Tony Winata
Program Studi S1 Arsitektur, Fakultas Teknik, Universitas Tarumanagara

Published : 24 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 24 Documents
Search

GALERI SENI BARANG DAUR ULANG Geoffrey Gregorio; Tony Winata
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 2, No 2 (2020): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v2i2.8603

Abstract

Tambora area is the most populous area in Jakarta, the majority of the population is middle-low. This is indicated by the majority of the houses in this area classified as small to medium and the quality of life in Tambora. In the midst of this dense area there is no open area which is a place for them to interact among themselves.This causes many of the peoples spent their spare time out of their house to interact and socialize with others, but it makes traffic jam and noises. This problem will be answered with architectural products in the form of a container that becomes a place for them to interact and carry out  various activities without distinguishing any groups and open to the public free of charge. In this building, a number of programs will be included such as exhibitions, recycling classes, food and other entertainment areas, which are determined based on the characteristics of the Tambora region.This building also has commercial area like souvenier and material store. This project is designed based on John Zeisel's re-image design method, analysis and personal research that focuses on the function and mass of the building in order to have a positive impact on the environment of the Tambora Area. Keywords: Exhibition; Open area; RecycleAbstrakKawasan Tambora merupakan kawasan terpadat di Jakarta, yang mayoritas penduduknya menengah kebawah.Hal ini ditunjukan dengan sebagian besar rumah-rumah yang ada dikawasan ini tergolong kecil ke sedang dan juga kualitas kehidupan masyarakat di Tambora . Ditengah padatnya wilayah ini tidak ada area terbuka yang menjadi wadah bagi mereka untuk berinsteraksi antar sesama.Akibatnya banyak sekali penduduk yang menghabiskan waktu luangnya diluar rumah untuk berinteraksi dan bersosialisasi, namun hal ini menyebabkan kemacetan dan juga kebisingan yang cukup mengganggu warga lainnya. Permasalahan ini akan dijawab dengan produk arsitektur berupa wadah yang menjadi tempat bagi mereka untuk berinteraksi,melepas penat dan stress, menghabiskan waktu luangnya dan melakukan berbagai kegiatan tanpa membedakan golongan manapun dan terbuka untuk umum tanpa dipungut biaya. Di dalam bangunan ini nantinya akan dimasukkan beberapa program seperti pameran, kelas daur ulang, area makanan, dan hiburan lainnya, yang ditentukan berdasarkan karakteristik dari wilayah Tambora ini.Bangunan ini juga mempunyai area komersil seperti toko retail sovenir dan toko material. Proyek ini di design berdasarkan metode perancangan re-image oleh John Zeisel, analisis dan riset pribadi yang berfokus pada fungsi dan massa bangunan agar bisa memberikan dampak positif bagi lingkungan Kawasan Tambora.
RUANG BERMAIN KOTA KAWASAN EPICENTRUM Kevinn Sukhayanto; Tony Winata
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 2, No 1 (2020): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v2i1.6791

