Franky Liauw
Program Studi S1 Arsitektur, Fakultas Teknik, Universitas Tarumanagara

Published : 26 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 26 Documents
Search

ARSITEKTUR KAMPUNG BAGI PEMULIHAN KEHIDUPAN SOSIAL-EKONOMI KAMPUNG KERANG MELALUI INTERVENSI WISATA BLUSUKAN DAN INDUSTRI MIKRO Sera Joanne Abigail; Franky Liauw
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 4 No. 2 (2022): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v4i2.22230

Abstract

The Cilincing Coastal Area in the past served as one of the centers of tourism and trade, as well as a fishing port in Jakarta. Since the growth of the industrial area, the socio-economic conditions of the people on the Cilincing coast have experienced degradation, which is marked by high poverty rates, the emergence of slum settlements, and low education. This phenomenon also occurred in Kampung Kerang, a fisherman village in Kalibaru, Cilincing, North Jakarta. The existence of industrial areas causes a fluctuating flow of urbanization and urges the activities of fishermen who are still left in this area. This study aims to design an architectural project for socio-economic improvement in Kampung Kerang, especially fishermen who still depend on marine products. Through the Urban Acupuncture concept, 'Bale Kijing' Architecture seeks to embrace local wealth in the form of traditional salted fish and mussel processing industries, as well as ‘blusukan’ tourism as a potential for regional economic recovery. This research is using descriptive qualitative method through the study of literature studies from various sources. Architectural processes are bridged by ‘everydayness’ methods. Through observation and mapping of physical characters and daily activities in Kampung Kerang, data were obtained regarding the tendency of architectural characters and patterns of social interaction in Kampung Kerang, then translated into the architectural form of 'Bale Kijing'. Through this approach, it is hoped that a form of architectural intervention can be created that is close to everyday life, and involves the active participation of the community. Keywords:  ‘Blusukan’; ‘Kijing’; Salted-Fish; Urban Acupuncture; Village Abstrak Kawasan Pesisir Cilincing di masa lampau berperan sebagai salah satu pusat pariwisata dan perdagangan, serta pelabuhan ikan di Jakarta. Semenjak pertumbuhan kawasan industri, kondisi sosial-ekonomi masyarakat di pesisir Cilincing mengalami degradasi yang ditandai dengan tingginya angka kemiskinan, munculnya permukiman kumuh, dan rendahnya pendidikan. Fenomena tersebut juga terjadi di Kampung Kerang, salah satu kampung nelayan di Kalibaru, Cilincing, Jakarta Utara. Keberadaan area industri menyebabkan arus urbanisasi yang fluktuatif serta mendesak aktivitas nelayan yang masih tersisa di kawasan ini. Penelitian bertujuan untuk merancang proyek arsitektur bagi peningkatan sosial-ekonomi masyarakat miskin di Kampung Kerang, khususnya nelayan yang masih bergantung pada hasil laut. Melalui konsep Urban Acupuncture, Arsitektur ‘Bale Kijing’ berusaha merangkul kekayaan lokal berupa industri tradisional pengolahan ikan asin dan kijing, serta wisata blusukan kampung sebagai potensi pemulihan ekonomi kawasan. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif melalui pengkajian terhadap studi literatur dari berbagai sumber. Proses berarsitektur dijembatani oleh metode keseharian. Melalui observasi dan pemetaan terhadap karakter fisik dan aktivitas keseharian di Kampung Kerang, didapatkan data mengenai kecenderungan karakter arsitektur dan pola interaksi sosial di Kampung Kerang yang kemudian diterjemahkan ke dalam bentuk arsitektur ‘Bale Kijing’. Melalui pendekatan ini diharapkan dapat tercipta suatu bentuk intervensi arsitektur yang dekat dengan keseharian, serta melibatkan partisipasi aktif masyarakat.
RUANG EKONOMI BERBASIS AGRIKULTUR DAN PENGOLAHAN AIR KOTOR DENGAN MENGGUNAKAN INSTALASI PENGOLAHAN AIR ALAMI PADA KAMPUNG APUNG Dewi Nathania Herijanto; Franky Liauw
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 5 No. 1 (2023): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v5i1.22598

