Mieke Choandi
Program Studi S1 Arsitektur, Fakultas Teknik, Universitas Tarumanagara

Published : 28 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 28 Documents
Search

RUANG KOLEKTIF DI WIJAYA KUSUMA Vensiscaria Vensiscaria; Mieke Choandi
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 2, No 1 (2020): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v2i1.6886

Abstract

The fact is that the average Jakarta community has activities that only revolve around the scope of the first place (home-place of residence) and second place (office-place of work-place of study), this continues over and over until it becomes a boring routine. Therefore they need somewhere in between of their daily scope of routine. But ironically, when people need public space to be able to interact with each other, there is no place outside the first place and second place to do activities or just gather among people because of the lack or even the absence of public space facilities to accommodate them based on space limitations. Therefore, people need a Third place container that can be a place for answers to the needs of the space they need. Not only as a place to release stress and boredom due to routine, but also as a place to socialize with relatives, friends and neighbors who come from different backgrounds so they can live in mutual respect and side by side, where social inequalities will not be exposed at all to form humanistic, open, dynamic, and productive for each individual. These things that make the need for Third place to bridge life in the home and work activities with informal activities are needed. AbstrakFaktanya masyarakat Jakarta rata-rata memiliki kegiatan yang hanya berkisar di ruang lingkup first place (rumah-tempat tinggal) dan second place (kantor-tempat bekerja-tempat belajar), hal ini terus menerus berulang hingga menjadi sebuah rutinitas yang membosankan. Oleh karena itu mereka butuh suatu tempat in between dari rutinitas ruang lingkup mereka sehari hari. Namun ironisnya ketika masyarakat membutuhkan ruang publik untuk dapat berinteraksi dengan sesamanya, tidak ditemukan tempat di luar lingkungan first place dan second place untuk melakukan kegiatan ataupun sekedar berkumpul antar sesama dikarenakannya minimnya atau bahkan tidak adanya fasilitas ruang publik untuk mewadahi mereka yang didasari oleh keterbatasan ruang. Oleh karena itu, masyarakat membutuhkan sebuah wadah Third place yang dapat menjadi tempat untuk jawaban atas kebutuhan ruang yang mereka butuhkan. Bukan hanya sebagai tempat melepaskannya stress dan kejenuhan akibat rutinitas, tapi juga sebagai wadah untuk bersosialisasi dengan saudara, teman-teman maupun tetangga yang berasal dari latar belakang berbeda agar dapat hidup saling respek dan berdampingan, yang dimana nantinya kesenjangan sosial tidak terekspos sama sekali guna membentuk sifat humanis, terbuka, dinamis, dan produktif bagi tiap individu. Hal-hal tersebut yang membuat kebutuhan akan Third place untuk menjembatani kehidupan dalam rumah dan aktifitas kerja dengan kegiatan informal sangat dibutuhkan.
RUANG PEREDA STRESS DI MAPHAR Michelle Aurellia Santhonie; Mieke Choandi
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 2, No 2 (2020): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v2i2.8630