Abstract

Play as a way for breaking the routine, rupturing the space that isolated individuals from the community, to give a feeling of fun, to rejuvenate individuals from their routines, Therefore Play is the best way to give the feeling of fun and joy also to restore the relationship between individuals with their community. City community needed an activities knot that fastens every activity within the city, in the city context this knot referred to as a platform, in the form of an object architecture. In-Play, architecture objects have a role to maintain the perspective of every individual, various ways to interact as well as a distinctive interpretation of architectural elements, so that makes architecture is not a limit or a barrier between program. Creating architecture space that is inclusive to all those. With great planning and design hopefully in the future Urban Playscape at Epicentrum will bring more vibrant life to the district and introduce a real meaning of ‘play’  to the people with a simple yet sustainable design.Abstrak Jakarta sebagai kota metropolitan dengan intensitas kegiatan tinggi, seringkali memberikan tekanan pada masyarakatnya. Kegiatan berintensitas tinggi dan berulang ini yang akhirnya memunculkan permasalahan-permasalahan mental seperti stress dan depresi, juga permasalahan mental kegiatan repetitif ini juga menyebabkan permasalahan sosial, yang mengisolasi setiap individu pada masyarakat kota pada ruang rutinitasnya masing-masing. Permainan menjadi sarana pemecah rutinitas, memecah ruang yang mengisolasi individu dari komunitas, memberikan perasaan menyengankan, sebagai sarana penyegaran individu dari rutinitas mereka, bermain menjadi solusi terbaik untuk memberikan rasa senang serta mengembalikan hubungan antara individu dengan komunitasnya. Masyarakat kota membutuhkan sebuah platform yang dapat memberi “jeda” dari rutinitas mereka. Sebuah platform yang menyediakan ruang bagi masyarakat kota untuk berisitrahat, bermain, dan bersosialisasi bersama dalam rangka penyegaran diri. Sebagai platform penyegaran yang ideal bagi masyarakat kota diusulkan sebuah ruang bermain kota yang berlokasi di kawasan Epicentrum, kawasan Epicentrum ini memiliki ruang-ruang penting berlangsungnya rutinitas kota seperti kantor, universitas, serta perumahan vertikal. Ruang Bermain ini memiliki macam kegiatan dari yang sifatnya aktif (olahraga) hingga pasif (terapi), proses perancangan melalui pertimbangan berbagai pola dan alur kegiatan yang mungkin terjadi di dalamnya sehingga menghasilkan ruang-ruang kegiatan yang multiguna serta dapat digunakan semua orang dari berbagai macam rentang usia dan latar belakang. Dengan perencanaan dan perancangan Ruang Bermain Kota di Kawasan Epicentrum diharapkan dapat menjadi sebuah simpul kegiatan baru bagi kawasan yang inklusif, serta memberikan warna baru pada kehidupan kawasan Epicentrum.
PUSAT OLAHRAGA KEMBANGAN SELATAN Adi Subrata; Tony Winata
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 1, No 2 (2019): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v1i2.4550

Abstract

Higher mobility in an area with technological developments that continue to increase in the future, to eliminate stress is carried out by a variety of activities, one of which is sports. Apart from maintaining fitness, exercise can also be used as a stress reliever. Sports that are of interest to millennials are now one of the liberating sports. Millennial characters taken by individuals that have an impact on the type of sport being played. Buildings are designed to suit millennial needs for the type of exercise, focusing on selected exercise programs can help relieve stress in millennials, as well as helping and helping others in carrying out activities. Apart from that a new type of sport in the building that can provide a new face from the public Sports Facility in the community. Space is designed from contextual results and site analysis produces a form of space that effectively increases chemicals with the region.AbstrakMobilitas yang tinggi dalam suatu kawasan serta perkembangan teknologi yang terus terjadi secara pesat dinilai mempengaruhi kondisi stress pada milenial. Untuk menghilangkan stress tersebut dapat dilakukan berbagai macam kegiatan salah satunya adalah olahraga. Selain sebagai penjaga kebugaran tubuh, olahraga juga dapat digunakan sebagai penghilang stress. Olahraga yang diminati kaum millenial sekarang salah satunya adalah olahraga yang bersifat hiburan. Karakter milenial yang cenderung individual tentunya berdampak terhadap jenis olahraga yang dimainkan. Proyek Pusat Olahraga Kembangan Selatan didesain dengan kesesuaian kebutuhan millenial terhadap jenis olahraga, pemfokusan terhadap program olahraga yang dipilih dapat membantu menghilangkan stress pada millenial, serta dapat sebagai hiburan dan tidak memerlukan bantuan orang lain dalam melakukan aktivitas. Jenis olahraga baru dalam bangunan diharapkan dapat memberikan wajah baru dari sebuah fasilitas olahraga umum di masyarakat.
SINGGAH KULINER RAWA BUAYA Julio Aristo Johan; Tony Winata
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 2, No 2 (2020): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v2i2.8580

