Mieke Choandi
Program Studi S1 Arsitektur, Fakultas Teknik, Universitas Tarumanagara

Published : 28 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 28 Documents
Search

KANTOR DIGITAL KREATIF STARTUP Timothy Timothy; Mieke Choandi
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 1, No 2 (2019): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v1i2.4517

Abstract

 In this industrial revolution 4.0 era, digital technology has become a necessity for millennials. Through the internet, everyone can be connected to each other making it a new business opportunity, namely startup. The presence of a startup business based on digital business is now a trend among millennials. However, building a startup business is not easy. Many startup businesses that are falling apart in running their businesses are even unable to compete with larger startup. Offices with old systems are no longer in accordance with millennial behaviors and this startup business needs more creative and innovative ideas. Millennials need a place to work with new concepts in increasing their creativity and productivity at work. The proposed program 'Creative Startup Digital Office' aims to present an office program with a new concept for millennials in running a startup business in today's digital era. The office is no longer just a place to work but a place to find experience, learn new things, socialize and community. Millennial requires an interactive, relaxed, fun, flexible and collaborative work environment to support productivity performance in the office. With the presence of this startup office, it is hoped that it will be able to improve the economy of the people especially millenials  in entrepreneurship through a growing startup business.          AbstrakDi era revolusi industri 4.0, teknologi digital sudah menjadi kebutuhan bagi para milenial. Melalui internet semua bisa saling terhubung satu dengan yang lain menjadikannya sebuah peluang bisnis baru yaitu startup. Kehadiran startup bisnis yang berbasis bisnis digital ini sekarang menjadi trend bisnis di kalangan milenial. Akan tetapi, membangun sebuah bisnis startup tidaklah mudah. Banyak bisnis startup yang jatuh bangun dalam menjalankan bisnisnya bahkan kalah bersaing dengan startup yang lebih besar. Kantor dengan sistem lama tidaklah sesuai dengan perilaku milenial dan bisnis startup ini yang lebih banyak membutuhkan ide-ide kreatif dan inovatif. Para milenial membutuhkan sebuah tempat bekerja dengan konsep baru dalam meningkatkan kreatifitas dan produktivitas mereka dalam bekerja. Pengusulan program “Kantor Digital Kreatif Startup” memiliki tujuan untuk menghadirkan program kantor dengan konsep yang baru untuk para milenial dalam menjalankan bisnis startup di era serba digital saat ini. Kantor bukan lagi sebagai tempat untuk bekerja saja melainkan tempat untuk mencari pengalaman, belajar hal baru, bersosialisasi dan berkomunitas. Milenial membutuhkan lingkungan kerja yang interaktif, santai, menyenangkan, fleksibel dan kolaboratif untuk mendukung performa produktivitas di dalam kantor. Dengan hadirnya kantor startup, diharapkan dapat meningkatkan perekonomian masyarakat terutama kaum milenial dalam berwirausaha melalui bisnis startup yang sedang berkembang.
PERANCANGAN PUSAT KEBUDAYAAN SUNDA DENGAN STRATEGI AKUPUNTUR PERKOTAAN DI JALAN MERDEKA KOTA BOGOR Daniel Danish Francelo; Mieke Choandi
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 4 No. 2 (2022): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v4i2.22185