Abstract

individualistic characteristics, and are more sensitive to their personal space. This happens because of their lack of need for other people around them. All are available on a gadget or smartphone, they can send messages, buy goods, find information, with more easily and practically. The state of the city has also become functionalist, where people only have functional activities without thinking about elements such as interacting or socializing. In fact the workers go to work and will go straight home, then spend time watching television or just relaxing at home to relieve stress. These problems occur in the metropolitan city of Jakarta and are becoming increasingly complex, due to unequal social welfare that occurs in the community, as happened in Maphar Village, Taman Sari, West Jakarta. This area was indeed from the Dutch era dominated by people of Chinese descent who worked as traders. In this area the conditions and situation of the house were so tight that there was no room for reforestation or a place to relax. This is where the task of an architect which can provide an activity space for the community in the form of a third space as a solution  in healing people with stress disorders. With the third room that is presented in the design of a building, by providing programs or facilities that are appropriate, and appropriate to the problem of stress by creating a stress relief room in the form of an outdoor classroom aimed at providing education and workshops for children and adults, Studio training, and the creative stage as a forum for the community to channel their talents and interests in the arts, mediatech library as a place for children to get positive space for learning, and other supporting programs. Keywords:  interaction; stress; third place; tightAbstrakPesatnya perkembangan teknologi, masyarakat yang hidup di zaman modern ini cenderung memiliki sifat yang individualis, dan lebih sensitif terhadap personal space-nya. Hal ini terjadi karena rasa ketidakbutuhan mereka terhadap orang lain yang ada di sekitarnya. Semua sudah tersedia di gadget atau smartphone, mereka bisa mengirim pesan, membeli barang, mencari informasi, dan lainnya dengan mudah dan praktis. Keadaan kota juga menjadi fungsionalis, dimana masyarakat hanya beraktivitas secara fungsional tanpa memikirkan elemen seperti berinteraksi atau bersosialisasi. Kenyataannya para pekerja pergi bekerja dan akan langsung pulang ke rumah, kemudian menghabiskan waktu dengan menonton televisi atau hanya bersantai di rumah untuk menghilangkan stres. Permasalahan-permasalahan tersebut terjadi di kota metropolitan Jakarta dan menjadi semakin kompleks, karena tidak meratanya kesejahteraan sosial yang terjadi di masyarakat, seperti yang terjadi di Kelurahan Maphar, Taman Sari, Jakarta Barat ini. Kawasan ini memang dari zaman Belanda didominasi oleh orang-orang keturunan Tionghoa yang bekerja sebagai pedagang. Di daerah ini kondisi dan situasi rumahnya pun sangat rapat sampai tidak ada ruang untuk penghijauan atau tempat bersantai. Disinilah tugas seorang arsitek yang mana dapat memberikan ruang aktivitas untuk masyarakat berupa ruang ketiga sebagai solusi dalam penyembuhan terhadap masyarakat dengan gangguan stres. Dengan ruang ketiga yang dihadirkan dalam rancangan sebuah bangunan, dengan memberikan program atau fasilitas yang sesuai, dan tepat terhadap masalah stres dengan menciptakan sebuah ruang pereda stres berupa outdoor classroom yang bertujuan memberi edukasi dan workshop bagi anak-anak maupun orang dewasa, Pelatihan sanggar, dan panggung kreasi sebagai wadah masyarakat menyalurkan bakat dan minat di bidang seni, mediatech library sebagai tempat anak-anak mendapat ruang positif untuk belajar, dan program pendukung lainnya.
PENERAPAN KONSEP RE-THINKING TYPOLOGY PADA HUNIAN VERTIKAL UNTUK DEWASA MUDA DI LAHAN BERKONTUR, CISARUA Bimo Yudhi Santoso; Mieke Choandi
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 4, No 1 (2022): APRIL 2022
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v4i1.16912

Abstract

This paper describes and analyzes the types or characteristics of typologies as well as proposes a different typological idea for the typology of vertical housing located in contoured and heavily cultured areas for evolving young adults. This provides views and insights into the architectural thought process. Based on learning the existing type as a reference and choosing various typology as prototype and as a reference for analysing the development trend of vertical housing typology as a guide principle to then propose an arhetype. The results of these analysis are proven re-thinking the typology of the vertical housing itself which is integrated with the microhousing typoloogy. Two typologies emerged, providing insight into the aplication of cultural cosmologi and also integrating the contoured site with the project. Keywords:  contour; microhousing; typology; vertical housing AbstrakTulisan ini menjelaskan dan menganalisis tipe atau karakteristik tipologi serta  mengusulkan sebuah pemikiran tipologi yang berbeda terharap tipologi bangunan vertikal yang berada di daerah berkontur dan berbudaya untuk kaum dewasa muda yang sedang berkembang. Makalah ini memberikan pandangan dan wawasan ke dalam proses pemikiran arsitektur. Berdasarkan pembelajaran tipe eksisting sebagai acuan tren perkembangan dan tipologi bangunan hunian vertikal sebagai panduan prinsip, pendekatan pemikiran ulang tipologi untuk menganalisa tipologi yang ada muncul suatu tipologi baru. Hasil dari analisis ini dibuktikan dengan memikirkan ulang tipologi bangunan vertikal itu sendiri yang di integrasikan dengan tipologi rumah mikro. Dua tipologi yang muncul, memberikan wawasan tentang penerapan kosmologi budaya dan juga mengintegrasikan tapak yang berkontur dengan proyek.
APLIKASI DESAIN BIOFILIK DALAM KOMUNITAS SENIOR DI JAKARTA UTARA Nathania Jifia Santoso; Mieke Choandi
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 3, No 2 (2021): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v3i2.12478

