Yurnalis Yurnalis
Fakultas Seni Pertunjukan Institut Seni Indonesia Padangpanjang Jln. Bahder Johan Padangpanjang. 27128

Published : 9 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search
Journal : Musik Etnik Nusantara

Dendang Sungayang Baru di Nagari Sungayang Kecamatan Sungayang Kabupaten Tanah Datar Ruly Pahlevi; Sriyanto Sriyanto; Firdaus Firdaus; Yurnalis Yurnalis
Jurnal Musik Nusantara Vol 1, No 2 (2021): JUrnal Musik Etnik Nusantara
Publisher : Institut Seni Indonesia Padangpanjang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (397.333 KB) | DOI: 10.26887/musik nusantara.v1i2.2137

Abstract

Dendang Sungayang Baru merupakan salah satu repertoar dendang yang hidup dan berkembang di kalangan Masyarakat Sungayang, yang sering dipertunjukan dalam acara bagurau (saluang dendang) baik itu di Sungayang ataupun diluar Sungayang. Dendang Sungayang Baruyang memiliki bentuk yang cukup menarik untuk dikaji dalam melihat aspek pertunjukan genre musik tradisonal saluang dendang Minangkabau. Tujuan penelitian ini untuk menemukan aspek-aspek yang khas dalam konsep musikalnya Dendang Sungayang Baru. Berdasarkan penelitian yang dilakukan, penyajian Dendang Sungayang ini pada bagian sampiran dimulai dengan nada ke-5, dan bagian isi dimulai dengan nada ke-2. Penelitian Dendang Sungayang Baru ini menggunakan metode kualitatif, dengan pencarian data kespesifikan bentuk dan juga pandangan Masyarakat terhadap Dendang Sungayang Baru bersumber dari informasi para pelaku profesional Dendang Sungayang Baru. Semua data yang diperoleh, baik bersifat musikal dan teknis, dan data yang bersifat sosial-antropologis, diolah dalam bentuk deskriptif-analisis,  Hal ini dapat menjadi ciri khas tersendiri pada garap Dendang Sungayang Baru, yang berbeda dengan dendang Minangkabau pada umumnya.
Momongan dalam Upacara Perkawinan dan Kematian di Nagari Talang Kabupaten Solok Nisrina Fadhila; Sriyanto Sriyanto; Yurnalis Yurnalis
Jurnal Musik Nusantara Vol 1, No 1 (2021): Jurnal Musik Etnik Nusantara
Publisher : Institut Seni Indonesia Padangpanjang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (611.528 KB) | DOI: 10.26887/musik nusantara.v1i1.2015

