keperawatan: Supp September 2022
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Kendal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (209.855 KB)

Abstract

Schizophrenia is a disease that affects the brain and causes strange thoughts, perceptions, emotions, movements and behaviors . Schizophrenia is not a single disorder but is a syndrome with many causes. In Indonesia, the number of patients suffering from schizophrenia is around 6.7% with the highest prevalence in Bali (11.1%), the Special Region of Yogyakarta (10.4%), West Sumatra (9.1%) and South Sulawesi (8.8%). ). The purpose of this study was to determine the effect of relaxation techniques on the level of anxiety in Schizophrenic patients. This type of research is pre-experimental with a one-group pre-test and post-test design. The population in this study were patients suffering from schizophrenia with a total sample of 10 people in 2019. The sampling technique used was purposive sampling technique . The results of the study using the Wilcoxon signed rank test , obtained a value of (p = 0.003) <(α = 0.05), this means that there is a significant influence between progressive relaxation techniques on anxiety levels in schizophrenic patients in the work area of Karuwisi Health Center Makassar City. The conclusion of this study is that there is an effect of progressive relaxation techniques on anxiety levels in schizophrenia patients in the work area of Karuwisi Health Center Makassar City. It is hoped that from the results of this study, progressive relaxation therapy can be applied and improved as an exercise to reduce patient anxiety.
Impact of Family Burden: A Case Study Re-pasung of People with Mental Illness Rahma Yulis; Hardianti Hardianti; Rasmawati Rasmawati
STRADA : Jurnal Ilmiah Kesehatan Vol. 10 No. 1 (2021): May
Publisher : Universitas STRADA Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30994/sjik.v10i1.639

Abstract

The burden faced by families in caring for family members with mental illness is one important indicator in re-pasung actions. The purpose of this study was to describe the burden of the family in caring for people with mental illness post pasung which causes re-pasung. Qualitative design with a multiple instrumental case study approach using two cases chosen to provide an understanding of the re-pasung case. Six people participated in this study who were selected through a purposive sampling method. The data collection was carried out by in-depth interviews with the case subject's family. Four categories were produced in this study, namely alternative therapy as an initial step in handling mental illness, pasung as a crisis management strategy, release of pasung and treatment in hospital, and re-pasung as a result of burden on the family. Subjective and objective burdens that can not be handled are predictors of re-pasung.
HUBUNGAN TINGKAT STRES DENGAN SIKLUS MENSTRUASI PADA REMAJA PUTRI DI DESA MATTUNRENG TELLUE KABUPATEN SINJAI Chitra Dewi; Muhammad Sahlan Zamaa; Wulan Sari; Muhammad Syahrir; Hardianti
Jurnal Mitrasehat Vol. 15 No. 1 (2025): Jurnal Mitrasehat
Publisher : LPPM STIK Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51171/jms.v15i1.514

Abstract

Latar belakang: Stres diketahui sebagai faktor penyebab gangguan siklus menstruasi pada wanita, dengan prevalensi menstruasi tidak teratur 13,1% secara global. Remaja putri yang berada dalam fase perubahan fisik dan psikologis sangat rentan mengalami stres, yang pada akhirnya dapat mempengaruhi kesehatan reproduksi mereka. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara tingkat stres dengan siklus menstruasi pada remaja putri di Desa Mattunreng Tellue, Kabupaten Sinjai Metode: Penelitian ini menggunakan desain cross-sectional dengan populasi 235 remaja putri berusia 15-19 tahun. Sampel sebanyak 115 responden dipilih secara systematic random sampling. Data diperoleh melalui kuesioner dan dianalisis menggunakan uji Chi-Square. Hasil: Dari 115 responden, mayoritas 73,9% mengalami tingkat stres sedang, sementara 69,6% mengalami siklus menstruasi tidak teratur. Analisis statistik menunjukkan hubungan signifikan antara tingkat stres dan siklus menstruasi (p-value=0,003), dimana remaja dengan tingkat stress lebih tinggi cenderung mengalami gangguan siklus menstruasi. Simpulan: Penelitian ini menegaskan adanya hubungan signifikan antara tingkat stres dengan siklus menstruasi pada remaja putri. Oleh karena itu, penting bagi remaja untuk menjaga kesehatan mental melalui pengolahan stres yang efektif dan dukungan sosial. Penelitian lanjutnya disarankan untuk mengeksplorasi pengaruh variabel lain seperti status gizi dan aktivitas fisik terhadap siklus menstruasi.
GAMBARAN TINGKAT STRESS PADA REMAJA YANG MENGALAMI PUTUS CINTA DI SMAN 5 MAROS Esse Puji Pawenrusi; Husnul Arbma Burhan; Hardianti; Iskandar Zulkarnaen; Sitti Nurhadijah
Jurnal Mitrasehat Vol. 16 No. 1 (2026): Jurnal Mitrasehat
Publisher : LPPM STIK Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51171/jms.v16i1.665

Abstract

Latar belakang: Data World Health Organization menyebutkan lebih dari 350 juta orang di dunia mengalami stres. Di Indonesia, Komisi Perlindungan Anak Indonesia melaporkan 80% kasus bunuh diri remaja tahun 2022 berkaitan dengan kegagalan hubungan percintaan. Observasi di SMA Negeri 5 Maros menunjukkan 373 dari 611 siswa pernah mengalami putus cinta dalam setahun terakhir, dengan dampak seperti sulit tidur, hilang semangat, hingga menyakiti diri sendiri. Tujuan: Untuk mengetahui gambaran tingkat stres pada remaja yang mengalami putus cinta di SMA Negeri 5 Maros. Metode: Survei deskriptif dengan sampel terdiri dari 193 siswa SMA Negeri 5 Maros yang pernah mengalami putus cinta dalam satu tahun terakhir, dipilih menggunakan teknik proportional systematic random sampling. Instrumen yang digunakan adalah Perceived Stress Scale (PSS-14) dan Breakup Distress Scale (BDS). Data dianalisis secara univariat menggunakan distribusi frekuensi. Hasil: Menunjukkan bahwa Sebanyak 76,7% mengalami putus cinta ringan dan 55,4% mengalami stres berat. Mayoritas responden perempuan (63,2%) dan mulai pacaran usia 9–14 tahun (83,2%). Kesimpulan: Hasil penelitian menggambarkan bahwa mayoritas remaja (55,4%) dari total kasus mengalami stress berat dan menggambarkan putus cinta ringan sebanyak (76,7%) dari total kasus. Intervensi dari guru, orang tua, dan pihak sekolah sangat diperlukan untuk membantu remaja mengelola stress akibat hubungan romantis.