Abstract

The increasing life expectancy resulted in expanding numbers of elderly worldwide. According to BPS data, by 2035, the number of elderly in Indonesia will reach 48.2 million people or about 15.8% of the entire population of Indonesia. The increasing population leads to escalated dependence of the elderly caused by the aging process. In this modern era, the elderly need daily activities to feel useful. The solution that emerged is a community that provides facilities for the elderly. The goal is for elderly remains active and productive at the age that demands limited movement. North Jakarta was chosen as location by considering economic variables and population density to determine the target user, namely the mid- upper class. The user category are the independent living community, the older adults aged 55 and over. According to WHO, one factor that affects the quality of human life include the ageing is the physical environment. Building design can play a role in improving the health and welfare of the elderly. The concept of biophilic design applied in the project, based on the study of 14 patterns of biophilic (Terrapin, 2014) and the practice of biophilic design (Kellert, 2015), which applied in the site and building mass. Keywords:  ; Ageing ; Biofilic Design ; Senior Community,; Quality of lifeAbstrakTingkat harapan hidup yang terus meningkat mengakibatkan populasi lansia di seluruh dunia semakin bertambah. Menurut data BPS, diperkirakan pada tahun 2035 jumlah lansia di Indonesia akan mencapai 48,2 juta jiwa atau sekitar 15,8% dari seluruh penduduk Indonesia. Meningkatnya populasi lansia menyebabkan peningkatan ketergantungan lansia yang diakibatkan oleh proses penuaan. Di jaman yang lebih modern ini, lansia membutuhkan keseharian agar merasa berguna. Solusi desain yang dimunculkan adalah sebuah komunitas yang menyediakan fasilitas untuk mendukung aktivitas lansia. Tujuannya agar lansia tetap aktif dan produktif di usia yang menuntut pergerakan yang terbatas, agar dapat merubah pandangan masyarakat bahwa lansia adalah beban. Lokasi di Jakarta utara dipilih dengan mempertimbangkan variabel ekonomi dan kepadatan penduduk untuk menentukan target pengguna yaitu menengah keatas. Kategori pengguna proyek adalah komunitas independent living, yaitu orang dewasa yang lebih tua berusia 55 tahun ke atas. Menurut WHO, salah satu faktor yang mempengaruhi kualitas hidup manusia dalam proses penuaan adalah lingkungan fisik. Desain bangunan dapat berperan dalam meningkatkan kesehatan dan kesejahteraan hidup lansia. Konsep desain biofilik diaplikasikan dalam proyek dengan dasar kajian dari 14 patterns of biophilic (Terrapin, 2014) dan the practice of biophilic design (Kellert, 2015), yang diwujudkan pada tapak dan massa bangunan.
FASILITAS KESEHATAN MENTAL DI TANGERANG SELATAN Anastasia Putri; Mieke Choandi
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 4, No 1 (2022): APRIL 2022
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v4i1.16902