Abstract

Located in rice fields, Kampung Apung was the same as other villages in that it was on the ground and not floating. However, due to changes in topography, time and urban needs, there has been considerable development into an industrial and warehousing area in the surroundings of the Apung village so that the village becomes hollow and sinks. Changes in the area into industry and warehousing have resulted in the area experiencing a shortage of infiltration areas. The sinking of the village interrupts the daily activities of the residents, disrupts the economy and social life of the residents. Local interventions are presented through Urban Acupuncture using everyday methods and typology. The choice of this method is expected to cure the issue of degradation that occurs in the Kampung Apung. The program presented is in the form of structuring Floating Villages into vertical villages and making creative economic activities in villages with an agricultural base that is equipped with dirty water treatment. It is hoped that the presence of this additional program can increase the economy of the residents of the Kampung Apung so that it can have a positive impact on the Apung village. Keywords:  Economic space; agriculture; natural water treatment plant Abstrak Berada pada lahan persawahan di Kapuk, Jakarta Barat, Kampung Apung awalnya sama seperti kampung lainnya yang berada di atas tanah dan tidak terapung. Tetapi karena perubahan topografi, zaman dan, kebutuhan kota, terjadi pembangunan yang cukup besar menjadi kawasan industri dan pergudangan pada lingkungan sekitar kampung Apung sehingga kampung menjadi cekungan dan tenggelam. Perubahan fungsi kawasan menjadi perindustrian dan pergudangan mengakibatkan kawasan mengalami kekurangan area resapan. Tenggelamnya kampung mengganggu aktivitas keseharian warga, perekonomian, dan sosial warga. Intervensi lokal dihadirkan melalui Urban Acupuncture dengan menggunakan metode keseharian dan tipologi. Pemilihan metode ini diharapkan dapat menyembuhkan isu degradasi yang terjadi pada kampung Apung. Program yang dihadirkan berupa penataan Kampung Apung menjadi kampung vertikal dan pembuatan kegiatan ekonomi kreatif pada kampung dengan basis agrikultur yang dilengkapi dengan pengolahan air kotor. Diharapkan dengan hadirnya program tambahan ini dapat menaikkan perekonomian warga kampung Apung sehingga dapat memberi dampak positif bagi kampung Apung.
MENGANGKAT BUDAYA PECINAN YANG MELEBUR SEBAGAI ATTRACTOR BARU YANG MENUNJANG KAWASAN DAN SEBAGAI IDENTITAS KAWASAN PASAR LAMA TANGERANG Galant Giatica Eka Surya; Franky Liauw
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 5 No. 1 (2023): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v5i1.22606

