Mieke Choandi
Program Studi S1 Arsitektur, Fakultas Teknik, Universitas Tarumanagara

Published : 28 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 28 Documents
Search

WISATA KULINER DI PANTAI INDAH KAPUK Vina Angelina; Mieke Choandi
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 1, No 2 (2019): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v1i2.4506

Abstract

At millennial era, trends are very easily spread due to the presence of social media. Millennials with high curiosity, as "digital native" can easily find out what trends are happening at that time. And usually will try to do that trend. That is because millennials like to try something new, besides, the experience gained will always be perpetuated through photos which will then be exhibited on social media. One of the trends of the most 'hits' in this era is culinary. When culinary is combined with vibrant social media in millennials, there will be activities to spread culinary content on social media. Because of the considerable impact of the activity, now restaurants are flocking to present the concept of a unique dining place with attractive food performances and different dining places. Millennials also hunt for such types of places to be exhibited on social media. By presenting an architecture which is an culinary tour, it is hoped that it can become a forum for millennials to channel culinary hobbies while learning to preserve the environment. AbstrakPada jaman milenial, tren sangatlah mudah tersebar karena kehadiran sosial media. Kaum Milenial dengan rasa ingin tahu yang tinggi, sebagai “digital native”, dapat dengan mudah mencari tahu tren apa yang sedang terjadi saat itu. Dan biasanya akan berusaha untukmelakukan tren tersebut. Hal itu dikarenakan kaum milenial gemar untuk mencoba sesuatuyang baru. Selain itu, pengalaman yang didapatkan akan selalu diabadikan melalui foto yang    kemudian akan dipamerkan di sosial media. Salah satu tren yang paling ‘hits’ di jaman ini                adalah kuliner. Ketika kuliner digabungkan dengan sosial media yang semarak di kalangan             milenial, akan ada aktivitas menyebarkan konten berupa kuliner pada sosial media. Karena dampak yang cukup besar dari aktivitas itu, kini restoran berbondong-bondong menyajikan konsep tempat makan unik dengan penampilan makanan yang menarik dan desain tempat makan yang berbeda. Kaum millennial juga memburu jenis tempat makan seperti itu agar dapat dipamerkan di media sosial. Dengan menghadirkan sebuah arsitektur yang merupakan wisata kuliner diharapkan dapat menjadi wadah kaum milenial untuk menyalurkan hobi akan kuliner sambil belajar untuk melestarikan lingkungan. 
RUANG KREATIF CIPINANG Bagus Putra Wicaksono; Mieke Choandi
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 2, No 1 (2020): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v2i1.6817

Abstract

Stress is an adaptive response, through individual characteristics and / or psychological processes directly to the actions, situations and external events concerned. Stress is also a dynamic condition where an individual is faced with opportunities, limitations or demands that are not in accordance with the expectations to be achieved in important and uncertain conditions (Febriandini, et al. 2016). Job stress is generally triggered by individual factors and environmental factors. Indonesia is listed as a stressed population where the stress level can increase if not addressed. The existence of stress factors from low income, and high standard of living. Therefore there needs to be space as a place of interaction for all social classes of society and can establish a good community economy. AbstrakStres adalah suatu respon adaptif, melalui karakteristik individu dan atau proses psikologis secara langsung terhadap tindakan, situasi dan kejadian eksternal yang bersangkutan. Stres juga merupakan kondisi dinamis dimana seorang individu dihadapkan dengan kesempatan, keterbatasan atau tuntutan yang tidak sesuai dengan harapan yang ingin dicapai dalam kondisi penting dan tidak menentu (Febriandini, et al. 2016). Stres kerja pada umumnya dipicu oleh faktor individu dan faktor lingkungan. Indonesia tercatat sebagai penduduk yang mengalami stres dimana tingkat stres tersebut dapat meningkat jika tidak diatasi. Adanya faktor stres dari penghasilan yang rendah, dan taraf kehidupan yang tinggi. Oleh sebab itu perlu ada ruang sebagai tempat interaksi bagi seluruh kelas sosial masyarakat dan dapat menjalin perekonomian masyarakat yang baik.
CLUB HOUSE REKREASI DAN SENI Vicky Agusta Setiawan; Mieke Choandi
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 2, No 2 (2020): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v2i2.8584