Abstract

Mental health in Indonesia is no longer a taboo topic despite the mild awareness and handling of the cases. However, as our era evolves more people have become more aware that mental health issues are as notable as physical health. Statistics stated in the year 2018 that in Indonesia as much as 3.7% of the population suffer from depression. Even so, the number of facilities that accommodate mental health treatments are still limited and dispersed. Mental Health Facility in Tangerang Selatan is a place where people with early signs of mental illness or are stressed out where they can receive treatments or carry out self-healing processes. This facility aims to help patients heal emotionally and mentally under supervision of professionals. This project is located in Kelapa Dua, Tangerang Selatan where this specific location can easily reach out to people from various status. The design method used in this project makes use of the 5 human senses that take role in the healing process of the patients. There are some key elements supporting this design method which are: room atmospheres, colors, nature, sounds, textures, and smells. The application according to these methods are to be expressed in the exterior and interior design of the building and the landscape that complements the building itself. At the end of the design process results a design that is expected to create relief and gradually develop healing to the visitors’ mental health.Keywords: facility; healing; mental health; senses AbstrakKesehatan mental di Negara Indonesia bukan lagi menjadi hal yang tabu meskipun masih kurang mendapat perhatian dari masyarakat dalam hal pengetahuan maupun penanganannya. Namun, semakin berkembangnya zaman semakin banyak orang yang menyadari pentingnya menjaga kesehatan mental sama seperti kesehatan fisik. Pada 2018, di Negara Indonesia sendiri tercatat ada sebanyak 3.7% populasi mengalami depresi namun ketersediaan fasilitas untuk penanganan kesehatan mental masih tergolong sedikit jumlahnya dan kurang menyebar terlebih di daerah yang kurang berkembang. Fasilitas Kesehatan Mental di Tangerang Selatan memfasilitasi penyandang penyakit mental yang ringan atau sedang dibawah tekanan yang membutuhkan perawatan maupun pelampiasan secara emosional. Sarana ini bertujuan untuk membantu pemulihan atau penyembuhan mental secara mandiri dan dibawah pengawasan profesional. Proyek ini berlokasi di Kelapa Dua-Tangerang Selatan, merupakan lokasi dapat menjangkau masyarakat dari berbagai kalangan. Adapun metode desain yang diterapkan pada proyek ini menggunakan ke-lima indera manusia yang berperan dalam proses pemulihan pasien. Metode ini terdapat beberapa elemen penting dalam desain, diantaranya: suasana ruang, warna, alam, suara, tekstur, dan bau. Penerapan dalam desain eksterior berupa lansekap dan memanfaatkan alam sekitar tapak, untuk interior lebih pada rancangan suasana ruang pada bangunan dan lansekap yang mendukung desain bangunan. Diharapkan hasil rancangan tercipta suasana dan kondisi rancangan  yang memenuhi dasar dalam penyembuhan mental bagi penyandang penyakit mental.
RUMAH KOST UNTUK MILENIAL Ivan Laksana Setiadi; Mieke Choandi
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 1, No 2 (2019): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v1i2.4574

Abstract

West Jakarta that has a dense millennial population.  Basically, millennials live on technological developments, therefore, technology is extremely influential for the millennial generation, but as the year grows, an impending phenomenon occurs in the millennial generation, such as the increase in the price of housing.  These events greatly affect the life to come.  The increase in housing prices rose twice as fast than the millennial's salary increase.  Therefore the millennial generation is threatened by the possibility of not being able to afford a housing.  The proposal for the "Boarding House for Millennials" program aims to make an alternative place for the millennials to live where the millennial generation can live comfortably and adapt according to the times, so they can learn new things to survive. Users will experience an architectural trend and get links from the community, because the millennial generation needs these links inside the community to facilitate their lives.  The concept of boarding is a concept that is much needed in terms of its nature, namely educating users, it is its intention that this building can be a positively valued space for the millennial generation, also it can be used as an alternative place to live for the millennial generation, in addition to having a positive value for the environment  and the necessities of the surrounding community. AbstrakRawa Buaya merupakan kelurahan di Kecamatan Cengkareng, Jakarta Barat. Rawa Buaya merupakan daerah di Jakarta Barat yang memiliki populasi millennial yang padat. Pada dasarnya manusia millennial hidup pada perkembangan teknologi sehingga teknologi sangatlah berpengaruh untuk generasi millennial, namun seiring bertambahnya tahun, terjadi sebuah fenomena pada generasi millennial yang tidak bisa terhindarkan, yaitu kenaikan harga tempat tinggal. Peristiwa tersebut sangatlah mempengaruhi kehidupan yang akan datang. Kenaikan harga tempat tinggal naik 2 kali lipat lebih cepat dibandingkan kenaikan gaji yang didapat oleh millennial. Maka dari itu generasi millennial terancam tidak bisa memiliki tempat untuk tinggal. Pengusulan program “Rumah Kost untuk Millennials” memiliki tujuan menjadikan sebuah tempat alternatif untuk millennial tinggal dimana generasi millennial dapat hidup dengan senang dan dapat berkembang sesuai dengan perkembangan zaman, sehingga mendapat sebuah hal pembelajaran yang baru untuk kelangsungan hidupnya. Pengalaman pengguna yang akan merasakan sebuah trend arsitektur dan mendapatkan link dari berkomunitas, karena generasi millennial sangat memerlukan sekali link dalam berkomunitas untuk mempermudah hidupnya. Konsep kost merupakan konsep yang sangat dibutuhkan dari segi sifatnya, yaitu mendidik pengguna, maka dari itu diharapkan bangunan ini dapat menjadi nilai positif untuk generasi millennial, dapat dijadikan sebagai tempat alternatif sebagai tempat tinggal untuk generasi millennial disamping itu tempat kost ini memiliki nilai positif untuk lingkungan dan kebutuhan masyarakat sekitar. 
RUANG PERTUKARAN IDE DI BANDUNG WETAN Muhammad Ricky Siswanto; Mieke Choandi
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 2, No 1 (2020): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v2i1.6848