Abstract

The Pasar Lama Tangerang Chinatown area is an area that became the forerunner to the formation of the City of Tangerang. Historic sites such as typical Chinatown buildings are evidence of the spread of the Confucian religion and Chinese settlements, the Jami' Kalipasir Mosque as the oldest mosque is evidence of the spread of Islam, and the Cisadane River as a transportation and trade route at its time. This area is also one of the Chinatown areas with the uniqueness that produced a new breed, the Benteng Chinese tribe (a fusion of Chinese, Betawi and Sudanese tribes). But unfortunately the local historical and cultural sites are now starting to disappear along with the times. This area is now better known as a traditional market and culinary center at night. The development of the area which is focused on traditional markets and culinary centers has resulted in a compaction of activities at one point which causes the surrounding points to become dead spaces and undeveloped. Now this area is very clearly seen as a market area and a culinary center, the uniqueness of the Chinatown village is starting to disappear with the typical Chinatown houses that are damaged, abandoned. The culinary center is driving a change in the area to become more modern as new, more modern eateries and retail emerge that take advantage of several Chinatown shophouses to be renovated as a modern design or cover the original building with a modern façade design. In dealing with these problems, local cultures that merge with each other are brought back which are interpreted in the form of activity programs so that the area has new activities that support existing activities. Utilization of dead areas due to lack of development is used as design points that accommodate new activities so that they are active as a whole. The goal is that each dot can be active and offer a variety of activities so as to create a space travel experience for visitors. The design of the cultural center and the rearrangement of the riverside area are used as the first step as a generator of regional development with the characteristics of local culture. Keywords: Chinatown culture; cultural centers; identity; regional rearrangement; supporting activities Abstrak Kawasan Pecinan Pasar Lama Tangerang merupakan daerah yang menjadi cikal bakal terbentuknya Kota Tangerang. Situs bersejarah seperti bangunan khas Pecinan menjadi bukti penyebaran agama Konghucu dan Pemukiman Tionghoa, Masjid Jami’ Kalipasir sebagai masjid tertua bukti dari penyebaran agama islam, dan Sungai Cisadane sebagai jalur transportasi dan perdagangan pada masanya. Kawasan ini juga merupakan salah satu daerah Pecinan dengan keunikannya yang menghasilkan peranakan baru, suku Cina Benteng (Peleburan suku Tionghoa, Betawi dan Sunda). Namun sayangnya situs sejarah dan kebudayaan setempat sekarang mulai hilang seiring dengan berkembangnya zaman. Kawasan ini sekarang lebih dikenal sebagai pasar tradisional dan pusat kuliner pada malam hari. Pengembangan kawasan yang terfokus pada pasar tradisional dan pusat kuliner menyebabkan terjadinya pemadatan aktivitas di satu titik yang menyebabkan titik-titik sekitarnya menjadi ruang mati dan tidak ikut berkembang. Sekarang ini kawasan sangat jelas terlihat sebagai daerah pasar dan pusat kuliner, kekhasannya akan kampung pecinan mulai hilang dengan rumah-rumah khas pecinan yang rusak, ditinggalkan, dan terbengkalai. Pusat kuliner mendorong perubahan kawasan yang lebih modern seiring munculnya tempat makan baru yang lebih modern yang memanfaatkan beberapa bangunan ruko khas pecinan yang direnovasi atau menutupi bangunan aslinya dengan desain fasad yang modern. Dalam menangani permasalahan tersebut, kebudayaan lokal yang saling melebur diangkat kembali yang diinterpretasikan dalam bentuk program aktivitas sehingga kawasan memiliki aktivitas baru yang mendukung atau menunjang aktivitas yang sudah ada. Pemanfaatan daerah-daerah yang mati karena kurang berkembang dijadikan sebagai titik-titik perancangan yang mewadahi aktivitas baru sehingga aktif secara menyeluruh. Tujuannya setiap titik-titik dapat aktif dan menawarkan variasi aktivitas sehingga menciptakan sebuah perjalanan pengalaman ruang untuk pengunjung. Perancangan pusat kebudayaan dan penataan ulang kawasan pinggiran sungai dijadikan langkah awal sebagai generator pengembangan kawasan dengan sifat-sifat kebudaan lokalnya.
LIMBAH PERCA SEBAGAI PENGGERAK INSPIRASI INDUSTRI FASHION MASA DEPAN Michelle Michelle; Franky Liauw
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 5 No. 2 (2023): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v5i2.24283

