Tony Winata
Program Studi S1 Arsitektur, Fakultas Teknik, Universitas Tarumanagara

Published : 24 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 24 Documents
Search

UPAYA MENINGKATKAN PEREKONOMIAN DAN KEHIDUPAN SOSIAL MASYARAKAT KOTA TANGERANG MELALUI KERAJINAN TANGAN BAMBU Amiratri Ayu Poedyastuti; Tony Winata
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 3, No 1 (2021): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v3i1.10774

Abstract

As the times evolved, the problems that arise in social life are increasingly diverse, especially in urban areas which have a growing population, so the requirement of the community are also increasing. Unemployment is one of the big problems, especially in Banten province. Which of course can affect how the social life of the community and the individual. if not resolved, it will create vulnerability and have the potential to result in a bad economy or worse, lead to poverty. The development of the city of Tangerang as the largest city in Banten province, has the potential to raise a declining economy in Banten province. Seeing that there is an opportunity in the field of creative economy in the city of Tangerang, the locality method can accommodate activities for bamboo craftsmen which is the hallmark of the city of Tangerang. A place is needed for human interaction so that in addition to improving social life, it can improve the economy in the surrounding area, and can help the bamboo community who want to use the facility to develop the capabilities and local products of Tangerang city.Keywords : Economy; Human; Local; Unemployment.ABSTRAKSeiring berkembangnya zaman, permasalahan yang muncul dikehidupan sosial kian beragam, terutama pada daerah perkotaan yang memiliki jumlah penduduk yang terus bertambah maka kebutuhan masyarakat pun semakin bertambah. Pengangguran menjadi salah satu permasalahan yang besar terutama pada Provinsi Banten. Yang tentunya dapat mempengaruhi bagaimana kehidupan masyarakat dan individunya. Bila tidak diatasi akan menimbulkan kerawanan pada kehidupan sosial dan berpotensi mengakibatkan perekonomian yang buruk atau lebih parahnya lagi menyebabkan terjadinya kemiskinan. Perkembangan kota Tangerang sebagai kota terbesar di provinsi banten dapat berpotensi untuk membangkitkan perekonomian yang turun di provinsi Banten. Melihat adanya peluang dibidang ekonomi kreatif di kota Tangerang, metode lokalitas dapat mewadahi kegiatan bagi para pengrajin bambu yang menjadi ciri khas dari kota Tangerang. Diperlukan sebuah tempat untuk interaksi antar manusia sehingga selain memperbaiki kehidupan sosial, dapat memperbaiki perekonomian di wilayah sekitarnya, serta dapat membantu para komunitas bambu masyarakat sekitar yang ingin memanfaatkan fasilitas tersebut untuk  mengembangkan kemampuan dan produk lokal kota Tangerang.
PERANCANGAN TAMAN OLAHRAGA DI KELAPA GADING Devi Septiani; Tony Winata
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 2, No 1 (2020): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v2i1.6892

Abstract

Reduced public open space due to competition in urban areas has resulted in reduced community gathering activities (third place). Many big cities in Indonesia are aggressively building new parks or revitalizing old parks, like in the city of Jakarta. This is because the population density reaches 15,663 people / km2. The population continues to grow from 4.5 million people (1970) to double that, which is 9.6 million in 2010, while now it has reached 10.4 million people and is estimated to be 11-15 million by 2020-2030. As a result, almost all of the surface of the city has been devoured by buildings and changed the function of its designation Kelapa Gading sub-district with an area of 161.21 ha, this district has several shopping centers whose area exceeds the existing green space, namely, an area of 996,215 m2, through the results of observational studies that have been carried out then a proposed project that can meet the needs of the ivory coconut community for a healthy lifestyle with limited land as a means of sports that can accommodate various groups of people. Not only as a sports facility, but as a recreational facility and container that can accommodate interactions in the ivory coconut community. By looking at the parameters that exist in designing the third space, this design is adjusted to the ivory community's need for public space as the third space. AbstrakBerkurangnya ruang terbuka publik akibat persaingan lahan di perkotaan mengakibatkan berkurangnya aktivitas berkumpul bagi masyarakat (third place). Banyak kota – kota besar di Indonesia yang gencar untuk membangun taman baru atau merevitalisasi taman lama, seperti di Kota Jakarta. Hal ini dikarenakan tingkat kepadatan penduduk yang mencapai 15.663 jiwa/km2. Populasi terus bertambah dari 4.5 juta jiwa (1970) hingga menjadi dua kali lipatnya, yaitu 9.6 juta pada tahun 2010, sedangkan sekarang telah mencapai 10.4 juta orang dan diperkirakan untuk menjadi 11 – 15 juta pada tahun 2020 – 2030 mendatang. Akibatnya hampir seluruh permukaan kota telah habis dimakan bangunan dan berubah fungsi peruntukannya Kecamatan Kelapa gading dengan luasan wilayah 161,21 ha, kecamatan ini memiliki beberapa pusat perbelanjaan yang luasnya melebihi RTH yang ada yaitu, seluas 996.215 m2, melalui hasil studi observasi yang telah dilakukan maka diusulkan proyek yang dapat memenuhi kebutuhan masyarakat kelapa gading akan gaya hidup yang sehat dengan lahan yang terbatas sebagai sarana olahraga yang dapat menampung berbagai kalangan maasyarakat. Tidak hanya sebagai sarana olahraga, tetapi sebagai sarana rekreasi dan wadah yang dapat menampung terjadinya interaksi dalam masyarakat kelapa gading. Dengan melihat parameter yang ada dalam mendesain ruang ketiga maka rancangan ini disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat kelapa gading akan ruang publik sebagai ruang ketiga.
KOMUNITAS MUSIK DI BSD Yabez Koernia; Tony Winata
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 1, No 2 (2019): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v1i2.4371