Abstract

Penelitian ini membahas tentang momongan yang terdapat di Nagari Talang Kab Solok. Momongan merupakan alat musik pukul yang terbuat dari perunggu yang bentuknya mirip dengan alat musik gong yang berukuran kecil, Di Nagari Talang Momongan ini digunakan sebagai alat musik untuk mengiringi  arak-arakan dalam upacara perkawinan dan ritual kematian, disamping itu momongan juga berfungsi sebagai media hiburan, dan sebagai media komunikasi bagi masyarakat Nagari Talang. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan musik momongan dalam arak-arakan pada upacara perkawinan dan ritual kematian berkaitan dengan bentuk dan fungsi musik momongan tersebut. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan teknik pengumpulan data berupa observasi, dokumentasi, serta wawancara di lapangan. Untuk menjelaskan Bentuk dan Fungsi momongan tersebut penulis menggunakan teori bentuk sedangkan untuk menjelaskan fungsi dari momongan tersebut penulis menggunakan teori fungsi. Untuk mendapatkan hasil yang maksimal sesuai konteks penelitian maka penulis melakukan teknik analisis data berupa reduksi data dan penyajian data. Hasil penelitian menunjukan bahwa musik momongan sampai hari ini masih tetap dipertahankan oleh masyarakat pendukungnya terutama untuk  mengiringi arak-arakan penganten dalam upacara perkawinan dan sebagai musik ritual dalam peristiwa kematian.  Kata Kunci: Musik; momongan; Arak-arakan; Perkawinan; Kematian.   ABSTRACT This study discusses the momongan found in Nagari Talang, Solok Regency. Momongan is a percussion instrument made of bronze which looks similar to a small gong. In Nagari Talang Momongan is used as a musical instrument to accompany processions in wedding ceremonies and death rituals, besides that, Momongan also serves as a medium of entertainment, and as a medium of communication for the people of Nagari Talang. This study aims to describe baby music in processions at wedding ceremonies and death rituals related to the form and function of the baby music. This study uses qualitative methods with data collection techniques in the form of observation, documentation, and interviews in the field. To explain the shape and function of the baby, the writer uses the theory of form, while to explain the function of the baby, the writer uses the theory of function. To get maximum results according to the context of the study, the authors carried out data analysis techniques in the form of data reduction and data presentation. The results of the study show that the music of momongan is still maintained by the supporting community, especially to accompany the procession of the bride and groom in the wedding ceremony and as ritual music in the event of death. Keywords: Music; Momongan; Procession; Marriage; Death.  PENDAHULUAN  Momongan merupakan salah satu kese­nian tradisi yang ada di Nagari Talang, Keca­ma­tan Gunung Talang, Kabupaten Solok. Musik momongan digunakan oleh masyaakat Nagari Talang pada arak-arakan dalam upa­cara perkawinan dan ritual kema­tian. Momo­ngan merupakan alat musik trade­sio­nal Minang­kabau yang terbuat dari logam atau kuningan, secara organologi termasuk ke dalam alat musik idiophone jenis gong yang mempunyai tombol (Cook,1988) Ansambel momongan yang terdapat di Nagari Talang terdiri dari empat buah intrumen momongan, dimana keempat momongan tersebut mempu­nyai nama dan ukuran yang berbeda-beda yaitu momongan manggomang (terdiri dari dua buah momongan), momongan mang­galogoh, dan momongan manoik. Penamaan dari momongan tersebut, berasal dari bunyi yang dihasilkan oleh masing-masing momongan itu sendiri. Sekaligus untuk memudahkan para pemain dalam membe­daakan antara momo­ngan manggomang, momongan mang­galogoh dan momongan manoik. (Delsuriani dan Pide, Wawancara, 30 Januari 2021).  Musik momongan dimainkan oleh empat orang pemain, yang mana masing-masing pemain memegang satu momongan. Teknik permainan musik momongan dimain­kan dengan cara dipegang dan digua (dipukul) dengan menggunakan satu stick (panokok) yang terbuat dari bahan kayu lunak. Pemain musik momongan pada umumnya terdiri dari wanita paruh baya yang berumur sekitar 35 sampai 60 TahunBagi masyarakat Nagari Talang musik momongan  digunakan pada upacara perkawi­nan yang berfungsi untuk mengarak anak daro jo marapulai dari rumah bako atau keluarga orang tua laki-laki dari pengantin,
“Two Be One” Terinspirasi dari Kesenian Gandang Tambua dalam Upacara Tabuik di Kota Pariaman Provinsi Sumatera Barat Budi Kurniawan; Syahri Anton; Yurnalis Yurnalis; Syafniati Syafniati
Jurnal Musik Nusantara Vol 2, No 1 (2022): Jurnal Musik Etnik Nusantara
Publisher : Institut Seni Indonesia Padangpanjang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26887/jmen.v2i1.3089