Abstract

The world of fashion is evolving and changing, making it a means for individuals to express themselves to the outside world. Before the pandemic of COVID-19, there was a fast-fashion trend, which contributed to an increase in production and left behind non-reusable fabric scraps. In 2019, DKI Jakarta, fabric waste had an impact on the East Ancol Beach in Pademangan, contaminating its shores and waters. This is concerning due to the negative effects on the environmental ecosystem and the health of nearby residents. To address this issue, an architecture program initiated the utilization of fabric scraps as a resource through processing, production,and clothing sales. The program aims to transform fabric waste into materials that hold added value. Through qualitative design methods and an educational approach, this architecture program was established to provide understanding and inspiration to the younger generation to innovate in creating unique products by utilizing fabric scraps. The existence of this program is expected to create awareness of the importance of managing fabric waste as a renewal. This program also aims to ignite a spirit of innovation and creativity among the community. By utilizing fabric scraps as a valuable resource and promoting environmentally friendly practices in the fashion industry, this program encourages the adoption of sustainable practice. Through collaboration between the younger generation and the community as producers and consumers, a collective awareness is created to preserve the environment and establish a responsible and future-oriented fashion industry. Keywords: education; fabric scrap; fashion; innovation; wast Abstrak Aktivitas dunia fashion semakin berkembang dan berubah, menjadikannya sebagai sarana untuk mengekspresikan diri seseorang kepada dunia luar. Sebelum masa pandemi Covid-19 berlangsung, terjadi fenomena fast-fashion trend yang mencuat, dimana produksinya telah berkontribusi pada peningkatan dan menyisakan limbah kain perca yang tidak dapat digunakan kembali. Tahun 2019 di DKI Jakarta, limbah perca berdampak ke lingkungan Pantai Timur Ancol, Pademangan yang ditemukan di bibir dan perairan pantai. hal ini mengkhawatirkan karena dampak negatifnya terhadap ekosistem lingkungan dan kesehatan manusia yang tinggal disekitarnya. Dalam mengatasi permasalahan tersebut, program arsitektur menginisiasi penggunaan kain perca sebagai sumber daya melalui pengolahan, produksi, dan penjualan pakaian. Program ini bertujuan untuk mengubah limbah perca menjadi bahan yang memiliki nilai tambah. Melalui metode perancangan kualitatif dan pendekatan edukatif, program arsitektur ini dibentuk untuk memberikan pemahaman serta inspirasi kepada generasi muda dalam berinovasi menciptakan produk unik melalui pemanfaatan limbah perca. Keberadaan program ini, diharapkan adanya kesadaran akan pentingnya pengelolaan limbah perca menjadi sebuah kebaharuan. Program juga bertujuan untuk membangkitkan semangat inovasi dan kreativitas di kalangan masyarakat. Pemanfaatan limbah perca sebagai sumber daya yang berharga dengan mendorong adopsi praktik ramah lingkungan dalam industri fashion. Melalui kolaborasi antara generasi muda dan masyarakat sebagai produsen dan konsumen, tercipta kesadaran kolektif untuk menjaga kelestarian lingkungan dan menciptakan sebuah industri fashion yang bertanggung jawab dan berwawasan masa depan.  
DISKUSI SECARA MUSYAWARAH DENGAN PERANCANGAN AKTIVITAS BERMAIN OLIGOPOLI DI JAKARTA Denny Kurniawan; Franky Liauw
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 5 No. 2 (2023): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v5i2.24284

Abstract

Accustomed to demonstrations, activities carried out by the Indonesian people often end in riotous actions. This form of action deviates from the value of “musyawarah” which is one of the life guidelines of the Indonesian people. This deviating action in fact damages public space and the environment, the value of togetherness which is currently fading needs to be revived as the uniqueness of Indonesian society. This effort to generate musyawarah is wrapped up in a new activity that achieves community togetherness and reduces the negative impact of activities similar to demonstrations. By using a qualitative descriptive method, the selection of types of activities is based on considerations that are friendly to all people in Indonesia and let go of position boundaries. The activity formed is rarely done by adults even though it’s  can be an activity that been carried out for a lifetime because it has a positive impact which is playing. Playing is not only about having fun and reconnecting with the inner child it also has a very positive impact on physical and emotional wellbeing. The new playing activity that formed is the game of oglipoli, a modification of monopoly to achieve togetherness and community deliberation into a game that simulates a topic of discussion (with a new regulation of how to play and the roles of related parties). Oglipoli activities form special space requirements whose elements are adjusted such as the shape and size of the room, the atmosphere of the room, the acoustics of the room, and so on. Keywords:  discussion; musyawarah; play; togethernes Abstrak Terbiasa dengan demonstrasi, kegiatan yang dilakukan oleh masyarakat Indonesia sering kali berakhir dengan aksi yang ricuh. Bentuk aksi ini melenceng dari nilai musyawarah yang merupakan salah satu pedoman hidup masyarakat Indonesia. Aksi melenceng ini faktanya merusak ruang publik serta lingkungan, nilai kebersamaan yang saat ini pudar perlu dibangkitkan lagi sebagai keunikkan masyarakat Indonesia. Usaha untuk membangkitkan musyawarah ini dibungkus dalam sebuah aktivitas baru yang menggapai kebersamaan masyarakat dan mengurangi dampak negatif dari kegiatan serupa demonstrasi. Dengan menggunakan metode deskriptif kualitatif, pemilihan jenis aktivitas didasari pertimbangan ramah bagi seluruh masyarakat di Indonesia dan melepas batasan yang ada. Aktivitas yang dibentuk adalah bermain yang sudah jarang dilakukan oleh orang dewasa padahal bermain dapat menjadi kegiatan yang dapat dilakukan seumur hidup karena memiliki dampak positif. Bermain tidak hanya tentang bersenang-senang dan berhubungan kembali dengan anak batin juga memberi dampak yang sangat positif pada kesejahteraan fisik dan emosional. Aktivitas baru berupa bermain yang dibentuk adalah permainan oglipoli berupa modifikasi dari monopoli untuk mencapai kebersamaan dan musyawarah masyarakat menjadi permainan yang mensimulasikan sebuah topik pembahasan (dengan pengaturan baru terhadap cara bermain dan peran pihak terkait). Aktivitas bermain oglipoli membentuk kebutuhan ruang khusus yang elemennya disesuaikan seperti bentuk dan ukuran ruang, suasana ruang, akustik ruangan, dan sebagainya. 
PROGRAM PEMBELAJARAN BERBASIS SIMULASI UNTUK PENCEGAHAN PENYALAHGUNAAN NARKOBA PADA ANAK Christianto Julius; Franky Liauw
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 5 No. 2 (2023): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v5i2.24285