Abstract

The millennial generation is very smart in using the internet as social media and as a learning media. In using this internet they learn with a one-way learning tool, which makes most of the learning misguided from the techniques of reading and playing music. Things that need to be considered are small details such as reading piano beams or playing according to the correct scales and that only exists when learning with 2-way learning such as schools, but millennials don't like the existence of formal schools, which exist today but they want to learn with free where they can play freely and also be able to play together without a curriculum that makes them like being detained. In this case an informal school that can accommodate millennial musicians is now needed and also a place to gather and also learn together therefore an informal community is needed that can accommodate the desire and creativity for the activities of the millennials.Abstrak Generasi milennial sangat pintar dalam menggunakan internet sebagai media sosial maupun sebagai media belajar. Dalam penggunaan internet ini mereka belajar dengan sarana satu arah pembelajaran, hal tersebut membuat sebagian besar pembelajaran dapat salah kaprah dari teknik membaca maupun bermain musik. Hal yang perlu diperhatikan adalah detail kecil seperti membaca balok piano maupun bermain sesuai tangga nada yang benar dan hal tersebut hanya ada bila belajar dengan pembelajaran 2 arah seperti sekolah, namun millennial tidak menyukai dengan adanya sekolah formal, yang ada sekarang ini tetapi mereka ingin belajar dengan bebas dimana mereka dapat bermain bebas dan juga dapat bermain bersama tanpa adanya kurikulum yang membuat mereka seperti ditahan Dalam hal ini maka diperlukan sebuah sekolah informal yang dapat menampung para musisi millennial sekarang ini dan juga menjadi sebuah tempat untuk dapat berkumpul dan juga belajar bersama oleh karena itu dibutuhkan sebuah komunitas informal yang dapat menampung keinginan dan kreatifitas untuk kegiatan para millennial.
PRINSEN PARK “REBORN” Michael Christopher; Tony Winata
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 2, No 2 (2020): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v2i2.8623

