Suwandi Supatra
Program Studi S1 Arsitektur, Fakultas Teknik, Universitas Tarumanagara

Published : 27 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 27 Documents
Search

GAYA HIDUP BERKELANJUTAN DI ATAS PULAU APUNG DI PULAU UNTUNG JAWA Samuel Prinardi Suteja; Suwandi Supatra
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 3, No 1 (2021): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v3i1.10795

Abstract

Humans had been living side by side with threats that are affecting human life, such threat in the future is the rising sea level. Mainly caused by global warming that results in several phenomenon which affects the increasing water volume on earth, this gives land dwellers a threat of being submerged especially island dwellers that had less land area. This causes great loss for the dwellers such as losing a home and source of livelihood. Therefore the function that is correct is a floating island that adapts with the rising sea levels and sustainable with purpose of fulfilling the needs of this floating island without harming the environment and maintaining tourism aspect by designing main function of the island as a tourism island and floating residence. Keyword: future; floating island; residence; sea level; submerged; tourismAbstrakManusia hidup berdampingan dengan ancaman yang mempengaruhi keberlangsungan hidup manusia, salah satunya di masa depan adalah meningkatnya permukaan air laut. Dilatar belakangi pemanasan global yang menyebabkan beberapa fenomena alam dan berdampak pada meningkatnya volume air pada bumi, sehingga masyarakat penghuni daratan memiliki ancaman berupa tenggelamnya daratan khususnya penghuni pulau yang memiliki luas daratan lebih kecil. Ancaman ini mengakibatkan kerugian yang besar bagi penghuni yang dapat kehilangan tempat berhuni serta sumber mata pencaharian utama. Oleh karena itu fungsi yang tepat adalah sebuah proyek pulau apung yang beradaptasi dengan ketinggian permukaan air laut serta mengadaptasi konsep sustainable sehingga dapat memenuhi kebutuhan pulau tersebut tanpa merusak lingkungan serta mempertahankan aspek pariwisata dengan menjadikan fungsi utama pulau sebagai pulau pariwisata dan hunian mengapung.
KAMPUNG KULINER SEHAT DI KEMANG Ferdian Ferdian; Suwandi Supatra
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 2, No 1 (2020): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v2i1.6773

Abstract

Unhealthy lifestyles, and the tendency of consumption of unhealthy foods/ junk food are the main causes of obesity. Third Place is the main theme of this research discussion. The issue discussed in this study is "How can a third place support a healthy lifestyle?" The location of the project is on Jl. Kemang raya, South Jakarta which is known for culinary. The site is located near offices, banks, fast food restaurants and furniture stores. The main purpose of this project is to become a place that facilitates the community to living  a healthy lifestyle through healthy food. This project supports the Sustainable Development Goals program regarding good health and well-being. The research method used in this study started by finding facilities / programs aimed at solving problems in an area. Then proceed with the process of designing a facility that will produce an amount scale of space in this project.  The results of this research is designing a building in the form of a “Healthy Culinary Village in Kemang / Healthy Culinary Village in Kemang”. This project have 5 main program in the form of Sharing Kitchen, Fresh Market, Dessert Bar, Restaurant, Cooking Class, Gym which aims to improve healthy lifestyles and reduce the level of obesity through culinary / healthy food. This project contributing to the environment by providing a Third place as a place to socialize for the community in the project area. Abstrak Pola hidup kurang sehat, serta kecenderungan konsumsi makanan yang tidak sehat/ junk food menjadi penyebab utama terjadinya obesitas. Third Place merupakan tema utama dari bahasan penelitian ini. Maka isu yang dibahas pada penelitian ini yaitu “Bagaimana sebuah Third place dapat mendukung pola hidup sehat?”. Lokasi proyek berada di Jl.Kemang raya, Jakarta Selatan yang merupakan kawasan yang terkenal akan kuliner. Lokasi tapak berada didekat perkantoran, bank, restoran cepat saji, dan toko furniture.Tujuan utama dari proyek ini yaitu menjadi sebuah tempat yang memfasilitasi masyarakat untuk menjalankan pola hidup sehat melalui makanan sehat. Hal ini juga bertujuan mendukung program Sustainable Development Goals perihal kesehatan yang baik dan kesejahteraan. Metode penelitian yang dilakukan pada penelitian ini dimulai dengan menemukan fasilitas/ program yang bertujuan menyelesaikan masalah dari sebuah kawasan. Kemudian dilanjutkan dengan proses mendesain fasilitas yang akan menghasilkan besaran ruang dalam proyek ini. Hasil penelitian ini yaitu mendesain bangunan berupa Kampung Kuliner Sehat di Kemang/ Healthy Culinary Village in Kemang. Proyek ini memiliki program utama berupa Sharing Kitchen, Fresh Market, Dessert Bar, Restaurant, Cooking Class, Gym yang bertujuan meningkatkan pola hidup sehat dan mengurangi tingkat obesitas melalui kuliner/ makanan sehat. Memberi kontribusi kepada lingkungan dengan menyediakan Third place sebagai wadah untuk bersosialisasi bagi masyarakat di kawasan proyek tersebut.
PUSAT RESTORASI EKOSISTEM: PENGEMBALIAN ALAM Heni Sofyani; Suwandi Supatra
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 1, No 2 (2019): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v1i2.4365

