Claim Missing Document
Check
Articles

Found 14 Documents
Search

Hubungan Antara Status Gizi dan Stunting pada Usia 0-4 Tahun di Puskesmas Petir Kabupaten Serang Tahun 2023 Adhika Afriadi; Dicky Santosa; Lisa Adhia Garina
Bandung Conference Series: Medical Science Vol. 4 No. 1 (2024): Bandung Conference Series: Medical Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsms.v4i1.10465

Abstract

Abstract. Stunting is a disruption in children's growth and development that often occurs in the world until 2025, including Indonesia. The incidence of stunting is influenced by many factors, especially the nutritional status of children. The aim of this study was to analyze the relationship between nutritional status and stunting at ages 0–4 years. This research is an analytical observational study with a cross sectional approach. Research samples that met the research criteria were taken using purposive sampling totaling 269. Statistical analysis used SPSS version 29.0 with the bivariate Chi square test. Most of the stunted children were male, 153 children (56,9%), 173 children aged 0-24 months (66,5%), normal nutritional status 181 children (67,3%), and stunting stratification was short (stunting) 185 children (68,8%). There is a relationship between nutritional status and the incidence of stunting (p= 0,024). Nutritional status and stunting have a significant relationship, with the largest distribution of both stunted and severely stunted occurring in the normal nutrition group and more frequently occurring in men compared to women. Monitoring body weight and length or height is important to do regularly to detect malnutrition and risk of stunting. Abstrak. Stunting menjadi gangguan tumbuh kembang anak yang banyak terjadi didunia hingga tahun 2025, termasuk Indonesia. Kejadian stunting dipengaruhi oleh banyak faktor terutama adalah status gizi pada anak. Tujuan penelitian ini untuk menganalisis hubungan antara status gizi dengan stunting pada usia 0–4 tahun. Penelitian ini merupakan penelitian observasional analitik dengan pendekatan cross sectional. Sampel penelitian yang memenuhi kriteria penelitian diambil menggunakan purposive sampling berjumlah 269. Analisis statistik menggunakan SPSS versi 29.0 dengan uji bivariat Chi square. Sebagian besar anak stunting berjenis kelamin laki-laki sebanyak 153 anak (56,9%), usia 0-24 bulan 173 anak (66,5%), status gizi normal 181 anak (67,3%), dan stratifikasi stunting adalah pendek ( stunting) 185 anak (68,8%). Terdapat hubungan antara status gizi dengan kejadian stunting (p = 0,024). Status gizi dan stunting mempunyai hubungan yang signifikan, dengan distribusi terbesar baik stunting maupun stunting berat terjadi pada kelompok gizi normal dan banyak terjadi pada jenis kelamin laki-laki dibandingkan dengan perempuan. Pemantauan berat badan dan panjang atau tinggi badan penting dilakukan secara rutin untuk mendeteksi malnutrisi dan risiko stunting.
Hubungan Berat Badan Lahir Rendah dengan Kejadian Stunting pada Balita di Kecamatan Padalarang Kabupaten Bandung Barat Dinda Syafira Agitha; Santun Bhekti Rahimah; Dicky Santosa
Bandung Conference Series: Medical Science Vol. 4 No. 1 (2024): Bandung Conference Series: Medical Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsms.v4i1.10754

