Franky Liauw
Program Studi S1 Arsitektur, Fakultas Teknik, Universitas Tarumanagara

Published : 26 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 26 Documents
Search

TEMPAT RELAKSASI DI MERUYA Bervianda Bervianda; Franky Liauw
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 2, No 1 (2020): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v2i1.6749

Abstract

Urban citizen is a modern society with a wide range of routine, activity, and high mobility. This life demand them to follow a fast-paced and practical lifestyle. This urban lifestyle often followed by demanding workload and activities that are time consuming that they usually forgot about their own primary needs, and one of them is to rest. This research are aimed to answer the needs of the residence who are living under such life, which is the residence of Meruya. Meruya holds the record of being one of the busiest area with high mobility people from Jakarta and Tangerang. Methods that were used in study are conducting studies, observation and giving out online questionnaire as pleminary data collection. To strengthen the pleminary data, studying and reviewing a few resident of Meruya to help finding them a better way for them to still be able to have a calm mind admist their busy life. The results were then processed into architectural programs that hopefully may answer the needs of the resident of Meruya.AbstrakMasyarakat kota merupakan masyarakat modern dengan berbagai rutinitas dan aktivitas serta mobilitas yang tinggi. Keseharian ini menuntut mereka dengan gaya hidup yang serba cepat serta praktis. Gaya hidup masyarakat kota yang seperti ini sering sekali menuntut mereka untuk menghadapi suatu pekerjaan dan kegiatan yang begitu menyita waktu sehingga dapat membuat mereka lupa akan kebutuhan lainnya termasuk istirahat. Penelitian ini memiliki tujuan untuk menjawab kebutuhan masyarakat, terutama masyarakat Meruya yang merupakan salah satu daerah transisi antara kota Jakarta dan Tangerang melalui peran ruang arsitektur dalam menciptakan ruang untuk beristirahat dan relaksasi ditengah kepadatan aktivitas yang dijalani. Dalam penelitian ini, metode yang digunakan adalah; pertama, melakukan studi, observasi dan penyebaran kuesioner sebagai pengumpulan data awal; kedua, mempelajari dan meninjau kebutuhan dari masyarakat sekitar serta kebutuhan untuk melepas kejenuhan dan beristirhat ditengah aktivitas yang padat; ketiga, menyusun program sesuai dengan hasil survei, observasi serta menjawab kebutuhan masyarakat sehingga tujuan proyek akan tercapai.
TERAPI CYBERBULLYING BERBASIS REKREASI Elizabeth Clara; Franky Liauw
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 1, No 2 (2019): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v1i2.4472