Abstract

Millenials  who is biological species continues to live in  artificial machine cities.  The needs of modern man invaded  the urban with buildings left no space for natural settings. Noticed that peoples started to plant trees one dear for living with nature : see, touch, feel, and be part of them. Indonesia is a country with the second longest coastal line in the world, but nowadays people aren’t take good care of the sea some bad phenomenon really happened particularly in the central city of Indonesia, Jakarta. In Ancol people throwing waste, the industry waste contaminated the sea and in result the sea ecosystem is unstable. The project Ecosystem Restoration Center in Ancol, Jakarta Utara with a purpose when this project is being built people can change their perspective on how to treat and in  contact with nature. Phenomenology and arhitecture types as a method to design this building, the result of theproject appear as the solution for millenials in the invaded city, an injection for balancing and perhaps regenerating the ecosystem of air, ground and sea. A fun and relax space for public realm to retrieve their dear of  nature, for them to exchange and shape a new then better behavior of them toward on how to treat and in contact the nature. Abstrak Milenial merupakan spesies biologis yang hidup di kota-kota ‘buatan’. Kebutuhan manusia modern sangat kompleks ruang kota berisi bangunan- bangunan dan tidak menyisakan ruang untuk alam/ area hijau. Memperhatikan bahwa orang-orang mulai membuat jalur hijau sebagai tanda bahwa mereka ingin hidup berdampingan dengan alam: melihat, menyentuh, merasakan, dan menjadi bagian dari alam. Indonesia adalah negara dengan garis pantai terpanjang kedua di dunia, tetapi saat ini manusia tidak merawat laut dengan baik, beberapa fenomena buruk benar-benar terjadi terutama di pusat kota Indonesia, Jakarta. Di Ancol orang membuang sampah sembarangan, limbah industri mencemari laut dan akibatnya ekosistem laut menjadi tidak stabil. Proyek Pusat Restorasi Ekosistem yang terletak di Ancol, Jakarta Utara ini bertujuan untuk mengubah perspektif manusia tentang cara merawat dan berinteraksi dengan alam. Penggunaan fenomenologi dan tipologi arsitektur sebagai metode untuk merancang bangunan ini, hasil proyek ini berupa solusi untuk milenial, injeksi untuk penyeimbangan dan meregenerasi ekosistem udara, darat dan laut. Ruang yang menyenangkan dan rileks bagi ranah publik untuk kembali bersama alam, ruang untuk bertukar dan membentuk perilaku baru yang lebih baik mengenai cara memperlakukan dan berhubungan dengan alam.
CAKUNG - PERTANIAN RAMAH LINGKUNGAN DIKAWASAN PERKOTAAN Joshua Keeve Tandra; Suwandi Supatra
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 3, No 1 (2021): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v3i1.10754