Abstract

Jakarta City as the capital city of Indonesia is a city with a population of 10.504.100 people (Jakarta Central Agency, 2019) and population density wih an average of 16.704 people/ km2. The population of Jakarta is crowded with various educational, economics, socio-cultural, and diverse backgrounds, making the people of Jakarta living in environment  and daily activities that vary. Every day, the most common things they do are activities at home and at school or workplace. Gradually activities into routines, then people starting to experience “boredom”. One solution to get rid of this “boredom” is required a place where everyone can rest, interact, express and entertain themselves, which  usually in the form of Third Place. Duri Kosambi area consists of three housing whose inhabitants rarely interact with each other. The area was then surveyed as a form of conventional design methods to determine the needs of residents. Third Place that can be built between three different characteristics housing is a Club House with ‘recreation and art’ theme. ‘Recreation’ to get rid of “boredom” and ‘Art’ which is to develop the creativity and special skills of the residents. It’s main programs are painting workshop, dance and music studio. This Club House Recreation and Art aims to create a new meeting point for the three different housing. With the opening of access point for the whole society, it also tries to create new interactions between fellow residents with diverse backgrounds to further develop a sense of brotherhood, mutual respect, sharing ideas and information. Keywords: boredom; club house; housing; recreation and art, third place AbstrakJakarta, ibukota negara Indonesia merupakan kota yang jumlah penduduk mencapai 10.504.100 jiwa (Badan Pusat Statistik Jakarta, 2019) dengan kepadatan penduduk mencapai 16.704 jiwa/km2. Kepadatan penduduk Jakarta  yang beragam pendidikan, sosial ekonomi dan budaya, membuat kota Jakarta hidup di dalam lingkungan dengan ciri khas dan aktivitas keseharian yang berbeda-beda pula. Setiap harinya penduduk Jakarta melakukan berbagai aktivitas, yang paling umum ialah di rumah dan di sekolah atau tempat kerja. Lama-kelamaan aktivitas menjadi sebuah rutinitas. Ketika aktivitas menjadi sebuah rutinitas, manusia pasti mengalami “kejenuhan”. Salah satu solusi untuk menghilangkan “kejenuhan” ini diperlukan sebuah wadah di mana semua golongan masyarakat dapat beristirahat, berinteraksi, berekspresi dan menghibur diri dari rutinitas  mereka hadapi, di mana seringkali wujudnya berupa Third Place. Kawasan Duri Kosambi  terdiri dari tiga perumahan yang penghuninya jarang berinteraksi. Kawasan ini kemudian di survey sebagai bentuk metode perancangan konvensional untuk mengetahui kebutuhan warga. Salah satu Third Place yang dapat muncul di tengah-tengah ke tiga perumahan dengan karakteristik masyarakat yang beragam yaitu sebuah Club House yang lebih bertema ‘rekreasi dan seni’. ‘Rekreasi’ untuk melepas “kejenuhan” dan ‘Seni’ berupa penambahan fasilitas kawasan untuk mengembangkan kreativitas dan keterampilan bagi warga masyarakat setempat. Dengan program utama berupa fasilitas lokakarya melukis, sanggar tari, dan studio musik. Club House Rekreasi dan Seni, diharapkan dapat menjadi titik simpul berkumpul dan beraktivitas bersama bagi setiap warga dari ke tiga perumahan berbeda. Dengan terbukanya akses bagi seluruh masyarakat, maka diharapkan terjadi interaksi antar sesama warga Duri Kosambi dari berbagai kalangan untuk menumbuhkan rasa persaudaraan, saling menghormati, saling berbagi ide dan informasi.
METODE DISPROGRAMMING DALAM MENDESAIN PASAR IKAN DADAP Fahmi Syafutra; Mieke Choandi
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 3, No 1 (2021): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v3i1.10891