Abstract

Jakarta is growing rapidly especially in infrastructure. In 2019 the MRT is inaugurated by President Jokowi Dodo on 24 March 2019. The MRT officially operates for the Lebak Bulus – Hotel Indonesia route. With the development of this public transport, it becomes a vital element of Jakarta. Therefore, the need for integration of public transport and public buildings has become a matter of concern. Trends like this have actually emerged in more developed countries. Rawa Buaya Culinary Stop By comes as a public building that is integrated with one of the available public transport, which is Rawa Buaya Station. Rawa Buaya Culinary Stop by is directly adjacent to the Rawa Buaya station. The culinary theme os taken the people who is going to the station or from the station of Rawa Buaya have a habit of buying some food nor snacks before and after taking the train. However, the available merchants around the station are scattered because they don’t have a dedicated place to vend. This is also supported by the desire of the local people to relocate people who vends along of Kali Semanan to a new and dedicated place that is well zoned. In this project, culinary becomes a magnet for people to come and stop by the project. So the people could interact with the building and be visited by everybody. Keywords:  Culinary; Jakarta; Stop by; Transportation; Third placeAbstrakKota Jakarta kian berkembang, terutama dalam bidang infrastruktur. Mrt pertama di Jakarta dengan rute Lebak Bulus – Bundaran Hotel Indonesia diresmikan oleh Presiden Jokowi Dodo pada tahun 2019. Dengan berkembangnya moda transportasi publik ini, maka moda transportasi publik pun menjadi sebuah unsur yang vital dalam keberlangsungan kota Jakarta. Oleh karena itu kebutuhan akan keterintegrasian moda transportasi publik dan bangunan sekitarnya pun menjadi hal yang perlu diperhatikan. Tren seperti ini sebenarnya sudah muncul pada negara-negara yang sudah lebih mutakhir moda transportasi publiknya. Singgah Kuliner Rawa Buaya hadir untuk menjadi bangunan publik yang terintegrasi dengan salah satu moda transportasi yang ada, yaitu Stasiun Rawa Buaya. Perancangan Singgah Kuliner Rawa Buaya berbatasan langsung dengan Stasiun KRL Rawa Buaya. Tema kuliner diambil karena orang yang hendak naik atau turun dari kereta yang berhenti di Stasiun KRL Rawa Buaya memilki kebiasaan untuk jajan. Namun, tempat berjualan di sekitar daerah stasiun terpencar karena mereka tidak memilki tempat yang khusus untuk berjualan. Hal ini juga didukung oleh keinginan warga setempat untuk merelokasi pedagang yang berjualan pada area sempadan sungai ke suatu tempat yang baru agar lebih tertib dan terzonasi dengan baik. Kuliner disini hadir menjadi sebuah magnet untuk orang-orang agar datang untuk singgah ke proyek. Proyek juga berinteraksi dengan sekitarnya dengan adanya program green belt serta ruang-ruang komunal yang bisa didatangi oleh siapapun. Proyek Singgah Kuliner Rawa Buaya diharapkan dapat menjadi sebuah third place bagi kawasan sekitarnya serta menjadi bangunan yang netral bagi siapapun.
PERANCANGAN SARANA KEBUGARAN DAN KESEHATAN SEBAGAI THIRD PLACE BAGI KAWASAN SUNTER AGUNG Kornelius Yonathan; Tony Winata
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 2, No 1 (2020): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v2i1.6891

