Budi Adelar Sukada
Program Studi S1 Arsitektur, Fakultas Teknik, Universitas Tarumanagara

Published : 22 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 22 Documents
Search

PEMBENTUKAN RUANG BERHUNI KOLEKTIF DI KELURAHAN PEGADUNGAN DAMPAK PANDEMI COVID-19 Florencia Sentosa; Budi Adelar Sukada
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 3, No 1 (2021): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v3i1.10691

Abstract

Covid-19 pandemic that attacks the population of Indonesia since March 2020 affects the human way of living. Even though this pandemic will probably end, the impacts will last for a long time. People’s daily activities are disrupted and hampered, especially those in the suburban area such as in Pegadungan Sub-districts which to carry out the activities they have to commute o the center of the city. This causes less social interaction, limited interaction with nature, and increases technology using that impact human physical and mental health deterioration. Therefore, a new architectural space with recreation and work programs on a neighborhood scale is needed as a collective dwelling space that can provide benefits for local communities to do their activities. To achieve this goal, data and analysis are needed relating to the location, user target, issues, and problems that occur. The application of Wellness Architecture with a Biophilic Design Approach as a design method, such as the use of natural air, natural light, and natural connections into the buildings, is expected to create an ideal and healthy architecture for physical, emotional well-being, an balance in living. So that, it can create good, resilient, and sustainable settlements and environments. Keywords:  Covid-19; Neighborhood; Recreation and Work AbstrakPandemi Covid-19 yang menyerang penduduk Indonesia sejak Maret 2020 memberikan pengaruh terhadap cara berhuni manusia. Walaupun pandemi ini mungkin akan berakhir, namun dampak yang dihasilkan akan bertahan dalam waktu yang panjang, Aktivitas masyarakat sehari-hari menjadi terganggu dan terhambar khususnya masyarakat di pinggir perkotaan seperti di Kelurahan Pegaadungan yang mana untuk melakukan aktivitasnya harus berkomuter ke pusat kota.  Hal ini menyebabkan interaksi sosial berkurang, interaksi dengan alam terbatas, dan peningkatan penggunaan teknologi yang akan berdampak pada penurunan kesehatan fisik dan mental manusia. Oleh karena itu, dibutuhkan wadah arsitektur baru dengan program rekreasi dan bekerja di skala lingkungan sebagai ruang berhuni kolektif yang dapat memberikan kemudahan bagi masyarakat lokal untuk beraktivitas. Untuk mencapai tujuan tersebut, diperlukan pengumpulan data dan analisis terkait lokasi, target pelaku, isu dan permasalahan yang terjadi. Penerapan Wellness Architecture dengan Pendekatan Desain Biofilik sebagai metode perancangan, seperti penggunaan udara alami, cahaya alami, dan koneksi alam ke dalam bangunan diharapkan dapat menciptakan arsitektur yang ideal dan sehat bagi kesejahteraan fisik, emosional, dan keseimbangan dalam berhuni. Sehingga dapat menciptakan permukiman dan lingkungan yang baik, tangguh, dan berkelanjutan. 
KANTOR SEWA DAN CO-WORKING DENGAN PEMANFAATAN TAMAN ENERGI TERBARUKAN Lidia Wiriani; Budi Adelar Sukada
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 3, No 2 (2021): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v3i2.12774