Abstract

ABSTRAKUpacara tabuik merupakan acara tahunan bagi masyarakat Pariaman yang dilaksanakan sejak awal hingga pertengahan Muharram setiap tahunnya yang bertujuan untuk mengenang wafatnya Al Husein bin Ali, cucu Nabi Muhammad SAW. Tujuan penulisan ini untuk mendeskripsikan upacara mahoyak tabuik  dan mengusung tabuik, yang diringi oleh permainan gandang tambua yang memainkan lagu sosoh sampai akhirnya  mambuang tabuik ke laut,yang dimulai  pukul 11.00-16.00. Upacara mahoyak tabuik tersebut pengkarya jadikan sebagai ide garapan dalam  komposisi music dengan metode pendekatan “World Music” yaitu menggarap suatu kesenian tradisi ke dalam komposisi musik dengan format populer dengan cara mengkolaborasikan instrumen modern dengan tetap mempertahankan unsur etnis yang tidak terlepas dari kesenian tradisinya. Hasil yang dicapai adalah bahwa garapan yang bersumber dari spirit permainan lagu sosoh. pengkarya membagi posisi pemain menjadi dua kelompok yang sama-sama memainkan instrumen gandang tambua, dengan melakukan penggarapan tempo dan juga permainan poli meter, call and respon. Masing-masing pendukung  menghoyak dan mengusung tabuik, bahkan membawa berlari ke arah tabuik lain untuk menciptakan  suasana menjadi panas, meriah, dan atraktif dengan diringi  permainan gandang tambua.  Karya ini pengkarya beri judul “Two be One”. Judul ini menggambarkan terhadap spirit dari permainan lagu sosoh pada saat  dua  kelompok tabuik bertemu. Dalam garapan karya ini menemukan adanya perubahan tempo yang bersifat situasional yang di pengaruhi oleh suasana pada saat mahoyak tabuik,  semakin panas,  maka tempo dan dinamiknya semakin naik serta pemain gandang tambua akan semakin atraktif.Kata Kunci: Gandang Tambua; oyak tabuik; sosoh.   ABSTRACTThe tabuik ceremony is an annual event for the people of Pariaman which is held from the beginning to the middle of Muharram every year which aims to commemorate the death of Al Husein bin Ali, the grandson of the Prophet Muhammad SAW. The purpose of this writing is to describe the mahoyak tabuik ceremony and carry the tabuik, which is accompanied by a game of gandang tambua that plays the song sosoh until finally throwing the tabuik into the sea, which starts at 11.00-16.00. The mahoyak tabuik ceremony was made as an idea in music composition with the "World Music" approach method, namely working on a traditional art into a musical composition with a popular format by collaborating with modern instruments while maintaining ethnic elements that cannot be separated from the traditional arts. The result achieved is that the work comes from the spirit of playing the sosoh song. The artist divides the position of the players into two groups who both play the gandang tambua instrument, by cultivating the tempo and also playing the game of poly meter, call and response. Each supporter tore and carried the tabuik, and even ran to the other tabuik to create a hot, lively, and attractive atmosphere accompanied by a game of gandang tambua. This work is entitled "Two be One". This title describes the spirit of the sosoh song playing when two tabuik groups meet. In this work, it is found that there are situational changes in tempo which are influenced by the atmosphere at the time of mahoyak tabuik, the hotter the tempo and dynamics, the more attractive the gandang tambua players.  Keywords: Gandang Tambua; oyak tabuik;  figure.  
Transformasi dan Pengembangan Pola Ritem Gandang Sarunai Pada Komposisi Musik “ Never Alone” Nadya Fitria Yunita; Susandrajaya Susandrajaya; Yurnalis Yurnalis; Rafiloza Rafiloza
Jurnal Musik Nusantara Vol 2, No 2 (2022): Jurnal Musik Etnik Nusantara
Publisher : Institut Seni Indonesia Padangpanjang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26887/jmen.v2i2.3203

Abstract

-Gandang Sarunai merupakan salah satu intrumen tradisonal yang berasal dari Minangkabau tepatnya di Kabupaten Solok Selatan. Karya komposisi musik karawitan yang berjudul “Never Alone” terinspirasi dari kesenian tradisi Gandang Sarunai yaitu pada repertoar Gandang Duo Iliu yang berkembang di Nagari Pasia Talang Kecamatan Sungai Pagu. Gandang Sarunai biasanya dihadirkan dalam acara upacara adat, mananti tamu, acara batagak penghulu dan pernikahan. Repertoar Gandang Duo Iliu memiliki unsur musikal yang menarik yaitu sifat Interlocking karena Gandang Paningkah dan Gandang palalu pada permainan Gandang Duo Iliu saling terjalin. Selain Interlocking pada permainan Gandang Sarunai juga terkesan Kajau Mangajau (kejar mengejar). Karya komposisi musik “Never Alone” di garap dengan menggunakan metode pendekatan World Music. Karya ini bertujuan untuk mewujudkan ide/gagasan yang bersumber dari kesenian Gandang Sarunai repertoar Gandang Duo Iliu yang mencoba menghadirkan beberapa bentuk kebaruan dengan mengembangkan interlocking atau Kajau Mangajau yang berbeda menjadi sebuah komposisi musik karawitan, selain itu pengkarya ingin berbagi pengalaman musikal yang bisa memberikan inspirasi serta motivasi demi perkembangan komposisi musik itu sendiri.