Abstract

Third place is a place that brings various kinds of people together, where their activities are not related to home routines (1st place) and work routines (2nd place). Third place is needed for everyone because it is a place where people can release the fatigue that occurs in their daily activities. Third place is an important part in the formation of a community that provides alignment and harmony, where people who are known can be found. The most important part of third place, is guiding happiness, where people can feel the presence of others, a place for interaction that is filled with excitement. The lack of third place as a result of development that is only oriented to the interests of capital, causes the community to overcome it independently. They held their own third place in their residential area with the possibility of greater access. This also happens in the Sunter Agung area which is the most dominant productive age in education, so social bonds are more easily formed. Through literature studies and observational studies that have been carried out, it is known that the needs of the community of Sunter Agung Village in the third place are very high and need to be anticipated immediately in order to avoid environmental and social degradation. To make this happen, facilities are needed that can facilitate the community to interact, which is suitable for all walks of life. By paying attention to public - private, closeness - openness, natural - artificial etc., the design is tailored to the needs of the community. In this case, the intended facilities are not yet available in Sunter Agung Village, so that it becomes an urgency for the area. AbstrakRuang ketiga (third place) merupakan tempat yang mempertemukan berbagai macam masyarakat, dimana kegiatannya tidak terkait dengan rutinitas rumah (1st place) dan rutinitas pekerjaan (2nd place). Third place diperlukan bagi semua orang karena merupakan tempat orang dapat melepaskan kepenatan yang terjadi pada aktivitas keseharian mereka. Third place adalah bagian penting dalam pembentukan suatu komunitas yang memberikan kesejajaran dan keselarasan, dimana orang-orang yang dikenal dapat ditemukan. Bagian terpenting dari third place, adalah menuntun kebahagiaan, dimana orang dapat merasakan kehadiran sesama dan merupakan tempat untuk berinteraksi yang dipenuhi dengan kegembiraan. Namun karena minimnya ruang ketiga (third place) sebagai akibat pengembangan yang hanya berorientasi pada kepentingan kapital, masyarakat mengatasinya secara mandiri. Mereka mengadakan sendiri ruang ketiga (third place) di lingkungan pemukimannya dengan kemungkinan akses yang lebih besar. Hal ini juga terjadi di kawasan Sunter Agung yang merupakan kawasan pendidikan dengan jumlah usia produktif paling dominan, sehingga ikatan sosial lebih mudah terbentuk. Melalui studi literatur dan studi observasi yang telah dilakukan, diketahui bahwa kebutuhan masyarakat Kelurahan Sunter Agung akan third place sangat tinggi dan perlu segera diantisipasi agar tidak terjadi degradasi lingkungan dan sosial. Untuk mewujudkannya, diperlukan fasilitas yang dapat mewadahi masyarakat untuk berinteraksi, yang sesuai dengan semua kalangan masyarakat. Dengan memperhatikan public – private, closeness – openness, natural – artificial dll,  perancangan disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat. Dalam hal ini, fasilitas yang dimaksudkan belum tersedia di Kelurahan Sunter Agung, sehingga menjadi urgensi bagi kawasan tersebut.
RUANG KREATIF DIGITAL Cindy Valenci; Tony Winata
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 1, No 2 (2019): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v1i2.4435

Abstract

Millennial are considered as a generation that could integrate with technology better than previous generation. The presence of technology is something that can’t be removed in this generation. They live a life which always have been connected with technology, and also entitled as net generation that has the ability to be connected with various worlds. With today’s advancement, presence of technology in millennial generation affect workshop machinery with digital technology. The formed program is expected to be able to answer the characteristics of the millennial generation in the digital technology sector by providing workshops with education and training space for start-ups. The designed space system consists of several programs combined based on analysis of Millennial generation needs and workspace typology analysis. The choice of location is chosen based on several criteria; based on the location of the city center, close to many presences of the millennial, and located in where public transportation is easily accessible. The design created will have the concept of a digitally made product, so that it attracts visitors. The rental system is applied in buildings based on the following spaces with supporting facilities. Placement and orientation will be adjusted according to the results of the site analysis, and to create an environmentally friendly building, the ground floor building will be half open and greenery concept around the site.       AbstrakGenerasi milenial termasuk generasi yang bisa berintegrasi dengan teknologi dari generasi sebelumnya. Hadirnya teknologi bagaikan sesuatu yang tidak dapat dipisahkan dengan generasi ini. Semasa hidup yang selalu terkoneksi dengan digital online maka generasi ini disebut juga net generation yang dapat terkoneksi dengan berbagai dunia. Secara perkembangan zaman, hadirnya teknologi dalam generasi milenial mempengaruhi mesin peralatan bengkel kerja dengan teknologi digital. Program yang terbentuk diharapkan dapat menjawab karakteristik generasi milenial dalam sektor teknologi digital dengan penyediaan bengkel kerja serta memberikan ruang edukasi dan pelatihan bagi start-up. Sistem ruang yang dirancang terdiri dari beberapa program yang digabungkan berdasarkan analisa kebutuhan generasi milenial serta berdasarkan analisa tipologi ruang kerja. Pemilihan lokasi dipilih berdasarkan beberapa kriteria; berdasarkan peletakannya di pusat kota, dekat dengan banyaknya keberadaan generasi milenial, serta peletakannya yang mudah dijangkau dengan kendaraan umum. Desain yang dibuat akan memiliki konsep suatu hasil produk dari digital, sehingga menarik pengunjung. Sistem sewa yang diberlakukan dalam bangunan berdasarkan ruang-ruang berikut dengan fasilitas penunjangnya. Penempatan dan orientasi akan disesuaikan oleh hasil analisa tapak dan untuk menciptakan bangunan yang ramah lingkungan, lantai dasar dibuat setengah terbuka dan adanya penghijauan disekitar tapak.
PENATAAN KEMBALI PASAR BARANG ANTIK DI JALAN SURABAYA MELALUI PENDEKATAN SHOPPING BEHAVIOR GENERASI MILENIAL Lisa Natalia; Tony Winata
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 4 No. 2 (2022): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v4i2.21709

