Budi Adelar Sukada
Program Studi S1 Arsitektur, Fakultas Teknik, Universitas Tarumanagara

Published : 22 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 22 Documents
Search

PERANCANGAN BANGUNAN BAGI LANSIA PENSIUNAN BEREKONOMI RENDAH DI JAKARTA BARAT Brian Patrick; Budi Adelar Sukada
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 5 No. 2 (2023): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v5i2.24205

Abstract

Every human being will experience a phase of aging as well as us, from children to adults to old age is a natural process that humans experience. Elderly is a phase where humans are free from the responsibility to care for and provide for their children, whereas the elderly need care and assistance from their children and grandchildren. However, not all elderly people get the care and assistance they need and on the other hand, there are still elderly people who earn a living to meet their personal needs. There are still many elderly people who live with a low level of welfare, around 11.51% of the elderly population in Jakarta live in poverty according to BPS data in 2022. Elderly people who live within the poverty line usually find it difficult to meet their daily needs, which is caused several factors such as lack of income, and loss of income which causes a decrease in bodily functions which causes less productivity. There are also low-income elderly who receive social assistance from the government (KLJ), but can only reach the elderly who are physically and psychologically ill. Therefore, providing programs for the elderly to generate income is very important for the survival and well-being of the elderly. Empathize with creating jobs that suit the needs and abilities of the elderly and housing so that they can help the survival and welfare of the elderly, as well as commercial for the daily needs of the elderly. By applying the Healing Environment which is supported by natural, sensory, and psychological elements. Keywords:  elderly; empathy; housing; income; low econom; work Abstrak Setiap manusia akan mengalami fase penuaan begitu juga dengan kita, mulai dari anak menjadi dewasa hingga menjadi tua merupakan proses alamiah yang dialami manusia. Lansia merupakan fase dimana manusia telah bebas dari tanggung jawab untuk merawat dan menafkahi anak mereka, yang sebaliknya lansia butuh perawatan dan pendampingan dari anak maupun cucu mereka. Akan tetapi, tidak semua lansia dapat perawatan dan pendampingan yang dibutuhkan dan sebaliknya masih ada lansia yang mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan pribadinya. Masih banyak penduduk lansia yang hidup dengan tingkat kesejahteraan yang rendah, sekitar 11,51% penduduk lansia di Jakarta yang hidup dalam kemiskinan menurut data BPS pada tahun 2022. Lansia yang hidup dalam garis kemiskinan biasanya sulit untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, yang disebabkan beberapa faktor seperti kurangnya pendapatan, dan kehilangan pendapatan yang menyebabkan terjadinya penurunan fungsi tubuh yang menyebabkan kurang produktif. Ada pula lansia berekonomi rendah yang mendapatkan bantuan sosial dari pemerintah (KLJ), akan tetapi hanya dapat menjangkau lansia yang sakit secara fisik dan psikis. Oleh karena itu, Penyediaan program bagi lansia untuk menghasilkan pendapatan sangatlah penting untuk keberlangsungan hidup dan kesejahteraan lansia. Berempati dengan menciptakan lapangan pekerjaan yang sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan lansia dan hunian agar dapat membantu keberlangsungan hidup dan kesejahteraan lansia, serta komersial untuk kebutuhan sehari dari lansia. Dengan mengaplikasikan Healing Environment yang didukung oleh unsur alam, indera, serta psikologis.
SARANA ASUHAN BAGI ANAK YATIM PIATU AKIBAT COVID-19 Felix Jonathan; Budi Adelar Sukada
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 5 No. 2 (2023): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v5i2.24206

