Rus Suheryanto, Rus
Bagian Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok Bedah Kepala Dan Leher Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya/ Rumah Sakit Dr. Saiful Anwar Malang

Published : 15 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 15 Documents
Search

Mometasone furoate effect on interleukin-6 of adenoid surface and serum in adenoid hypertrophy patients Zainul Mujahid; Rus Suheryanto; Iriana Maharani
Oto Rhino Laryngologica Indonesiana Vol. 51 No. 1 (2021): Volume 51, No. 1 January - June 2021
Publisher : PERHATI-KL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32637/orli.v51i1.362

Abstract

Background: Adenoid hypertrophy is one of the most common problems in children resulting in obstruction of the posterior nasal cavity. Interleukin-6 (IL-6) is a pleiotropic cytokine that plays a role in acute and chronic infections, hematopoesis, T cells and B cells formation. Purpose: To determine the effect of intranasal mometasone furoate administration on IL-6 level of adenoid surface and serum and the adenoid size in patients with adenoid hypertrophy. Method: A one group pre- and post-test design involving 17 patients aged 5 to 12 years. The subjects underwent nasoendoscopic examination to determine the adenoid size, also measurement of IL-6 level of adenoid surface and serum before and after 6 weeks treatment with intranasal mometasone furoate. Results: There were a significant decrease of the adenoid surface IL-6 level, serum IL-6 level, and adenoid size with p value <0.05. There was a significant positive correlation between the levels of adenoid surface IL-6 and serum IL-6 (r=0.517; p=0.033). A significant positive correlation was obtained between the decrease of adenoid surface and serum IL-6 levels with the decrease of adenoid size (p<0.05). Conclusion: The use of intranasal mometasone furoate could decrease the IL-6 levels of adenoid surface and serum, and the adenoid size in patients with adenoid hypertrophy.ABSTRAK Latar belakang: Hipertrofi adenoid merupakan salah satu masalah tersering pada anak-anak yang mengakibatkan obstruksi pada rongga hidung posterior. Interleukin-6 merupakan sitokin pleiotropik yang berperan pada infeksi akut maupun kronis, hematopoesis, pembentukan sel T dan sel B. Tujuan: Mengetahui pengaruh pemberian mometason furoat intranasal terhadap kadar IL-6 permukaan adenoid dan serum, serta ukuran adenoid pada penderita hipertrofi adenoid. Metode: Suatu one group pre- and post-test design melibatkan 17 subjek berusia 5 sampai 12 tahun. Subjek menjalani pemeriksaan nasoendoskopi, pengukuran kadar IL-6 serum, dan IL-6 permukaan adenoid sebelum dan setelah pemakaian mometason furoat intranasal selama 6 minggu. Hasil: Didapatkan penurunan kadar IL-6 permukaan adenoid, IL-6 serum, dan penurunan ukuran adenoid yang bermakna dengan nilai p<0,05. Didapatkan korelasi positif yang signifikan antara kadar IL-6 permukaan adenoid dengan IL-6 serum (r=0,517; p=0,033). Didapatkan korelasi positif yang signifikan antara penurunan kadar IL-6 permukaan adenoid dan IL-6 serum dengan pengecilan ukuran adenoid (p<0,05). Kesimpulan: Penggunaan mometason furoat intranasal dapat menurunkan kadar IL-6 permukaan adenoid dan IL-6 serum, serta ukuran adenoid pada penderita hipertrofi adenoid. Kata kunci: hipertrofi adenoid, interleukin-6, mometason furoat intranasal
Comparison of Fluticasone Furoate and Cetirizine Versus Fluticasone Furoate and Montelukast in Allergic Rhinitis Bobby Pardomuan Sitompul; Rus Suheryanto; Hendradi Surjotomo
Oto Rhino Laryngologica Indonesiana Vol. 51 No. 1 (2021): Volume 51, No. 1 January - June 2021
Publisher : PERHATI-KL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32637/orli.v51i1.409