Abstract

Geographically, Indonesia is an archipelago with a sea area larger than land, but unfortunately the potential of the coast has not been utilized properly. This is not an exception to Kampung Dadap, which is an area on the coast of the North Java coast that borders the Tangerang and DKI Jakarta Regencies. The majority of the people of Dadap Fishermen Village, who work as fishermen and roadside traders, do not have activity support facilities as a place for them to express their activities, so that their economic potential does not develop, making the fishermen's village appear to be a dead village due to lack of visitors. In responding to the problems that arise, this project aims to make the Fish Market a supporting facility for fishery activities that can attract visitors, which can improve the quality of life of the Dadap Fishermen Village community in dwelling, social and economic context. This project is aimed at all communities, especially around the Dadap Kosambi Fisherman Village area. With the modern market concept of "disprogramming method", it is hoped that the middle to lower and upper middle class people of the economy can join forces to form mutually beneficial activities. This project also provides supporting facilities that can invite newcomers to develop the economic potential of local residents and can improve the quality of life for fishing village communities. With this, the quality of life of the people of Kampung Nelayan Dadap, in the context of dwelling, social and economic life will improve. Key words: Disprogramming; Facility; Fishermen; Market; Village. AbstrakSecara geografis, Indonesia merupakan negara kepulauan dengan luas laut yang lebih besar dari daratan, Namun sayangnya potensi pesisir belum dimanfaatkan dengan baik. Hal ini tidak menjadi pengecualian bagi Kampung  Dadap  yang merupakan  suatu  wilayah  di  pesisir  Pantai  Utara  Jawa  yang  membatasi wilayah  Kabupaten  Tangerang  dan  DKI  Jakarta. Mayoritas masyarakat Kampung Nelayan Dadap yang berprofesi sebagai nelayan ikan tangkap dan pedagang di pinggir jalan, tidak memiliki fasilitas penunjang kegiatan sebagai wadah mereka untuk menuangkan aktivitasnya, sehingga potensi ekonominya tidak berkembang menjadikan kampung nelayan terkesan sebagai kampung mati karena sepi pengunjung. Dalam menjawab permasalahan yang muncul tersebut, proyek ini bertujuan untuk membuat Pasar Ikan sebagai fasilitas pendukung kegiatan perikanan yang dapat menarik pengunjung,  yang dapat meningkatkan kualitas hidup masyarakat Kampung Nelayan Dadap dalam konteks berhuni, sosial dan ekonominya. Proyek ini ditujukan untuk semua masyarakat terutama di sekitar kawasan Kampung Nelayan Dadap Kosambi. Dengan konsep pasar modern “metode disprogramming” diharapkan masyarakat kalangan ekonomi menengah ke bawah sampai menengah keatas dapat bergabung membentuk suatu aktivitas yang saling menguntungkan.  Proyek ini menyediakan pula fasilitas penunjang  yang dapat mengundang pendatang mengembangkan potensi ekonomi warga setempat dan dapat meningkatkan kualitas kehidupan  masyarakat kampung nelayan. Dengan ini kualitas hidup masyarakat Kampung Nelayan Dadap dalam konteks berhuni, sosial dan ekonominya dapat meningkat.
PERANCANGAN GEDUNG KESENIAN TARI DAN PEWAYANGAN KOTA BEKASI MELALUI PENDEKATAN ARSITEKTUR EKOLOGI Nadia Sabrina; Mieke Choandi
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 3, No 2 (2021): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v3i2.12455

Abstract

As times goes by, the culture adopted became more eroded, this causes us to forget the importance of culture, spirituality, ethics and morals. Especially in the city of Bekasi which is a peri-urban city which is located between the city and the village. Traditional dance and puppetry are well known as local culture, however, it is now on a verge of an extinction. it relates to forgotten culture of the City of Bekasi resulting in the loss of the identity of the City of Bekasi. The development of a function as a fulfillment of human needs must consider the surrounding natural environment and the reciprocal relationship between humans and their environment. Therefore, the use of ecological architectural principles needs to be applied. The purpose of the project is to preserve the arts of dance and puppet culture in the City of Bekasi. The design method uses the principles of ecological architecture. Source ZEB concept by utilizing sunlight as a building energy source and applying a system of Grey-water recycling and rainwater collection. The mass is in the form of an arch so that the building is more dynamic. The mass is made of terraces for airing and natural lighting can enter so that the utilization of renewable natural resources can be maximized. Keywords:  Art hall; Ecological architecture; Ecology AbstrakPerkembangan zaman terus terjadi sehingga semakin tergerus budaya yang dianut, hal ini mengakibatkan kita lupa akan pentingnya budaya, spiritual, etika dan moral. Khususnya pada Kota Bekasi yang merupakan kota peri-urban dimana terletak antara pusat kota dan desa. Tari dan pewayangan Kota Bekasi cukup dikenal sebagai budaya setempat namun, terus mengalami kepunahan. Hal ini berkaitan langsung dengan mulai terlupakannya budaya Kota Bekasi mengakibatkan hilangnya identitas Kota Bekasi. Pembangunan suatu fungsi sebagai pemenuhan kebutuhan manusia haruslah mempertimbangkan lingkungan alam sekitar dan hubungan timbal balik antar manusia dan lingkungannya. Maka dari itu, Penggunaan prinsip arsitektur ekologi perlu diterapkan dalam bangunan. Tujuan proyek sebagai upaya pelestarian kesenian tari dan pewayangan Budaya Kota Bekasi. Metode perancangan menggunakan prinsip arsitektur ekologi. Konsep Source ZEB dengan memanfaatkan sinar matahari sebagai sumber energi bangunan dan menerapkan sistem Grey-water recycling dan penampungan air hujan. Massa berbentuk melengkung agar bangunan lebih dinamis. Massa di buat berundak untuk pengudaraan dan pencahayaan alami dapat masuk sehingga pemanfaatan sumber daya alam terbarui dapat maksimal.
ARENA OLAHRAGA ELEKTRONIK DI SETIABUDI Fransiskus Fransiskus; Mieke Choandi
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 2, No 1 (2020): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v2i1.6823

