Franky Liauw
Program Studi S1 Arsitektur, Fakultas Teknik, Universitas Tarumanagara

Published : 26 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 26 Documents
Search

PLATARAN REMPUG RAWA BELONG Christabella Nadia Angela; Franky Liauw
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 2, No 2 (2020): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v2i2.8492

Abstract

Rawa Belong is one of the village in Jakarta’s density. Then this village was filled by social interactions that give a life to the city. A public space that everyone can relax and leisure also express themselves freely. With a cultural background and plants, Rawa Belong began to be seen as something special. Various communities and people with a different background are in it. Freedom that should be in a public space is not happen here, because of the density both in the interaction between people and their environment. This project is based on “Everyday Urbanism” method to observe and analysis the urban life in Rawa Belong. Then this project was created to resolve what people in Rawa Belong needs such as a place to recreation and leisure where will be seen as a connection between lost spaces also to create a space that combine all the people and community that should be in a public space.   Keywords:  community; cultural; plants; public space; social interactioAbstrakRawa Belong merupakan salah satu kelurahan ditengah kepadatan kota Jakarta. Suatu kelurahan yang diisi oleh interaksi social yang memberi kehidupan bagi kota. Sebuah wadah dan ruang public dimana setiap orang dapat melakukan aktivitas rekreasi dan mengekspresikan dirinya secara bebas. Dengan latar belakang sejarah budaya betawi dan juga tanaman hias, daerah Rawa Belong dipandang sebagai sesuatu yang khas dan istimewa. Berbagai macam komunitas dengan berbagai latar belakang ada di dalamnya, kebebasan yang seharusnya ada dalam sebuah ruang public tidak terlihat di daerah ini karena begitu padatnya satu dengan yang lainnya baik dalam interaksi antar manusia maupun interaksi dengan lingkungannya. Proyek ini didasari  menggunakan metode “Everyday Urbanism” untuk melakukan pengamatan dan analisa terhadap kehidupan di Rawa Belong. Kemudian proyek ini diciptakan untuk menjawab kebutuhan wadah rekreasi yang ada, dimana wadah ini akan dilihat sebagai sebuah koneksi antar ruang-ruang yang hilang dan menggabungkan semua komunitas dan masyarakat yang seharusnya ada dalam sebuah ruang terbuka.
REKREASI KULINER BETAWI DI MANGGA BESAR Giovanni Gunawan; Franky Liauw
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 4, No 1 (2022): APRIL 2022
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v4i1.16923

Abstract

Food is one of the basic survival needs. Indonesia is a country with a wide variety of cuisines. In Indonesia, food has become part of the culture. Unfortunately, there is a phenomenon, especially in big cities, where the younger generation prefers non-traditional culinary that gets rid of the position of traditional culinary. Culinary recreation is a lifestyle that has emerged recently. For people who like recreation, it's not complete if you haven't tried the specialties of a region. The food provided in each region also varies. The Betawi tribe is a pioneer of DKI Jakarta's cultural and cultural identity and the preservation of Betawi culinary culture will affect the community, both entrepreneurs and consumers. Metaphorical and experimental methods are taken as an approach in designing where the shape of the plate is taken as the basis for the shape of the building. The plates are then arranged horizontally, vertically, and with various inclinations to create a unique and interesting space experience. The existence of Betawi Culinary Recreation in Mangga Besar will bring many benefits for culinary connoisseurs and for the food industry in the Mangga Besar area, so that they can meet various culinary needs. As a result, Betawi food can be known by the wider community and help preserve Betawi food. Keywords:  Betawi; Culinary; Recreation AbstrakMakanan merupakan salah satu kebutuhan dasar untuk bertahan hidup. Indonesia merupakan negara yang beraneka ragam kulinernya. Di indonesia makanan sudah menjadi bagian dari budaya. Sayangnya muncul fenomena terutama di kota-kota besar dimana generasi muda lebih menyukai kuliner non-tradisional yang menyingkirkan posisi kuliner tradisional. Rekreasi kuliner merupakan gaya hidup yang mulai muncul belakangan ini. Bagi orang yang suka berekreasi, belum lengkap rasanya jika belum mencoba makanan khas suatu daerah. Makanan yang disediakan di tiap daerah juga bervariasi. Suku Betawi merupakan pelopor identitas budaya dan budaya DKI Jakarta dan pelestarian budaya kuliner Betawi akan mempengaruhi masyarakat baik pengusaha maupun konsumen. Metode metafora dan eksperimental diambil sebagai pendekatan dalam mendesain dimana bentuk piring diambil sebagai dasar bentuk bangunan. Piring kemudian disusun secara horizontal, vertikal, dan dengan kemiringan yang beragam untuk membuat pengalaman ruang yang unik dan menarik. Dengan adanya Rekreasi Kuliner Betawi di Mangga Besar akan membawa banyak manfaat bagi para penikmat kuliner dan bagi industri makanan di kawasan Mangga Besar, sehingga dapat memenuhi berbagai kebutuhan kuliner. Alhasil, makanan khas Betawi bisa dikenal masyarakat luas dan membantu melestarikan makanan Betawi.
HUNIAN VERTIKAL MONODUALISME (INDIVIDUALISME-KOLEKTIVISME) Hidayatul Reza; Franky Liauw
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 3, No 1 (2021): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v3i1.10890