Abstract

On Jalan Surabaya, there are rows of stalls which are the center of famous antiques since 1960. The prestige of this market is quite respected because it has managed to penetrate the tourists, officials, celebrities or foreign and domestic coverage. As a result, the regional income was quite high. However, since the bombings that occurred in 2003 to 2016 in Jakarta, the number of these groups has decreased. Plus, the style of goods is getting more modern and shopping trends are starting to develop online, which makes the current generation, namely the millennial generation, more accustomed to things that are modern and in accordance with today's times. Antique enthusiasts have become few, as well as the continuity of the market's memory which is fading. This degradation is not the first. In the past, this market was more shabby, but was immediately brought under control by Governor Ali Sadikin. Thanks to this, the prestige of the market and Jalan Surabaya became famous through word of mouth promotion. This strategy that the author is trying to borrow is to revive the antiques market, by using a design approach based on millennial shopping behavior, so that the current antique market gets the focus of new visitors. Not only that, the everydayness design method also enhances the design. By adhering to local regulations, Menteng's visions and missions and the everyday culture of Jalan Surabaya, making the antiques market a better market, recreational facility and gathering space for the public, especially the millennial generation, in an effort to provide urban acupuncture. Keywords: Antiques; Menteng; Millennials; Urban Acupuncture Abstrak Di Jalan Surabaya, terdapat deretan kios yang merupakan pusat barang antik yang terkenal sejak 1960. Pamor pasar ini cukup disegani karena berhasil menembus kalangan turis, pejabat, selebriti ataupun liputan luar dan dalam negeri. Dengan demikian, pemasukan dana daerah saat itu cukup meningkat. Namun, sejak pengeboman yang terjadi pada 2003 hingga 2016 di Jakarta, kalangan tersebut menurun kedatangannya. Ditambah juga, gaya barang semakin modern dan tren belanja mulai berkembang secara online, yang membuat generasi saat ini yaitu generasi milenial, lebih terbiasa dengan hal yang bersifat modern dan sesuai dengan zaman sekarang. Peminat barang antik menjadi sedikit, begitu juga dengan keberlangsungan memori pasar yang semkain memudar. Degradasi ini bukan yang pertama. Dulunya pasar ini pernah lebih kumuh, namun segera ditertibkan oleh Gubernur Ali Sadikin. Berkat hal itu, pamor pasar dan Jalan Surabaya menjadi terkenal lewat promosi mulut ke mulut. Strategi ini yang coba penulis pinjam guna meramaikan kembali pasar barang antik, dengan cara menggunakan pendekatan desain berbasis perilaku belanja milenial, supaya pasar antik yang sekarang mendapat fokus kalangan pengunjung yang baru. Tidak hanya itu, metode desain keseharian juga turut menyempurkan rancangan. Dengan mengikuti batasan peraturan setempat, visi-misi Menteng dan budaya sehari-hari Jalan Surabaya, membuat pasar barang antik menjadi pasar, sarana rekreasi dan ruang berkumpul yang lebih baik bagi publik, terutama generasi milenial, dalam upaya memberi penyembuhan urban akupunktur.
REDESAIN PASAR MODERN SANTA MENJADI PASAR BERKELANJUTAN YANG INKLUSIF DI PETOGOGAN, JAKARTA SELATAN Michelle Britney Chen; Tony Winata
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 4 No. 2 (2022): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v4i2.21710

