Arum Nur Wulandari
Department Of Mathematics Education, Faculty Of Teacher Training And Education, Universitas Sebelas Maret, Indonesia

Published : 6 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 6 Documents
Search

PROFIL KEMAMPUAN LITERASI STATISTIK MAHASISWA CALON GURU MATEMATIKA Riki Andriatna; Ira Kurniawati; Arum Nur Wulandari
FIBONACCI: Jurnal Pendidikan Matematika dan Matematika Vol 7, No 1 (2021): FIBONACCI: Jurnal Pendidikan Matematika dan Matematika
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24853/fbc.7.1.19-28

Abstract

Kemampuan literasi statistik merupakan kemampuan dalam melakukan interpretasi data dan informasi yang tersedia. Kemampuan tersebut merupakan salah satu kemampuan penting yang harus dimiliki oleh guru. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan kemampuan literasi statistik mahasiswa calon guru Matematika yang dikaitkan dengan level berpikir taksonomi SOLO. Hasil analisis menunjukkan bahwa pencapaian kemampuan literasi statistic mahasiswa calon guru Matematika belum merata untuk setiap indikatornya, yaitu indikator penalaran terhadap data dan hasil statistika berada pada level multistruktural, indikator penalaran terhadap konsep dasar dan istilah statistika berada pada level unistruktural, indikator penalaran terhadap pengumpulan dan pengolahan data secara deskriptif berada pada level relasional, dan indikator melakukan interpretasi data berada pada level unistruktural.
Kesulitan Siswa Sekolah Menengah Pertama dalam Menyelesaikan Soal Matematika PISA-Like Imam Sujadi; Budiyono Budiyono; Ira Kurniawati; Arum Nur Wulandari; Riki Andriatna; Hanifa Alifia Puteri; Aulia Nurmalitasari
Edukasi: Jurnal Pendidikan Vol 20, No 2 (2022): Edukasi: Jurnal Pendidikan
Publisher : LPPM IKIP PGRI Pontianak

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31571/edukasi.v20i2.4781

Abstract

Abstrak PISA merupakan program internasional yang diselenggarakan oleh OECD dengan tujuan mengevaluasi kemampuan anak usia 15 tahun pada membaca, matematika, dan sains. Penelitian termasuk dalam penelitian kualitatif dengan tujuan untuk mendeskripsikan kesulitan siswa dalam menyelesaikan soal matematika PISA-Like. Sampel penelitian sebanyak 46 siswa SMP di Kota Surakarta yang dipilih dengan teknik simple random sampling. Instrumen penelitian terdiri dari tes berupa soal matematika PISA-Like dan nontes berupa angket. Analisis data dilakukan melalui reduksi data, penyajian data, verifikasi, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa siswa mengalami kesulitan dalam menyelesaikan soal PISA-Like. Beberapa hal yang menyebabkan kesulitan siswa dalam menyelesaikan soal PISA-Like, yaitu: kurangnya pemahaman siswa terhadap soal yang diberikan; stimulus soal yang panjang dan rumit; serta tidak mengetahui konsep matematika yang akan digunakan. Kurangnya pemahaman siswa terhadap soal karena belum terbiasa menghadapi soal PISA sehingga mengalami kebingungan menggunakan konsep matematika.  AbstractPISA is an international program organized by OECD aiming at evaluating the reading, mathematical, and science skills of students 15 years of age. This qualitative research attempted to describe students’ difficulty in solving PISA mathematic questions. To this end, forty-six junior high school students in Surakarta were involved with simple random sampling. The instruments in this research consisted of test instruments in the form of PISA-Like math problems and nontest instruments in the form of questionnaires. Data analysis was carried out through data reduction, data presentation, verification, and drawing conclusions. The results showed that students had difficulty solving PISA-Like questions. Several factors were found to account for students’ difficulty in solving Pisa-Like questions, including their poor understanding of the question; the long and complex stimulus of the question; and their lack of knowledge of the mathematical concept to be used. Students’ poor understanding of the question was particularly attributed to their unfamiliarity with questions, causing them to be confused about the mathematical concept to use.
The Mathematical Reasoning of the Quran Reciting Student by the Quran Recitation Ability Azkiya Salsabila; Farida Nurhasanah; Arum Nur Wulandari
Edumatika : Jurnal Riset Pendidikan Matematika Vol. 5 No. 2 (2022): November 2022, Edumatika : Jurnal Riset Pendidikan Matematika
Publisher : Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan IAIN Kerinci

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32939/ejrpm.v5i2.1563

Abstract

Reciting the Quran is a good habit that can improve people's cognitive abilities, including reasoning. However, according to Bloom's theory, memorization is categorized as the lowest cognitive domain, while according to NCTM, the reasoning is included in the higher-order thinking process. Hence, there is a contradiction in theories of thinking. This study aims to describe the type of reasoning of reciting the Quran students based on their recitation of the Quran ability. This research method is qualitative with a case study approach. The instrument used in this study was a reasoning test and interview guidelines. The results showed that 3 of 4 subjects with high recitation ability used creative reasoning, only one with medium recitation ability used algorithmic reasoning, and none with low recitation ability used a specific reasoning type.
PELATIHAN PENGEMBANGAN SOAL MATEMATIKA BERBASIS NUMERASI PADA GURU MATEMATIKA SMP UNTUK MENUNJANG ASESMEN KOMPETENSI MINIMUM Imam Sujadi; Budiyono Budiyono; Ira Kurniawati; Arum Nur Wulandari; Riki Andriatna; Hanifa Alifia Puteri
Abdimas Galuh Vol 5, No 1 (2023): Maret 2023
Publisher : Universitas Galuh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25157/ag.v5i1.9085

