Claim Missing Document
Check
Articles

Found 20 Documents
Search

SEBARAN SPASIAL BIOMASSA IKAN PELAGIS DI PERAIRAN SELAT LOMBOK Badrudin Badrudin; I Nyoman Radiarta; Edi Mulyadi Amin
Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia Vol 5, No 1 (1999): (Vol.5 No. 1 1999)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, BRSDM KP.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3649.087 KB) | DOI: 10.15578/jppi.5.1.1999.1-6

Abstract

Tersedianya data dan informasi tentang potensi sumber daya ikan pelagis di pelairan Selat Lombok merupakan salah satu dasar bagi pengernbangan dan pernanfaatannya.
KELIMPAHAN STOK, SEBARAN PANJANG, DAN KEMATANGAN IKAN COKLATAN (Scolopsis taeniopterus) DI PERAIRAN LAUT JAWA Tri Ernawati; Badrudin Badrudin
Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia Vol 13, No 3 (2007): (Desember 2007)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, BRSDM KP.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (588.189 KB) | DOI: 10.15578/jppi.13.3.2007.213-221

Abstract

Ikan coklatan (Scolopsis taeniopterus) yang secara taksonomis termasuk famili Nemipteridae adalah salah satu jenis ikan demersal ekonomis penting di Laut Jawa. Data yang dianalisis merupakan sebagian hasil riset dengan K. M. Bawal Putih I pada tahun 2005 dan 2006, serta hasil pengambilan contoh di pangkalan pendaratan ikan Blanakan. Dugaan kepadatan stok pada ke-2 cruise tersebut adalah sekitar 7,0 dan 9,0 kg km-2. Dari sebaran frekuensi panjang teridentifikasi bahwa contoh ikan coklatan terdiri atas 1 kelompok umur yang kuat (strong cohort) dengan modus ukuran panjang 16,5 cm. Setelah dipisahkan antara jantan dan betina tampak bahwa, ikan jantan didominasi oleh kelompok ukuran 17,5 cm, sedangkan ikan betina oleh ukuran 16,0 cm. Data tersebut menyiratkan bahwa ukuran ikan coklatan jantan lebih panjang dibandingkan dengan ikan betina. Dari sebaran persen frekuensi kumulatif di mana 50% dari sebaran tersebut yang mencerminkan Lc (panjang pertama kali tertangkap) tampak bahwa ukuran ikan betina dengan Lc=15,5 cm lebih kecil dari ikan jantan dengan Lc=17,5 cm. Melalui analisis kematangan ovarium, dapat dihitung ukuran ikan coklatan mencapai matang ovarium untuk pertama kali pada panjang Lm=15,0 cm. Dari ukuran-ukuran tersebut dapat disimpulkan bahwa sebagian besar ikan coklatan yang tertangkap sudah melewati ukuran pertama kali matang gonad, atau Lc>Lm. Jika kondisi tersebut dapat terus dipertahankan, maka stok ikan coklatan di Laut Jawa pada tingkat upaya yang sama mempunyai peluang yang lebih besar untuk dimanfaatkan secara berkelanjutan. Lattice monocle bream (Scolopsis taeniopterus) that taxonomically belong to the family Nemipteridae provide one of the economically important demersal fish resources in the Java Sea. Data analyzed were part of the R/V Bawal Putih I cruise results carried out in 2005 until 2006, and from sampling in Blanakan landing place. The estimated stock density of the fish were 7.0 dan 9.0 kgs km-2. From the overall length frequency distribution it is likely that the population of the lattice monocle bream consisted of one strong cohort, with the modus of 16,5 cm. When sexually separated, it is revealed that the male group was dominated by the size of 17,5 cm length, while the female was dominated by the size of 16,0 cm length. From these data is likely that average size of the male fish during this observation was bigger than the size of female. From the cumulative percent frequencies distribution it was also observed that 50% of the distribution that can be assummed as equal to the length of first capture of the female fish, Lc=15,5 cm, seem to be smaller size compare with the male of the Lc=17,5 cm. Through maturity analysis it was calculated that the length of first maturity, Lm=15,0 cm length. From these size observations it can be concluded that most of the fish caugth have been mature, where Lc>Lm. Provided that this condition could be maintained at the same level of effort, exploitation of the lattice monocle bream stock could likely be achieved sustainably.
LAJU TANGKAP, HASIL TANGKAPAN MAKSIMUM (MSY), DAN UPAYA OPTIMUM PERIKANAN UDANG DI PERAIRAN LAUT ARAFURA Badrudin Badrudin; Bambang Sumiono; Narida Wirdaningsih
Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia Vol 8, No 4 (2002): (Vol.8 No.4 2002)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, BRSDM KP.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (4833.862 KB) | DOI: 10.15578/jppi.8.4.2002.23-29