Abstract

The digital transformation experience happened to Santa Modern Market, it is a block Q neighborhood market in Petogogan, Kebayoran Baru, South Jakarta has degraded since 2016, marked by the closure of several kiosks by business actors due to the decreasing number of visitors. The cause of degradation is defined in several aspects, namely; 1. Social Aspect (FOMO, digital transformation, social talk), 2. Memory aspect (Loss of inclusiveness for the elderly), 3. Physical aspect (entrance placement and circulation to chaotic sites), 4. Systematic Aspect (Indication of gentrification). The purpose of re-designing Santa Modern Market is to maintain the identity of Santa Modern Market as a local market in the Q block area, conducting new activity programs along with its program spaces to support the development of digitalization and market sustainability, as well as facilities that can attract the attention of newcomers outside the local market and maintain inclusiveness for all beings so the results of the design execution can restore the glory of Santa Modern Market as an inclusively sustainable Mixed Commercial Space by using the Pragmatic Perspective Method to overcome the degradation phenomenon of Pasar Santa. Keywords:  Digital Transformation; Inclusive; Mixed Commercial Space; Santa Modern Market; Sustainable Abstrak Pengalaman transformasi digital dialami oleh Pasar Modern Santa yang merupakan Pasar lingkungan blok Q di Petogogan, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Mengalami degradasi sejak tahun 2016, ditandai penutupan sejumlah kios oleh pelaku usaha karena pengunjung yang terus berkurang. Penyebab degradasi diuraikan menjadi beberapa aspek, yaitu ; 1. Aspek Sosial (FOMO, transformasi digital, latah sosial), 2. Aspek Memori (Kehilangan inklusifitas bagi kaum lansia), 3. Aspek Fisik (Penataan entrance masuk dan sirkulasi menuju tapak semrawut), 4. Aspek Sistematik (Indikasi Gentrifikasi). Tujuan mendesain kembali Pasar Modern Santa adalah mempertahankan identitas Pasar Modern Santa sebagai pasar lingkungan blok Q, penambahan fungsi program ruang aktivitas yang mendukung perkembangan digitalisasi dan keberlanjutan pasar, serta fasilitas yang mampu menarik perhatian pendatang di luar lingkungan pasar dan inklusif terhadap seluruh kalangan. Sehingga dapat mengembalikan Kembali kejayaan Pasar Modern Santa sebagai Mixed Commercial Space berkelanjutan yang inklusif. Menggunakan Metode Perspektif Pragmatik dalam mengatasi fenomena degradasi Pasar Santa.
STRATEGI PROGRAM PASAR GEMBRONG JATINEGARA SEBAGAI PUSAT PERBELANJAAN MAINAN DAN WADAH KOMUNITAS SENIMAN JABODETABEK Desyanti Batami; Tony Winata
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 4 No. 2 (2022): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v4i2.21711

Abstract

Pasar Gembrong Jatinegara has been established since 1960 and has only been known as a cheap toy shopping center since the 1998 riots. The location of Pasar Gembrong Jatinegara was moved due to the becakayu toll construction project. This development requires the Pasar Gembrong Jatinegara and several residents' houses to be evicted. As a result of this eviction, many traders have switched professions. This has caused the loss of the name Pasar Gembrong Jatinegara as a cheap toy shopping center in Jakarta. The government has tried to restore the bustle of the Pasar Gembrong Jatinegara in a new place, but to no avail. Therefore, this journal was created to provide a program strategy for Pasar Gembrong Jatinegara in order to develop its activity program to be more varied and interesting for all ages and to change the facade of the building to be more modern but still simple by using the indirect borrowing design method in the book Peta Metode Desain by Agustinus Sutanto. Produce a series of complex programs that will be applied to the Pasar Gembrong Jatinegara building. Keywords:  Jatinegara; Toys; Pasar Gembrong Jatinegara; Evictions; Becakayu Toll Road Abstrak Pasar Gembrong Jatinegara telah berdiri sejak 1960 dan baru dikenal sebagai pusat perbelanjaan mainan murah sejak kerusuhan tahun 1998. Lokasi Pasar Gembrong Jatinegara dipindahkan karena adanya proyek pembangunan tol becakayu. pembangunan ini mengharuskan Pasar Gembrong Jatinegara dan beberapa rumah warga untuk digusur. Akibat penggusuran ini banyak pedagang yang beralih profesi. Hal ini menyebabkan hilangnya nama Pasar Gembrong Jatinegara sebagai pusat perbelanjaan mainan murah di Jakarta. Pemerintah telah berupaya untuk mengembalikan keramaian pasar gembrong di tempat baru, namun tak kunjung membuahkan hasil. Oleh sebab itu, jurnal ini dibuat untuk memberikan strategi program untuk Pasar Gembrong Jatinegara agar mengembangkan program aktivitasnya menjadi lebih bervariasi dan menarik untuk seluruh kalangan usia dan mengubah fasade bangunan menjadi lebih modern tetapi tetap sederhana dengan menggunakan metode perancangan indirect borrowing pada buku Peta Metode Desain karya Agustinus Sutanto. Menghasilkan sebuah rangkaian program kompleks yang akan diterapkan pada bangunan Pasar Gembrong Jatinegara.
RE-IMAGINE PRINSEN PARK: MENGEMBALIKAN MEMORI MELALUI RUANG SENI PERTUNJUKAN Callista Chrysilla; Tony Winata
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 4 No. 2 (2022): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v4i2.21712