Abstract

Abstract. A baby's birth weight is the first weight recorded after birth, ideally measured in the first hours after birth. Low Birth Weight (LBW) is a birth weight of less than 2500 grams or 5.5 pounds. Low birth weight is a risk factor for stunting. Stunting is a growth and development disorder experienced by children due to poor nutrition. Children are said to be stunted if their height at their age is less than -2 standard deviations on the WHO child growth curve. The percentage of stunted toddlers in West Bandung Regency in 2021 will reach 11.85%. The aim of this research is to determine the relationship between low birth weight and stunting. The research was conducted at the Padalarang District Health Center, West Bandung Regency in 2023. This research was an analytical observational study using the case-control method. The variables in this study are birth weight as the independent variable and stunting as the dependent variable. The number of research subjects was 118 children under five which were determined using the purposive sampling method. This research shows that the majority of children under five in Padalarang District, West Bandung, are girls (55.1%) with the majority aged 24 to 60 months. The results of research on children under five in Padalarang District, West Bandung showed that more children with LBW experienced stunting than those without stunting (7.6%:2.5%). The results of this study show that there is a relationship (p-value < 0.05) between low birth weight and the incidence of stunting in toddlers in Padalarang District, West Bandung. Insufficient energy intake in babies affects the baby's growth and development, making it a risk factor for stunting. Abstrak. Berat lahir bayi merupakan berat badan pertama yang dicatat setelah lahir, idealnya diukur dalam jam-jam pertama setelah lahir. Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) adalah berat lahir yang kurang dari 2500 gram atau 5,5 pon. Berat badan lahir rendah merupakan faktor risiko dari stunting. Stunting merupakan gangguan pertumbuhan dan perkembangan yang dialami anak karena gizi buruk. Anak-anak disebut stunting apabila tinggi badan pada usianya kurang dari -2 standar deviasi pada kurva pertumbuhan anak WHO. Persentase balita stunting di Kabupaten Bandung Barat pada tahun 2021 mencapai angka 11,85%. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan berat badan lahir rendah dengan stunting. Penelitian dilakukan di Puskesmas Kecamatan Padalarang, Kabupaten Bandung Barat pada tahun 2023. Penelitian ini merupakan penelitian observasional analitik dengan metode case control. Variabel dalam penelitian ini adalah berat badan lahir sebagai variabel bebas dan stunting sebagai variabel terikat. Jumlah subjek penelitian sebanyak 118 orang anak balita yang ditentukan dengan metode purposive sampling. Penelitian ini menunjukkan bahwa mayoritas anak balita di Kecamatan Padalarang, Bandung Barat, perempuan (55.1%) dengan sebagian besar berusia 24 sampai 60 bulan. Hasil penelitian pada anak balita di Kecamatan Padalarang, Bandung Barat menunjukkan bahwa balita dengan BBLR lebih banyak yang mengalami stunting dari pada tidak stunting (7.6%:2.5%). Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat hubungan (p-value < 0,05) antara berat badan lahir rendah dengan kejadian stunting pada balita di Kecamatan Padalarang Bandung Barat. Asupan energi yang tidak memenuhi pada bayi mempengaruhi tumbuh kembang bayi sehingga menjadi salah satu faktor risiko stunting.
Analisis Kejadian Stunting terhadap Perkembangan pada Anak Usia 3-5 Tahun di Kecamatan Padalarang Bandung Barat 2023 Magfira Putri Darna; Lisa Adhia Garina; Dicky Santosa
Bandung Conference Series: Medical Science Vol. 4 No. 1 (2024): Bandung Conference Series: Medical Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsms.v4i1.11003

Abstract

Abstract. Indonesia is the 4th country in the world and 2nd in Southeast Asia with the highest Stunting rate, namely; 149.2 million cases in 2020. Development in the first 1,000 days is an aspect that is closely related to Stunting, an aspect that can be disrupted in the form of developmental obstacles. This study aims to analyze the relationship between Stunting and development in children aged 3-5 years in Padalarang District, West Bandung. This research is an analytical observational study with a cross sectional approach. Purposive sampling was carried out in the population, the research sample came from primary data taken from filling out questionnaires and measuring body height using a microtoise and entered into the Kuisioner Pra Screening Perkembangan (KKSP). Data were analyzed using univariate and bivariate tests using the Man Whitney test. The number of respondents was 87 children with the characteristics of the respondents being mostly female (51%), with an average age of 45.19 months and most of them were stunted (51), 49% were stunted and 51% were very stunted. The results of the analysis obtained a p value of 0.72 (>0.05) which shows that there is no significant difference between Stunting and development in children aged 3-5 years. Development is influenced by many factors other than nutrition, such as internal factors (mother's role, psychological function) and external factors such as the child's growing environment. Abstrak. Indonesia merupakan negara ke-4 di dunia dan ke-2 di Asia Tenggara dengan angka Stunting tertinggi yaitu; 149,2 juta kasus pada tahun 2020. Perkembangan pada periode 1.000 hari pertama merupakan aspek yang sangat berhubungan erat dengan Stunting, aspek yang dapat terganggu dapat berupa hambatan perkembangan. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan antara Stunting dan perkembangan pada anak usia 3—5 tahun di Kecamatan Padalarang Bandung Barat. Penelitian ini merupakan penelitian observasional analitik dengan pendekatan cross sectional. Dilakukan purposive sampling pda polulasi, sampel penelitian berasal dari data primer yang diambil dari dari pengisian kuesioner dan pengukuran tinggi badan menggunakan microtoise dan dimasukan ke dalam Kuesioner Pra Skrining Perkembangan (KKSP). Data dianalisis dengan uji univariat dan bivariat dengan uji Man Whitney. Jumlah responden sebanyak 87 anak dengan karakteristik responden mayoritas berjenis kelamin perempuan (51%), dengan rata-rata usia 45,19 bulan dan mayoritas mengalami Stunting (51), pada stunted sebesar 49% dan pada severy stunted sebesar 51% Hasil analisis didapatkan nilai p sebesar 0,72 (>0,05) yang menunjukan bahwa tidak ada perbedaan yang signifikan antara Stunting dan perkembangan pada anak usia 3—5 tahun. Perkembangan dipengaruhi banyak faktor lainnya selain gizi seperti faktor internal (peran ibu, fungsi psikis) dan eksternal seperti lingkungan tumbuh anak.
Kejadian Miopia pada Penggunaan Gawai Siswa SMAN 1 Cibadak Kabupaten Sukabumi Bhatara, Tryando; Santosa, Dicky; Suriadi, Ghiffari Muhammad
Jurnal Integrasi Kesehatan dan Sains Vol 6, No 2 (2024): Jurnal Integrasi Kesehatan dan Sains
Publisher : Universitas Islam Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/jiks.v6i2.13580

