Tisna Sanjaya
Fakultas Seni Rupa dan Desain, Institut Teknologi Bandung, Jl. Ganesa No. 10 Bandung

Published : 15 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 15 Documents
Search

HARMONI DALAM TRI HITA KARANA Sekar Padmi, Ni Luh Nyoman Shita; Sanjaya, Tisna
Visual Art Vol 4, No 1 (2015)
Publisher : Visual Art

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (0.168 KB)

Abstract

Manusia, dikatakan sebagai mahluk ciptaan Tuhan yang paling sempurna. Kesempurnaan manusia kini menjadikan manusia sebagai mahluk ciptaan Tuhan yang merasa paling berkuasa diantara mahluk ciptaan Tuhan lainnya. Kedekatan secara spiritual telah luntur, keharmonisan di Dunia bukanlah nilai yang utama. Bukankah jika manusia terus hidup seperti ini, manusia justru akan kehilangan segalanya. Melalui proses perenungan penulis teringat akan sebuah konsep kehidupan sederhana untuk menjaga keharmonisan dalam kehidupan. Sebuah filosofi hidup masyarakat Hindu Bali “Tri Hita Karana”. Penulis menyadari bahwa manusialah yang memegang peranan penting untuk membangun keharmonisan kehidupan. Konsep Tri Hita Karana dituangkan penulis melalui karya Instalasi yang diperkuat dengan Performance Art sebagai satu kesatuan karya dengan dorongan totalitas berkesenian.Melalui kesenianlah penghayatan nilai luhur kehidupan tersebut dapat tersampaikan. Penulis percaya bahwa seni dapat membawa perubahan, seni dapat memperkaya rasa, mempertajam empati dan menyuburkan nilai-nilai kemanusiaan.
AKU DAN MASA Ramadanti, Fiesta; Sanjaya, Tisna
Visual Art Vol 4, No 1 (2015)
Publisher : Visual Art

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (0.168 KB)

Abstract

Masa depan adalah kurun waktu atau kondisi yang berada di depan manusia, kondisi tersebut tidak terbatas dan masih bersifatabstrak. Kegiatan meramal adalah upaya untuk mendapatkan wawasan tentang pertanyaan atau situasi tentang masa depan.Pertanyaan akan seperti apakah kehidupan di masa depan nanti menjadi kegelisahan penulis. Melalui kegiatan meramaldengan media kartu tarot, penulis mencari jawaban atas permasalahan tersebut. Gagasan tersebut divisualisasikan dalam karyaTugas Akhir ini. Ketertarikan dengan visual kartu tarot bergaya art nouveau mengingatkan penulis akan lukisan kaca Cirebonyang juga memiliki visual bergaya sama. Isu mengenai masa depan diwakilkan dengan visualisasi kartu tarot yang dibuatdengan teknik cetak saring di atas akrilik. Teknik ini dipilih karena merupakan teknik yang memiliki hasil akhir menyerupailukisan kaca Cirebon. Lukisan kaca Cirebon diangkat untuk mewakili identitas diri penulis sebagai keturunan Cirebon dalamkarya ini. Karya ini dibuat sebagai media rebalancing penulis dalam mengukuhkan keyakinan penulis tentang kegelisahan dimasa depan. Jawaban dari permasalahan yang diangkat memang sejatinya telah disadari penulis dari sebelum karya ini dibuat,tetapi dengan membuat karya ini penulis menemukan keseimbangan batin.
CATATAN-CATATAN TANAH Ramadhan, Hidayat; Sanjaya, Tisna
Visual Art Vol 4, No 1 (2015)
Publisher : Visual Art

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (0.168 KB)