Abstract

Background: The complexity of treatment in allergic rhinitis remains to be a global challenge. The medical treatment option for moderate-severe persistent allergic rhinitis is the combination of intranasal corticosteroid (INCS) and oral antihistamine or leukotriene receptor antagonist (LTRA). The combination INCS with LTRA is selected based on the presence of asthma. Purpose: To determine the effect of fluticasone furoate plus cetirizine administration compared to fluticasone furoate plus montelukast on nasal eosinophils count and clinical improvement in patients with moderate-severe persistent allergic rhinitis. Method: This study was an experimental research with double blind randomized clinical trial (RCT) design, and pre and post test control. Patient were divided into two group. Group-1 received intranasal fluticasone furoate 110 μg in the morning and oral cetirizine 10 mg in the evening, and group-2 received intranasal fluticasone furoate 110 μg and montelukast 10mg. The treatment efficacy was assessed from nasal eosinophil count and total five symptoms score (T5SS) based on visual analogue scale (VAS) before and 4 weeks after treatment. Result: Both groups showed a decrease in the nasal eosinophil count and T5SS score based on VAS before and after treatment (p< 0.05). Group-2 showed a statistically significant improvement in nasal obstruction and rhinorrhea compared to group-1 (p <0.05). The decrease in nasal eosinophil count and T5SS was higher in group-2 than group-1, however it is not statistically significant. Conclusion: The combination of fluticasone furoate and montelukast was found to be more effective in reducing nasal obstruction and rhinorrhea than the combination of fluticasone furoate and cetirizineABSTRAK Latar belakang: Rinitis alergi masih merupakan masalah besar secara global dengan tatalaksana yang kompleks. Terapi medikamentosa rinitis alergi persisten sedang berat (RAPSB) berdasarkan guideline yaitu pemberian kortikosteroid intranasal (INCS) dikombinasikan dengan antihistamin oral atau leukotriene receptor antagonist (LTRA). Saat ini, terapi menggunakan kombinasi LTRA masih berdasarkan ada atau tidaknya komorbiditas asma pada pasien RAPSB. Tujuan: Mengetahui pengaruh pemberian fluticasone furoate bersama cetirizine dibandingkan dengan fluticasone furoate bersama montelukast terhadap eosinofil mukosa hidung dan perbaikan klinis pada penderita RAPSB. Metode: Penelitian eksperimental murni dengan rancangan uji klinik secara acak, tersamar ganda, serta kontrol pra dan pasca perlakuan. Penderita dibagi menjadi 2 kelompok. Kelompok 1 mendapat terapi fluticasone furoate intranasal 110 μg/hari dengan cetirizine 10mg/hari dan kelompok 2 fluticasone furoate intranasal 110 μg/hari dengan montelukast 10mg/hari. Penilaian efektivitas terapi dengan menilai jumlah eosinofil mukosa hidung dan total five symptoms score (T5SS) berdasarkan visual analogue scale (VAS) pada awal penelitian dan 4 minggu setelah perlakuan. Hasil: Kedua kelompok memperlihatkan penurunan jumlah eosinofil mukosa hidung dan penurunan T5SS berdasarkan VAS antara sebelum dan setelah perlakuan (p< 0.05). Kelompok 2 lebih baik secara bermakna menurunkan keluhan hidung tersumbat dan pilek encer dibandingkan kelompok 1 (p <0.05). Jumlah eosinofil dan T5SS berdasarkan VAS kelompok 2 lebih menurun dibandingkan kelompok 1, akan tetapi secara statistik tidak terdapat perbedaan yang bermakna. Kesimpulan: Pemberian fluticasone furoate serta montelukast lebih baik secara bermakna menurunkan keluhan hidung tersumbat dan pilek encer dibandingkan pemberian fluticasone furoate serta cetirizine. Kata kunci: rinitis alergi, cetirizine, kortikosteroid intranasal, montelukast
Efektivitas Irigasi Nasal dalam Pencegahan Transmisi COVID-19 Tandio, Aditya Leonard; Suheryanto, Rus
Malang Otorhinolaryngology Head and Neck Surgery Journal Vol. 2 No. 1 (2023): March 2023
Publisher : Department of Otorhinolaryngology Head and Neck Surgery

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pandemi COVID-19 telah mendorong penelitian untuk mereduksi atau mencegah transmisi. Penyebaran droplet dari saluran pernapasan menimbulkan tantangan dalam prosedur yang melibatkan saluran pernapasan. Penggunaan antiseptik dan larutan lainnya untuk irigasi nasal, mulai direkomendasikan untuk pencegahan transmisi COVID-19. Virus Korona menginfeksi sel host dengan ikatan glikoprotein virus dan reseptor ACE-2 host yang ditemukan paling banyak pada mukosa nasal. Transmisi SARS-CoV-2 dipengaruhi oleh tingginya viral load cavum nasi dan nasofaring sebagai potensi reservoir. Mekanisme kerja irigasi nasal adalah meningkatkan mucociliarry clearance, memperbaiki integritas sel dan menghambat apoptosis tergantung dari ion yang bekerja. Penggunaan sediaan povidone iodine 10% yang diencerkan menjadi 0.5% selama 15 detik sebelum melakukan insisi mukosa hidung di ruang operasi relatif aman dan direkomendasikan untuk menurunkan potensi transmisi. Produksi asam hipoklorid dapat ditingkatkan dengan irigasi nasal larutan isotonis atau hipertonis sehingga meningkatkan pertahanan imun terhadap replikasi virus. Namun, studi in vitro dan in vivo masih perlu dilakukan untuk melakukan evaluasi efektivitas penggunaan povidone iodine pada irigasi nasal untuk menginaktivasi virus korona.Penelitian lebih lanjut diperlukan untuk mencari cara menurunkan transmisi COVID-19 seperti penggunaan ACE-2 agonist atau ARB topical. Hingga saat ini, penggunaan irigasi nasal dalam memutus rantai transmisi harus dilakukan secara komprehensif dengan tindakan-tiindakan preventif lainnya dan penggunaan alat pelindung diri yang sesuai
Cholesterol Granuloma Sinus Etmoid Wirattami, Ayunita Tri; Suheryanto, Rus
Malang Otorhinolaryngology Head and Neck Surgery Journal Vol. 1 No. 1: March 2022
Publisher : Department of Otorhinolaryngology Head and Neck Surgery