Abstract

The conflict between the two social understandings between individualism and collectivism does not need to be clashed, but instead it needs to be managed according to values, morals and ethics. So that it can become a social force for social life. In this issue, architects can play a role in cultivating a 'space' that is fit to the problem of individualism-collectivism. The research method used is a comparative and synergistic method. Literature in the form of journals and books on the phenomenon of individualism-collectivism is used as a reference and comparison. To be able to change a person's attitude, it is necessary to have an environmental role that creates events and events that occur repeatedly and continuously, gradually being absorbed into the individual and influencing the formation of an attitude. In order for this approach to be applied easily, this approach must be applied to basic human needs. In basic human needs there is a hierarchy of the most basic, namely physiological needs, the most basic needs to be fulfilled because they include things that are vital for survival, namely, clothing, food, and shelter. So in order to answer this issue, the vertical housing function is fixed. In addition, vertical housing is considered important because it responds to limited land and the increasing human population. Vertical housing with a collaborative space in grouped dwelling unit concept, because offers many possibilities, from people who live together sharing physical space to communities that share values, interests and philosophies of life. Grouping system is also be an important value and in community prefer to live in small community amount 4-10 members with various background. Consisted by good quality personal space and supporting facilities to develop self-potential as self-actualization. Keywords:  collaborative; collectivism; individualism; monodualism; self actualization Abstrak Konflik dua paham sosial antara individualisme dengan kolektivisme tidak perlu dibenturkan, tetapi justru perlu dikelola menurut nilai-nilai, moral, dan etika, sehingga dapat menjadi kekuatan sosial bagi kehidupan bermasyarakat. Dalam isu ini, arsitek dapat berperan dalam mengolah ‘ruang’ yang fit terhadap permasalahan individualisme-kolektivisme. Metode penelitian yang digunakan adalah metode komparatif dan sinergis. Literatur berupa jurnal dan buku tentang fenomena individualisme-kolektivisme, dijadikan sebagai acuan dan pembanding. Untuk dapat mengubah sikap seseorang diperlukan peran lingkungan untuk menciptakan kejadian-kejadian dan peristiwa-peristiwa yang terjadi berulang-ulang dan terus-menerus, lama-kelamaan secara bertahap diserap kedalam diri individu dan memengaruhi terbentuknya suatu sikap. Agar pendekatan ini dapat diterapkan dengan mudah maka pendekatan ini harus diterapkan pada kebutuhan dasar manusia. Pada kebutuhan dasar manusia terdapat hierarki yang paling dasar yaitu kebutuhan fisiologis (physiological needs), kebutuhan yang paling dasar untuk dipenuhi karena meliputi hal-hal yang vital bagi kelangsungan hidup yaitu, sandang, pangan, dan papan. Sehingga untuk menjawab isu ini, ditetapkan fungsi hunian vertikal. Selain itu, hunian vertikal dinilai penting karena untuk mejawab keterbatasan lahan dan semakin tingginya populasi manusia. Hunian vertikal dengan mengusung konsep ruang kolaboratif pada setiap unit hunian yang dikelompokkan, karena menawarkan banyak kemungkinan, mulai dari orang-orang yang tinggal bersama dengan berbagi ruang fisik hingga komunitas yang juga berbagi nilai, minat, dan filosofi hidup. Sistem pengelompokan penghuni juga menjadi nilai penting dan dalam komunitas lebih menyukai jumlah yang sedikit 4-10 orang dengan latar belakang yang berbeda. Ditunjang dengan kualitas ruang pribadi yang baik dan fasilitas penunjang yang dapat mengembangkan potensi sebagai bentuk aktualisai diri.
EKSPLORASI RUANG EDUKASI KREATIF DALAM WUJUD THIRD PLACE DENGAN METODE KONTEKSTUAL DI KAWASAN HUNIAN PADAT MANGGARAI Cakra Wirabuana Shelo; Franky Liauw
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 2, No 2 (2020): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v2i2.8536