Abstract

As time goes by, currently the development growth in metropolitan cities has been leading to the ecosystem change, one of which is the decrease of the green open space (GOS). Nowdays Jakarta has only 9.8% green area and rather it is still far from 30% as a standard of green open space according to government’s Law No. 2 of 2007. In addition, another problem in Jakarta is the increase on the office electricity needs that generally due to the growth of office space demands in business and industrial, including start-up sectors that currently growing fastly. Development in cities is very often only focused on human interests on spaces and facilities, meanwhile on the other side, it just pay less attention to the surrounding environmenta impact. Therefore, this final project is promptly proposing a design and construction of a rental office and co-working office with the use of renewable energy park and solar energy with the aim of creating a more efficient electricity and also to provide a spacious green open spaces as charasteristic of an ecological building, to enable to promote a positive contribution to environmental improvement. The method approach used as reference in this project is the Leadership in Energy and Environmental Design (LEED) standard. This project will not only offer office facilities but also a multifunctional facilities such as coffee shop, mini market, food court, book and stationery store, fitness center, fun games area, jogging track, basketball court, and ATM corner, while for green open space (GOS) there is also renewable energy park, namely bioo panel garden, irrigation ponds, and tree areas. Keywords: Green office space (GOS); electricity consumption; rental and co-working office; renewable energy parkAbstrakSeiring berjalannya waktu, saat ini maraknya pembangunan di kota metropolitan telah berdampak pada perubahan ekosistem, salah satunya yaitu isu lingkungan seperti keterbatasan ruang terbuka hijau (RTH). Saat ini Jakarta memiliki kawasan hijau hanya sekitar 9,8% yang masih jauh dari 30% sebagai standar ruang terbuka hijau di kota berdasarkan Undang-Undang No. 2 Tahun 2007. Selain itu, masalah lainnya di Jakarta adalah meningkatnya pemakaian listrik perkantoran yang umumnya dikarenakan adanya peningkatan kebutuhan ruang usaha di dunia bisnis dan industri kreatif (start-up) yang sedang berkembang pesat. Pembangunan di kota seringkali hanya berpusat pada kebutuhan manusia akan ruang dan fasilitasnya, sementara disisi lain kurang memperhatikan dampaknya terhadap lingkungan sekitar. Adapun proyek pada tugas akhir ini adalah untuk mengajukan suatu rancangan pembangunan kantor sewa dan co-working dengan pemanfaatan taman energi terbarukan agar tercipta kelistrikan yang lebih efisien, serta perwujudan ruang terbuka hijau yang luas sebagai ciri bangunan ekologis, sehingga diharapkan dapat memberikan kontribusi untuk perbaikan lingkungan. Paradigma utama dalam mendesain proyek ini adalah bagaimana menciptakan enviromental balance dengan pendekatan ecosystem environment dan energy efficiency. Adapun pendekatan metode yang digunakan sebagai acuan adalah standar Leadership in Energy and Environmental Design (LEED). Proyek ini disamping menyediakan sarana perkantoran, juga menawarkan fasilitas yang multifungsi seperti coffeeshop, minimarket, food court, toko buku dan alat tulis, fitness center, fun games area, jogging track, lapangan basket, serta gerai ATM. Sementara untuk area ruang terbuka hijau (RTH) tersedia taman energi terbarukan (renewable energy park) yaitu bioo panel garden, kolam irigasi, dan area taman pohon. 
WADAH KERAJINAN TANGAN MAKANAN DAN MINUMAN DI JUANDA Marvel Buhamir; Budi Adelar Sukada
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 2, No 2 (2020): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v2i2.8565

Abstract

Cities are centers of settlements and activities of residents who have administrative boundaries that are regulated in laws and regulations as well as settlements that have displayed the character and characteristics of urban life. Humans also needs of daily life. And also humanity has its own family, then each human being also needs an economy to maintain human life. In everyday human needs the main staple, namely eating to revive humans. And also some people need pleasure, enjoyment, such as releasing negative things like faith, natural disturbances and so on. In this research, humans always think about life, namely hunger to eat something for human life. Also there are also some food and beverage sales such as restaurants, kiosks, supermarkets, markets and so on. So humans also daily activities will definitely go to a place that needs daily life. And also want to follow to make something creative. In logic, today many young people often hang out at coffee shops and also only order coffee and chat with other people. Well so this must also provide to know the process of food and drink, even the public also wants to bring happiness and pleasure. Food and beverage handicrafts are for the people. Providing buildings that we plan to craft food and drinks on the premises for the community. Being a food and beverage craftsman is an innate happiness and pleasure for the community, that is social justice for all people respectively. Example of food: Bread that is cut into pieces to form animals or caricatures themselves. As well as examples of drinks: coffee drinks have their own consumer photos on it. So this is a place where the transfer of something new is a third place for the community, we plan this for a business startup or popularly called a stub. Keywords: architecture; drinks; food; humanity; lifeprocesses AbstrakKota adalah pusat permukiman dan kegiatan penduduk yang mempunyai batas wilayah administrasi yang diatur dalam peraturan perundang-undangan. Manusia  sebagai warga kota membutuhkan pemenuhan kebutuhan kehidupan sehari-hari. Dalam upaya pemenuhan kebutuhan sehari-hari, manusia membutuhkan makanan sebagai kebutuhan utama. Selain makanan, manusia juga memiliki kebutuhan akan kesenangan, kenikmatan, seperti melepaskan dari hal-hal negatif seperti stress dsb. Studi ini bertujuan untuk memikirkan tentang bagaimana aktivitas mencari makanan menjadi sesuatu yang menarik dan dikolaborasikan dengan aktivitas lainnya. Dimana proses mencari makanan dan minuman pun seyogyanya membawa kebahagiaan dan kesenangan. Kerajinan tangan makanan dan minuman menjadi sebuah usulan proyek dan terobosan baru bagi masyarakat. Program dan aktivitas untuk kerajinan tangan makanan dan minuman, pengrajin makanan dan minuman itu merupakan bawaan kebahagiaan dan kesenangan untuk masyarakat. Proyek diharapkan menjadi sebuah tempat yang perpindahan sesuatu yang baru merupakan third place bagi masyarakat, Kami rencanakan ini untuk sebuah rintisan bisnis atau populer disebut start up.
RUANG FOTOGRAFI DI KEDOYA SELATAN Naomi Patricia; Budi Adelar Sukada
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 2, No 1 (2020): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v2i1.6777