Abstract

Jakarta in an era that is as modern and complex as it is today, the millennial generation is accustomed to growing and developing in the digital era which now serves as a new movement of space in the lives of its people. The digital age is slowly growing as part of the work, culture, and processes that can not be separated from the journey of human life. However, in meeting their social needs, digital technology is often only used as a component of the media which is done in a secondary process which has a tendency to provoke moral change toward individualism. In fulfilling social needs in the digital age, a social container is needed as a container that does not let the flow of the digital era just flow, but talks about how to control the digital flow itself. From this, architecture talks about ways to meet the needs of the digital community as a means of their existence. Because after all humans still need the nature of face-to-face communication through the primary process. Through these issues, Setiabudi is one area that is suitable for digital social issues and individualism which is now developing rapidly in the region. The approach to solving these problems is through a third place theory approach in architecture. By paying attention to the socio-economic conditions and habits of the surrounding residents and the phenomena that can be found, problem solving is in line with the development of industry 4.0, namely through the construction of electronic sports arena facilities that are third place in the region. AbstrakJakarta pada era yang serba modern dan kompleks seperti saat ini, generasi millennialnya sudah terbiasa untuk tumbuh dan berkembang di era digital yang kini berperan sebagai arus ruang gerak baru dalam kehidupannya masyarakatnya. Era digital pun secara perlahan tumbuh sebagai bagian dari karya, budaya, dan proses yang tidak dapat terlepas dari  perjalanan kehidupan manusia. Namun, dalam pemenuhan kebutuhan sosialnya, teknologi digital sering kali hanya dimanfaatkan sebagai komponen media yang dalam prosesnya dilakukan secara  sekunder di mana memiliki kecenderungan untuk memancing perubahan moral ke arah individualistis.  Dalam pemenuhan kebutuhan sosial di era digital tersebut, maka dibutuhkan wadah sosial sebagai wadah yang tidak membiarkan arus era digital mengalir begitu saja, tetapi berbicara mengenai bagaimana cara mengontrol arus digital itu sendiri. Dari hal tersebut, arsitektur berbicara tentang cara untuk memenuhi kebutuhan komunitas digital sebagai sarana eksistensi mereka. Karena bagaimanapun juga manusia tetap membutuhkan sifat komunikasi face-to-face yang melalui proses secara primer. Melalui isu tersebut, Setiabudi merupakan salah satu kawasan yang cocok dengan isu sosial digital dan individualisme yang kini berkembang dengan cepat di kawasan tersebut. Pendekatan penyelesaian masalah tersebut melalui pendekatan teori third place dalam arsitektur. Dengan memperhatikan kondisi sosial-ekonomi dan kebiasaan warga sekitar serta fenomena-fenomena yang ada, dapat ditemukan penyelesaian masalah yang selaras dengan perkembangan industri 4.0, yaitu melalui pembangunan fasilitas arena olahraga elektronik yang bersifat third place di kawasan tersebut.
FASILITAS PENGGEMAR PAKAIAN EKONOMIS Alvin Alvin; Mieke Choandi
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 2, No 2 (2020): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v2i2.8479