Abstract

Excessive population growth and urbanization to the city are causing a dense residential area in the city of Jakarta. In this discussion, the area that is the center of attention is Manggarai, South Jakarta, seen from the number of dense residential that stands along the banks of the river and around the station. The problem of limited area in the residential causes terraces and the local road to be used as a place of interaction between citizens, which can cause disturbance to the area of residential privacy and resident movement. Garbage collection facilities in the area are also not well managed in terms of the number of garbage piles in residential areas. The study of the discussion is a recreational public building that can accommodate the interaction of dense residential communities. The purpose and benefits of this project are to create a form of space to interact and release stress between communities by responding to the issue of waste management in the form of Open Architecture and Third Place. Data methods were obtained from field observations, as well as literature studies on contextual architecture as a response to design in dense residential areas. The results of this study produced an architectural building with a program of a creative workshop from waste recycling that could accommodate community interactions in a creative way as well as waste management education for the community. Keywords:  contextual; creative; dense residential; education; recreation Abstrak Pertumbuhan penduduk dan urbanisasi ke pusat kota yang berlebih menyebabkan terjadinya area hunian padat di Kota Jakarta. Dalam pembahasan ini, wilayah yang menjadi perhatian adalah kawasan Kelurahan Manggarai, Jakarta Selatan, terlihat dari banyaknya hunian padat kumuh yang berdiri di sepanjang pinggiran sungai dan sekitar stasiun. Permasalahan keterbatasan lahan pada permukiman menyebabkan teras hunian serta jalan lalu lintas setempat dijadikan tempat berinteraksi antar warganya yang dapat menimbulkan gangguan terhadap area privasi hunian maupun lalu lintas pergerakan warga. Fasilitas penampungan sampah pada kawasan padat juga belum terkelola dengan baik ditinjau dari banyaknya titik penumpukan sampah pada kawasan hunian padat. Lingkup pembahasannya adalah mengenai bangunan publik rekreatif yang dapat menampung interaksi masyarakat hunian padat. Tujuan dan manfaat dari proyek ini, adalah menciptakan wujud ruang antara untuk berinteraksi dan melepas penat antar masyarakat dengan merespon isu manajemen sampah pada kawasan dalam wujud Open Architecture dan Third Place. Metode pengumpulan data diperoleh dari observasi lapangan, serta studi literatur mengenai arsitektur kontekstual sebagai respon perancangan desain pada kawasan hunian padat. Hasil dari penelitian ini sendiri menghasilkan suatu bangunan arsitektur dengan program fungsi lokakarya kreatif dari daur ulang sampah yang dapat menampung interaksi warga secara rekreatif sekaligus edukasi manajemen sampah bagi masyarakat.
RUANG KONSOLIDASI MASYARAKAT Helena Andriani; Franky Liauw
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 2, No 1 (2020): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v2i1.6781