Abstract

Third place is a place other than home (first place) or office/school (second place), where visitors can spend time and feel welcomed. Third place is no longer just a relaxing recreation place; third place has become part of our overall lifestyle. In that case, we need to realize that for some people, especially those in the creative class, third place is actually an non-negotiable asset. The development of photography in Indonesia is currently experiencing rapid development, both in terms of economic and community growth. This development began in the early 2000s, with the start of film cameras with digital sensors. This certainly makes it easier for camera users to not bother to print photos just to see the work that has been captured.Photography is one of the mass media that has become popular among teenagers. The existence of technological changes that make it easier for humans to demonstrate their artistic skills by using photography, so that photography can affect the lives of people throughout the world. Photography itself has always been inseparable from human life, other than as a documentary, photography itself is art, the art of creativity using light. So no wonder many rapid developments. This third place project aims to facilitate people who have an interest in photography, provide facilities in the form of a gathering place that can function as a channel for visitors' interest and creativity, and increase the Creative Economy’s sector. AbstrakThird place (tempat ketiga) adalah tempat selain rumah (first place/tempat pertama) atau kantor maupun sekolah (second place/tempat kedua), di mana pengunjung dapat menghabiskan waktu dan merasa disambut. Third place tidak lagi hanya berupa tempat rekreasi santai; third place telah menjadi bagian dari gaya hidup kita secara keseluruhan. Dalam hal itu kita perlu menyadari bahwa bagi sebagian orang, terutama yang berada di kelas kreatif, third place sebenarnya menjadi aset yang tidak bisa dinegosiasikan. Perkembangan fotografi di Indonesia saat ini mengalami perkembangan yang pesat, baik dari segi ekonomis dan pertumbuhan komunitasnya. Perkembangan tersebut dimulai sejak era awal tahun 2000-an, dengan mulainya kamera berfilmkan menggunakan sensor digital. Hal ini tentu memudahkan pengguna kamera untuk tidak bersusah payah mencetak foto hanya untuk sekedar melihat karya yang telah diabadikan. Fotografi merupakan salah satu media massa yang menjadi populer di kalangan remaja. Adanya perubahan teknologi yang memudahkan manusia untuk menunjukkan keterampilan seninya dengan menggunakan fotografi, sehingga fotografi dapat mempengaruhi kehidupan masyarakat di seluruh dunia. Fotografi itu sendiri memang sejak dulu tidak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia, selain sebagai dokumenter, fotografi itu sendiri adalah seni, seni kreatifitas menggunakan cahaya. Maka tak heran banyak perkembangan yang pesat. Proyek third place ini memiliki tujuan untuk memfasilitasi masyarakat yang memiliki minat terhadap fotografi, menyediakan fasilitas berupa tempat untuk berkumpul yang dapat berfungsi sebagai penyalur minat-bakat dan kreatifitas pengunjung, serta meningkatkan sektor Ekonomi Kreatif (Ekraf).
PUSAT PELATIHAN KARAKTER UNTUK MILENIAL Venessa Handiwinata; Budi Adelar Sukada
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 1, No 2 (2019): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v1i2.4513