Abstract

Entering the Covid 19 era, it is estimated that more than 40,000 children will lose their parents. This created a generation of orphans. The problem of orphans has become a significant issue. Without parents, cognitive, affective, and motor needs are not fulfilled. Children also lose the figure of fulfilling economic needs and also direction for their future. Thus a generation with a bad moral perspective is formed where individuals do things that cross legal boundaries such as stealing, killing, etc. These criminal acts are a form of escape from feelings of trauma that have not yet been healed. Through the Empathy Architecture approach, the empathetic approach focuses on the main users, namely orphans. Human Centered Design is a design approach that takes into account creative ideas that solve the problems of orphans. Target users are separated into 2 categories, namely elementary school children and junior high school students. Prior to that, research was conducted with efforts to focus on orphans on how the role of architecture can meet the cognitive, affective, and motor needs of orphans. Interviews with psychology lecturers were carried out in an effort to add insight into the differences in the behavior of children who have a sense of trauma at this young age. Thus, it is hoped that understanding will lead to the implementation of the designs needed in healing the trauma problems of orphans, as well as providing direction for the child's future. The design will be based on the application of the Stimulating Environment concept, which is the design of a stimulating environment which encourages users to carry out body interaction activities with each other. With this approach the development of 3 ideas namely a stimulating environment, a multi-sensory environment, and positive distractions is used as a reference for whether the orphanage is architecturally effective in influencing the psychological problems of orphans. Design will stimulate the human senses which include the senses of sight, hearing, smell, taste, and touch. Thus it is hoped that the research process can produce designs that can be a means of care, a means of healing, and prepare children for their future. Keywords:   Child’s needs; Orphans; Trauma Abstrak Memasuki masa covid 19, diperkirakan lebih dari 40.000 anak akan kehilangan orangtuanya. Hal tersebut menciptakan generasi anak yatim piatu. Permasalahan anak yatim piatu telah menjadi isu yang signifikan.Tanpa adanya sosok orang tua, kebutuhan kognitif, afektif, dan motorik tidaklah terpenuhi. Anak juga kehilangan sosok pemenuhan kebutuhan segi ekonomi dan juga arahan atas masa depannya. Demikian terbentuklah generasi dengan perspektif moral yang buruk yang dimana individu melakukan hal yang melewati batas hukum seperti mencuri, membunuh, dll.Tindakan krimininalitas tersebut merupakan bentuk pelarian akan perasaan trauma yang belum sembuh. Melewati pendekatan Emphaty Architecture, pendekatan empati berfokus pada pengguna utama yaitu anak yatim piatu.Human Centered Design adalah pendekatan desain dengan memperhatikan ide kreatif yang menyelesaikan permasalahan anak yatim piatu.Target pengguna dipisahkan menjadi 2 kategori yaitu anak SD dan anak SMP.Sebelum itu penelitian dilakukan dengan upaya berfokus pada anak yatim piatu akan bagaimana peran arsitektur dapat memenuhi kebutuhan kognitif, afektif, dan motorik anak yatim piatu.  Wawancara pada dosen psikologi dilakukan dengan upaya menambah wawasan akan perbedaan tingkah laku anak yang memiliki rasa trauma pada usia muda ini. Dengan demikian diharapkan mendapatkan pemahaman mengarah pada implementasi desain yang diperlukan dalam menyembuhkan permasalahan trauma anak yatim piatu, serta memberikan arahan akan masa depan anak. Perancangan akan berprinsip pada penerapan konsep Stimulating Environment yang dimana perancangan lingkungan yang merangsang yang dimana mendorong pengguna untuk melakukan kegiatan interaksi tubuh satu sama lain. Dengan pendekatan tersebut pengembangan 3 gagasan yaitu lingkungan yang merangsang, lingkungan multi-indera, dan gangguan positif digunakan sebagai acuan akan apakah panti asuhan tersebut secara arsitektur efektif dalam mempengaruhi masalah psikologis anak yatim piatu. Desain akan merangsang indera-indera manusia yang meliputi indera pengelihatan, pendengaran, penciuman, pengecapan, dan sentuhan. Dengan demikian diharapkan proses penelitian dapat menghasilkan perancangan yang dapat menjadi sarana asuhan, sarana penyembuhan, serta menyiapkan anak untuk masa depannya.