Abstract

In 2020, mankind throughout the world will be shaken by the Covid-19 which greatly affected people's lives and caused a lot of unrest. The Indonesian government implements a "at home" system. And with this regulation, many workers and factory workers have their salaries reduced, and some are given a termination policy even though they are still productive for work. So that the impact of Covid-19 will not only have an impact on health, the economy, but also on the workforce and also disrupt food security. The food sector is one of the sectors that is resilient in every crisis and as we know food is the main need of every society. Project "Eco-friendly Agriculture in the Cakung area" as a productive forum to accommodate the unemployed in the surrounding area due to layoffs so that they can get a job, learn, and improve their skills. Therefore this project is located in Cakung District, East Jakarta. This project is designed based on urban farming, which means farming in an urban environment using a hydroponic planting system for healthier production results. And through the results of field surveys and internet research, the site is close to PIK (Small Industry Center) which is an area that is a shopping center for people in the surrounding area which is dominated by the textile and food industry. So this building will also support the surrounding area, namely the PIK (Small Industry Center) by producing plants that can produce cloth fibers and also some staple and supporting foods that have fast harvest times so that they can produce quickly given the pandemic conditions that have resulted in increased demand. Therefore, this project is expected to minimize the issues raised. Keywords:  Covid-19; Urban Farming; Work Termination AbstrakTahun 2020 ini umat manusia diseluruh dunia digoncang dengan adanya pandemi Covid-19 yang sangat mempengaruhi kehidupan masyarakat dan menimbulkan banyak keresahan. Pemerintah Indonesia menerapkan sistem “dirumah aja”. Dan dengan adanya aturan ini membuat para pekerja dan buruh pabrik banyak yang dikurangi gajinya, dan beberapa diberi kebijakan Pemutusan Hubungan Kerja padahal masih produktif untuk bekerja. Sehingga dampak Covid-19 tidak hanya berdampak pada kesehatan, perekonomian, tetapi juga pada Tenaga Kerja dan juga mengganggu ketahanan pangan. Sektor pangan merupakan salah satu sektor yang tahan disetiap krisis dan seperti yang kita tahu pangan merupakan kebutuhan utama setiap masyarakat. Proyek “Pertanian Ramah Lingkungan dikawasan Cakung” sebagai wadah produktif untuk menampung para pengangguran dikawasan sekitar akibat PHK agar mereka mendapat pekerjaan, belajar, dan meningkatkan keterampilan mereka. Maka dari itu proyek ini berlokasi di Kecamatan Cakung, Jakarta Timur. Proyek ini dirancang berbasis urban farming yang dalam arti bercocok tanam dilingkungan perkotaan dengan menggunakan sistem tanam hidroponik agar hasil produksi lebih sehat. Dan melalui hasil survei lapangan dan riset internet, lokasi tapak berdekatan dengan PIK (Pusat Industri Kecil) yang merupakan area yang menjadi pusat perbelanjaan orang-orang dikawasan sekitar yang didominasi dengan industri tekstil dan makanan. Maka bangunan ini juga akan mendukung kawasan sekitar yaitu PIK (Pusat Industri Kecil) dengan memproduksi tanaman yang dapat menghasilkan serat kain dan juga beberapa makanan pokok dan pendukung yang memiliki waktu panen yang cepat agar dapat produksi dengan cepat mengingat kondisi pandemi yang mengakibatkan peningkatkan kebutuhan. Oleh sebab itu proyek ini diharapkan dapat menimalisir isu yang diangkat.
KOMUNITAS SWASEMBADA BEBAS POLUSI KARBON DI RUSUN TANGERANG SELATAN Hansen Jeremy Rahardjo; Suwandi Supatra
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 3, No 2 (2021): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v3i2.12341