Abstract

Millennial generation is the generation of births around 1980 to 2000 and in productive age. This generation has a problem, where they tend to be lazy, out of focus and narcissistic. There are 4 factors that cause it. First, this generation becomes depressed when in the workforce because there is no help from their parents and does not get what they want; second, this generation requires an addiction to the response of social media, which causes the absence of relations that improve between individuals; third, they do not last long in a company because they do not get what they want and want everything to be instant (inpatient); fourth, environmental participation that creates character of the individuals, where the environment at this time is more concerned with numbers than a community needs and only focus on short-term needs. In addition, the companies where they work don’t help/provide facilities to build cooperation and character development skills. Of all these problems, the millennial generation needs a facilities to develop their social skills, which can improve their ability to develop visions related to the development of their potential and innovation. Therefore, they need a character training center, with supporting facilities such as foodhall, shared work space, and gym facilities, where those supporting facilities can help the process of character training. This character training center has a concept that prioritizes togetherness and sociability with the "the c’s" method. AbstrakGenerasi millennial adalah generasi kelahiran sekitar tahun 1980 sampai dengan 2000 dan sedang dalam usia produktif. Generasi ini memiliki sebuah isu, dimana mereka cenderung malas, tidak fokus dan narsis. Terdapat 4 faktor penyebabnya. Pertama, generasi ini menjadi depresi saat di dunia kerja karena tidak adanya bantuan dari orangtua dan tidak mendapatkan apa yang mereka inginkan; kedua, generasi ini cenderung kecanduan akan respon dari media sosial, dimana hal tersebut menyebabkan tidak adanya relasi yang kuat antar individu; ketiga, mereka cenderung tidak bertahan lama dalam suatu perusahaan karena mereka merasa tidak mendapatkan apa yang mereka inginkan dan ingin semuanya serba instan (tidak sabaran); keempat, lingkungan hidup yang membentuk karakter dari individu, dimana lingkungan hidup pada saat ini lebih mementingkan angka dibandingkan kebutuhan masyarakat dan hanya memikirkan kebutuhan jangka pendek. Selain itu, perusahaan tempat mereka bekerja cenderung tidak membantu/menyediakan fasilitas untuk membangun skill kerjasama dan pembangunan karakter. Dari semua isu tersebut, generasi millennial membutuhkan sebuah fasilitas untuk mengembangkan social skills mereka, dimana hal tersebut dapat mempengaruhi mereka dalam pembentukan visi hidup yang berhubungan dalam pengembangan potensi dan inovasi mereka. Oleh sebab itu, mereka membutuhkan suatu Character Training Center, dengan fasilitas pendukung seperti foodhall, co-working space dan fasilitas gym, dimana fasilitas pendukung tersebut dapat membantu sebuah proses character training. Character Training Center ini memiliki konsep dimana mengutamakan togetherness and sociability dengan metode  “the c’s”.
TEMPAT HIBURAN EKSPRES UNTUK DOMESTIK Blandina Sherin; Budi Adelar Sukada
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 2, No 1 (2020): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v2i1.6778