Abstract

The construction of shopping centers in Jakarta has skyrocketed in the past few years. The proliferation of shopping centers mainly caused by shopping centers has been the main destination for visitors , wanting an all in one solution for entertainment. This project aims to offer a new space allowing its visitor to network, increase social interaction and strenghten the bonds between one another. Entertainment facilities can certainly be developed not only in the form of shopping centers, but into something that is packaged attractively and strengthens the relationship between visitors and visitors who live nearby. By creating an new form of entertainment facilities located in the middle of residential areas, it is expected to create the true third place in Kelapa Gading area, so that residents can come, play and use the facilities as a way to network with one another. AbstrakPembangunan pusat perbelanjaan di Jakarta meroket beberapa tahun terakhir. Menjamurnya pusat perbelanjaan ini dikarenakan pusat perbelanjaan atau shopping center menjadi tujuan utama bagi pengunjungnya yang ingin mencari entertainment atau sarana hiburan lainnya. Proyek ini bertujuan untuk menawarkan sebuah wadah dimana pengunjung dapat memperluas koneksi, meningkatkan interaksi sosial dan mempererat hubungan antara satu penduduk dengan lainnya. Fasilitas hiburan tentunya bisa dikembangkan tidak hanya berupa pusat perbelanjaan, melainkan menjadi sesuatu yang dikemas menarik dan memperkuat hubungan antar pengunjungnya dan pengunjung yang tinggal disekitarnya. Dengan membuat fasilitas hiburan yang terletak di tengah pemukiman warga, diharapkan bisa mempererat hubungan antar penduduk sehingga penduduk dengan datang, bermain dan menggunakan fasilitas sebagai salah satu cara untuk networking satu dengan yang lainnya.
PERANCANGAN RUANG BERMAIN DAN BERSANTAI YANG MENCIPTAKAN KEBAHAGIAAN Illona Delarosa Widjaja; Franky Liauw
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 3, No 1 (2021): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v3i1.10733

Abstract

As the time goes by, humans’ daily activities predicted will be denser and could inflict some problems which built by negative emotion that occurs form human stress. This matter become concerned in a concept of dwelling in the future, which is how human survive. Humans in matter of survival, need some necessities. Those needs are fulfilled by human for releasing any negative emotions and gainning positive emotions or happiness. Therefore, this project is intended to fulfill happiness by proposing programs for playing and relaxing in leisure time for people around or outside the area. Those programs are based by some theories and understandings about happiness and which are being applied into architecture. In this case, placing and function of the space and also circulation are being thought out dynamically and based on hierarchy on the mass with the point of interest in playing and relaxing. This project is hoped for visitors who are coming could release stress and feeling happy. Keywords:  dwelling; emotion; happiness; play; relaxing AbstrakSeiring berkembangnya zaman, rutinitas manusia akan semakin padat dan dapat menimbulkan masalah dalam hal ini emosi negatif yaitu stres dalam diri manusia. Hal ini menjadi perhatian dalam konsep berhuni di masa depan, yaitu bagaimana manusia bertahan hidup. Manusia bertahan hidup memerlukan beberapa kebutuhan. Kebutuhan-kebutuhan tersebut dipenuhi manusia untuk mengeluarkan emosi negatif dan mendapatkan emosi positif. Karena itulah proyek ini bertujuan untuk memenuhi rasa bahagia tersebut dengan menyuguhi program-program untuk bermain dan bersantai di waktu luang bagi masyarakat sekitar kawasan atau luar kawasan. Program-program tersebut diwujudkan dari beberapa teori dan pemahaman tentang kebahagiaan yang lalu diaplikasikan ke dalam arsitektur. Dalam hal ini, penempatan dan fungsi ruang dan juga sirkulasi diciptakan secara dinamis dan berdasarkan hierarki pada massa bangunan dengan berlandaskan tujuan untuk bermain dan bersantai. Proyek ini diharapkan agar dapat membuat pengunjung melepas stres dan merasa bahagia.
PUSAT PENGEMBANGAN KEPERCAYAAN DIRI Dessy Andiwijaya; Franky Liauw
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 1, No 2 (2019): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v1i2.4487