Abstract

Laut Arafura adalah salah satu daerah penangkapan udang yang sangat penting di lndonesia. Meskipun usaha perikanan udang di Laut Arafura sudah dimulai sejak tahun 1960-an, data 'catch' dan 'efforf yang tersedia untuk dianalisis dapat dikatakan masih minimal. Data yang dianalisis berasal dari perusahaan penangkapan yang berbasis di Sorong.
INVENTARISASI SUMBER DAYA BENIH IKAN BAGI PENGEMBANGAN BUDIDAYA LAUT DI PERAIRAN KUPANG, NUSA TENGGARA TIMUR Badrudin Badrudin; Ali Suman; Asep Iman Budiman
Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia Vol 3, No 3 (1997): (Vol.3 No.3 1997)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, BRSDM KP.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (6899.861 KB) | DOI: 10.15578/jppi.3.3.1997.65-75

Abstract

Wilayah Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur terdiri atas kawasan dengan iklim kering dan lahan kering yang kurang subur sehingga usaha budidaya ikan di laut atau di pantai dapat merupakan salah satu alternatif upaya pemanfaatan sumber daya alam. Salah satu unsur penting untuk budidaya adalah ketersediaan benih secara lokal.
INDEKS KEANEKARAGAMAN HAYATI IKAN KEPE-KEPE (Chaetodontidae) Dl PERAIRAN WAKATOBI, SULAWESI TENGGARA Badrudin Badrudin; Sasanti Sasanti; Yahmantoro Yahmantoro; lmam Suprihanto
Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia Vol 9, No 7 (2003): (Vol.9 No.7 2003)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, BRSDM KP.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3810.303 KB) | DOI: 10.15578/jppi.9.7.2003.67-73

Abstract

Kelompok ikan yang dianggap sebagai indikator bagi baik-buruknya kondisi lingkungan perairan terumbu karang adalah Banyaknya jenis ikan kepe-kepe (Chaetodontidae) yang menghuni perairan karang tersebut . Data yang dianaliiis merupakan sebagian hasil penelitian dengan metode transek garis (line intercept trasect) yang dilaksanakan dalam rangka base line study Wakatobi. Penelitian dilakukan antara bulan September-Oktober 2001
INDEKS KELIMPAHAN STOK DAN PROPORSI UDANG DALAM KOMUNITAS SUMBER DAYA DEMERSAL DI PERAIRAN KEPULAUAN ARU, LAUT ARAFURA Badrudin Badrudin; Bambang Sumiono
Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia Vol 8, No 1 (2002): (Vol.8 No.1 2002)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, BRSDM KP.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (6371.17 KB) | DOI: 10.15578/jppi.8.1.2002.95-102

Abstract

Sumber daya udang di perairan Laut Arafura sudah dieksploitasi sejak tahun enam puluhan. Sampel data yang dianalisis merupakan sebagian hasil tangkapan komersial yang beroperasi di perairan sekitar Kepulauan Aru, Laut Arafura. Dari analisis dapat dilihat bahwa trend laju tangkap (catch perunit effott, CPUE) sumber daya udang selama periode 1975-2000 menunjukkan adinya sedikit fluktuasi yang secara keseluruhan dapat dikatakan cenderung mendatar 77,1 (simpangan baku 9,77) ton/kapal/tahun
PROPORSI UDANG DAN HASIL TANGKAPAN SAMPINGAN PERIKANAN PUKAT UDANG DI SUB AREA LAUT ARAFURA Bambang Sumiono; Aisyah Aisyah; Badrudin Badrudin
Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia Vol 17, No 1 (2011): (Maret 2011)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, BRSDM KP.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (125.079 KB) | DOI: 10.15578/jppi.17.1.2011.41-49