Abstract

Indonesia is an archipelagic country consisting of several large and small islands, providing diversity from various aspects. Over time, the rapid development tends to have an impact on the fading of the identity character of cities in Indonesia. Therefore, the government has started a movement to preserve the city that has a strong history and culture through the heritage city preservation and arrangement program (P3KP). Bogor City is one of the affected cities which divides the city into six historical areas and tends to be located around the city center. The independent road area is one of the areas experiencing the phenomenon of the fading of regional identity, supported by new issues that hinder improvements by the government and result in reduced attractiveness of the area. This study aims to create a Sundanese cultural center that raises the potential of local wisdom and history on Jalan Merdeka, and is expected to be useful in educating visitors in terms of information and knowledge. This research was conducted in the field of Architectural Design Concentration, since the research was conducted during the COVID-19 pandemic, the research method used was a literature review approach with secondary data sources. Urban acupuncture strategies are used by utilizing local interventions to regenerate degraded city points. The design planning method used is locality in the form of an effort to lift phenomena or elements that stimulate the character of a modern identity. Based on the research conducted, it was concluded that this project aims to build a Sundanese cultural center that restores the faded character of the area and at the same time educates visitors about the history and culture of the Merdeka Street area so that the attractiveness of the area restored. Keywords:  Cultural Center; Diversity; Heritage City; Urban Acupuncture Abstrak Indonesia adalah negara kepulauan yang terdiri dari beberapa pulau besar maupun kecil, memberikan keanekaragaman dari berbagai aspek. Seiring waktu, perkembangan yang begitu pesat cenderung berdampak pada pudarnya karakter identitas terhadap kota-kota di Indonesia. Maka dari itu, pemerintah sudah memulai gerakan melestarikan kota yang memiliki sejarah dan budaya yang kental melalui program pelestarian dan penataan kota pusaka (P3KP). Kota Bogor merupakan salah satu kota terdampak yang membagi kotanya menjadi enam kawasan bersejarah dan cenderung berlokasi di sekitaran pusat kota. Kawasan jalan merdeka merupakan salah satu kawasan yang mengalami fenomena pudarnya identitas kawasan,  didukung oleh isu baru yang menghambat pembenahan oleh pemerintah serta mengakibatkan berkurangnya daya tarik kawasan tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk membuat pusat kebudayaan sunda yang mengangkat potensi kearifan lokal dan sejarah di Jalan Merdeka, serta diharapkan dapat bermanfaat mengedukasi pengunjung dari segi informasi dan pengetahuannya. Penelitian ini dilakukan di bidang Konsentrasi Perancangan Arsitektur, berhubung penelitian dilakukan di masa pandemi COVID-19, metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan kajian literatur dengan sumber data sekunder. Strategi akupuntur perkotaan digunakan dengan memanfaatkan intervensi lokal untuk meregenerasi titik kota terdegradasi. Metode perencanaan desain yang digunakan adalah lokalitas berupa upaya pengangkatan fenomena atau unsur yang merangsang karakter identitas secara modern. Berdasarkan penelitian yang dilakukan, disimpulkan bahwa proyek ini bertujuan untuk membangun pusat kebudayaan sunda yang mengembalikan karakter kawasan yang pudar dan sekaligus mengedukasi pengunjung tentang sejarah dan budaya yang ada di Kawasan Jalan Merdeka sehingga daya tarik kawasan bangkit kembali.
PENGHIDUPAN KEMBALI TAMAN PANATAYUDA SEBAGAI TITIK AWAL MEMBANGKITKAN KECAMATAN KARAWANG BARAT DI KABUPATEN KARAWANG Novia Christian Wijaya; Mieke Choandi
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 4 No. 2 (2022): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v4i2.22190