Abstract

The high number of young people who fall into drug abuse poses a serious threat to Indonesia. High curiosity and a desire to try, with a lack of understanding of the impact in the future, make children vulnerable to falling into drug abuse. Therefore a simulation-based learning space is needed as a way of prevention. These simulation spaces allow adolescents to experience a realistic drug-user-like experience with scenario programming without the actual risks associated with abuse. so that teenagers can understand the impact, help reduce curiosity, and make children aware of the prevention of falling into danger related to drug abuse. The method used in this research is a qualitative descriptive method aimed at describing and explaining the artificial situation, paying more attention to the characteristics, quality, and interrelationships of the activity space and the situation in which drug addicts interact. Based on the research results, the drug simulation room needs adjustments to the lives of drug users and observation of where drug users interact so that it can become a reference for the background atmosphere that will be realized in the space to be created. Therefore, it is necessary to pay attention to the basics of designing space simulations to ensure the effectiveness of the results. Keywords:  drugs; education; prevention; simulation; space Abstrak Tingginya jumlah anak muda yang terjerumus dalam penyalahgunaan narkoba menimbulkan ancaman serius bagi bangsa Indonesia. Keingintahuan yang tinggi dan keinginan untuk mencoba-coba, ditambah dengan kurangnya pemahaman akan dampaknya di masa depan, membuat anak-anak rentan terjerumus dalam penyalahgunaan narkoba. Maka dari itu diperlukan ruang pembelajaran berbasis simulasi sebagai bentuk pencegahan. Ruang simulasi ini memungkinkan remaja untuk mengalami pengalaman yang mirip dengan pengguna narkoba secara realistis dengan program yang sudah diskenariokan, tanpa risiko sebenarnya yang terkait dengan penyalahgunaan. sehingga remaja dapat memahami dampak dan untuk membantu meredam rasa ingin tahu dan menyadarkan anak-anak sebagai pencegahan terjerumusnya dalam bahaya terkait penyalahgunaan narkoba. Metode yang digunakan dalam penelitian adalah metode deskriptif kualitatif ditujukan untuk mendeskripsikan dan menjelaskan situasi suasana yang ada bersifat rekayasa, lebih memperhatikan mengenai karakteristik, kualitas, dan keterkaitan ruang kegiatan dan situasi tempat pecandu narkoba berinteraksi. Berdasarkan hasil penelitian, ruang simulasi narkoba perlu ada penyesuaian kehidupan pengguna narkoba dan mengobservasi tempat pengguna narkoba berinteraksi sehingga dapat menjadi acuan suasana latar yang akan direalisasikan pada ruang yang akan dibuat. Oleh sebab itu perlu memperhatikan dasar – dasar perancangan ruang simulasi guna memastikan kefektifan hasilnya