Abstract

As time goes by, people, especially in urban areas, tend to have individualistic characteristics due to their busy daily routines. Where most of the time spent at work, home or shopping centers. Humans as social creatures who should socialize and interact with others to meet social needs. To meet social needs in the current modern era, it takes a social container that can accommodate the activities of the surrounding community. So that people can meet with each other, socialize and also interact through these social media platforms. Central Jakarta, precisely in the Senen Area, there is the Senen Market which is one of the historic / iconic buildings known as a dense place for trade activities, namely trade / services, namely the Senen Market, known as the Thrift center in Jakarta today, the community center can search clothes at economical prices. However, the daily life of the Senen people tends to only sell clothes that saturate the Senen community so that the Senen Market is now fading. As well as Senen, there are very few entertainment venues in the Senen Region, causing the Senen economy to decline. This is also related to Malcolm Barnard's theory that clothing can be a verbal and non-verbal communication tool that can later restore Senen area to an area where people do not trade but can interact, socialize, and hone the creativity of the Clothing Fan Facility Economical. Where this project aims to support the Senen Market also reduces the saturation of the Senen Market residents in their daily business activities as well as to facilitate the needs of service users at the Senen Bus Station. This project is also intended as a forum for Thrift communities and the surrounding arts to interact with other communities and can also show the works / history of economic clothing that people will see and buy so that not only trading, but the public can learn and understand the meaning of the clothes which finally triggers the community to interact, socialize, and hone their creativity. Keywords:  clothing; Pasar Senen; ThriftAbstrakSeiring perkembangannya zaman, masyarakat khususnya di perkotaan cenderung memiliki sifat yang individualis dikarenakan rutinitas sehari-hari yang padat. Dimana sebagian besar waktu dihabiskan di tempat kerja, rumah ataupun pusat perbelanjaan. Manusia sebagai makhluk sosial yang seharusnya bersosialisasi dan berinteraksi dengan sesama untuk memenuhi kebutuhan sosial. Untuk memenuhi kebutuhan sosial di era modern saat ini, dibutuhkan wadah sosial yang dapat menampung aktivitas-aktivitas masyarakat sekitar. Sehingga masyarakat dapat saling bertemu, bersosialisasi dan juga berinteraksi melalui media wadah sosial tersebut. Jakarta Pusat, tepatnya di Kawasan Senen, terdapat Pasar Senen yang merupakan salah satu bangunan yang bersejarah / ikonik  yang dikenal sebagai tempat yang padat akan aktivitas berniaganya yaitu perdagangan / jasa yaitu Pasar Senen , dikenal sebagai pusat thrift di Jakarta saat ini yaitu pusat masyarakat dapat mencari pakaian dengan harga yang ekonomis. Akan tetapi keseharian masyarakat Senen cenderung hanya menjual pakaian saja membuat jenuh masyarakat Senen sehingga Pasar Senen kini meredup. Serta Senen terdapat minim sekali tempat hiburan yang terdapat di Kawasan Senen sehingga menimbulkan perekonomian Senen menurun. Hal ini berkaitan juga dengan teori dari Malcolm Barnard bahwa pakaian dapat menjadi sebuah alat komunikasi baik verbal maupun non-verbal yang nantinya dapat memulihkan kembali kawasan Senen menjadi Kawasan yang masyarakatnya tidak berdagang saja akan tetapi dapat berinteraksi, bersosialisasi, serta mengasah kreatifitas dari Fasilitas Penggemar Pakaian Ekonomis. Dimana Proyek ini bertujuan untuk menunjang Pasar Senen juga mengurangi kejenuhan penghuni Pasar Senen dalam kegiatan berniaganya sehari-hari juga untuk memfasilitasi kebutuhan pengguna jasa di Stasiun Bus Senen. Proyek ini juga ditujukan sebagai wadah bagi komunitas-komunitas thrift maupun seni sekitar untuk berinteraksi dengan komunitas lainnya dan juga dapat menunjukan karya-karya / sejarah dari pakaian ekonomis yang masyarakat akan lihat dan beli sehingga tidak hanya berdagang saja , akan tetapi masyarakat dapat mempelajari dan memahami arti dari pakaian tersebut yang akhirnya memicu masyarakat untuk berinteraksi, bersosialisasi, serta mengasah kreatifitas mereka.
PERANCANGAN APARTEMEN SOHO DI SAAT DAN SETELAH PANDEMI COVID 19 Serine Elisputri; Mieke Choandi
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 3, No 2 (2021): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v3i2.12440