Abstract

A lot of new problem arise as the result of the development of information and digital technology that leads to the use of the Internet by millennials, namely cyberbullying. Cyberbullying hasn’t been solved by the millennials even the though the causes has been known. This problem also affects the other generations such as generation X and generation Z also feel the impact. To be more spesific, the definition of cyberbullying is the development of bullying from the traditional way to using digital devices. This is important because until now this problem still underestimated and hasn't received any special treatment even though the bullying cause a lot off negative effect such as depression which lead to suicide. This statement supported by the Kaspersky Lab's researchThe problem is 20% of people who witness of cyberbullying and 7% of the cases of those involved in bullying. Cyberbullying Theracreation project is designed to raise the awareness of cyberbullying in the community targeting the bullier. Theracreation are created from the word combination of theraphy and recreation. it’s related to the used solution method of the project called cognitive behaviour therapy (CBT). It’s combined with spatial experience in architecture and digital technology which consists of VR so that the therapy process is carried out without having to deal directly with a psychologist. The benefits of this therapeutic system can be done at any time in a predetermined location so that improving the community's process of cyberbullying can be done effectively. For the design concept, emphasize on the improvements in the community the concept building which blend with the level difference building design and focusing the activities at one center point. AbstrakSebagai hasil dari perkembangan teknologi informasi dan digital yang mengarah pada penggunaan Internet secara berlebihan oleh generasi millenial muncul masalah yaitu intimidasi dunia maya atau lebih dikenal dengan cyberbullying. Cyberbullying sendiri tidak terpaku pada generasi milenial saja melainkan generasi lainnya seperti generasi X dan generasi Z. Cyberbullying merupakan pengembangan perilaku bullying dari cara tradisional ke penggunan perangkat digital. Untuk menangani kasus tersebut diajukanlah proyek Cyberbullying Theracreation atau Terapi Cyberbullying berbasis rekreasi yang difokuskan untuk membangun cyberbullying awareness dalam masyarakat khususnya pelaku cyberbullying. Karena sampai sekarang belum kasus ini masih disepelekan dan belum mendapat perlakuan khusus. Hal tersebut didukung oleh hasil penelitian Kaspersky Lab. Cyberbullying dapat menimbulkan pemikiran tentang bunuh diri, terkadang bertahan hingga dewasa. Bahayanya 20% dari orang-orang yang menyaksikan bullying secara online dan di 7% kasus mereka bahkan berpartisipasi dalam kasus bullying. Theracreation sendiri berasal dari pengabungan kata terapi (therapy) dan rekreasi (recreation) ini mengacu pada metode yang digunakan yaitu terapi rekreasi berprogram terapi kognitif perilaku (CBT) yang dipadukan dengan unsur arsitektur (pengalaman ruang) dan teknologi digital berupa VR sehingga proses terapi dilakukan tanpa harus berhadapan langsung dengan psikolog. Keuntungan dari sistem terapi ini adalah terapi bisa dilakukan kapanpun di lokasi yang sudah ditentukan sehingga dalam proses meningkatkan empati masyarakat terhadap cyberbullying bisa dilakukan secara efektif. Dalam desainnya, dengan tetap menekankan peningkatan empati dalam masyarakat dciptakan konsep arsitektur yang berbaur sehingga perbedaan level pada bangunan tersamarkan dan memusatkan aktivitas pada 1 titik pusat.
FENOMENOLOGI SEBAGAI METODE PENGEMBANGAN EMPATI DALAM ARSITEKTUR Angelyna Angelyna; Franky Liauw
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 2, No 2 (2020): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v2i2.8535

Abstract

Along with the times, humans gradually growing too. This different time which is the main holder of changes in human nature that unconsciously causing many things, like in social terms. Technology, economy, knowledge, safety, social level, and place become a factor that affect human’s social changes. These social changes can refer to individualistic and do not care about the surrounding environment, so empathy seems to never be heard agin in this era, especially in urban. Empathy includes the ability to feel the emotional statre of others, feel sympathetic and try to slove problems, and take other people’s perspective (Baron & Byrne, 2004),. While the fact from recent studies have shown that empathy in a person is becoming increasingly rare, as many as 65 percent of people do not care or lose empathy (Daily Mail, 2019). Though empathy itself is important according to Graaff et al (2014) where empathy which underlines the importance of ability, behavior and a very important role in the development of moral and prosocial. The reduced level of empathy in urban is a major factor for designers to design a Pegadungan Empathy Development a place that can maintain and develop empathy through the phemomenology approach using human senses, as a training to feel the emotions of others through architectural space, one of them by labyrinth. The method project from Juhani Pallasmaa theories “An Architecture of Seven Sense” and “The Eyes of The Skin: Architecture and Sense” and through data collection from DKI Jakarta BPS, scientific journals, e-books, survey, interview and questionnaires, and local society needs analysis. With this, this project expected that empathy can be felt and maintained at any time, with a design in accordance with the characteristic of empathy.Keywords:  empathy; labyrinth; Pegadungan; phenomenology; sense AbstrakSeiring perkembangan zaman, manusia semakin berkembang pula. Perubahan sifat manusia menjadi pemegang kunci utama yang tanpa disadari menimbulkan salah satunya dalam hal sosial. Teknologi, ekonomi, pengetahuan, keamanan, tingkat sosial, dan tempat menjadi faktor yang mempengaruhi perubahan sosial manusia. Perubahan sosial tersebut seperti manusia yang individualis dan tidak peduli terhadap lingkungan sekitar, sehingga kata empati seakan tidak ada saat ini, terutama di daerah perkotaan. Empati termasuk kemampuan untuk merasakan keadaan emosional orang lain, merasa simpatik dan mencoba menyelesaikan masalah, dan mengambil perspektif orang lain (Baron & Byrne, 2004). Faktanya, studi terbaru menunjukan rasa empati dalam diri seseorang semakin langka, sebanyak 65% orang bersikap tidak peduli atau kehilangan empati (Daily mail, 2019). Padahal empati merupakan hal penting menurut Graaff dkk, (2014), empatilah yang menggaris bawahi pentingnya kemampuan, tingkah laku dan sebuah peran yang sangat penting dalam pengembangan moral dan perilaku prososial. Menurutnya tingkat empati masyarakat di kota besar menjadi faktor utama bagi perancang untuk merancang sebuah Wadah Pengembangan Empati Pegadungan yang dapat menjaga maupun mengembangkan rasa empati tersebut melalui pendekatan fenomenologi indera manusia, sebagai wadah pelatihan untuk merasakan emosi sesama melalui ruang arsitektur, salah satunya pada labirin. Proyek ini menggunakan metode dari teori Juhani Pallasmaa “An architecture of seven sense” dan “The eyes of the skin: architecture and sense” dan melalui pengumpulan data dari BPS DKI Jakarta, jurnal ilmiah, e-book, survei, wawancara dan kuisioner, serta analisis kebutuhan masyarakat sekitar. Dengan ini diharapkan rasa empati tetap terasa dan terjaga sampai kapanpun, dengan desain sesuai dengan karakteristik empati.
TEMPAT NONGKRONG PRODUKTIF DI KALIDERES, JAKARTA BARAT Jenniffer Maden; Franky Liauw
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 4, No 1 (2022): APRIL 2022
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v4i1.16947