Abstract

West Karawang Regency was originally referred to as the “Barn of Rice” because it produces rice in large quantities even to foreign countries. However, in 1980 Karawang changed its function into an industrial area which resulted in lowering the green area in Karawang. As a result, there is degradation between sub-districts in Karawang Regency. Including in West Karawang District, especially the city park, namely Panatayuda Park, which is increasingly quiet due to the lack of urban development. In fact, this sub-district is passed directly by the Pantura Road which incidentally is always passed by vehicles and people from various regions. Panatayuda Park is getting more and more shabby and not well maintained which results in a bad image of the Regency and a decline in the welfare of the local community. The method applied in the design uses case study observations, field conservation and interviews, in order to understand and apply urban acupuncture, architecture and everyday life in design. The results of this program are functions in Panatayuda Park in the form of sports areas, culinary centers, and green open spaces. Keywords: Architecture and Daily Life; City Image; Degradation;  Karawang Regency; Urban Acupuncture Abstrak Kabupaten Karawang Barat pada mulanya disebut sebagai “Lumbung Padi” karena menghasilkan beras dalam jumlah yang besar bahkan sampai ke mancanegara. Namun, pada tahun 1980 Karawang beralih fungsi menjadi kawasan industri yang mengakibatkan menurunkan area hijau di Karawang. Akibatnya, terjadi degradasi antar kecamatan di Kabupaten Karawang. Termasuk pada Kecamatan Karawang Barat terutama taman kota yakni Taman Panatayuda yang kian tahun semakin sepi akibat kalahnya perkembangan kota. Padahal kecamatan ini dilewati secara langsung oleh Jalan Pantura yang notabenenya selalu dilewati kendaraan maupun orang dari berbagai daerah. Taman Panatayuda pun semakin kumuh dan tidak terawat yang berakibat pada buruknya gambaran Kabupaten dan menurunnya kesejahteraan masyarakat setempat. Metode yang diterapkan dalam rancangan menggunakan pengamatan studi kasus, konservasi lapangan dan wawancara, agar paham dan menerapkan urban akupuntur, arsitektur dan keseharian dalam desain. Hasil program ini adalah fungsi-fungsi di Taman Panatayuda yang berupa area olahraga, pusat kuliner, dan ruang terbuka hijau.
PENERAPAN PRINSIP HEALING THERAPEUTIC ARCHITECTURE DALAM PERANCANGAN WADAH PEMBELAJARAN DAN REHABILITASI KARYA WANITA DI RAWA BEBEK DENGAN METODE PERILAKU Divina Laurentia; Mieke Choandi
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 4 No. 2 (2022): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v4i2.22192

Abstract

Rawa Bebek, Penjaringan sub-district, Gang Royal to be exact, is known to this day as a prostitution area mixed with densely populated houses. Even though enforcement has been carried out, it is still not complete. The residents of Rawa Bebek themselves are affected in their lives, such as children after elementary school who do not want to continue their education and are vulnerable to the negative impacts of prostitution activities. Plus there is a negative stigma against Rawa Duck. Likewise, ex-prostitute women, especially victims of exploitation who were framed, received treatment that was despised by the community. To increase their dignity, it is necessary to provide a place for rehabilitation of women's work for them to receive rehabilitation, services, and skills guidance. In addition, to reduce the negative stigma of society, awareness and education efforts are needed in the form of learning programs for self-development according to their expertise, such as non-formal learning spaces in the form of skills activities. And the gallery is also designed as a facility that can be used by the general public with material about the education of the human body. In addition, considering the condition of the population, such as children from under the village who have not received education, an equivalency education class is prepared. In the design, applying behavioral methods by paying attention to users so that the learning and rehabilitation forum for women's work is expected to be urban acupuncture in Rawa Bebek, that the community and the surrounding environment are not as bad as the stigma attached so far. Keywords: Child; Learning; Prostitution; Rehabilitation; Stigma; Teens Abstrak Rawa Bebek, daerah kelurahan Penjaringan, tepatnya Gang Royal dikenal hingga kini masih menjadi area prostitusi yang bercampur dengan rumah padat penduduk. Sekalipun telah dilakukan penertiban, namun tetap tidak tuntas. Warga Rawa Bebek sendiri terdampak dalam menjalani kehidupan, seperti anak-anak selepas SD tidak ingin melanjutkan pendidikan dan rentan terpengaruh dampak negatif dari aktivitas prostitusi. Ditambah adanya stigma negatif terhadap Rawa Bebek. Begitu pula dengan eks-wanita tuna susila terutama korban eksploitasi yang dijebak, mendapat perlakuan yang direndahkan oleh masyarakat. Untuk meningkatkan martabat mereka, perlu disediakan wadah rehabilitasi karya wanita bagi mereka untuk mendapatkan rehabilitasi, pelayanan, dan bimbingan keterampilan. Selain itu, untuk mengurangi stigma negatif masyarakat, dibutuhkan upaya penyadaran dan edukasi berupa program pembelajaran untuk pengembangan diri sesuai keahlian mereka, seperti ruang belajar nonformal dalam bentuk kegiatan keterampilan. Serta galeri juga dirancang sebagai fasilitas yang dapat digunakan masyarakat umum dengan materi mengenai edukasi tubuh manusia.  Disamping itu, melihat kondisi penduduk seperti anak-anak dari kolong belum mendapat pendidikan, disiapkan kelas pendidikan kesetaraan. Dalam perancangan menerapkan metode perilaku dengan memperhatikan penggunanya sehingga wadah pembelajaran dan rehabilitasi karya wanita diharapkan menjadi akupuntur urban di Rawa Bebek, bahwa masyarakat dan lingkungan kawasan sekitarnya tidak seburuk stigma yang melekat selama ini.
SENTRA KERAJINAN KERAMIK DENGAN PENERAPAN ARSITEKTUR EKSPRESIONISME DI JALAN IR. HAJI JUANDA REMPOA, TANGERANG SELATAN Isra Wahyudin; Mieke Choandi
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 4 No. 2 (2022): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v4i2.22194