Abstract

Dengan mengurangi hasil tangkapan sampingan secara sadar, nelayan udang telah ikut membantu menjamin kesehatan, keanekaragaman dan keutuhan lingkungan perairan; meningkatkan stok udang dengan cara mengurangi penangkapan yuwana udang; dan melindungi stok ikan dengan cara membiarkan yuwana dan ikan dewasa lolos dari tertangkap jaring. Kajian ini membahas lebih dalam proporsi udang dan ikan demersal pada perikanan pukat udang di Laut Arafura. Gambaran umum masalah hasil tangkapan sampingan yang utama dalam perikanan udang di Indonesia adalah tingginya hasil tangkapan sampingan sehingga mengurangi proporsi udang yang diperoleh. Proporsi udang dan hasil tangkapan sampingan pada perikanan udang di Laut Arafura bervariasi baik pada sub area ataupun tahunan. Makin tinggi proporsi hasil tangkapan sampingan, makin kecil proporsi udang yang diperoleh. Bertentangan dengan logika umum di mana setelah hampir empat dekade eksploitasi, ada anggapan proporsi udang terhadap ikan makin mengecil, ternyata tren persentase udang terhadap ikan periode tahun 1982-2008 cenderung naik, sedangkan di sub area Kaimana relatif stabil sebagaimana tampak pada tren yang hampir mendatar. Tren proporsi udang Laut Arafura periode tahun 1982-2008 yang cenderung naik tampaknya ditopang (supported) oleh data proporsi udang dari sub area Aru. By reducing bycatch, the shrimp fishers involved intentionally in ensuring environmental health, biodiversity, and environmental integrity; increasing shrimp stock by reducing catch of juvenile; and protect the stock through releasing juvenile and adult fish caught by the net. This study discusses the proportion of shrimp and demersal fish as bycatch in the Arafura Sea shrimp fisheries. The main picture regarding bycatch in shrimp fisheries in Indonesia is that the higher level of bycatch will lead to the decreasing percentage of shrimp in the net. The annual proportion of shrimp and bycatch in the Arafura Sea shrimp fisheries varied in both by sub area and from year to year. The higher the proportion of bycatch causes the lower the proportion of shrimp. Contrary with public opinion that after more than four decades of shrimp exploitation in which proportion of shrimp in the catch becoming smaller and smaller, in fact, the trend of shrimp percentage in the catch during 19982-2008 have been increasing. The trend of shrimp proportion in Kaimana sub area was almost horizontal/stable, while in the total Arafura Sea (Kaimana, Aru, and Dolak combined) was increasing. The proportion of shrimp on demersal fish in the Arafura Sea was likely supported by the proportion of shrimp from Aru sub area.
TINGKAT PEMANFAATAN SUMBER DAYA IKAN DEMERSAL DI WILAYAH PENGELOLAAN PERIKANAN LAUT JAWA Ngurah Nyoman Wiadnyana; Badrudin Badrudin; Aisyah Aisyah
Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia Vol 16, No 4 (2010): (Desember 2010)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, BRSDM KP.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (126.978 KB) | DOI: 10.15578/jppi.16.4.2010.275-283