Abstract

Earth's ecologies are getting worse every year, our earth's temperature has reached 1.2 degrees Celsius hotter than the pre-industrial times, the rapid development of humans seems to have "sacrificed" the ecological balance of earth. Global warming is one of the biggest problems that all inhabitants of the earth must help solve, we can feel its impact on especially the following 3 factors, namely food security (scarcity of food, etc.), water security (scarcity of clean water, etc.) and our health (change of climate, temperature, etc.). Small things such as our daily activities also play a big role global warming, where in fact the building and residential sector contributes up to 6% of this total problem, starting from the use of electrical energy, gas, to the waste that we produce from our homes every day. The problem is that along with times, of course, the number of people will continue to grow, residential needs in the future will be higher than ever before. Through this project, the author tries to change the residential concept that currently exists, integrating environmentally sustainable technology in residents, especially for the Jakarta area as the capital city of Indonesia, which is growing very fast (about 1% per year) and has now reached 10 million people (15 million is estimated by 2030). The existing eco-friendly technology will be applied into an architectural integration that also creates a self-sustaining life for its residents (generating their own needs), which is not only environmentally friendly but also reduces the daily living costs of the residents. In hope that it can be a pioneer of future residential trends in the future. Keywords: global warming; Jakarta; residential; sustainable.AbstrakEkologi bumi kian tahun kian memburuk, Suhu bumi telah meningkat 1,2 derajat celcius dari masa pra-industri. Perkembangan pesat manusia seakan-akan “mengorbankan” keseimbangan ekologi bumi ini. Pemanasan Global adalah salah satu masalah terbesar yang seluruh penghuni bumi harus turut bantu selesaikan bersama, tanpa solusi yang jitu dampaknya akan terasa pada 3 faktor berikut, yaitu food security (kelangkaan makanan, dll), water security (kelangkaan air bersih, dll) dan kesehatan kita (perubahan iklim, suhu, dll). Kegiatan terkecil kita sehari-hari pun berperan dalam permasalahan global warming ini. Faktanya sektor bangunan dan residensial berkontribusi hingga 6% dari keseluruhan permasalahan ini, mulai dari penggunaan energi listrik, gas, hingga limbah yang kita hasilkan dari rumah setiap harinya berdampak besar bagi dunia. Masalahnya, kebutuhan residensial kedepannya akan lebih tinggi daripada sebelumnya seiring dengan pertumbuhan jumlah penduduk dunia. Melalui proyek ini, penulis mencoba mengubah konsep residensial yang saat ini ada, mengintegrasikan teknologi ramah lingkungan pada residensial, khususnya bagi lingkungan provinsi Jakarta sebagai ibukota negara Indonesia yang pertumbuhannya sangat cepat (sekitar 1% per tahun) saat ini sudah mencapai angka 10 juta penduduk (15 juta diperkirakan pada tahun 2030). Teknologi ramah lingkungan yang sudah ada diterapkan kedalam sebuah integrasi arsitektural yang juga menciptakan self-sustaining life bagi penghuninya (menghasilkan kebutuhan sendiri), dimana tidak hanya ramah lingkungan tetapi juga mengurangi biaya hidup sehari-hari penghuninya. Diharapkan agar bisa menjadi pelopor tren residensial masa depan kedepannya.
TEMPAT PELATIHAN INDUSTRI KONVEKSI : TIPOLOGI BARU SEBAGAI PENDEKATAN DISAIN Alifia Lufthansa; Suwandi Supatra
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 1, No 2 (2019): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v1i2.4576

Abstract

Demographic Dividend and Industrial Revolution 4.0 seems to be a problem currently being faced of the government. Demographic Dividend is an opportunity for Indonesia if it is well prepared because this productive age population can sustain non-productive age. At present the government focuses on industries that are driving the development of the industrial revolution 4.0, especially food and beverages, electronics, automotive, textiles and chemicals. One effort that can be done is to make training for the productive age population (millennial). The target of this training place is the productive age who have not worked, productive age who have worked but want to improve their skills, lay people who need the provision of knowledge and skills in the field. The selected project locations have the following qualifications: representing large industrial estates, densely populated populations with high productive ages, the number of productive ages who are winners. From these qualifications, the Cakung area was chosen as the project location. Tread is in Cakung Barat, East Jakarta. In Cakung itself Jakarta Industrial Estate Pulogadung (JIEP) and the Perkampungan Industri Kecil (PIK) still exist today. According to the data obtained, the convection industry is mostly found in the Cakung region. For this training place to concentrate on the industrial convection. AbstrakBonus Demografi dan Revolusi Industri 4.0 nampaknya menjadi isu yang saat ini sedang difokuskan pemerintah. Bonus Demografi menjadi peluang bagi Indonesia jika dipersiapkan dengan baik karena penduduk usia produktif ini dapat menanggung usia non produktif.  Saat ini pemerintah fokus di industri yang menjadi pendorong perkembangan revolusi industri 4.0, yakni makanan dan minuman, elektronik, otomotif, tekstil, dan kimia. Salah satu upaya  yang dapat dilakukan adalah membuat wadah pelatihan bagi  penduduk usia produktif (millenial). Target tempat pelatihan ini adalah usia produktif yang belum bekerja, usia produktif yang sudah bekerja namun ingin meningkatkan skillnya, masyarakat awam yang membutuhkan pembekalan ilmu dan keterampilan di bidang tersebut. Lokasi proyek terpilih memiliki kualifikasi sebagai berikut : merupakan kawasan industri besar, kepadatan penduduk dengan usia produktif yang tinggi, banyaknya usia produktif yang menjadi pengangguran. Dari kualifikasi tersebut terpilihlah kawasan Cakung yang menjadi lokasi proyek. Tapak berada di Cakung Barat Jakarta Timur . Di Cakung sendiri sudah terdapat Jakarta Industrial Estate Pulogadung (JIEP) dan Perkampungan Industri Kecil (PIK) Pulogadung yang masih eksis sampai sekarang. Menurut data yang diperoleh, industri konveksi paling banyak terdapat di wilayah Cakung. Sehingga tempat pelatihan ini dikonsentrasikan untuk industri konveksi.
FASILITAS PEMENUHAN KEBUTUHAN AIR BERSIH UNTUK MASYARAKAT PENJARINGAN Bernadeth Shirley Wiratmo; Suwandi Supatra
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 3, No 2 (2021): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v3i2.12477