Abstract

Productive hangout place, is a project that accommodates hanging out activities for actors of productive age around the location of the site. Which has the aim of providing another view of hanging out that was previously considered negative by many people. Thus, this hanging out activity has a positive impact such as overcoming the gap in hanging out activities with various activities tailored to the actors. In accordance with the theme, namely: rethinking typology, by taking one of the trending topics, namely hanging out. Various negative views by the public regarding hanging out in everyday life are common. In fact, hanging out provides more benefits if hanging out activities can be made different and more focused according to the existing hangout actors.The current productive generation dominates in all areas of life. Thus, the need for a place to release stress and make a person or a group happier is very influential for their performance. Keywords:  Hangout; Positive; Productive AbstrakTempat nongkrong produktif, merupakan proyek yang mewadahi kegiatan nongkrong bagi pelaku dengan usia produktif di sekitar lokasi tapak berada. Yang memiliki tujuan untuk memberikan pandangan lain mengenai nongkrong yang tadinya dianggap negatif oleh banyak orang. Sehingga, kegiatan nongkrong ini memberi dampak positif seperti mengatasi kesenjangan dalam aktivitas nongkrong dengan berbagai kegiatan yang disesuaikan dengan para pelaku. Sesuai dengan tema yaitu: rethinking tipologi, dengan mengambil salah satu topik yang sedang tren yaitu nongkrong. Berbagai pandangan-pandangan negatif oleh masyarakat mengenai nongkrong dalam kehidupan sehari-hari ini sering terjadi. Pada kenyataannya nongkrong ini memberikan lebih banyak manfaat jika kegiatan nongkrong dapat dibuat berbeda dan lebih terarah sesuai dengan pelaku nongkrong yang ada. Generasi produktif saat ini mendominasi dalam segala bidang kehidupan. Sehingga, perlunya suatu wadah untuk melepaskan stres dan membuat seseorang atau suatu kelompok lebih bahagia sangat berpengaruh untuk kinerja mereka. 
RUMAH AMAN UNTUK KORBAN KEKERASAN SEKSUAL Alda Rahmawati Hidayat; Franky Liauw
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 3, No 1 (2021): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v3i1.10750