Abstract

In this day and age, technology is increasingly sophisticated so that people live in dependence on technology. This makes humans more individualistic and selfish. Besides that, there are many places that are not suitable to be used as a comfortable place to gather and socialize. This situation causes these individuals to start leaving places of entertainment because the place is not possible and can also be replaced with existing technology. This incident is often seen in big cities like Jakarta, where many people are starting to leave places of entertainment due to lack of positive places of entertainment. It can be seen like the Mangga Besar area where it is famous for its entertainment and culinary centers, but entertainment that can be obtained at night is only negative entertainment and is not suitable for children and adolescents. The aim and benefit of this project is to create a positive entertainment center so that it can become a place for people to interact, socialize, and gather so that every user in Mangga Besar can feel comfortable being able to gather without feeling uncomfortable so as to change negative stigma or views bad community towards the Mangga Besar area. The method of data collection is done by literature studies and also field observations. The results of this design itself produces an architectural building with several programs that elevate the old functions of the area and add new activities to make it more interesting than before but do not eliminate the theme parks that have ever existed. Keywords: Art; Re-Design; Theater AbstrakPada zaman sekarang, teknologi semakin canggih sehingga membuat masyarakat hidup didalam ketergantungan akan teknologi. Hal ini membuat manusia semakin individualis dan mementingkan dirinya sendiri. Selain itu banyak tempat yang kurang layak untuk dijadikan wadah yang nyaman untuk dijadikan tempat berkumpul dan bersosialisasi. Keadaan inilah yang menyebabkan individu-individu tersebut mulai meninggalkan tempat-tempat hiburan karena tempatnya yang tidak memungkin kan dan juga dapat tergantikan dengan teknologi yang ada. Kejadian ini sering terlihat di kota-kota besar seperti Jakarta, dimana banyak masyarakat yang mulai meninggalkan tempat-tempat hiburan karena kurang nya tempat hiburan yang positif. Dapat di lihat seperti daerah Mangga Besar dimana terkenal dengan pusat hiburan dan kulinernya, tetapi hiburan yang di dapat pada malam hari hanyalah hiburan yang negatif dan tidak cocok untuk kalangan anak-anak dan remaja. Tujuan dan manfaat dari proyek ini adalah untuk menciptakan suatu tempat pusat hiburan yang positif sehingga dapat menjadi wadah untuk masyarakat dapat berinteraksi, bersosialisasi, dan berkumpul sehingga setiap pengguna di Mangga Besar dapat merasa nyaman untuk dapat berkumpul tanpa merasa risih sehingga dapat mengubah stigma negatif atau pandangan buruk masyarakat terhadap kawasan Mangga Besar. Metode pengumpulan data dilakukan dengan studi literatur dan juga observasi lapangan. Hasil dari perancangan ini sendiri menghasilkan suatu bangunan arsitektur dengan beberapa program yang mengangkat fungsi lama dari kawasan ini dan menambah aktivitas-aktivitas baru agar lebih menarik dari sebelumnya tetapi tidak menghilangkan ciitra taman hiburan yang pernah ada.
RUMAH SINGGAH KOMUNITAS LANSIA DI BOGOR Claresta Xena; Tony Winata
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 3, No 1 (2021): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v3i1.10798

Abstract

The occurrence of the aging population phenomenon in the future between 2030-2050 will result in the domination of the elderly population in the world, which is caused by the phenomenon of baby boomers that occurred in the 1960-70s where birth rates and dependence rates were very high. Elderly is the peak of the last cycle in human life so that the aging process will occur which is marked by a decrease in physical and psychological functions. This decline can be overcome by meeting the needs of the elderly such as the ability to be mobile, community and the most important thing is health. The development of times and the flow of globalization require people to be able to survive in all conditions. However, the busyness of their children at work is often the impact of the physical and psychological conditions of the elderly, which in the process of aging require more attention. In Indonesia, there are already many nursing homes where the elderly live. However, the social structure in Indonesia is not used to the trend of elderly people living separately from their families and homes. Therefore, the project of the Halfway House for the Elderly in Bogor can become a new place that can accommodate the needs of the elderly to get attention to their aging condition without having to leave their home and family. The Halfway House provides rooms that can be occupied periodically after attending seminars and therapy activities. Facilities such as entertainment, fitness, animal therapy, environmental therapy are available to apply the concept through the retreat, recharge and reborn stages so that they can become productive and be active for the elderly community. Keywords:  health; community; elderly; aging; halfway house Abstrak Terjadinya fenomena aging population pada tahun 2030-2050 mendatang dimana populasi lansia akan mendominasi muka bumi diakibatkan oleh adanya fenomena baby boomers yang terjadi pada tahun 1960-70an dimana angka kelahiran dan ketergantungan sangat tinggi. Lansia merupakan puncak siklus terakhir dalam kehidupan manusia sehingga akan terjadinya proses penuaan yang ditandai dengan penurunan fungsi fisik dan psikis. Penurunan tersebut dapat diatasi dengan pemenuhan kebutuhan terhadap lansia seperti kemampuan untuk bermobilitas, berkomunitas dan hal yang terpenting adalah kesehatan. Berkembangnya zaman dan arus globalisasi menuntut masyarakat untuk dapat bertahan hidup dalam segala kondisi. Namun, kesibukan anak untuk bekerja seringkali menjadi dampak kondisi fisik dan psikis lansia yang dalam proses penuaannya membutuhkan perhatian lebih. Di Indonesia, sudah terdapat banyak panti jompo yang menjadi tempat tinggal kaum lansia. Akan tetapi, struktur masyarakat di Indonesia kurang menyukai dan tidak terbiasa apabila lansia harus tinggal secara terpisah dari keluarga dan rumah mereka. Oleh karena itu, proyek Rumah Singgah Komunitas Lansia di Bogor ini dapat menjadi tempat baru yang dapat mewadahi kebutuhan lansia untuk mendapatkan perhatian pada kondisi penuaan mereka tanpa harus meninggalkan rumah dan keluarganya. Rumah singgah ini menyediakan unit kamar yang dapat dihuni secara periodik tertentu setelah mengikuti seminar, dan kegiatan terapi. Fasilitas-fasilitas seperti hiburan, kebugaran, terapi hewan, terapi lingkungan yang tersedia diterapkan untuk mewujudkan konsep benih melalui tahapan retreat, recharge dan reborn sehingga dapat menjadi rumah singgah yang produktif dan aktif bagi komunitas lansia.
RUMAH SINGGAH DIGITAL KOMUNITAS DESAIN Rakha Winggal Prafitrarto; Tony Winata
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 3, No 1 (2021): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v3i1.10913