Abstract

Penjaringan, North Jakarta is an area that does not have access to a reliable source of clean water. The area, the most densely populated area and with a high poverty rate in North Jakarta, does not have access to the widely used water sources, namely well water and PAM. Due to the weak soil (Penjaringan Village is an area with a land subsidence of more than 80 cm in a period of ten years) and salty and polluted water, the community depends on water they can acquire at retail for a rather expensive price (Rp. 600,000, - per day) and the water provided by the government which is very limited in quantity. For people who couldn’t get water from these two sources, they would use polluted water (both ground water and water from alternative sources such as reservoirs) which then results in the number of sick people rising. Of course, the use of Pluit Reservoir water has the potential to be a solution to the Penjaringan clean water crisis, but after going through a purification process. Having the ability to process dirty and polluted Pluit Reservoir water into clean and potable water, research to improve clean water quality, provide education and introductions about water purification systems and their treatments, and of course a provide clean and potable water for the daily needs and consumption for people of Penjaringan, is the purpose of Fasilitas Pemenuhan Kebutuhan Air Bersih untuk Penjaringan. Keywords: research center; water crisis; water treatment. AbstrakWilayah Penjaringan, Jakarta Utara merupakan wilayah yang tidak memiliki akses sumber air bersih yang handal. Kelurahan yang merupakan wilayah terpadat dan dengan tingkat kemiskinan yang tinggi di Jakarta Utara tersebut tidak memiliki sumber air pada umumnya yaitu air sumur dan PAM. Dikarenakan kondisi air di dalam tanah yang asin, tercemar, dan lemah (Kelurahan Penjaringan merupakan wilayah dengan penurunan permukaan tanah lebih dari 80 cm dalam kurun waktu sepuluh tahun), masyarakat bergantung pada air bersih yang dapat dibeli eceran yang tergolong mahal (Rp. 600.000,- per bulan) dan air bersih bantuan pemerintah yang sangat terbatas kuantitasnya. Bila tidak dapat memperoleh air bersih dari kedua sumber tersebut, maka masyarakat menggunakan air yang tercemar (baik air tanah maupun air dari sumber alternatif seperti waduk) yang kemudian berakibat pada penurunan kondisi fisik. Tentu, penggunaan air Waduk Pluit memiliki potensi untuk menjadi solusi krisis air bersih Penjaringan, tetapi setelah melalui proses penjernihan. Memiliki kemampuan memproses air Waduk Pluit yang kotor dan tercemar menjadi air bersih dan layak minum, riset dan penelitian untuk mengembangkan kualitas air bersih, memberikan edukasi dan pengenalan tentang sistem penjernihan air dan perawatannya, dan tentunya tempat masyarakat Penjaringan dapat memperoleh air bersih yang dapat digunakan untuk kebutuhan sehari-hari dan konsumsi, merupakan tujuan perancangan Fasilitas Pemenuhan Kebutuhan Air Bersih untuk Masyarakat Penjaringan.
SIMPUL TEKNOLOGI AKTIF DAN KREATIF Emanuel Christian; Suwandi Supatra
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 2, No 2 (2020): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v2i2.8607

