Claim Missing Document
Check
Articles

Found 12 Documents
Search

Pelatihan Pengolahan Roti Dengan Bahan Tambahan Makanan Aman Untuk Menghasilkan Roti Lokal Bermutu Moegiratul Amaro; Sri Widyastuti; Nazaruddin Nazaruddin; Baiq Rien Handayani; Mutia Devi Ariyana
Bakti Sekawan : Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol 2 No 1 (2022): Juni
Publisher : Puslitbang Sekawan Institute Nusa Tenggara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (337.996 KB) | DOI: 10.35746/bakwan.v2i1.213

Abstract

Penemuan berbagai bahan tambahan untuk memperoleh roti dengan proses pengolahan lebih cepat, volume lebih besar, tekstur lebih halus dan daya simpan lebih lama terus dikembangkan. Akan tetapi penambahan bahan tambahan makanan (BTM) sintetis membawa berbagai konsekuensi kesehatan, terlebih bila penggunaannya tidak sesuai aturan. Meningkatnya kesadaran akan perlunya makanan yang sehat dan aman sesuai dengan kebutuhan maka semakin berkembangnya pencarian BTM yang aman termasuk pada proses pembuatan roti. Tingkat pengetahuan, sikap dan perilaku pengerajin dalam proses pengolahan bahan pangan dapat dipengaruhi oleh tingkat pendidikan, sosial dan ekonomi. Dalam hal ini, sebagian besar para pembuat roti di Mataram memiliki latar belakang pendidikan hanya sampai pada tingkatan Sekolah Dasar atau Sekolah Menengah Pertama sehingga akan mengakibatkan terbatasnya pengetahuan yang mendasari tentang pembuatan roti yang aman dan bebas dari bahan tambahan kimiawi. Sebagai upaya preventif penggunaan bahan tambahan makanan kimia yang berbahaya dan tidak halal dalam proses produksi roti perlu dilakukan suatu usaha untuk memberikan pelatihan, sosialisasi dan memberikan pengetahuan terkait dengan proses pengolahan roti mulai dari persiapan dan penyediaan bahan baku, penggunaan bahan utama dan bahan tambahan, tahapan pengolahan dan pasca pengolahan (pengemasan dan penyimpanan). Kegiatan ini dilakukan melalui kegiatan pelatihan pembuatan roti yang benar sesuai dengan standar sanitasi dan cara pengolahan pangan yang baik (CPPB). Hasil dari kegiatan ini adalah peserta mendapat pemahaman mengenai bahaya bahan tambahan sintesis dan pentingnya menggunakan bahan tambahan alami seperti karaginan sebagai bread improver serta kegiatan pelatihan ini dapat meningkatkan wawasan dan keterampilan peserta mengenai prosedur pengolahan roti yang dapat diterapkan dalam proses produksi roti sehingga dihasilkan roti lokal yang aman dan bermutu.
Coconut agrotourism model based on local wisdom for empowerment of Lombok coastal communities mutia devi ariyana; Aulia Islamiati Yusuf; Mirriyadhil Jannah
Journal of Biology, Environment, and Edu-Tourism Vol. 1 No. 3 (2025): December
Publisher : Yayasan Siti Widhatul Faeha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.65622/jbee.v1i3.184

Abstract

Coconut is a strategic commodity for the coastal communities of Lombok Island, but its utilization is still focused on selling raw materials, so the added value and its role in strengthening the local economy and socio-ecological resilience are not yet optimal. This research aims to formulate a sustainable coconut agrotourism development model based on local wisdom as a strategy for empowering coastal communities on Lombok Island. This study employs a descriptive qualitative approach based on secondary data, utilizing content analysis and comparative literature review methods for scientific publications, sectoral data, and policy documents from the period 2015–2025. Literature samples were selected purposively and developed using the snowball technique until information saturation was reached. These samples were then synthesized and validated using a sustainability framework and the principles of Community-Based Tourism (CBT). The study results indicate that the potential for coconut agrotourism in Lombok is very high because it is supported by a coastal agrarian ecosystem, local wisdom in coconut processing (e.g., VCO, coconut sugar, and traditional products), and an active farming community. However, this potential is hampered by weaknesses in infrastructure, human resource capacity, institutions, and digital promotion. The proposed conceptual model emphasizes strengthening community capacity, strengthening local institutions (pokdarwis, cooperatives/BUMDes), diversifying coconut-based educational tourism products and packages, and quadruple helix collaboration to achieve inclusive, competitive, and sustainable coconut agrotourism.