Abstract

Alternative forms of housing continue to develop along with the emergence of various problems from the massive vertical housing development in cities today, ranging from physical problems to the area to social problems among residents of vertical housing themselves. The domination of private space and the lack of public space has created a passive residential environment with minimal interaction. This has resulted in a lack of social control among residents who have made vertical housing a place that is prone to crime, such as several apartments in Jakarta which are known as locations for hidden prostitution, and even suicides. The city of Jakarta is one of the cities that has experienced massive vertical housing development. There needs to be a solution to solve settlement problems in the city of Jakarta through the scientific field of architecture with the concept of digital housing for communities. The purpose of this study is to implement the concept of digital shelter for communities supported by supporting theories oriented to human interaction in an architectural design object system in the form of vertical housing supported by digital equipment or technology. Keywords: Digital; Interactive; Living AbstrakAlternatif bentuk hunian terus berkembang seiring dengan timbulnya beragam permasalahan dari pembangunan hunian vertikal yang masif di perkotaan saat ini, mulai dari permasalahan fisik bangunan terhadap kawasan hingga permasalahan sosial di antara penghuni hunian vertikal sendiri. Dominasi ruang privat dan minimnya ruang publik telah menciptakan lingkungan hunian yang pasif dan minim interaksi. Hal ini menimbulkan kurangnya kontrol sosial di antara penghuni yang telah menjadikan hunian vertikal sebagai tempat yang rawan akan tindak kriminalitas, seperti beberapa apartemen di Kota Jakarta yang dikenal sebagai lokasi prostitusi terselubung, bahkan kasus bunuh diri. Kota Jakarta merupakan salah satu kota yang mengalami perkembangan hunian vertikal yang cukup massif. Perlu adanya solusi untuk menyelesaikan permasalahan permukiman di Kota Jakarta melalui bidang keilmuan arsitektur dengan konsep hunian digital untuk komunitas. Tujuan dari penelitian ini adalah mengimplementasikan konsep Hunian digital untuk Komunitas yang didukung oleh teori-teori pendukung yang berorientasi pada interaksi manusia di dalam sistem objek perancangan arsitektur berupa hunian vertikal yang di dukung dengan peralatan atau teknologi digital.
PUSAT KOMUNITAS SENI DI BINTARO, JAKARTA SELATAN Jeremy Alexander; Tony Winata
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 3, No 1 (2021): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v3i1.10857

