Latar belakang: Data World Health Organization menyebutkan lebih dari 350 juta orang di dunia mengalami stres. Di Indonesia, Komisi Perlindungan Anak Indonesia melaporkan 80% kasus bunuh diri remaja tahun 2022 berkaitan dengan kegagalan hubungan percintaan. Observasi di SMA Negeri 5 Maros menunjukkan 373 dari 611 siswa pernah mengalami putus cinta dalam setahun terakhir, dengan dampak seperti sulit tidur, hilang semangat, hingga menyakiti diri sendiri. Tujuan: Untuk mengetahui gambaran tingkat stres pada remaja yang mengalami putus cinta di SMA Negeri 5 Maros. Metode: Survei deskriptif dengan sampel terdiri dari 193 siswa SMA Negeri 5 Maros yang pernah mengalami putus cinta dalam satu tahun terakhir, dipilih menggunakan teknik proportional systematic random sampling. Instrumen yang digunakan adalah Perceived Stress Scale (PSS-14) dan Breakup Distress Scale (BDS). Data dianalisis secara univariat menggunakan distribusi frekuensi. Hasil: Menunjukkan bahwa Sebanyak 76,7% mengalami putus cinta ringan dan 55,4% mengalami stres berat. Mayoritas responden perempuan (63,2%) dan mulai pacaran usia 9–14 tahun (83,2%). Kesimpulan: Hasil penelitian menggambarkan bahwa mayoritas remaja (55,4%) dari total kasus mengalami stress berat dan menggambarkan putus cinta ringan sebanyak (76,7%) dari total kasus. Intervensi dari guru, orang tua, dan pihak sekolah sangat diperlukan untuk membantu remaja mengelola stress akibat hubungan romantis.
Copyrights © 2026