Abstract

Self-confidence is a very important aspect of our lives. Everyone is different from one another, each has a unique character attached to him. From that difference, it can be seen that there are people who are confident, but there are also people who lack confidence. Because with us lacking in confidence, we will miss the opportunities that exist in this life, such as work. Self-confidence also makes a person nervous, anxious, difficult to interact socially and unable to find self-concept. From the above, as if self-confidence is the root of life because it determines the thoughts and activities that we will do everyday. Self-confidence is influenced by internal factors and external factors. External factors are family environment, friend environment and work. A person's confidence and character influences all aspects of a person's life, such as finance, work, social life and others. Internal factors of lack of confidence are self-concept, self-esteem, and life experience. Confidence (confidence) determines how a person will judge and respect him personally. Self-confidence is a belief in the ability of yourself to achieve something and can accept self-deficiencies so that these deficiencies become a strength in us. Whereas according to Hurlocks, Confidence (self-confidence) is an attitude in someone who can / can accept reality, develop self-awareness, think positively, have independence, & have the ability to have everything that is desired. To develop self-confidence, we need to improve self concept, ability and social interaction. AbstrakKepercayaan diri merupakan aspek yang sangat penting dalam kehidupan kita. Setiap orang berbeda satu dan lainnya, masing-masing memiliki karakter yang khas melekat pada dirinya. Dari perbedaan itulah, dapat diketahui bahwa terdapat orang yang percaya diri, namun ada pula orang yang kurang percaya diri. Karena dengan kita kurang percaya diri, kita akan melewatkan kesempatan-kesempatan yang ada dalam kehidupan ini, misalnya pekerjaan. Kepercayaan diri juga membuat seseorang bersikap gugup, cemas, sulit untuk berinteraksi sosial dan tidak dapat untuk menemukan konsep diri. Dari hal di atas, seakan-akan kepercayaan diri merupakan akar dari kehidupan karena hal ini menentukan pikiran dan aktivitas yang akan kita lakukan sehari-hari. Kepercayaan diri diperngaruhi oleh faktor internal dan faktor eksternal. Faktor eksternal yaitu  lingkungan keluarga, lingkungan teman dan pekerjaan. Kepercayaan diri dan karakter seseorang mempengaruhi segala aspek kehidupan seseorang, misalnya finansial, pekerjaan, kehidupan sosial dan lain-lain. Faktor internal dari kurangnya kepercayaan diri yaitu konsep diri, harga diri, dan pengalaman hidup. Rasa percaya diri(confidence) menentukan bagaimana seseorang akan menilai dan menghargai dirinya pribadi. Kepercayaan diri merupakan keyakinan akan kemampuan diri sendiri untuk mencapai suatu hal dan dapat menerima kekurangan diri sehingga menjadikan kekurangan tersebut menjadi kekuatan dalam diri kita. Sedangkan menurut Hurlocks, Confidence(kepercayaan diri) merupakan sikap pada diri seseorang yang dapat/ bisa menerima kenyataan, mengembangkan kesadaran diri, berpikir positif, memiliki kemandirian,& mempunyai kemampuan untuk memiliki segala sesuatu yang diinginkan.Untuk mengembangkan kepercayaan diri, kita perlu meningkatkan meningkatkan konsep diri, kemampuan dan interaksi sosial.  
MENGUBAH FENOMENA BANJIR MENJADI SEBUAH PEMBERIAN Christofer Rendi; Franky Liauw
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 4 No. 2 (2022): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v4i2.22222