Abstract

A lot of sexual violence happened lately remind us there's emergency situation for some people that experienced it and need comprehensive legal protection to push the sexual violence. In the same time and another side, the shield couldn't protect was postponed until 2021 National Legislative Program (Prolegnas). This thing had a big impact to the victim because one of content from RUU-PKS draft has the policy to push the sexual violence and until now it has not been legalized. Until now they have not received their right and at the same time, they have to experienced the heavy impact, trauma. Facilities are 60% defective and a lot of problems shows up such as threat, coercion, etc to the victim and family. This research is the concept of a safe house that aims to protect and accommodate victims of sexual violence. It is hoped that it can become a boost for the government to facilitate victims who have been taboo to help them to help them rise up through a positive environment. This project is experimental, not only for the victims, but also for the surrounding community itself. Through the film 27 Steps of May, this project has a narrative way of transforming the victim's process of healing into an architecture that understands the victim. Keywords:  Architecture; Facilities; Sexual Violence; Sexual Violence Eradication Bill; Victim AbstrakBanyaknya kasus kekerasan seksual yang terungkap akhir-akhir ini mengingatkan kembali bahwa adanya situasi darurat yang dialami beberapa orang dan membutuhkan payung hukum yang komperehensif bagi masyarakat untuk menekan kekerasan seksual. Di waktu yang bersamaan pula, RUU PKS (Rancangan Undang Undang Penghapusan Kekerasan Seksual) dinyatakan dilempar pada Porlegnas (Program Legislasi Nasional) 2021. Hal ini berdampak besar bagi para korban dikarenakan isi RUU PKS yang memiliki kebijakan atau sistem yang memadai untuk pencegahan kekerasan seksual dan sistem yang memadai untuk pemulihan korban sampai sekarang pun belum di sah-kan. Akibatnya, korban pun sampai sekarang belum mendapatkan hak sepenuhnya disaat itu pula korban juga mengalami dampak yang berat yaitu trauma. Fasilitas yang seharusnya bisa didapatkan oleh korban nyatanya 60% rusak sehingga menimbulkan masalah baru sampai adanya ancaman ke korban maupun orang-orang sekitarnya. Penelitian ini merupakan konsep sebuah rumah aman yang bertujuan untuk melindungi dan menampung para korban kekerasan seksual diharapkan bisa menjadi suatu dongkrak-an bagi pemerintah untuk memfasilitasi para korban yang selama ini masih tabu untuk dibantu hingga membantu mereka bangkit melalui lingkungan positif.  Proyek ini bersifat eksperimental, tidak hanya untuk korban, tetapi juga untuk masyarakat sekitarnya sendiri. Melalui film 27 Steps of May, proyek ini mempunyai cara untuk bernarasi untuk menggubah proses korban untuk sembuh menjadi arsitektur yang memahami korban.
RUMAH PELANGI: EVOLUSI PERSEPSI MELALUI HIBURAN Nabila Rahmani; Franky Liauw
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 1, No 2 (2019): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v1i2.4427

Abstract

As millennials grow in the age of globalisation they are more open minded and have a higher tolerance towards certain issues. This has sparked discussions towards the LGBT community which has greatly increased this past decade. Although it’s widely accepted around the world, it’s still considered taboo in Indonesia. Not many in the country express themselves as part of the community due to the strong opinions towards them, there are quite a handful in Indonesia. This project is aimed to raise awareness and educate the people in Indonesia about the LGBT community. A survey filled by 95 people has shown that a lot of millennials and the young generations have a higher tolerance towards the LGBT community. This project uses the phenomenology method backed with a narrative. With the method being used a design based on the flow of a plot from a narrative, the maze concept was created.AbstrakDengan bertumbuh besar dalam zaman globalisasi, milenial mempunyai tingkat toleransi dan pemikiran terbuka terhadap isu-isu tertentu. Hal ini telah menciptakan diskusi terhadap komunitas LGBT yang telah meningkat dalam dekade terakhir. Walaupun hal tersebut sudah diterima di berbagai negara, di Indonesia masih dianggap tabu dan tidak benar. Tidak banyak dari kaum mereka yang mengekspresikan diri di Indonesia dikarenakan opini masyarakat yang buruk tetapi sudah mulai muncul beberapa dari mereka di Indonesia. Proyek tersebut bertujuan untuk meningkatkan kesadaran dan mendidik warga negara Indonesia terhadap komunitas LGBT. Sebuah angket yang diisi oleh 95 orang telah menunjukkan bahwa banyak milenial dan generasi muda yang mempunyai tingkat toleransi yang tinggi terhadap komunitas LGBT. Proyek tersebut menggunakan metode perancangan fenomenologi yang dibantu dengan sebuah narasi. Dengan metode desain berdasarkan sebuah alur cerita, konsep labirin telah diciptakan.
ARSITEKTUR SEBAGAI SARANA PENGEMBANGAN PENDIDIKAN KECERDASAN ANAK Nathania Shareen Rimbani; Franky Liauw
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 3, No 1 (2021): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v3i1.10726