Abstract

Bandung Wetan is known to have many distros and clothing stores which indirectly give birth to many designers or clothes makers, with many designers or clothes makers who need a place where they can look for ideas and exchange ideas, therefore many cafes or restaurants are built. can search for ideas or exchange ideas. Although there are a variety of cafes and restaurants available in the Bandung area, most of the cafes and restaurants require expenses by visitors, which makes it inaccessible to all members of the community or visitors from outside the city itself, in connection with this need a place where clothing makers, designers and communities can gather or exchange ideas no matter their age and economy, they can gather and talk without social gaps. This third place will help the development of the needs of the city community and also the city's economy in the next few years, by increasing the creativity generated by the many places where they can look for inspiration and ideas. The people of the Bandung Wetan area, especially the Cihapit Village will increase the quality of work, study, and products produced by the community. Third place or third place is one of the answers to the approach of urban development itself in an effort to increase the value of an area caused by changes in functions and changes in the pattern of urban space itself. AbstrakBandung wetan dikenal memiliki banyak distro dan toko baju yang secara tidak langsung melahirkan banyak desainer ataupun pembuat baju, dengan banyaknya desainer atau pembuat baju yang membutuhkan tempat dimana mereka dapat mencari ide-ide dan bertukar pikiran, oleh karena itu terbangun banyak kafe ataupun restoran dimana mereka dapat mencari ide ataupun bertukar pikiran. Walaupun terdapat berbagai macam kafe dan restoran yang tersedia di wilayah bandung,  sebagian banyak dari kafe dan restoran itu memerlukan pengeluaran biaya oleh pengunjung, yang menjadikannya tidak dapat di akses oleh semua kalangan masyarakat ataupun pengunjung dari luar kota itu sendiri, sehubungan dengan hal itu diperlukannya tempat dimana pembuat baju, desainer dan mesyarakat dapat berkumpul ataupun bertukar pikiran tidak peduli umur dan ekonomi mereka, mereka dapat berkumpul dan berbincang tanpa adanya kesenjangan sosial. Third place ini akan membantu pembangunan kebutuhan masyarakat kota dan juga ekonomi kota dalam beberapa tahun kedepan, dengan menaikan ke-kreatifitas yang di hasilkan karena banyaknya tempat dimana meraka dapat mencari inspirasi dan ide-ide. Masyarakat wilayah Bandung Wetan, khususnya Kelurahan Cihapit akan menaikan kualitas kerja, belajar, maupun produk-produk yang dihasilkan oleh masyarakat. Third place atau tempat ketiga adalah salah satu jawaban pendekatan penembangan perkotaan itu sendiri dalam upaya meningkatkan nilai suatu kawasan  yang di akibatkan oleh perubahan fungsi dan perubahan pola ruang kota itu sendiri.
RUANG BUDAYA GLODOK, ANTARA BERHUNI, BUDAYA DAN ADAPTASI Kenny Kenny; Mieke Choandi
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 3, No 1 (2021): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v3i1.10780