Abstract

Basically, entertainment is needed by humans to maintain their lives and everyone has their own way of getting entertainment, such as visiting entertainment places. However, with the growth of today's entertainment venues, such as malls and cafes, the once famous entertainment place have now become forgotten. One of them is Prinsen Park, or what is now known as Lokasari. Prinsen Park is an amusement park that was popular around 1900-1985, but is now experiencing a shift in function and memory into a shopping area known as the Taman Hiburan Rakyat Lokasari (THR Lokasari). THR Lokasari is also known of its nightlife and a negative image, so it is in stark contrast to the image of Prinsen Park, which used to be an entertainment place and a famous performing arts venue. In order to eliminate the negative image of THR Lokasari and restore its collective memory, THR Lokasari is redesigned through urban acupuncture while finding traces of the past. With programs that provide education about the history of Prinsen Park along with the arts at that time, people can reminisce about the past or gain new knowledge. In addition, this project can also meet the need for a third space in the area that uses performing arts and the circus as a medium for socializing. All in all, this project is expected to be able to restore a fading memory and bring back Lokasari’s positive image. Keywords:  Lokasari; Memory; Performing Arts; Prinsen Park; Urban Acupuncture Abstrak Pada dasarnya, hiburan sangat diperlukan manusia demi mempertahankan kehidupannya dan setiap orang pun memiliki caranya sendiri untuk mendapatkan hiburan, salah satunya adalah mengunjungi tempat hiburan. Namun dengan pertumbuhan tempat hiburan sekarang, seperti mal dan juga kafe-kafe, tempat hiburan yang dulunya terkenal, kini menjadi terlupakan. Salah satunya adalah Prinsen Park, atau yang sekarang disebut sebagai Lokasari. Prinsen Park merupakan taman hiburan yang populer pada sekitar tahun 1900-1985, namun kini mengalami pergeseran fungsi dan memori menjadi kawasan perbelanjaan yang disebut sebagai Taman Hiburan Rakyat Lokasari (THR Lokasari). THR Lokasari juga identik dengan hiburan malam dan citra negatif, sehingga sangatlah bertolak belakang dengan citra Prinsen Park, yang dulunya merupakan taman hiburan dan tempat seni pertunjukkan yang tenar. Demi menghilangkan citra negatif dari THR Lokasari dan mengembalikan memori kolektifnya, maka THR Lokasari dirancang ulang dengan urban acupuncture, serta menggali jejak-jejak yang lampau. Dengan program-program yang memberikan edukasi mengenai sejarah Prinsen Park beserta dengan kesenian pada masa itu, masyarakat dapat bernostalgia terhadap masa lalu ataupun menambah pengetahuan baru. Selain itu, proyek ini juga dapat memenuhi kebutuhan akan ruang ketiga di kawasan yang menggunakan seni pertunjukkan dan sirkus sebagai media untuk bersosialisasi.