Abstract

AbstrakMiopia merupakan kelainan refraksi yang menjadi masalah kesehatan masyarakat di dunia yang disebabkan oleh peningkatan panjang aksial bola mata sehingga cahaya tidak terfokus pada retina dan penglihatan menjadi kabur. Penggunaan gawai yang berkepanjangan dapat berkaitan dengan miopia. Kelainan refraksi di Indonesia mencapai 15% yang didoinasi anak usia sekolah dengan prevalensi 22,1%. Kelainan refraksi adalah suatu masalah yang harus diperhatikan pada anak usia sekolah yang mayoritas menggunakan gawai. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan intensitas penggunaan gawai dengan kejadian miopia pada siswa SMAN 1 Cibadak Kabupaten Sukabumi selama bulan Februari 2022. Jenis penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dengan metode observasional analitik yang disertai dengan pendekatan potong lintang. Sebanyak 92 responden didapatkan dengan metode simple random sampling. Pengambilan data dilakukan secara subjektif menggunakan kuesioner dan objektif dengan menggunakan autorefractometer dan snellen chart. Hasil dianalisis dengan Fisher's Exact test. Hasil penelitian menunjukkan sebagian besar memiliki intensitas penggunaan gawai tinggi, yaitu sebanyak 78 orang (85%) serta kejadian miopia, yaitu sebanyak 65 orang (71%). Nilai p penelitian ini didapatkan hasil sebesar 0,004. Simpulan penelitian ini terdapat hubungan antara intensitas penggunaan gawai dan kejadian miopia pada siswa SMAN 1 Cibadak Kabupaten Sukabumi.Incidence of Myopia in the Use of Gadget for Students of SMAN 1 Cibadak, Sukabumi RegencyAbstractMyopia or nearsightedness is a refractive error that is a public health problem in the world caused by an increase in the axial length of the eyeball so that light does not focus on the retina and vision becomes blurry. Prolonged use of devices can be associated with myopia. In Indonesia, 15% of school-aged children suffer from refractive errors, with a population prevalence of around 22%. This refractive error is problematic and needs to be paid attention to in school-aged children, most of whom use devices. This study aims to analyze the relationship between the intensity of device use and the incidence of myopia in students at SMAN 1 Cibadak, Sukabumi Regency, in February 2022. This type of research is quantitative, with analytical observational methods and a cross-sectional approach. A total of 92 respondents were obtained using the simple random sampling method. Data collection was carried out subjectively using a questionnaire and objectively using an autorefractometer and Snellen chart. Results of analysis using Fisher's Exact test. The research results showed that the majority had a high intensity of device use, namely 78 people (85%), and the incidence of myopia, namely 65 people (71%). The p-value of this research was 0.004. This study concludes that there is a relationship between the intensity of device use and the incidence of myopia in students at SMAN 1 Cibadak, Sukabumi Regency.