Abstract

Untuk menjawab seberapa banyak ikan yang dapat dipanen secara maksimum di wilayah pengelolaan perikanan Laut Jawa tanpa mengurangi prospek pemanfaatannya pada masa mendatang dan tanpa merusak stoknya, dilakukan analisis terhadap catch, effort, dan catch per unit of effort periode tahun 1997-2008 dan aplikasi model produksi surplus. Besarnya maximum sustainable yield telah diestimasi, yang bermanfaat sebagai salah satu dasar bagi langkah pengelolaan perikanan. Penangkapan ikan demersal dengan menggunakan cantrang di Laut Jawa saat ini hampir tanpa langkah pengelolaan yang memadai. Dapat dipastikan bahwa hasil tangkapan tersebut tidak akan terliput dalam statistik produksi perikanan secara akurat baik dalam statistik provinsi ataupun statistik nasional. Langkah pengelolaan sumber daya ikan demersal di Laut Jawa dapat menekankan pada jenis ikan demersal tertentu (target). Dengan mengelola ikan target tersebut, semua jenis ikan demersal dapat terkelola dengan baik. Tingkat pemanfaatan sumber daya ikan demersal di Laut Jawa secara umum sudah over fishing. Mengingat bahwa pergerakan ikan demersal yang lamban dan migrasi yang tidak jauh, maka status eksploitasi di kawasan inshore utara Jawa dapat dikatakan sudah depleted, sedangkan kegiatan penangkapan ikan di perairan offshore diduga memberikan keuntungan. To know how many fish can be harvested maximally without jeopardizing their stock in the future, the analysis of catch and effort data using the surplus production model was done to estimate the maximum sustainable yield that serves as one of the management measures. Exploitation of demersal fish resources using cantrang in the Java Sea nowadays almost without any appropriate management plan. It is found that most of the catch landed has not been recorded appropriately in fisheries statistics both in the province and national level. The level of exploitation of demersal resources in the Java Sea has likely been over fishing. The higher vulnerability of demersal fish due to the lower movement and migration, the status of demersal fish in the inshore waters along the north Java coast has likely been depleted similar with the southern bluefin in the Indian Ocean, while fishing activities in the offshore waters are likely to be profitable as the lower level of fishing pressur are likely occurred. It is suggested that the management measure could be adopted in Java Sea based on red snapper as target species group. With this measure, most of the demersal fish can properly be managed.
KEBIJAKAN PENGELOLAAN SUMBER DAYA IKAN KAKAP MERAH (Lutjanus spp.) DI LAUT ARAFURA Budi Iskandar Prisantoso; Badrudin Badrudin
Jurnal Kebijakan Perikanan Indonesia Vol 2, No 1 (2010): (Mei 2010)
Publisher : Pusat Riset Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (37.486 KB) | DOI: 10.15578/jkpi.2.1.2010.71-78

Abstract

Sumber daya ikan kakap merah di Laut Arafura secara efektif dimanfaatkan oleh perikanan rawai dasar dan pukat ikan skala industri. Pukat udang dengan target penangkapan udang tertangkap juga sejumlah besar ikan demersal, di mana ikan kakap merah (Lutjanus spp.) berukuran kecil sering tertangkap dalam jumlah yang sedikit. Melaui kajian genetic similarity Australia menyimpulkan bahwa ikan kakap merah di kedua sektor Laut Arafura tersebut merupakan satu unit stok yang dikelola secara bersama melalui kerangka kerja Indonesia- Australia shared snapper management plan. Secara ekonomi, langkah pengelolaan bersama tersebut mempunyai implikasi luas yang berpotensi merugikan Indonesia. Hasil analisis data dan informasi lanjutan menemukan bahwa populasi ikan kakap merah di kedua sektor perairan Laut Arafura merupakan unit-unit stok yang terpisah dengan cakupan kawasan perairan yang sangat luas (mega separate stock). Dengan demikian stok ikan kakap merah di kedua sektor Laut Arafura tersebut dapat dikelola sesuai dengan yurisdiksi, kebijakan, dan tujuan pengelolaan yang ditetapkan oleh masing-masing negara.Red snapper resources in the Arafura Sea have been effectively exploited by the industrial scale of bottom long line, fish trawl, and shrimp trawl fisheries. A substantial mount of demersal fish caught by the shrimp trawl fisheries in which a small size (juvenile) red snapper species was also retained. Through genetic similarity studies Australia concluded that the red snapper stock in both sector of the Arafura Sea belong to one stock unit and should collaborative managed under the framework of Indonesia-Australia shared snapper management plan. Based on the economic aspect this management has a wide implication that lead to some potential losses to Indonesia. Further studies on some population dynamics aspects and analysis of the available data and information it was found that the red snapper stocks in the two sectors of the Arafura Sea provide a mega separate stock, occupying a very wide waters area. Based on these findings it can be stated that management of these mega separate stock could be managed in accordance with their respective jurisdictions, policies, and management objectives set up by the respective countries.
KEBIJAKAN PENANGKAPAN DAN PEMANFAATAN SUMBER DAYA IKAN LAUT-DALAM DI INDONESIA Ali Suman; Badrudin Badrudin
Jurnal Kebijakan Perikanan Indonesia Vol 2, No 2 (2010): (November, 2010)
Publisher : Pusat Riset Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (32.052 KB) | DOI: 10.15578/jkpi.2.2.2010.131-137