Abstract

The rapid spread of Covid-19 in Indonesia has prompted the government to issue policies for PSBB and work from home (WFH). For employees who have far access to their homes and offices, WFH is ideal for maintaining productivity because there is a significant reduction in transportation costs and time. WFH also has obstacles, such as the community's mindset that the house is a place to rest and the office is a place to work, causing mental conflict and decreasing employee productivity. The suggestion to work from home will have a big impact on how we work during and after the pandemic, because WFH teaches that we can do tasks remotely. This problem has prompted the building to be designed to accommodate the needs of the community caused by changes in human life during the pandemic that provides a comfortable home and workplace for the needs of residents after the COVID-19 pandemic. Small Office Home Office (SOHO) concept is a concept that places office activities in an integrated manner. Offices tend to be open to the public are applied to residential spaces that are more private but separate, so that family privacy is still maintained. The target of residents are millennials who work as independent entrepreneurs, MSME entrepreneurs, office workers, freelancers, and online sellers. The method used in this design is in the form of hybrid working which is thinking about the room occupants who work and live simultaneously with the use of current technology. the concepts used are biophilic architecture and green building, which aim to save energy through air, water, and sunlight, such as; the use of voids and split systems on floors with glass roofs in residential corridor areas. Use of a green balcony, open wide windows. On the other hand, increasing green open space as communal space and absorption of water into the soil. The building also uses rain water harvesting and photovoltaic systems to provide energy for the building.Keywords: biophilic architecture; ; green building;  residence; work space; work from home  AbstrakPenyebaran yang cepat dari Covid-19 di Indonesia membuat pemerintah mengeluarkan kebijakan untuk PSBB dan work from home (WFH). Bagi pegawai yang akses tempat tinggal dan kantornya jauh, WFH sangat ideal untuk menjaga produktivitas karena dengan WFH terdapat pengurangan biaya dan waktu transportasi yang cukup signifikan. Tentunya WFH juga terdapat kendala seperti adanya pola pikir masyarakat bahwa rumah tinggal merupakan tempat istirahat dan kantor merupakan tempat bekerja sehingga menimbulkan konflik dan menurunnya produktifitas pegawai. Anjuran untuk work from home akan berpengaruh besar pada cara kerja saat dan setelah pandemi, karena WFH mengajarkan bahwa kita bisa melakukan tugas secara jarak jauh. Permasalahan ini mendorong bangunan dirancang untuk mewadahi kebutuhan masyarakat yang disebabkan perubahan kehidupan manusia saat pandemi yang menyediakan sebuah rumah tinggal dan tempat kerja yang nyaman bagi kebutuhan penghuni setelah terjadinya pandemi covid 19. Konsep Small Office Home Office (SOHO) merupakan konsep yang menempatkan kegiatan kantor secara fisik pada ruang hunian, Kantor yang sifatnya sosial dan cenderung terbuka untuk publik diterapkan pada ruang hunian yang lebih bersifat privat tetapi terpisah sehingga privasi keluarga masih terjaga. Sasaran penghuni merupakan kaum milenial yang bekerja sebagai pengusaha mandiri, pengusaha UMKM , pekerja kantor, freelancer, dan online seller. Metode yang digunakan  dalam rancangan ini berupa hybrid working yaitu, memikirkan ruangan penghuni yang bekerja dan berhuni secara bersamaan dengan pemakaian teknologi saat ini. konsep yang digunakan berupa arsitektur biofilik dan green building yaitu bertujuan untuk menghemat energi melalui udara, air, dan cahaya matahari, seperti; penggunaan void dan split system pada lantai dengan atap kaca di area koridor hunian. Penggunaan green balcony, membuka jendela yang lebar. Disisi lain, memperbanyak ruang terbuka hijau sebagai ruang komunal dan penyerapan air kedalam tanah. Bangunan juga menggunakan rain water harvesting dan photovoltaic system untuk menyediakan energi bagi bangunan.
SENI KONTEMPORER BETAWI DI PESANGGRAHAN Indah Dwi Allanis; Mieke Choandi
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 3, No 1 (2021): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v3i1.10905