Abstract

Living and growing up in urban areas with various pressures, both from home or work/school, makes people have a higher stress level. People whom lives in the city need a space in between home (first place) and a place of work / study (second place), namely the third place. Third place is important for the people because it is a place where they can be themselves, freely channel their talents and interests, as well as socializing and maintaining fitness in the midst of the busy city. Therefore, a need rises for an architectural manifestation in the form of a third place with a creative hub to channel ideas, creativity, talents, and interests and active space to maintain fitness, socialize, and build community. Penjaringan is also home to various types of communities, ranging from people with gardening activity units communities. The location of the site which is located in Penjaringan surrounded by agribusiness industrial buildings, and residential areas makes the Active Creative Technology  Hub a strategic third place and able to accommodate various needs of the third activities of Penjaringan community and its surroundings. The design methodology used is trans-programming method by Bernard Tshumi which places two programmes that are not normally associated with each other together.  Active Creative Technology Hub as a third place project is designed to be a place for sustainable community development, a place in between for the people of Penjaringan, and to make the environment more lively and pleasant. Keywords:  Active; Activity; Community; Creative; SocialAbstrakTinggal di daerah kota membuat masyarakat memiliki tingkat stres yang tinggi yang disebabkan oleh berbagai tekanan, baik dari rumah maupun tempat kerja atau sekolah. Masyarakat kota membutuhkan ruang antara tempat tinggal (first place) dan tempat kerja/ belajar (second place) yaitu third place. Kehadiran sebuah third place penting bagi masyarakat kota untuk menjadi tempat di mana mereka bisa menjadi diri sendiri, bebas menyalurkan bakat dan minat. Oleh karena itu, muncul kebutuhan akan sebuah perwujudan arsitektur berupa third place dengan creative hub untuk menyalurkan ide, kreativitas, bakat, dan minat serta active space untuk menjaga kebugaran, bersosialisasi, dan membangun komunitas. Kelurahan Penjaringan merupakan wilayah bagian dari Jakarta Utara yang berkembang dan memiliki kawasan yang sangat ramai. Selain itu di Kelurahan Penjaringan juga terdapat kawasan rumah tinggal dengan keterbatasan lahan sehingga tidak ada wadah bagi kegiatan hobi dari masyarakat. Lokasi tapak juga dikelilingi oleh bangunan dengan fungsi industri terkait mesin terkait agrobisnis, termasuk industri berskala kecil yang dijalankan oleh masyarakat sekitar. Metode perancangan yang digunakan adalah metode trans-programming oleh Bernard Tschumi yang mengkombinasikan dua program yang sifat dan konfigurasi spasialnya berbeda tanpa melihat kecocokannya. Proyek  Simpul Teknologi Aktif & Kreatif sebagai sebuah third place  berusaha untuk menjadi wadah bagi pembangunan komunitas, sebagai pendukung bagi masyarakat sekitar melalui penyediaan fasilitas edukatif, menjadi tempat perantara bagi masyarakat Kelurahan Penjaringan, serta membuat suasana semakin hidup dan menyenangkan.
WADAH MUSIK INDIE LOKAL Yohanes Rheza; Suwandi Supatra
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 2, No 1 (2020): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v2i1.6763