Abstract

Jenis-jenis organisme laut-dalam yang telah ditemukan antara lain meliputi ikan bertulang rawan (Elasmobranch), ikan bertulang keras (bony fish), krustasea, cephalopod, echinoids, asteroids, ophiuroids, holoturoids, dan anthozoa. Dari sejumlah 550 jenis biota laut, ada sebagian di antaranya bahkan belum ditemui dalam literatur. Jenis-jenis ikan laut-dalam yang ditemui di Samudera Hindia tampaknya mempunyai prospek yang cukup baik untuk dimanfaatkan. Sebagianbesar jenis-jenis ikan laut-dalam memiliki karakterisitik daging yang khusus dengan kandungan protein yang tinggi dan kandungan lemak yang rendah. Selain itu juga dalam daging ikan laut-dalam tersebut telah ditemukan 17 jenis asam amino, yaitu sembilan asam amino esensial dan sisanya asam amino non esensial yang ke semuanya itu dibutuhkan oleh tubuh manusia. Dari 10 jenis ikan laut-dalam yang dianalisis tempak bahwa leusin merupakan asam amino esensial dengan kuantias paling dominan. Selain asam amino, dalam daging ikan laut-dalam juga ditemukan unsur kimia steroid yaitu sejenis hormonyang berisi nucleolus steroid, merupakan unsur biokimia yang berfungsi sebagai bahan pemulih vitalitas (aphrodisiach), yang berguna dalam meningkatkan kesehatan fungsi seksual. Dari manfaat kandungan biokimia ikan laut-dalam tersebut kiranya perlu direkomendasikan agar eksploitasi sumber daya ikan laut dalam hendaknya tidak ditujukan untuk konsumsi langsung. Pemanfaatan yang optimal hendaknya ditujukan untuk memperoleh kandungan bioaktif bagi keperluan farmakologis. Dengan demikian, stok ikan laut-dalam yang tidak terlalubesar tersebut dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan dalam jangka waktu yang panjang. A wide range of marine organisms had been found in the catch. These include fishes group of both bony fish and Elasmobranch. Other groups were crustaceans, cephalopods, echinoids, asteroids, ophiuroids, holoturoids, and anthozoa. A total of more than 550 species were found in the catch, of which until now some species were not yet found in the literatures. Most of deepsea fish in the Eastern Indian Ocean having special meat characteristic with high protein content and lower lipid. On top of that there are some 17 amino acid, consisted of 9 essential and non essential were found in the dee-sea flesh, all needed for metabolism of human life. From the flesh analysis of 10 deepsea species it was found that leusin provide the highest content of the essential amino acid. In addition to the amino acid content it was also found steroid, abiochemical substant containing nucleolus steroid that provide agent in accelerating sexual health function. From this benefit of biochemical substant it is recommended that deep-sea fish resources exploitation should not allotted toward direct consumption. Some optimal exploitation of these resources should be directed to obtain bioactive substants for pharmalogical purposes, so that the relatively small size of potential stock biomass could be utilized sustainably.