Abstract

Kehidupan manusia di dunia tidak bisa terlepas dari lingkungannya yang terus berkembang seiring berkembangnya teknologi. Pendidikan menjadi salah satu cara dalam meningkatkan kualitas sumber daya yang mampu beradaptasi dan berkompetisi dibutuhkan untuk dapat bertahan hidup dalam perkembangan lingkungan di dunia. Tujuan pendidikan nasional jelas menyampaikan bahwa pendidikan dilakukan untuk meningkatkan kecerdasan rakyatnya baik itu kecerdasan intelektual (IQ), kecerdasan emosional (EI) dan kecerdasan spiritual (SI). Namun dalam praktiknya, institusi pendidikan lebih mengarah pada peningkatan IQ, melupakan EI dan SI yang sebenarnya tidak bisa terlepaskan satu dengan yang lainnya. Perubahan akibat digitalisasi dalam konsep pendidikan ini memunculkan suatu permasalahan dasar secara spasial yaitu perubahan tipologi sekolah atau ruang kegiatan sebagai lingkungan belajar. Bentuk arsitektur pendidikan anak yang dapat mengakomodasi kebutuhan emosional dan akademis anak berdasarkan kecerdasannya menjadi permasalahan desain utama. Sekolah Pukka Cisauk merupakan fasilitas pendidikan untuk anak sekolah dasar dan sekolah menengah pertama dalam mendukung peningkatan kecerdasan pada anak demi kualitas kehidupan yang lebih baik. Sistem pendidikan yang digunakan adalah pembelajaran berbasis proyek (PBL) dengan proses pembelajaran menitikberatkan pada siswa. Perbedaan identitas setiap individu diakomodasi dalam pembentukan ruang berdasarkan 8 kecerdasan majemuk yang diintegrasikan dengan prinsip belajar kolaboratif, kreatif, partisipatif, pengalaman, multiliterasi, personalisasi, menyenangkan dan interdisiplin dalam mencapai tujuan membentuk anak yang produktif, afektif dan kreatif.
WADAH KOMUNITAS DAN REKREASI SEBAGAI RUANG KE - 3 DENGAN URBAN AKUPUNTUR METODE MENGHIDUPKAN DAN MENGEMBALIKAN CITRA PASAR BARU Stephen Stephen; Franky Liauw
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 2, No 2 (2020): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v2i2.8563