Abstract

Floods are familiar to the people of Jakarta. The definition of the flood itself is a condition where the volume of air gathers so much that it overflows. Every year there is land subsidence of approximately six centimeters caused by several factors, namely groundwater extraction, construction loads such as buildings in Jakarta, natural consolidation of alluvium soil, and tectonic soil subsidence. The alternatives applied are inadequate to deal with the flood phenomenon. It is time to try another alternative: changing our view of the flood phenomenon as something that is not harmful and can produce something. One alternative that is used to change the view that floods are harmful is to use floods as a spectacle, and air installations to introduce floods to the public. After flooding becomes a phenomenon that can be exploited, people can disseminate knowledge about how to use flooding to become a beneficial phenomenon. Keywords: Flood; Harmful; Point of View; Water Abstrak Banjir sudah tidak asing didengar oleh masyarakat-masyarakat Jakarta. Pengertian banjir sendiri merupakan kondisi dimana volume air berjumlah banyak sehingga meluap. Setiap tahun terjadi penurunan tanah sekitar kurang lebih enam sentimeter yang disebabkan oleh beberapa faktor yakni pengambilan air tanah, beban konstruksi seperti bangunan-bangunan yang ada di Jakarta, dan pergerakan tanah tiap tahunnya. Alternatif-alternatif yang diterapkan kurang cukup untuk menangani fenomena banjir. Sudah saatnya untuk mencoba alternatif lain yakni dengan mengubah pandangan kita terhadap fenomena banjir sebagai suatu fenomena yang tidak merugikan, dan dapat membuahkan sesuatu. Salah satu alternatif yang digunakan untuk mengubah pandangan bahwa banjir merugikan adalah memanfaatkan banjir menjadi sebuah tontonan, dan instalasi-instalasi air untuk mengenalkan banjir kepada masyarakat. Setelah banjir menjadi fenomena yang dapat dimanfaatkan, masyarakat dapat menyebarluaskan pengetahuan akan memanfaatkan banjir menjadi fenomena yang menguntungkan.
PENGGUNAAN KEMBALI BANGKAI BUS TRANSJAKARTA SEBAGAI MODUL PASAR PESING KONENG Kristopher Henrico Ali; Franky Liauw
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 4 No. 2 (2022): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v4i2.22228

Abstract

Pesing Koneng Market is a wild market that has been operating in the Pesing area for a long time. In the past, the Pesing market managed to attract visitors from remote areas of Batavia. However, seeing its development which has given rise to various problems,  Urban Acupuncture strategy is needed to respond the degradation that occurs. Like a hermit crab changing its shell, the Pesing Koneng market that grows beyond its "shell" needs to find a new home for itself. Where the search for a new home or relocation strategy not only improves the market itself, but also affects the surroundings. Inspired by how the market community creatively reuses existing resources, this project seeks to bring these characteristics to a new site. Pesing Koneng market relocation site is close to the existing market. Where the site is a home of abandoned Transjakarta buses. By transfering the characteristics of the market, the reuse of abandoned transjakarta bus is done by breaking down the elements of the bus and using it as space, facilities, and entertainment in the market. This creates a different and unique market atmosphere in order to increase public interest in traditional markets. Keywords:  Market; Relocation; Reuse; Transjakarta Abstrak Pasar Pesing Koneng merupakan pasar liar yang sudah lama beroperasi di daerah pesing. Dahulu, pasar Pesing berhasil menarik pengunjung dari pelosok Batavia. Namun melihat perkembangannya yang memunculkan beragam masalah, diperlukan strategi Urban Acupuncture untuk merespon degradasi yang terjadi. Seperti kelomang yang mengganti cangkangnya, pasar Pesing Koneng yang tumbuh melebihi “cangkang”-nya perlu mencari rumah baru bagi dirinya. Di mana pencarian rumah baru atau strategi relokasi ini tidak hanya memperbaiki pasar itu sendiri, tetapi juga berpengaruh pada sekitarnya. Terinspirasi dari bagaimana masyarakat pasar secara kreatif menggunakan kembali sumber daya yang ada, proyek ini berusaha untuk membawa ciri khas tersebut pada tapak yang baru. Tapak relokasi pasar Pesing Koneng berada dekat dengan pasar eksisting. Di mana tapak tersebut merupakan rumah bagi bangkai bus Transjakarta yang terlantar. Dengan turut memindahkan karakteristik pasar, penggunaan kembali bangkai bus transjakarta dilakukan dengan memecah elemen bus dan menggunakannya sebagai ruang, fasilitas, hingga hiburan dalam pasar. Hal ini menciptakan suasana pasar yang berbeda dan unik demi meningkatkan minat masyarakat terhadap pasar tradisional.
RUANG KREATIVITAS SAMPAH PLASTIK DI KAPUK BERPOTENSI MEMBANGUN KARYA DAN KREASI Maxi Milleneum Marlim; Franky Liauw
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 4 No. 2 (2022): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v4i2.22229