Abstract

Indonesia has an area of 75% by sea and 25% by land, making Maritime the strongest axis of the Indonesian state. However, the Indonesian are not corcern enough to the natural habitat of the underwater, it becomes the main problem of Sea Tourism in some areas of Indonesia are less developed. Therefore, how can architecture accommodate the activities of Indonesian tourism, especially in the maritime field. In this case, there is Muara Angke, where there is a tour to Seribu Island via Kaliadem Port, but the facilities at the Port are inadequate so that visitors feel uncomfortable using the Port and lack of interest in visiting Maritime Tourism.  Therefore, to resolve this case, facilities are needed to increase interest and also increased visitors to the Kaliadem Port, the design began by the criteria of Third Place by written by  Ray Oldenburg, one of which is ‘The Mood is Playful’, the final result of the design provided for visitors of the Port to Have Fun and have a nice social interaction while waiting for the schedule to aboard and also as a place to rest a while after returning from the trip. Abstrak Indonesia memiliki luas wilayah dengan dominasi 75% lautan dan 25% darat menyebabkan Maritim menjadi poros terkuat negara Indonesia. Namun kekurangpedulian masyarakat Indonesia akan kekayaan alam bawah laut menjadi masalah utama Wisata Laut dibeberapa titik Indonesia kurang berkembang. Oleh karena itu bagaimana Arsitektur dapat mewadahi kegiatan dan kemajuan Pariwisata Indonesis khususnya dibidang Maritim. Pada kasus ini, terdapat di Muara Angke, dimana terdapat Wisata menuju Pulau Seribu melalui Pelabuhan Kaliadem, namun fasilitas di Pelabuhan yang tidak memadai sehingga pengunjung merasa tidak nyaman untuk menggunakan Pelabuhan dan minat untuk mengunjungi Wisata Maritim kurang. Maka dari itu untuk menyelesaikan kasus ini, diperlukan sarana yang dapat menambah minat dan juga kenyamanan Pengunjung Pelabuhan Kaliadem, pendekatan desain melalui kriteria Tempat Ketiga oleh Ray Oldenburg, salah satunya adalah ‘Perasaan yang Menyenangkan’, hasil akhir dari desain adalah wadah bagi Pengunjung Pelabuhan untuk bersenang-senang dan dapat berinteraksi satu sama lain sembari menunggu jadwal keberangkatan dan juga sebagai tempat beristirahat sejenak setelah berpulang kembali.  
PERANCANGAN TEMPAT HIBURAN CAMPURAN PADA KAWASAN TANAH ABANG TIMUR Ronald Emillio; Budi Adelar Sukada
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 4 No. 2 (2022): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v4i2.22152

Abstract

Urban acupuncture is a method to restore degraded urban areas, through identification of urban system problems. If problems are successfully identified, then design interventions can be made. Tanamur is a discotheque that operated from 1970 to 2005. Tanamur stands for Tanah Abang Timur, which is also the name of the area where the Tanamur building is located. The purpose of this study, among others, is to identify the success factors of the Tanamur discotheque, as well as to examine discotheque buildings in general, to find urban acupuncture solutions that can be applied to restore the iconic function of the Tanamur area as a place of entertainment. The methodology used is content analysis. The findings of this study are then used to form design concepts and architectural programs. Through the studies that have been carried out, the architectural design solution to carry out urban acupuncture in the Tanamur area is to create an attractor in the form of a building for various entertainment functions, as a place of recreation for residents and immigrants who stop by the Tanah Abang Timur area. Keywords:  Architecture; Discotheque; Urban acupuncture; Tanamur Abstrak Urban acupuncture merupakan suatu metode untuk memulihkan area urban yang mengalami degradasi, melalui identifikasi permasalahan sistem urban. Apabila permasalahan ditemukan, maka dilanjutkan dengan intervensi desain. Tanamur merupakan sebuah diskotek yang beroperasi dari tahun 1970 hingga 2005. Tanamur merupakan singkatan dari Tanah Abang Timur, yang juga merupakan nama dari kawasan tempat bangunan Tanamur berada. Tujuan dari kajian ini antara lain adalah untuk mengidentifikasi faktor kesuksesan diskotek Tanamur, serta mengkaji bangunan diskotek secara umum, untuk menemukan solusi urban acupuncture yang dapat diterapkan untuk mengembalikan fungsi ikonik kawasan Tanamur sebagai tempat hiburan. Metodologi yang digunakan adalah analisis isi. Kemudian temuan dimanfaatkan untuk membentuk konsep desain dan program arsitektur. Melalui kajian yang telah dilakukan, solusi desain arsitektur untuk melakukan urban acupuncture pada kawasan Tanamur adalah dengan menciptakan atraktor kawasan berupa bangunan untuk beragam fungsi hiburan, sebagai tempat rekreasi untuk penghuni maupun pendatang yang singgah ke kawasan Tanah Abang Timur.
DESAIN KAMPUNG SUSUN DENGAN PENERAPAN ARSITEKTUR MODULAR SEBAGAI CITRA BARU PERMUKIMAN DAN AKUPUNKTUR KAWASAN MUARA BARU Amanda Augustine; Budi Adelar Sukada
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 4 No. 2 (2022): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v4i2.22153