Abstract

Jalan Ir. Haji Juanda is the main access that connects the city of South Tangerang with South Jakarta, resulting in high density and potential opportunities for business people. Seeing business opportunities and interest in fine art objects, in 1974 a fine art shop appeared called an "art shop". The development of art shops gives birth to positive identities and impacts socially, economically and culturally for society. Over time, the identity of the area began to fade and there was degradation in the art shop, it seemed that some shops still survived, others labeled "temporarily closed shops". The physical condition of the art shop building was damaged, unkempt due to inactivity of function so that a negative image arose in the area. It is hoped that the center for the craft of ceramic art as an attractor is a form of micro-scale intervention in urban structures, seeing the growing trend of ceramic workshops and the demand for the manufacturing process, the application of the architectural method of expressionism looks at the expressions formed from the process of making ceramics, which are poured through the façade elements that become the points of the face of the building, the inner space and the mass composition in the form of a circle base that moves following the direction of the rotary technique. The design aims to increase the identity and enthusiastic drive of the development of art shops, both for the local community, especially business people, art actors and tourists Keywords: Businessman; Fine arts crafts; Regional identity Abstrak Jalan Ir. Haji Juanda merupakan akses utama yang menghubungkan kota Tangerang Selatan dengan Jakarta Selatan, sehingga terjadi kepadatan tinggi dan potensial peluang bagi pebisnis. Melihat peluang bisnis dan ketertarikan benda seni rupa, tahun 1974 muncullah toko karya seni rupa dengan sebutan “art shop”. Berkembangnya art shop melahirkan identitas dan dampak positif secara sosial, ekonomi dan budaya bagi masyarakat. Seiring berjalan waktu, identitas kawasan mulai pudar dan terjadi degradasi pada art shop, nampak ada toko masih bertahan, yang lainnya berlabelkan “toko tutup sementara”. Kondisi fisik bangunan art shop mengalami kerusakan, tidak terawat karena tidak aktifnya fungsi sehingga timbul citra negatif pada kawasan. Diharapkan Sentra kerajinan seni rupa keramik sebagai atraktor wujud dari intervensi skala mikro pada struktur perkotaan, melihat tren workshop keramik yang sedang berkembang dan diminati akan proses pembuatannya, penerapan metode arsitektur ekspresionisme melihat dari ekspresi yang terbentuk dari proses pembuatan keramik, yang dituangkan melalui elemen fasad yang menjadi poin wajah bangunan, ruang dalam dan gubahan massa yang berbentuk dasar lingkaran yang bergerak mengikuti arah teknik putar. Perancangan bertujuan meningkatkan identitas dan penggerak antusias berkembangnya art shop, baik bagi masyarakat lokal khususnya pebisnis, pelaku seni hingga wisatawan.
KETAHANAN PANGAN DAN FASIILITAS BUDIDAYA CACING KAMPUNG CACING Muhammad Akbar Husaini; Mieke Choandi
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 5 No. 2 (2023): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v5i2.24270