Abstract

Islam, dari segi bahasa Arab, berasal dari kata istaslama–mustaslimun yang berarti penyerahan diri total kepada Allah. Menjadi seorang muslim berarti berserah diri kepada Allah, menjadikan hidup dan mati hanya untuk Allah semata. Menempuh pendidikan di bidang seni rupa, penulis ingin dapat menjadikan kekaryaan ini, menjadi jalan untuk mencapai tujuan menjadi seorang muslim taat. Karya yang dibuat ini menjadi ruang dzikir (mengingat Allah), mengingat dosa, dan kesalahan yang pernah penulis lakukan sebagai seorang muslim, serta menjadi catatan tentang momen-momen spiritual yang dapat menjadi bahan kontemplasi dan introspeksi diri penulis tentang hubungan dirinya dengan Sang Pencipta.
Seni dan Kehidupan Urban : IMAH BUDAYA ( IBU ) CIGONDEWAH Revitalisasi Budaya dan Pemberdayaan Masyarakat Melalui Karya Seni Lingkungan Sanjaya, Tisna
Extension Course Filsafat ( ECF ) No 1 (2014): ECF Filsafat Seni
Publisher : Extension Course Filsafat ( ECF )

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Mencintai tanah, air, pohon dan warga Desa Batu Rengat Cigondewah dengan gairah penciptaan karya seni dari budaya desa yang kaya akan sumber mata air yang mengalir menjadi Sungai Cigondewah adalah gairah penciptaan karya seni bersama warga desa Cigondewah yang sedang terpinggirkan.Pernah aliran sungai Cigondewah yang jernih itu mengalir penuh cinta ke sawah-sawah, menumbuhkan padi, tumbuh hingga panen dan dirayakan dengan berbagai helaran seni yang kaya akan nilai-nilai kearifan tradisi sunda, seperti Bring-Brung, Lais, Benjang, Pencak Silat, Jajampanaan serta syukuran Syalawatan.Warga berkirim penganan Peuyeum Ketan, Rangginang, Kolontong, Bodol Osi sampai Beras Tutu Hawara Geulis yang berbentuk pipih, putih bersih, beras yang indah khas Cigondewah.Perlahan air sungai Cigondewah dibanjiri limbah beracun limpahan dari pabrik , sumber mata air terperangkap oleh budaya pembiaran berjamaah, pepohonan dan padi serta alam tidak lagi menjadi sahabat, dan warga terperangkap ke dalam budaya baru dari perilaku produksi proses industrialisasi. Flora dan fauna punah..Kini terhampar jemuran limbah plastik, gudang-gudang dan pabrik daur ulang plastik, kepul asap pembakaran limbah, sebuah desa di ujung perbatasan kota Bandung Barat yang tidak pernah pulas tertidur. Hilir mudik truk pengangkut limbah plasik yang diangkut dari pabrik-pabrik plastik desa Cigondewah Kidul meremukan Jalan Desa Batu Rengat.Panen Raya produksi plastik tidak pernah ditandai oleh helaran beragam seni tradisi dan saling mencicipi berkirim hasil produksi. Hilang pula nilai-nilai budaya gotong royong, spirit religi yang kaya akan nilai-nilai kecintaan pada kerja keras mengolah bumi sebagai rasa syukur, dzikir sambil mengolah air, tanah, pepohonan dan tersingkir juga ruang terbuka yang aman dan nyaman untuk bermain anak-anak.Lingkungan hidup yang kini rubuh adalah proses sistemik pembiaran dari aparatus pemerintah, politik yang tidak bijak untuk menunjukan arah perubahan tata kota dari proses sistem industri kapitalisasi dan tanpa pendampingan dari para intelektual, budayawan yang berkelimun di situs kota Bandung dengan jargon kota seni, budaya dan pendidikan.Proses kreasi penciptaan karya seni proyek Imah Budaya Cigondewah adalah sikap pendampingan penulis dalam merespon perubahan desa pertanian menjadi kawasan industri. Mendampingi anak-anak yang nyaris terberangus oleh budaya produksi industrialisasi yang menjamur di hampir tiap rumah warga tempat sewa video games, serta media elektronik yang menghanyutkan waktu dan energi masa-masa kanak-kanaknya menjauh dari alam lingkungan hidupnya.Metode penciptaan karya seni yang lebur dengan alam Batu Rengat Cigondewah menjadikan posisi dan fungsi seni bagian kehidupan sehari-hari.Bentuk karya seni yang penulis ciptakan berupa bangunan serta penataan tanaman di halaman Imah Budaya Cigondewah adalah bentuk fisik penciptaan karya seni yang tumbuh bersama warga untuk mengolah kekayaan tradisi dan spirit religi dalam semangat zaman masa kini untuk mengisi ruang yang hampa dari proses perubahan desa Batu Rengat Kelurahan Cigondewah Kaler Bandung Kulon.Harapan yang ingin ditumbuhkan dari Penciptaan Karya Seni Pusat Kebudayaan Cigondewah adalah tumbuhnya rasa optimis, semangat zaman dalam upaya merevitalisasi tradisi dan spirit religi desa dalam mencintai, membenahi lingkungan hidup untuk tujuan menjadi model penciptaan Karya Seni yang inspirasinya menumbuhkan daya hidup dan kebaikan bagi lingkungan.
RESPON WARGA TERHADAP PERUBAHAN VISUAL DAN PERWUJUDAN IDENTITAS PEMUKIMAN WONOSARI MENJADI KAMPUNG PELANGI SEMARANG Irwandi, Ernest; Sabana, Setiawan; Kusmara, Andryanto Rikrik; Sanjaya, Tisna
ANDHARUPA: Jurnal Desain Komunikasi Visual & Multimedia Vol. 6 No. 02 (2020): August 2020
Publisher : Dian Nuswantoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33633/andharupa.v6i02.3473