Abstract

Nowadays, culture is a lifestyle that develops in a community group and is passed down from generation to generation. In addition if this culture is already attached to an area, for example Chinatown. Where these popilation and lifestyle are very thick with Chinese culture.As an example of china town that we know, Glodok, which is very attached to Chinese culture, can be seen from the old Chinese building style, the lifestyle of the people that has majority whom work as traders, and many cultural or traditional events that are held in Glodok. But in the mean time these Chinese culture starts to fading even disappearing from it, and this issue is causing the people that lived here with the inherent culture facing a crisis of regional identity and cultural identity that should be the character of Chinatown itself.This proposed project appears in the form of a Cultural Space that can accommodate traditional and cultural activities with the ultimate goal of awakening and preserving Chinese culture for the local community even on a city scale. In addition to generating and preserving, this project aims to provide a new spatial experience as the new face of Chinatown and as a breakthrough Nodes in the region. Keywords:  Chinatown; Chinese; Cultural Space; Nodes; Westernization  ABSTRAKDalam kehidupan sehari-hari budaya merupakan suatu gaya hidup yang berkembang dalam suatu kelompok masyarakat dan diwariskan secara turun menurun. Ditambah lagi jika budaya tersebut sudah melekat dengan sebuah kawasan contohnya, Pecinan dimana penduduk dan gaya hidupnya sangat kental dengan budaya China. Salah satu contoh Pecinan yang kita kenal merupakan Glodok. Kawasan Glodok yang sangat kental dengan budaya China dapat dilihat dari gaya bangunan, pola hidup masyarakatnya yang mayoritas bermata pencaharian sebagai pedagang, dan banyaknya acara kebudayaan atau tradisi yang dilakukan di kawasan Glodok.Namun seiring dengan berjalannya waktu budaya tersebut semakin memudar bahkan hilang yang menimbulkan masyarakat etnis Tionghoa yang pernah hidup di dalam kekentalan budaya disini menghadapi krisis identitas Kawasan dan identitas budaya yang seharusnya menjadi ciri khas pecinan sendiri.Muncullah usulan proyek berupa cultural space yang dapat mewadahi aktivitas tradisi dan kebudayaan dengan tujuan akhir membangkitkan dan melestarikan budaya China bagi masyarakat setempat bahkan dalam skala kota.Selain untuk membangkitkan dan melestarikan, proyek ini memiliki tujuan untuk memberi pengalaman spasial yang baru sebagai wajah Pecinan yang baru dan sebagai terobosan Nodes baru di kawasan ini.
MERANCANG KOMUNITAS ANAK MUDA BERBASIS ARSITEKTUR EKOLOGI Estefany Betzy Gultom; Mieke Choandi
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 3, No 2 (2021): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v3i2.12448

Abstract

During the pandemic, student activities do not take place optimally. Whether in the social activities or formal learning, everything must be limited following government regulations. And these days, where humans use natural resources irregularly and do city development that exploits the ecosystem. When we are doing a development. We should pay more attention and efforts to maintain natural ecosystems, because natural resources are not only for the current generation but for the needs of younger generation in the future. The city of Bogor itself has a lot of potential both in the social and ecological fields. Bogor weather climate is very good where the city itself is famous in terms of agriculture and plantations. The majority of residents in the city of Bogor are on a productive age. Facilities for adolesence itself are already available, but the programs that offered are more directed to non-academic activities. Therefore this building is designed to accommodate the needs of young people ranging from non-academic needs to the needs of non-formal education. With the programs that offered, which aim to improve the social and economic quality of young people in the city of Bogor. Ecological Architecture method are used in this building. It is applied to the program and maintenance building systems, which refers to the 6 Beyond Ecology Principals. The use of a symbiotic theme is applied to the building program and also the building maintenance system, which aims to save energy. Key Words: Ecology; Ecology Architecture; Youth Centre AbstrakPada masa pandemi kegiatan belajar-mengajar tidak berlangsung secara maksimal. Baik dalam kegiatan sosial atau pembelajaran formal, semuanya harus dibatasi mengikuti peraturan pemerintah. Dan di era globalisasi seperti sekarang ini dimana manusia memanfaatkan sumber daya alam dengan tidak teratur dan melakukan banyak pembangunan yang mengeksploitasi ekosistem. Pembangunan seharusnya lebih memperhatikan upaya untuk menjaga ekosistem alam karena sumber daya alam tidak hanya untuk generasi sekarang namun untuk kebutuhan generasi muda di masa depan. Kota Bogor sendiri memiliki banyak potensi baik di bidang sosial maupun ekologinya. Iklim kota Bogor sangat bagus dimana kotanya sendiri terkenal dalam hal pertanian dan perkebunan. Penghuni kota Bogor mayoritas adalah penduduk di usia produktif. Fasilitas anak muda di kota Bogor sendiri sudah tersedia namun program yang ditawarkan lebih mengarah ke kegiatan non akademik. Sehingga bangunan dirancang untuk mewadahi kebutuhan anak muda mulai dari kebutuhan non-akademik sampai ke kebutuhan pendidikan non-formal. Dengan program-program yang ditawarkan, yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas sosial dan ekonomi anak muda di Kota Bogor. Penerapan  metode Arsitektur Ekologi dalam merancang fasilitas untuk anak muda di Kota Bogor diaplikasikan pada program dan sistem perawatan dalam bangunan, yang mengacu terhadap 6 Beyond Ecology Principal. Pengunaan tema simbiosis yang diaplikasikan pada program bangunan dan juga sistem perawatan bangunannya, yang bertujuan untuk menghemat energi.
PERANCANGAN SARANA KEBUGARAN DALAM MENGHADAPI PASCA PANDEMI DI PORIS Daniel Daniel; Mieke Choandi
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 4, No 1 (2022): APRIL 2022
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v4i1.16907