Abstract

In the current global era, a country cannot meet its food needs only from domestic food production so that when a global food crisis occurs, the country's food needs are threatened. country. Because by developing and maintaining domestic food production can help in food security. Meanwhile, FAO said that in 2023 there will be an increased possibility of a global food crisis, besides that at the G20 event, food security will be one of the points of discussion. Some components of human nutritional needs are carbohydrates, fiber, fat, vitamins and protein. Fish is a source of protein whose consumption is quite significant in Indonesia. So that the ability to produce protein sources is important to maintain. One component that is often overlooked in food security is fish seed feed, fish seed feed is very influential in the development process of cultivated fish. One form of seed feed is Tubifex sp worms. In the city of Tangerang, to be precise, on the outskirts of the Cisadane river, there are worm seekers who supply freshwater fish farming sites, but the results of searching for worms are erratic due to the condition of the river currents. In addition, the number of worms in the river continues continuously taken there is a possibility that it will decrease or until there is no more. This problem is the subject of empathy in this project. Keywords:  cultivation; food; resilience; Tubifex sp; village; worm Abstrak   Pada masa yang global saat ini suatu negara tidak dapat memenuhi kebutuhan pangan nya hanya dari produksi pangan dalam negri sehingga ketika terjadi krisis pangan global kebutuhan pangan negara menjadi terancam, Sehingga jika terjadi krisis global suatu negara tentunya akan terpengaru secara buruk jika tidak mempersiapkan produksi pangan dalam negri. Oleh karena  dengan mengembangkan dan menjaga produksi pangan dalam negri dapat membantu dalam ketahanan pangan. Sementara itu FAO mengatakan pada tahun 2023 akan terjadi meningkatnya kemungkinan terjadinya krisis pangan global selain itu pada acara G20 ketahanan pangan menjadi salah satu point pembahasaan. Beberapa komponen kebutuhan gizi manusia adalah karbohidrat, serat, lemak, citamin dan protein. Ikan menjadi salah satu sumber protein yang konsumsinya cukup signifikan di indonesia. Sehingga kemampuan memproduksi sumber protein tersebut menjadi hal yang pentinng untuk dijaga. Salah satu komponen yang sering dilupakan pada ketahanan pangan adalah pakan bibit ikan, pakan bibit ikan menjadi hal yang sangat berpengaruh pada proses perkembangan ikan budidaya. Salah satu bentuk pakan bibit adalah cacing Tubifex sp. Di kota tangerang tepatnya di pinggiran sungai Cisadane terdapat pencari cacing yang memasok tempat budidaya ikan air tawar, namun hasil dari pencarian cacing tidak menentu karena kondisi arus sungai, selain itu jumlah cacing di sungai jika terus menerus diambil ada kemungkinan akan berkurang atau samapai tidak ada lagi. Masalah tersebut yang menjadi subjek empati pada proyek ini.
EMPATI DI KAMPUNG SAWAH TERHADAP PERKEMBANGAN KAWASAN DI ABAD KE 21 MELALUI PROYEK MUSEUM Andhika Nicholas; Mieke Choandi
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 5 No. 2 (2023): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v5i2.24271