Abstract

AbstrakSatu dasawarsa ini, fenomena mewarnai kampung kota (urban villages) telah menjadi salah strategi berbagai kota di pulau Jawa untuk menciptakan daya tarik wisata. Kampung kota yang seringkali terkesan kumuh, menjelma sebagai kawasan wisata dan menjadi ikon kota. Penelitian ini dilakukan di pemukiman Wonosari Gunung Brintik, Semarang dan saat ini dikenal sebagai Kampung Pelangi. Sejak 2017, warna-warni Kampung Pelangi tidak hanya berfungsi sebagai penanda visual suatu lokasi, tetapi telah mengubah fungsi pemukiman menjadi kawasan wisata. Penelitian ini berupaya untuk mengetahui perubahan yang terjadi khususnya setelah pemukiman Wonosari dikenal sebagai Kampung Pelangi dan menjadi ikon baru bagi Kota Semarang. Penelitian ini menggunakan metode campuran, tahap pendataan awal dilakukan melalui wawancara, kemudian dilanjutkan dengan penyebaran kuesioner untuk mengetahui respon warga setempat terhadap perubahan visual pemukiman Wonosari menjadi Kampung Pelangi. Penelitian bertujuan untuk memahami bagaimana Kampung Pelangi mewujudkan identitas tempat melalui citra lokal serta mencari pendekatan model pemberdayaan terhadap potensi lokal sehingga berdampak pada keberlanjutan Kampung Pelangi sebagai destinasi wisata. Kata kunci: citra visual, identitas Kampung Pelangi, place branding AbstractFor almost a decade, coloring urban villages have become one of the strategies of various cities in Java to create a tourist attraction. The urban villages, that often considered slum areas had transformed to be tourist destinations and become an icon of cities. This research conducted in the settlement of Wonosari Gunung Brintik, Semarang, or now known as Kampung Pelangi. Since 2017, the colorful Kampung Pelangi has not only visually transformed a location but has transformed into a tourist destination. This research uses a mixed-method, collection of data conducted through interviews and questionnaires. This study uses the perspective of place identity and focuses on the residents’ response to the visual changes of their settlement. This study also tries to understand the image construction process of place identity that represents its local values and search for an empowerment model that will impact the sustainability of Kampung Pelangi as a tourist destination. Keywords:  Kampung Pelangi’s identity, place branding, visual image