Abstract

Living is a concept of being in a place of residence where humans do not have to stay but can also wander, in another sense that the concept of dwelling is not always permanent, but humans can express feelings, exchange ideas, gather and so on. Mental’s healthiness is one of the most important things of a person’s life. Mental’s healthiness can affect the way of somebody’s life and somebode’s future. There are many causes that affect someone’s mental’s healthiness that triggered by someone’s stress level for short and long period of time. A lot of people those suffer from mental’s healthiness attacks by many other factors beside stress. According to scientists, things like these can be prevented by increasing someone’s dopamine hormone which can produce good feeling,  when someone is doing activities they enjoy and other things that contains art and community activities to express their feelings. Of the many countries in the world, only a few of countries that implement and monitoring the mental’s healthiness of their people. Therefore, it is very recommended for a country to develop some facilities which is generally related to arts and communities activities, that is art community center for preventing someone’s mental’s disorder. This project’s aim is make people to express their feelings as possible and be able to support the prevention of mental’s disorder. So that mental’s healthiness issues can be prevented, controlled, and not ignored. Keywords:  Art, community,dwelling, mental’s healthiness, preventing. AbstrakBerhuni adalah suatu konsep manusia berada di tempat tinggal dimana manusia itu tidak harus menetap melainkan dapat mengembara juga, dalam artian lain bahwa konsep berhuni tidak selalu menetap, melainkan manusia dapat mengekspresikan perasaan, bertukar pikiran, berkumpul dan lain – lain. Kesehatan mental adalah salah satu bagian yang terpenting dalam kehidupan seseorang. Kesehatan mental dapat memengaruhi suatu jalan hidup dan masa depan seseorang. Banyak sekali penyebab kelainan mental yang salah pemicunya adalah tingkat stres seseorang dalam jangka waktu yang sebentar atau lama. Tidak sedikit orang yang terkena serangan kesehatan mental yang disebabkan oleh banyak faktor selain stres. Menurut ilmuwan, hal seperti ini dapat dicegah dengan peningkatan hormon dopamin yang dapat menghasilkan perasaan senang ketika seseorang melakukan kegiatan yang mereka senangi dan hal – hal lainnya yang berbau seni serta juga aktivitas yang berhubungan dengan komunitas untuk mengungkapkan perasaan mereka. Dari sekian banyak negara di dunia, hanya sebagian kecil negara yang menerapkan dan memantau kesehatan mental rakyatnya. Oleh karena itu sangat disarankan suatu negara mengembangkan suatu fasilitas yang pada umumnya berbau dengan hal seni dan komunitas yakni suatu pusat komunitas seni untuk pencegahan kekurangan dalam hal mental seseorang. Proyek ini bertujuan untuk membuat seseorang dapat mengekspresikan dirinya sebagaimana mungkin dan dapat mendukung pencegahan terhadap kekurangan mental seseorang, sehingga isu kesehatan mental pada suatu negara dapat terkendali dan tidak dibiarkan begitu saja.
KOMUNITAS PELAJAR UTAN KAYU SELATAN James Digjaya; Tony Winata
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 2, No 2 (2020): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v2i2.8531

Abstract

This study aims to find a third place for reducing social disparity, encouraging social growth, supporting social interaction between different social echelons, and providing a decent place for future educated generations. Located in Jl. Galur Sari Timur no. 8, Utan Kayu Selatan, which is situated in East Jakarta, the highest social inequality at Jakarta Province and also a district with the highest education institution. The result of this research leads to the right third place for this area, which is a community based learning center, under the name of Southwood Learning Center, which accommodates meeting point for local learners to interact and exchange ideas, encourage social growth in education and modern perceptions in the process of reducing social inequalities. In the designing process, the designer considered area history, which was a forest during the Mataram kingdom period, present local building forms, the function and character of education, and the traits of a third place as a medium for social interactions and reflections. Keywords: East Jakarta; Social Disparity; Learners; Southwood Learning Center AbstrakTulisan ini merupakan hasil penelitian yang bertujuan untuk merancang sebuah wadah yang dapat mengurangi kesenjangan sosial, mendorong kemajuan hidup masyarakat, mendukung interaksi dari berbagai golongan, serta menyediakan wadah bagi para penerus bangsa yaitu para pelajar. Berlokasi di Jl. Galur Sari Timur no. 8, Utan Kayu Selatan, yang terletak di Jakarta Timur, sebagai kota dengan kesenjangan sosial tertinggi di Provinsi DKI Jakarta, serta kawasan dengan lembaga pendidikan terbanyak pada daerah tersebut. Hasil penelitian menyimpulkan bahwa fungsi tempat ketiga yang diusulkan untuk wilayah ini adalah Perkumpulan Pelajar Utan Kayu Selatan, di mana terciptanya titik temu pelajar sekitar untuk berinteraksi dan bertukar ide, serta mendorong kehidupan masyarakat sekitar untuk menjadi lebih berwawasan luas dan modern untuk mengurangi kesenjangan sosial. Dalam proses perancangannya dipertimbangkan sejarah kawasan, yaitu area hutan dari zaman kerajaan Mataram, kondisi massa sekitar, fungsi dan sifat dari pendidikan, serta sifat third place sebagai sarana interaksi dan refleksi.
GOR GROGOL SEBAGAI RUANG KETIGA KOTA Gianto Purnomo; Tony Winata
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 2, No 1 (2020): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v2i1.6923