Abstract

Muara Baru area is experiencing housing class disparities, overcrowding, a lack of inclusive facilities, and the degradation of the movement and physical image of the settlements that are getting worse. Some residents of Muara Baru live on the edge of the reservoir. It is necessary to relocate the residents of illegal settlements from the edge of the reservoir to order settlements; have supporting facilities to fulfill their needs; improve the image of the area. One of the architectural solutions that can be applied is an housing complex with social and public facilities, and is located in a new site. The purpose of the design is to propose: architectural solutions that can accommodate all residents of illegal settlements on the edge of the reservoir; the spatial and design elements of the Modular Vertical Housing that can improve the welfare of the residents of the reservoir edge, the quality and image of the settlements; Modular Vertical Housing which can create a new image of the Muara Baru settlement by processing the mass of the building and its outer space The literature review contains theories about slum housing, urban acupuncture, city’s image, and vertical rental housing that can be applied as a basis for designing. The design method departs from the existing varied patterns of illegal settlements, then makes 3 types of residential modules, and the embodiment of varied and order arrangement of modules. With the creation of an order residential area through the Modular Vertical Housing, this project can become acupuncture of the area and a new image of the settlement, as well as the value of the area, residents' economy, movement can be increased. Keywords:  Modular Vertical Housing; Muara Baru; New image of the settlement Abstrak Kawasan Muara Baru mengalami kesenjangan kelas perumahan, kepadatan yang terlalu tinggi, kurangnya jumlah fasilitas yang inklusif, dan degradasi pergerakan serta citra fisik permukiman yang semakin buruk. Sebagian warga Muara Baru bermukim di bibir waduk. Diperlukan relokasi warga permukiman ilegal dari bibir waduk ke permukiman beraturan; adanya fasilitas pendukung untuk memenuhi kebutuhan mereka; peningkatan citra kawasan. Salah satu solusi arsitektur yang dapat diterapkan adalah kampung susun dengan fasilitas sosial dan umum, serta terletak di tapak baru. Tujuan perancangan adalah mengusulkan: solusi arsitektur yang dapat mewadahi seluruh warga permukiman ilegal bibir waduk; keruangan dan elemen desain Kampung Susun Modular yang dapat meningkatkan kesejahteraan warga bibir waduk, kualitas dan citra permukiman; Kampung Susun Modular yang dapat membuat citra baru permukiman Muara Baru dengan pengolahan massa bangunan dan ruang luarnya. Kajian literatur berisi teori mengenai perumahan kumuh, akupunktur perkotaan, citra kota, dan rumah susun sederhana sewa yang dapat diterapkan sebagai dasar perancangan. Metode desain berangkat dari pola permukiman ilegal eksisting yang bervariatif, kemudian membuat 3 tipe modul hunian, dan perwujudan susunan modul yang variatif dan beraturan. Dengan terciptanya kawasan permukiman beraturan melalui Kampung Susun Modular, proyek ini dapat menjadi akupunktur kawasan dan citra baru permukiman, serta nilai kawasan, ekonomi warga, pergerakan dapat ditingkatkan.
PENERAPAN STRATEGI FORM FOLLOW FUNCTION PADA DESAIN SISTEM DAN FASILITAS PENGOLAHAN SAMPAH KAIN, PLASTIK DAN KERTAS DI KECAMATAN GAMBIR Jessica Eleora; Budi Adelar Sukada
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 4 No. 2 (2022): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v4i2.22156

