Claim Missing Document
Check
Articles

Found 13 Documents
Search

Representasi dari Faktor-Faktor Pembentuk Identitas Tempat pada Kampung Kemasan, Gresik Johannes Parlindungan Siregar; Kartika Eka Sari; Ismi Mariami
Jurnal Pembangunan Wilayah dan Kota Vol 18, No 1 (2022): JPWK Volume 18 No. 1 March 2022
Publisher : Universitas Diponegoro, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/pwk.v18i1.35881

Abstract

Cagar budaya merupakan aset terpenting masyarakat perkotaan yang tidak hanya berguna sebagai penegas keunikan sejarah dan budaya, tetapi juga sebagai potensi wisata. Cagar budaya dalam konteks lingkungan kampung memiliki kompleksitas yang berbeda dimana lingkungan bersejarah beririsan dengan lingkungan huni warganya. Makalah ini bertujuan untuk memaparkan pembentukan identitas Kampung Kemasan sebagai kawasan bersejarah dan hunian penduduk. Kajian ini dilakukan dalam dua tahap, antara lain tahap analisis faktor untuk menentukan faktor-faktor pembentuk identitas tempat dan tahap analisis kualitatif untuk mengidentifikasi representasi dari faktor-faktor pembentuk identitas tersebut. Kajian ini menemukan lima faktor pembentuk identitas, antara lain interaksi individu dengan lingkungan kampung, karakter dan keunikan kampung, motivasi tinggal di kampung, keterikatan individu terhadap daya tarik kampung dan hubungan sosial. Faktor-faktor ini memiliki beberapa representasi, antara lain bangunan kuno dan narasi sejarah, kekerabatan, interaksi dalam kegiatan sosial budaya, pariwisata, kunjungan, kampung sebagai tempat tinggal dan kampung sebagai bagian dari kota modern. Kontribusi ilmiah dari kajian ini adalah temuan yang kontekstual dengan lingkungan sosial budaya pada Kampung Kemasan dan penerapan pendekatan analisis yang mixed antara analisis kuantitatif dan analisa kualitatif.
KETERJANGKAUAN TARIF RETRIBUSI PENGOLAHAN LUMPUR TINJA KOTA BATU DENGAN METODE WILLINGNES TO PAY Kartika Eka Sari; Sara Irawati
Jurnal Tata Kota dan Daerah Vol. 14 No. 2 (2022): Jurnal Tata Kota dan Daerah
Publisher : Department of Urban and Regional Planning, Faculty of Engineering, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.takoda.2022.014.02.10

Abstract

Interaksi yang kuat antara individu dengan penyedia layanan sanitasi merujuk pada peningkatan Kesehatan dan kontribusi masyarakat dan dapat diterapkan sebagai konep peningkatan layanan sanitasi Pengaruh dari kualitas layanan sanitasi buruk, terutama di perkotaan dapat mencemari lingkungan, selain itu keberadaan limbah domestik yang mengandung mikroorganisme patogen dapat menularkan berbagai jenis penyakit apabila masuk ke dalam tubuh manusia. Sehingga, untuk mencegah dan mengatasi masalah tersebut, perlu adanya pengelolaan limbah. Kota Batu merupakan kota dengan perkembangan yang cukup pesat, terutama dengan jumlah penduduk yang mencapai 205.788 jiwa. Adapun sumber dana pengelolaan limbah salah satunya berasal dari retribusi. Salah satu retribusi yang dipungut atas pelayanan yang disediakan oleh pemerintah kota adalah retribusi penyedotan kakus. Perhitungan tarif retribusi pembersihan atau penyedotan kakus di Kota Batu dilakukan berdasarkan Pedoman Penyusunan Tarif Retribusi SPALD, dengan mempertimbangkan hasil perhitungan WTP yang berasal dari persepsi masyarakat. Berdasarkan perhitungan yang dilakukan, tarif retribusi terbagi menjadi tiga kelompok tarif, yaitu kelompok tarif rendah dengan rentang harga sebesar Rp. 280.000 – Rp. 470.000, kelompok tarif sedang Rp. 312.000 – Rp. 502.000, dan kelompok tarif tinggi Rp. 343.200 – Rp. 533.200. Hal tersebut masih sesuai dengan hasil perhitungan WTP, dimana menunjukkan bahwa rata-rata WTP dari pengelolaan sanitasi sebesar Rp.287.258,06.
Penggunaan AHP guna penentuan prioritas penanganan permukiman tangguh bencana longsor Sri Utami; Kartika Ekasari; Ramadhan Mayzer Saputra
Jurnal Pengelolaan Lingkungan Berkelanjutan (Journal of Environmental Sustainability Management) JPLB, Vol 4, No 2 (2020)
Publisher : Badan Kerjasama Pusat Studi Lingkungan (BKPSL) se-Indonesia bekerjasama dengan Pusat Penelitian Lingkungan Hidup IPB (PPLH-IPB)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36813/jplb.4.2.498-512

Abstract

The 2010-2030 Batu City Spatial Plan states that the area with a high risk of landslides in Batu City is located in Temas Village. Risks with the threat of landslides are "high", social vulnerability is "medium" and economic vulnerability is "high". In order to determine the priority for handling landslide resilient settlements, the Analytical Hierarchy Process (AHP) method is the most relevant. The purpose of this research was to determine the priority for handling disaster resilient settlement elements. The tool used was a pairwise comparison questionnaire. Settlement-forming elements namely nature, man, society, shell and network. However, this research was focused on the field of architecture namely shell (foundation, building shape, structural design, location, roof) and network (roads, clean water, drainage, dirty water, solid waste). The results showed that the priority order for handling landslide resilient settlements from shell elements namely building foundations, location and structure of buildings. Meanwhile, the network elements were started from environmental drainage, roads and clean water.