Abstract

The emergence of the corona virus pandemic has affected many sectors, one of which is fitness and recreational facilities which have had to be closed so far because they are indicated as points of spread of the corona virus. Therefore, fitness and recreation facilities must be able to adapt and adapt to these and future conditions, in order to be able to survive and provide the necessary facilities during the pandemic.The method used is a qualitative method, the design method uses a typology design method by applying the concept of maximum openings and high aeration transitions. This concept is the result of an assessment of the typology of a fitness facility as well as sports trends that are currently developing and then combined. By using this concept, people can move in the building with a lower level of corona virus transmission, because it has good air openings and transitions. Because the corona virus can quickly become extinct if it is directly exposed to sunlight, with a good air transition it is hoped that it can carry the corona virus out of the room.Hopefully this concept can be a solution for post-pandemic fitness and recreation facilities, can provide a different and new exercise experience for those of us who are active and exercise in it. It is hoped that the designed fitness and recreation facilities can survive, adapt, and provide what they should during a pandemic or under normal conditions. Keywords: Typology; Fitness and Recreation Facilities; Air Transition; GreeningAbstrakMunculnya pandemi virus corona membuat banyak sektor yang terkena dampaknya, salah satunya sarana kebugaran dan rekreasi yang harus ditutup sejauh ini karena diindikasikan sebagai titik penyebaran virus corona. Oleh karena itu sarana kebugaran dan rekreasi harus dapat beradaptasi dan menyesuaikan dengan keadaan ini dan yang akan datang, agar mampu bertahan dan memberikan sarana yang seharusnya di masa pandemi.    Metode yang digunakan metode kualitatif, metode desain perancangan menggunakan metode desain tipologi dengan menerapkan konsep bukaan yang maksimal dan transisi pengudaraan yang tinggi. Konsep ini hasil pengkajian tipologi dari sebuah sarana kebugaran serta tren olahraga yang berkembang saat ini dan kemudian digabungkan. Dengan menggunakan konsep tersebut, orang dapat beraktivitas didalam gedung dengan tingkat penularan virus corona yang lebih sedikit, karena memiliki bukaan dan transisi udara yang baik. Karena virus corona dapat cepat punah jika langsung terpapar sinar matahari, dengan transisi udara yang baik diharapkan dapat membawa virus corona keluar dari ruangan. Kiranya konsep ini dapat menjadi solusi untuk sarana kebugaran dan rekreasi pasca pandemi, dapat memberikan pengalaman berolahraga yang berbeda dan baru bagi kita yang beraktivitas dan berolahraga didalamnya. Diharapkan sarana kebugaran dan rekreasi yang dirancang mampu bertahan, berdaptasi, serta memberikan hal yang seharusnya di kala pandemi maupun dalam kondisi normal.