Abstract

The area of Kampung Sawah used to be covered by rice fields, now it has turned into a luxurious residential area for the residents of Bekasi City. This area has long been known for its agricultural products which have the potential to be the main livelihood for the local population. To avoid the potential of the area being forgotten over time, it is necessary to build a building that can save the movement from time to time in the Kampung Sawah area. The building is in the form of a museum which contains the history and development of agriculture in the Kampung Sawah area. It is hoped that the museum project can become a place to store stories of the development and culture of the Kampung Sawah area from time to time, commemorate and introduce agricultural potential and its products and introduce agriculture in Kampung Sawah to the younger generation as a means of village potential and education for the wider community. The agricultural museum is a place to study the agricultural history of Kampung Sawah, from traditional to modern farming tools, farming techniques methods, etc. In the long run, the Kampung Sawah Agricultural Museum project can become an educational tourist spot for local people and also outside the region. Keywords:  agricultural; farmer; museum; Sawah Village Abstrak   Wilayah Kampung Sawah dulu wilayahnya ditutupi oleh sawah-sawah sekarang sudah berubah menjadi pemukiman mewah warga Kota Bekasi. Sejak dulu kawasan ini dikenal dengan hasil pertaniannya yang berpotensi sebagai mata pencaharian utama bagi penduduk setempat. Untuk menghindari potensi kawasan menjadi terlupakan seiring baerjalannya waktu, maka dibutuhkan membangun suatu bangunan yang dapat menyimpan pergerakan dari masa ke masa wilayah Kampung Sawah. Bangunan berupa sebuah museum yang berisi mengenai sejarah dan perkembangan pertanian di wilayah Kampung Sawah. Diharapakan proyek museum dapat menjadi tempat untuk menyimpan cerita perkembangan dan budaya wilayah Kampung Sawah dari masa ke masa, mengenang dan memperkenalkan potensi pertanian dan hasilnya serta mengenalkan pertanian di Kampung Sawah kepada generasi muda sebagai sarana potensi desa dan edukasi bagi masyarakat luas. Museum pertanian menjadi tempat untuk mempelajari sejarah pertanian Kampung Sawah, mulai dari alat pertanian tradisional hingga modern, metode teknik  bercocok tanam, dll. Dalam jangka panjang, proyek Museum Pertanian Kampung Sawah dapat menjadi tempat wisata edukasi bagi masyarakat lokal dan juga luar daerah.
EMPATI DALAM PENGEMBANGAN PASAR IKAN APUNG DI AREA KAMAL MUARA Jonathan Yang; Mieke Choandi
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 5 No. 2 (2023): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v5i2.24272

Abstract

Traditional fishermen in Kamal Muara face various significant challenges in carrying out their fishing activities, which directly affect their life conditions. In this context, an empathetic architectural approach can play an important role in designing sustainable and inclusive solutions to improve their well-being. There are 2 main factors that hinder the growth of fishermen's welfare, the first is the economic factor where fluctuations in fish prices, high production costs, low access to business capital and credit, and market uncertainty are economic factors that hinder the success of the fishing profession. Both environmental factors where climate change, environmental damage such as degradation of marine habitats and decreased fish stocks, as well as restrictions on access to fishing areas are environmental factors that hinder the sustainability of the fishing profession. The empathic architectural design proposes the development of a floating fish market in Kamal Muara which is able to provide equal access and opportunities for traditional fishermen in managing and utilizing the floating fish market. In addition, the design must also pay attention to the needs of the environment and the surrounding nature, and create spaces that are connected, inclusive, and respect equality among market users. Keywords: empathic architecture; economic factors; environmental factors; fish markets; traditional fishing Abstrak Para nelayan tradisional di Kamal Muara menghadapi berbagai tantangan yang signifikan dalam menjalankan kegiatan perikanan mereka, yang secara langsung mempengaruhi kondisi kehidupan mereka. Dalam konteks ini, pendekatan arsitektur yang empatik dapat memainkan peran penting dalam merancang solusi yang berkelanjutan dan inklusif untuk meningkatkan kesejahteraan mereka. Terdapat 2 faktor utama yang menghambat pertumbuhan kesejahteraan para nelayan, pertama faktor ekonomi dimana fluktuasi harga ikan, biaya produksi yang tinggi, rendahnya akses terhadap modal usaha dan kredit, serta ketidakpastian pasar merupakan faktor-faktor ekonomi yang menghambat keberhasilan profesi nelayan. Kedua faktor lingkungan dimana perubahan iklim, kerusakan lingkungan seperti degradasi habitat laut dan penurunan stok ikan, serta pembatasan akses ke wilayah perikanan menjadi faktor-faktor lingkungan yang menghambat keberlanjutan profesi nelayan. Desain arsitektur empati mengusulkan pengembangan pasar ikan apung di Kamal Muara yang mampu memberikan akses dan kesempatan yang sama bagi para nelayan tradisional dalam mengelola dan memanfaatkan pasar ikan apung. Selain itu, desain tersebut juga harus memperhatikan kebutuhan lingkungan dan alam sekitar, serta menciptakan ruang yang keterhubungan, inklusif, dan menghargai kesetaraan antar pengguna pasar.