Abstract

Asesmen Kompetensi Minimum (AKM) merupakan salah satu pengukuran hasil belajar dalam Asesmen Nasional (AN) yang hasilnya menjadi dasar untuk mengetahui mutu satuan pendidikan. Salah satu penilaian yang dilakukan adalah terkait numerasi. Sebagai bentuk evaluasi yang baru, soal numerasi pada AKM berbeda dengan soal matematika yang diberikan dalam kegiatan pembelajaran, sehingga diperlukan pembiasaan dalam kegiatan pembelajaran. Permasalahan yang dihadapi oleh guru Matematika di Kota Surakarta adalah belum familiar dengan jenis soal AKM sehingga mengalami kesulitan untuk menyusun dan mengembangkan soal numerasi yang akan digunakan dalam pembelajaran di kelas. Untuk mengatasi permasalahan tersebut, Tim Pengabdian bekerja sama dengan MGMP Matematika SMP Kota Surakarta menyelenggarakan kegiatan pendampingan guru dalam menyusun soal AKM kelas. Kegiatan ini melibatkan 30 guru matematika SMP dan dilaksanakan dalam 4 tahap meliputi: (1) penyampaian tentang kebijakan pendidikan tentang AKM khususnya tentang numerasi, dilanjutkan tentang brainstorming terkait dengan numerasi; (2) inspirasi penyusunan soal AKM dan penugasan pengembangan soal; (3) review tugas soal yang dibuat peserta dilanjutkan merevisi soal secara silang; dan (4) pengenalan platform asesmenpedia. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa guru mengalami kendala dalam menyusun atau mengembangkan soal numerasi, khususnya dalam menentukan konteks dan level kognitif. Hasil dari kegiatan pelatihan penyusunan AKM diharapkan dapat didiseminasi oleh peserta pelatihan di sekolah masing-masing sehingga lebih banyak guru matematika yang dapat mengambil manfaat dari kegiatan ini.
Conceptions of Differentiated Instruction: A Case Study of Junior High School Mathematics Teachers Imam Sujadi; Riki Andriatna; Budiyono; Ira Kurniawati; Arum Nur Wulandari; Yuli Bangun Nursanti
Jurnal Pendidikan dan Pengajaran Vol 57 No 1 (2024): April
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jpp.v57i1.67949

Abstract

Differentiated learning is a learning approach that adapts to the individual needs of students, both student readiness, interests, and their learning profile. Although this concept has been widely discussed, its implementation in mathematics learning still encounters many obstacles. This study aims to describe the conception of mathematics teachers towards differentiated learning and its implementation in supporting the Independent Curriculum. This research is qualitative research using questionnaires as a data collection method. The subjects of this study were 27 junior high school mathematics teachers in the city of Surakarta. Data is analyzed using qualitative analysis techniques including data reduction, data presentation, and verification/conclusions. The results showed that teachers' understanding of differentiated learning was good, both in theoretical concepts and implementation. However, teachers still face obstacles in design, limited learning time, classroom management, and limited knowledge on some aspects of differentiated learning. The study concluded that even though teachers already understand the concept of differentiated learning, they need further support to overcome existing barriers. The implications of this research point to the need for additional training and resources to support more effective implementation.
Penguatan Kompetensi Guru Matematika SMP dalam Merancang Pembelajaran Berdiferensiasi pada Kurikulum Merdeka Imam Sujadi; Riki Andriatna; Ira Kurniawati; Arum Nur Wulandari; Yuli Bangun Nursanti
INCOME: Indonesian Journal of Community Service and Engagement Vol 5 No 1 (2026)
Publisher : EDUPEDIA Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56855/income.v5i1.1946

Abstract

Satuan pendidikan melalui Kurikulum Merdeka berkewajiban untuk memfasilitasi siswa dalam memaksimalkan potensi dan kemampuan individu setiap siswa, salah satunya melalui pembelajaran berdiferensiasi. Pembelajaran berdiferensiasi merupakan pembelajaran yang didasarkan pada kebutuhan siswa, baik kesiapan belajar siswa, minat belajar, dan profil belajar siswa. Akan tetapi, terdapat hambatan yang dialami oleh guru, khususnya guru Matematika SMP di kota Surakarta, dalam memahami pembelajaran berdiferensiasi, baik secara konsep maupun pelaksanaannya. Guru masih mengalami hambatan dalam menyusun alur dan proses pembelajaran berdiferensiasi. Untuk itu, dilakukan pelatihan implementasi pembelajaran berdiferensiasi yang melibatkan guru Matematika SMP di kota Surakarta sebanyak 20 orang. Adapun tahapan kegiatan yang dilakukan yaitu: (1) penyampaian materi mengenai kebijakan Kurikulum Merdeka dan pembelajaran berdiferensiasi; dan (2) perancangan pembelajaran matematika pembelajaran berdiferenisasi. Kegiatan pelatihan memberikan pemahaman kepada guru Matematika SMP kota Surakarta terkait pembelajaran berdiferensiasi, pada aspek konsep pembelajaran berdiferensiasi maupun merancang pembelajaran matematika dengan pendekatan pembelajaran berdiferenisasi melalui menggunakan kerangka backward design.