Abstract

At present the activity of buying and selling/trading has been developing rapidly for decades. The growth of new malls spread throughout Jakarta. Making Jakarta the city with the largest and most shopping center in the world, with more than 173 malls. Coupled with the help of technology, an online shop platform has emerged that makes it easy for visitors to shop without having to come to the store. With the help of electronic media tools such as tablets or Smartphones. Nowadays, malls are not only a place to shop but also a place for recreation, socializing, or just for a walk alone. The progress of technology and human culture is changing. It's one of the factors that influence the impact of the decline in visitors at the old shopping center, every year such as a Pasar Baru shopping center. Re-Imagine Pasar Baru is a project that aims as a motor/propeller for Pasar Baru Community. Inviting the local people and Shop Owners to take part in making a change. Through a new program that strengthens unity and diversity to bring the conciseness cooperation (Gotong-royong) attitude that has been lost with the development of the times. Creating a place where people can socialize and interact, get closer, get to know each other, and also as a means of recreation for residents, visitors, shop owners, and also this project hopes to bring the Pasar Baru shopping area to life. Through the Urban Acupuncture method by analyzing the needs, potentials, deficiencies, demographics, ecology, etc. that characterize the Pasar Baru area. Where it can present a new program, and produce small-scale changes, but social catalytic intervention into the urban spatial structure. In physical and social-culture in Pasar Baru. Keywords: Community; Gotong Royong; Pasar Baru; Recreation; Urban Acupuncture  AbstrakSaat ini aktivitas Jual-beli/perdagangan sudah berkembang pesat selama beberapa dekade. Tumbuhnya mall-mall baru tersebar di seluruh Jakarta. Menjadikan Jakarta sebagai kota dengan pusat perbelanjaan terbanyak dan terbesar di dunia, dengan lebih dari 173 mall. Ditambah dengan bantuan teknologi, platform online shop memudahkan pengunjung untuk berbelanja tanpa perlu datang ke toko. Dengan bantuan alat media elektronik seperti tablet atau Smartphones. Saat ini, mall bukan hanya menjadi tempat untuk berbelanja melainkan menjadi tempat rekreasi, bersosialisasi, atau hanya sekedar untuk jalan-jalan semata. Kemajuan teknologi serta budaya manusia yang berubah, merupakan salah satu faktor yang berpengaruh terhadap dampak penurunan pengunjung di pusat perbelanjaan lama setiap tahunnya, seperti pusat perbelanjaan Pasar Baru. Re-Imagine Pasar Baru Merupakan proyek yang bertujuan sebagai motor / pengerak daerah Pasar Baru. Mengajak masyarakat dan para pedagang untuk ikut andil dalam melakukan suatu perubahan. Lewat program yang mempererat kesatuan dan persatuan guna memunculkan sikap gotong royong yang sudah hilang seiring berkembangnya zaman. Menciptakan tempat dimana warga dapat bersosialisasi dan berinteraksi, mendekatkan, saling mengenal satu sama lain dan juga sebagai sarana rekreasi warga lokal, dan proyek ini berharap dapat menghidupkan kawasan perbelanjaan Pasar Baru. Lewat metode Urban Acupunture yaitu dengan menganalisis kebutuhan, potensi, kekurangan, demografi, ekologi yang menjadi ciri khas dari kawasan Pasar Baru. Dimana dapat menghadirkan suatu program baru, dan menghasilkan perubahan skala kecil, tetapi intervensi katalitik sosial ke dalam tatanan ruang kota. Bukan hanya sekedar bentuk fisik, tetapi juga berdampak pada sosial dan budaya Kawasan Pasar Baru sendiri. 
WISATA DAN SENI PERTUNJUKAN BETAWI DENGAN KONSEP BETAWI PESISIR Muhammad Ilham Sudrajat; Franky Liauw
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 4, No 1 (2022): APRIL 2022
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v4i1.16918

Abstract

Kelurahan Marunda was once a place which known for its Betawi culture in Jakarta. The existence of Museum Si Pitung in the area reflected the Betawi culture, sourced from its folklores (of Betawi culture). However in present day, Kelurahan Marunda is now more one of Jakarta’s Industrial Area. As in writer’s opinion, it is important to keep Kelurahan Marunda famous for its Betawi culture, in order to keep the Betawi identity of Kelurahan Marunda itself. The site the writer chose is near from Pantai Marunda, known locally as ‘Tempat Wisata/Recreational Place’, which until now still frequently visited by publics. Considering the site of the writer chose, therefore the writer looks up to the theory of Biophilic Design. The writer propose to build an area with Betawi Culture Concept in Coastof Kelurahan Marunda with 3 main activity programs as: The traditional art conservation activities, for example dancing arts, musics, theatres and matrial arts. Next memorabilia conservation activities, putting in bold of water recreation conservation activities in the Coast of Marunda.Also there are activities which contain Betawi Culture’s image conservation, in this will be bolding the culinary and accessories sectors out. The above-proposed Betawi Culture tourism area is definitely important for Marunda Area, because it will also creates working opportunities for the locals, and the most important once more is to keep the Betawi identity in Marunda itself. Keywords:  Betawi Culture Art; Betawi Coastal; Eco-Tourism Principles AbstrakKelurahan Marunda merupakan tempat yang kental terhadap budaya Betawi di Jakarta. Adanya bangunan Museum Si Pitung di kawasan Marunda melambangkan adanya cerita di Marunda yang mengacu pada cerita-cerita budaya Betawi. Namun di masa sekarang, Marunda menjadi bagian kawasan industri di Jakarta. Saya berpendapat bahwa sangat pentinglah adanya suatu kawasan di Marunda yang masih berpegang teguh pada kebudayaan Betawi, untuk mempertahankan identitas asli kawasan Marunda.  Tapak yang terpilih berada di Pantai Marunda, tapak ini merupakan tempat wisata di Marunda yang masih kerap dikunjungi oleh warga. Dengan teori perancangan biofilik desain. Maka dari itu, penulis mengusulkan untuk membangun sebuah kawasan dengan konsep Betawi Pesisir di wilayah Marunda dengan menentukan 3 program aktivitas utama dalam kawasan dan juga menentukan zonasi pada tapak antara lain adalah. Aktivitas pelestarian kesenian, seperti kesenian tari, musik, teater, dan juga pencak silat. Ada juga aktivitas pelestarian memoribilia, yang di dalamnya merupakan zona yang berfokus pada pelestarian rekreasi air, dimana adanya kegiatan yang berkaitan dengan penduduk Betawi Pesisir di kawasan Marunda. Dan yang terakhir adalah aktivitas pelestarian citra, dalam zona ini lebih mengacu kepada pelestarian kuliner dan aksesoris.  Proyek kawasan pariwisata kebudayaan Betawi Pesisir ini sangatlah baik untuk wilayah Marunda. Karena dapat menciptakan lapangan pekerjaan, dan juga mempertahankan identitas Betawi Pesisir di Marunda.
WADAH INTERAKSI SOSIAL Yonathan Yoel Mulyadi; Franky Liauw
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 2, No 1 (2020): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v2i1.6776