Abstract

Art and culture are one of the character that can build nation civilization. Betawi culture’s existence is included in traditional art as one of Indonesia’s cultural asset. Generally art is stated as human’s soul expression to beauty. To betawi people art is materialized in many forms like litearture, music, dance, self-defense and theatre. But the missing of interactive public space based on modern technology, that culture slowly will replaced with modern era.Betawi Contemporary Art in Pesanggrahan uses a contextual approach which examines four contextual parameters (culture, nature, urban, and physical buildings) and has an edutainment program. Where Edutainment is a new innovation to develop Betawi culture by combining education, entertainment and incorporating contemporary architecture in building designs to add architourism to the Pesanggrahan area. The concept of a new experience is to enjoy a culture with different media and provide a public space that can be used to interact and relax. Keywords: Architourism; culture; art; contemporary; public area AbstrakKesenian dan budaya merupakan salah satu karakter yang bisa membangun peradaban bangsa. Keberadaan budaya Betawi termasuk kesenian tradisional yang merupakan salah satu aset budaya Indonesia. Umumnya kesenian dinyatakan sebagai ekspresi jiwa manusia akan keindahan. Pada masyarakat Betawi kesenian terwujud dalam bermacam-macam bentuk seperti seni sastra, seni musik, seni tari, seni main pukulan (seni bela diri) dan seni teater. Namun tidak adanya wadah ruang publik yang interaktif berdasarkan teknologi modern membuat budaya tersebut lambat laun akan tergeser dengan era modern. Betawi Contemporary Art in Pesanggrahan menggunakan metode pendekatan kontekstual yang mengkaji empat parameter kontekstual (budaya, alam, urban, dan fisik bangunan) dan memiliki program edutainment. Dimana Edutainment sebagai inovasi baru untuk mengembangkan budaya Betawi dengan menggabungkan education, entertainment dan menggabungkan arsitektur kontemporer pada desain bangunan agar menambahkan Architourism pada Kawasan Pesanggrahan. Konsep pengalaman baru untuk menikmati sebuah budaya dengan media yang berbeda-beda dan memberikan ruang publik yang dapat di pergunakan untuk berinteraksi dan bersantai.
MALL SUKARAMI PALEMBANG Alvin Gozali; Mieke Choandi
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 3, No 1 (2021): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v3i1.10852

Abstract

Humans are social creatures, therefore humans really need public space to interact with one another. Apart from being useful for interaction, public spaces can also be used to meet the needs of habitation and become the background for the development of human life, both in social, economic, cultural and entertainment activities. However, the lack of adequate public space in an area will make the area underdeveloped and make it difficult for the people of the area to meet the needs of the community. The design of the Sukarami Mall program is a public space divided into 2 main programs which are shopping to meet needs and supporting programs that are recreational in nature, where the main program is a shopping program that accommodates people's needs in the form of clothing, food, shelter, while recreational support is used for meet the needs of society. Where this program is the background of regional development in terms of regional, socio-economic and entertainment. in the shopping space program, it focuses more on daily shopping needs, while the recreational support program is oriented towards culinary and hangout recreation. Keywords: mall; sukarami palembang; shopping center AbstrakManusia merupakan makhluk sosial maka dari itu manusia sangat membutuhkan ruang publik untuk berinteraksi satu dengan yang lainnya. Selain  berguna untuk berinteraksi, ruang publik juga bisa untuk memenuhi kebutuhan berhuni dan menjadi latar belakang perkembangan kehidupan manusia, baik  dalam kegiatan sosial ,ekonomi , budaya maupun hiburan. Namun kurangnya ruang publik yang memadahi disebuah kawasan akan membuat kawasan tersebut menjadi keterbelakangan dan membuat masyarakat kawasan tersebut menjadi sulit untuk memenuhi kebutuhan berhuni masyarakat. Rancangan program Sukarami Mall ini merupakan ruang publik yang dibagi menjadi 2 program utama yang bersifat perbelanjaan untuk memenuhi kebutuhan dan program penunjang yang bersifat rekreasi, dimana program utama merupakan program perbelanjaan yang mengakomodir kebutuhan masyarakat berupa kebutuhan sandang ,pangan, papan, sedangkan penunjang rekreasi guna  untuk memehuni kebutuhan bersosisali masyarakat. Dimana program ini kan menjadi latar belakang perkembangan kawasan dari segi, sosial ekonomi dan hiburan kawasan. pada program ruang perbelanjaan lebih memfokuskan kepada kebutuhan berbelanja harian, sedangkan program penunjang rekreasi berorientasi ke rekreasi bidang kuliner dan  tongkrongan.