Abstract

The problem of waste in Indonesia is still something that is quite serious to be repaired and handled by the community, because of the excessive amount of waste that accumulates and is not resolved. The pile of garbage makes the city area degraded. Because the final garbage shelters are full, temporary garbage shelters have sprung up. According to the data taken, most of the waste is plastic waste which is very difficult to decompose. Plastic is a material that is often used continuously by humans until now. Plastic materials can endanger natural life, damage ecosystems and inhibit the development of living things. The existence of plastic waste can hinder the future development of the city. Likewise, the health condition of the area is also crowded and dirty. Therefore, solutions and unique strategies are needed to reduce the waste problem, and human awareness is needed in the future. Awareness by providing training and teaching about plastic waste and its positive impact in its processing. Especially increasing the awareness of residents in increasing their creativity to get interesting ideas that can give new characteristics to the Kapuk, Cengkareng. The creativity obtained by the residents has the aim of increasing the future development of a cleaner and more well-maintained city from plastic waste, and can make progress in the field of education and the local economy. Keywords: Creativity; Ideas; Plastic; Plastic Waste Abstrak Permasalahan mengenai sampah di Indonesia masih menjadi suatu hal yang cukup serius untuk diperbaiki dan ditangani oleh masyarakat, karena sampah yang ditumpuk dan tidak teratasi memiliki jumlah yang berlebihan. Tumpukkan sampah tersebut membuat kawasan kota mengalami degradasi. Karena tempat penampungan sampah sudah penuh, sehingga bermunculan tempat pembuangan sampah sementara. Menurut data yang diambil kebanyakan sampah yang menumpuk tersebut adalah sampah plastik yang sangat sulit diuraikan. Plastik adalah material yang sering digunakan terus-menerus oleh manusia hingga saat ini. Material plastik dapat membahayakan kehidupan alam, merusak ekosistem dan menghambat perkembangan makhluk hidup. Keberadaan sampah plastik dapat menghambat perkembangan kota untuk kedepannya. Begitu juga dengan kondisi kesehatan kawasan tersebut pun semakin kumuh dan kotor. Oleh karena itu, dibutuhkan sebuah solusi dan strategi yang menarik untuk menangani masalah sampah tersebut, serta dibutuhkan kesadaran manusia dimasa yang akan datang. Kesadaran dengan memberikan pelatihan dan pengajaran mengenai sampah plastik serta dampak positif dalam pengolahannya. Terutama meningkatkan kesadaran warga dalam meningkatkan kreativitasnya untuk memperoleh ide-ide menarik yang dapat memberikan karakteristik baru kawasan Kapuk, Cengkareng. Kreativitas yang diperoleh warga memiliki tujuan untuk meningkatkan perkembangan kota kedepannya yang lebih bersih dan terawat dari sampah plastik, serta dapat memberikan kemajuan dalam bidang pendidikan dan perekonomian setempat.