Abstract

Grogol sports center is a public facility provided by the government as a form of support for the government's concern for public health and as a place to score achievements in the field of sports. over time the GOR has unwittingly begun to be forgotten because of the declining function of the building. To revive the function of the Grogol multi sports center especially it can be utilized by the surrounding population there needs to be a new thought or concept. This sports center can be a place of social interaction for the surrounding population in addition to exercising this thought is based on the Grogol environment which is dominated by working-age population, college students and student groups. The need for open public spaces as a place of interaction for the community as well as attractive sports venues will be an attraction and a form of a new and healthy lifestyle for residents around the Grogol village. AbstrakGelanggang olahraga grogol merupakan fasilitas umum yang disediakan oleh pemerintah sebagai bentuk dukungan terhadap kepedulian pemerintah terhadap kesehatan masyarakat dan sebagai tempat untuk mencetak prestasi di bidang olahraga. seiring berlalunya waktu tanpa disadari GOR sudah mulai dilupakan karena fungsi gedung yang sudah menurun. Untuk menghidupkan kembali fungsi GOR terutama dapat dimanfaatkan oleh penduduk disekitarnya perlu ada pemikiran atau konsep baru. GOR ini dapat dijadikan tempat interaksi sosial bagi penduduk disekitarnya selain untuk berolahraga pemikiran ini didasari dari lingkungan grogol yang didominasi oleh penduduk usia kerja, mahasiswa mahasiswi maupun golongan pelajar. Kebutuhan ruang publik yang  terbuka sebagai wadah berinteraksi bagi masyarakat serta tempat olahraga yang menarik akan menjadi daya tarik dan bentuk gaya hidup yang baru dan sehat bagi penduduk disekitar kelurahan Grogol.
REDESAIN STASIUN BLOK-M Andy Putra; Tony Winata
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 1, No 2 (2019): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v1i2.4388

Abstract

The millennial generation is one of the generations that supports in the advancement of Indonesian economy through the utilization of their creativity, in order to achieve the targeted proportion of creative economy as a whole. Jakarta is a city that is dominated by many spaces that support the development of individual talents, showcase their own creativity as well as to influence the general public through innovative products. To achieve it, many commuters enter Jakarta everyday to open themselves up to possibilities of self-improvement and self-development in many different ways: working, having internship, studying and many more to develop their individual potency. The redesign of Blok M bus station provides a new contemporary space for commuters that travel to Jakarta as well as a series of spaces that helps in driving the millennials toward creative possibilities through interactive and collaborative methods (both visually and communicatively). The addition of new functions to meet the bus station quality and fulfillment that surrounds it such as the addition of bus waiting rooms, reading rooms, and areas of creativity and building façade concept showcases different zoning for creativity that is applied, whilst the curvilinear form reflects endless creativity.  AbstrakKalangan milenial merupakan salah satu kalangan yang mendorong perekonomian Indonesia dengan kreatifitasnya, untuk menuju ekonomi yang berbasis kepada ekonomi kreatif. Kota Jakarta merupakan kota yang didominasi oleh banyaknya tempat untuk mengembangkan talentanya, tempat untuk menunjukkan kreatifitas serta tempat untuk menyebarkan atau mempengaruhi sekitarnya berupa produk yang bersifat inovatif. Oleh karena itu, banyaknya penduduk komuter atau luar kota datang ke Jakarta untuk mempelajari serta mengembangkan kegemarannya dengan cara yang berbeda-beda, ada yang bekerja, magang, belajar, dan sebagainya untuk mengembangkan potensinya. Pembaharuan stasiun bus Blok-M memberikan ruang untuk membantu komuter untuk dapat berdatangan ke Jakarta serta menyediakan wadah didalamnya dalam hal-hal baru yang memiliki penerapan dalam hal pengembangan kreatifitas serta perekonomian kreatif yang bersifat interaktif dan kolaboratif dengan memadukan konsep berbagi (bersifat visual maupun komunikatif). Adapun  penambahan fungsi baru untuk memenuhi kualitas stasiun bus serta pemenuhan yang melingkupi sekitarnya seperti adanya penambahan ruang tunggu bus, ruang baca, dan area kreatifitas serta konsep fasad bangunan yang memperlihatkan pembagian zona perpindahan dengan kreatiftitas yang diterapkan dengan adanya alur likukan-likukan mencerminkan kreatifitasan tanpa batas.