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar belakang: Cholesterol Granuloma biasanya dikaitkan dengan penyakit telinga tengah kronis dan sering terjadi pada sel mastoid dan kavum timpani. Cholesterol Granuloma adalah reaksi benda asing yang terjadi di jaringan mukosa diakibatkan oleh pengendapan kristal kolesterol, dan ditandai dengan giant cell, makrofag, dan hemosiderin dalam histologinya. Tujuan: menganalisa faktor-faktor yang turut berperan dalam pembentukan Cholesterol Granuloma dan pemeriksaan penunjang yang dibutuhkan untuk menyingkirkan diagnosis banding, serta tatalaksana yang dapat dilakukan. Kasus: Perempuan usia 63 tahun, datang dengan keluhan mata kanan kabur. Pasien mengeluh mata kanan kabur sejak kurang lebih 1 tahun lalu. Tidak didapatkan keluhan THT CT Scan dan MRI tampak adanya lesi pada sinus etmoid kanan yang meluas hingga kavum orbita kanan. Diskusi: Kasus ini didapatkan hasil histopatologi yang sesuai dengan gambaran Cholesterol Granuloma yaitu didapatkan potongan jaringan ikat dengan sebaran sel-sel radang limfosit, histiosit. Tampak fokusfokus kartilago dan trabekula tulang, yang kemungkinan adalah bagian dari pengambilan jaringan saat operasi. Tampak pula cholesterol cleft, dengan hemosiderin, makrofag dan pembuluh-pembuluh limfatik dilatasi. Tatalaksana untuk Cholesterol Granuloma adalah bedah reseksi. Endoscopy sinus surgery telah menggantikan tindakan yang tradisional menggunakan pendekatan eksternal dengan keberhasilan yang sebanding.
Rinosinusitis Akut dengan Komplikasi Selulitis Orbita Sitompul, Bobby Pardomuan; Suheryanto, Rus
Malang Otorhinolaryngology Head and Neck Surgery Journal Vol. 2 No. 2 (2023): September 2023
Publisher : Department of Otorhinolaryngology Head and Neck Surgery

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar Belakang: Rinosinusitis merupakan inflamasi di mukosa hidung dan sinus paranasal dengan angka komplikasi yang rendah yakni 3,7-20%. Komplikasi dapat terjadi pada orbita, intrakranial dan tulang. Komplikasi yang paling banyak terjadi adalah komplikasi orbita. Pengenalan diagnosis dini dan terapi yang adekuat menjadi sangat penting karena apabila tidak adekuat akan menimbulkan kebutaan permanen bahkan kematian. Tujuan: Melaporkan sebuah kasus rinosinusitis akut dengan komplikasi selulitis orbita. Laporan kasus: Laki-laki usia 57 tahun dengan keluhan utama bengkak pada pipi dan mata kanan. Berdasarkan anamnesis, presentasi klinis dan pemeriksaan High Resolution Computed Tomography (HRCT) Scan Pre Functional endoscopic sinus surgery (FESS) pasien didiagnosis rhinosinusitis akut dekstra dengan komplikasi selulitis orbita dekstra, diabetes mellitus tipe II, leukositosis, septum deviasi sinistra dan CAD stabil. Pasien menjalani operasi FESS, dilakukan konsultasi ke bagian mata dan menunjukkan hasil pasca operasi yang baik. Kesimpulan: Tatalaksana utama pada rinosinusitis akut dengan komplikasi selulitis orbita adalah melakukan eradikasi infeksi secara komplit dan tatalaksana komprehensif dengan bagian mata dan bagian lain terkait. Pada kasus ini telah dilaporkan kasus laki-laki usia 57 tahun dengan rinosinusitis akut dengan komplikasi selulitis orbita yang ditangani dengan Tindakan FESS.