Abstract

People always engage in mutual relations and influence with other human beings in order to fulfill their needs and sustain their lives. The reaction action is a form of interaction created by humans, because humans are social beings who cannot live without the help of others. The purpose of this research is to know the pattern of communication built by the community and to know the process of social integration. The process of collecting data using the observation method conducted within 5 days in the study site area, and the interview method is conducted to obtain more accurate data in reviewing community development. Based on the results of the research, the pattern of interaction built by the community in Kramat is less good, because the whole community activities are done in the Office, school or other workplace. There is a social community that is engaged in the art of craft, but there are less people in the field because of limited time and location is less strategic, but also because it is commercial there are some people who lack It. Intersocial learning and network development in Kramat is a social facility that can be accessed by the whole community without seeing the social status. The facilities provided are the result of the interview data with the surrounding community as the basis for creating this project. Social containers are a facility provided to the community without charging a fee in certain provisions for the Community can be recreation and brainstorm and also knowledge in certain areas.AbstrakManusia senantiasa melakukan hubungan dan pengaruh timbal balik dengan manusia yang lain dalam rangka memenuhi kebutuhan dan mempertahankan kehidupannya. Adanya aksi reaksi merupakn sebuah bentuk interaksi yang diciptakan oleh manusia, karena manusia merupakan mahkluk sosial yang tidak dapat hidup tanpa bantuan orang lain. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pola komunikasi yang dibangun oleh para masyarakat dan untuk mengetahui proses integrasi sosial yang dilakukan. Proses pengumpulan data menggunakan metode observasi yang dilakukan dalam jangka waktu 5 hari di area tapak studi, selain itu juga metode wawancara dilakukan untuk memperoleh data yang lebih akurat dalam meninjau perkembangan masyarakat. Berdasarkan hasil penelitian, pola interaksi yang dibangun oleh masyarakat di Kramat tergolong kurang baik, karena hampir seluruh aktivitas masyarakat dilakukan di kantor, sekolah maupun tempat bekerja lainnya. Terdapat komunitas sosial yang bergerak dalam bidang seni kriya akan tetapi maksyarakat sekitar kurang meminatinya karena keterbatasan waktu dan juga lokasi yang kurang strategis, selain itu juga karena bersifat komersial ada beberapa masyarakat yang kurang meminatinya. Wadah belajar dan interaksi sosial sebagai pengembangan jaringan di kramat merupakan fasilitas sosial yang dapat diakses oleh seluruh kalangan masyarakat tanpa melihat status sosialnya. Fasilitas yang disediakan merupakan hasil dari data wawancara dengan masyarakat sekitar sebagai dasar dalam menciptakan proyek ini. Wadah sosial merupakan sebuah fasilitas yang diberikan kepada masyarakat tanpa memungut biaya dalam ketentuan tertentu untuk masyarakat dapat berekreasi serta bertukar pikiran dan juga ilmu dalam bidang – bidang tertentu.