Abstract

The Gambir District, which is one of the oldest areas in the city of Jakarta, is an area which has many characteristics in it. This area has a variety of culinary places, tourist attractions, offices, etc., whereas each sector has its own different charm. One of the problems in the Gambir area lies in the lack of waste management, with garbage collection sites that are still openly dumped and not maintained as well as waste management facilities that are not functional. This design aims to improve and provide an example that recycling is a facility  can be implemented for the city of DKI Jakarta. Using the Form Follow Function method, this design study provides an architectural prototype design which can meet the needs of fabric, plastic, and paper waste processing which has its own characteristics in the Gambir area. Keywords:  Fabric; Gambir, Paper; Plastik; Waste Processing Abstrak Kecamatan Gambir, merupakan salah satu wilayah tertua di kota Jakarta, merupakan sebuah wilayah yang memiliki banyak ke-khasan di dalamnya. Kawasan ini memiliki beragam tempat kuliner, tempat wisata, perkantoran, dsb, dimana masing-masing sektor memiliki ke-khasan masing-masing. Salah satu permasalahan kawasan Gambir terletak dalam segi pengolahan sampah yang sangat kurang, dengan tempat penampungan sampah yang masih terbuka dan tidak terawat serta fasilitas-fasilitas pengelolaan sampah yang kurang fungsional. Perancangan ini bertujuan untuk memperbaiki dan memberikan contoh bahwa daur ulang adalah suatu fasilitas yang dapat diimplementasikan untuk kota DKI Jakarta. Menggunakan metode “Form Follow Function”, studi perancangan ini memberikan sebuah desain prototipe arsitektural yang dapat memenuhi kebutuhan pengolahan sampah kain, plastik dan kertas yang memiliki ke-khasan tersendiri pada kawasan Gambir.
HARMONI CENTER (PUSAT TRANSPORTASI DAN MAKANAN) DENGAN PENERAPAN STRATEGI INFILL DI KAWASAN HARMONI, JAKARTA PUSAT Nadira Rosa; Budi Adelar Sukada
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 4 No. 2 (2022): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v4i2.22158

Abstract

Transit Oriented Development (TOD) is an architectural design concept that emerged in the late 1980s. This concept is a combination of architectural design and transportation that considers how an architectural design can contribute to the principles of an efficient and sustainable city program. This design has been widely implemented in the world with different results. This is evidence that this design depends on various factors in the surrounding environment such as social, cultural, and environmental conditions. One application of this design concept which is influenced by environmental conditions is in the Harmoni area which is accommodated by various types of transportation such as Transjakarta, MRT, KRL, to city transportation (ANGKOT). This design concept can be combined using the Infill strategy, which is a design strategy that can fill unused land or buildings into an architectural design. The infill strategy is an effort to overcome excessive development so that conservation is carried out as an effort to maintain what we have wisely. Its application can be in the location of vacant land to unused buildings. The implementation of the infill strategy in the Harmoni area aims to revive activities in the area and its surroundings that are experiencing degradation or known as the Urban Acupuncture concept. Keywords: acupuncture; infill; transit; urban Abstrak Perancangan pusat transportasi adalah konsep perancangan arsitektur yang muncul pada tahun diakhir 1980-an. Konsep ini merupakan gabungan antara perancangan arsitektur dan transportasi yang mempertimbangkan bagaimana sebuah desain arsitektur dapat berkontribusi di prinsip program kota yang efisien dan berkelanjutan. Perancangan ini sudah banyak diimplementasikan di dunia dengan hasil yang berbeda-beda. Hal tersebut merupakan bukti bahwa perancangan ini bergantung  dari berbagai macam faktor di lingkungan sekitarnya seperti keadaan sosial, budaya, hingga keadaan lingkungannya. Salah satu penerapan konsep perancangan ini yang dipengaruhi oleh keadaan lingkunganya berada di kawasan Harmoni yang diakomodasi oleh berbagai macam transportasi seperti transjakarta, MRT, KRL, hingga angutan kota (ANGKOT). Konsep perancangan ini dapat digabungkan dengan menggunakan strategi Infill yaitu strategi desain yang dapat mengisi lahan atau bangunan tidak terpakai menjadi sebuah desain arsitektur. Strategi infill merupakan upaya dari mengatasi pembangunan yang berlebihan sehingga dilakukan konservasi sebagai upaya untuk memelihara apa yang kita punya secara bijaksana. Penerapannya dapat berada di lokasi lahan kosong hingga bangunan yang tidak terpakai. Penerapan strategi infill dalam kawasan Harmoni ini bertujuan untuk menghidupkan kembali aktivitas di kawasan dan sekitarnya yang mengalami degradasi atau dikenal sebagai konsep Urban Acupuncture.