Abstract

Individualism is one of the issues that occur in people's lives. One of the causes is one’s habit in spending most of their time working and resting at home and without social activities that can be done every day with other individual, furthermore with the existence of social media that makes humans able to communicate with electronic devices and not meeting directly. The main issue is "Open Architecture as a Third Place" which discusses how to create a place that can become a Third Place as a gathering place for communities to socialize and as an informal public place. Another issue is Indie Music as a genre of music that is becoming a trend in the music industry today. The project site is located at Jalan Cikini Raya in Central Jakarta, known as one of the arts and tourism areas with Taman Ismail Marzuki as the center of arts and culture. The aim of this project is to create a Third Place where the society can become a community and to support indie musicians in making music and developing their abilities. The research methods used in this research are Site Survey, Literature Study and Precedent Study. The result obtained is the design of the building "Local Indie Music Quarter". The main programs in this project are the Indie Bar, Community Space, Music Studio, Music Store and Music Class that aim to facilitate social activities of the community together with indie music that can embrace the community into one community together. AbstrakIndividualisme merupakan salah satu permasalahan yang terjadi dalam kehidupan masyarakat. Hal ini disebabkan oleh salah satunya kebiasaan manusia dalam menghabiskan sebagian besar waktunya bekerja dan beristirahat di rumah dan tanpa adanya kegiatan sosial yang dapat rutin dilakukan setiap hari dengan sesamanya, apalagi dengan adanya media sosial yang membuat manusia dapat berkomunikasi hanya dengan perangkat elektronik dan tidak bertemu secara langsung. Isu utama yang diangkat adalah “Open Architecture sebagai Third Place” yang membahas tentang bagaimana menciptakan sebuah tempat yang dapat menjadi Third Place sebagai tempat berkumpulnya komunitas masyarakat untuk bersosialisasi dan sebagai tempat publik informal. Isu lain yang di angkat adalah Musik Indie sebagai aliran musik yang sedang menjadi trend dalam industri musik saat ini. Lokasi proyek berada di Jalan Cikini Raya di Jakarta Pusat, yang dikenal sebagai salah satu kawasan seni dan wisata dengan adanya Taman Ismail Marzuki sebagai pusat kesenian dan kebudayaan. Tujuan dari proyek ini adalah menciptakan sebuah Third Place yang dapat menjadi tempat berkumpulnya masyarakat untuk berkomunitas dan untuk mendukung musisi indie dalam berkarya dan mengembangkan kemampuannya. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah Survey Lapangan, Studi Literatur dan Studi Preseden. Hasil penelitian yang didapatkan adalah perancangan bangunan sebagai “Wadah Musik Indie Lokal”. Program utama dalam proyek ini yaitu Indie Bar, Community Space, Music Studio, Music Store dan Music Classes yang bertujuan untuk mewadahi aktivtias sosial masyarakat bersamaan dengan musik indie yang dapat merangkul masyarakat menjadi satu komunitas bersama.
“MANGGARAI TRANSIT HUB” TERINTEGRASI DENGAN HUNIAN VERTIKAL Lucky Brian Hartono; Suwandi Supatra
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 4 No. 2 (2022): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v4i2.22136

Abstract

The city of Jakarta is now a center for mobility activities with various fields carried out by the community every day. However, the vastness of the city of Jakarta causes a lack of effective control and planning of space and functions in each area. Because of this, there is regional degradation and negative spaces such as slums and illegal settlements and abandoned buildings arise. In addition, less affordable modes of transportation between important places are present around the area. Therefore, it is necessary to have a building with the function of a housing program and public transportation transit space that is affordable by urban communities. The Manggarai area is a major transit center point that has existed since the Dutch colonial period and has a function as a large center for public transportation such as trains and city buses. However, it can be seen from the existing area, that there is no increase in regional development and the emergence of many negative and inefficient spaces in the use of space in the Manggarai area. One of issues is the slum settlement that have been built on the riverbanks and side of   railway line, causing insufficient indoor and outdoor space in the Manggarai area. The design method is "Contextual" which is applied with a contextual approach that occurs in the Manggarai area. In conclusion, the project will be a mixed-used building in which there is a vertical residential activity program and presents a transit space for transportation modes by applying a spatial atmosphere that characterizes the locality of the Manggarai area. The design of the Transit Hub is designed with the implication of aspects of area characterization and saving energy and being able to facilitate the community in activities. Keyword : housing; settlement; transit Abstrak Kota Jakarta kini menjadi pusat mobilitas kegiatan dengan berbagai bidang yang dilakukan oleh masyarakat setiap harinya. Namun, luasnya kota Jakarta menyebabkan kurangnya pengontrolan dan perencanaan ruang dan fungsi di setiap kawasan secara efektif. Karena itu, terjadi adanya degradasi kawasan dan timbul ruang-ruang negatif seperti permukiman kumuh dan ilegal serta bangunan yang terbengkalai. Selain itu, Moda transportasi yang kurang terjangkau antar tempat penting yang hadir di sekitar kawasan. Maka itu, dibutuhkan hadirnya sebuah bangunan dengan fungsi program hunian dan ruang transit transportasi umum yang terjangkau oleh masyarakat perkotaan. Kawasan Manggarai merupakan satu titik pusat transit besar yang sudah ada sejak masa kolonial belanda dan memiliki fungsi sebagai pusat besar moda transportasi umum seperti Kereta api dan Bus kota. Namun, terlihat melalui eksisting kawasan, pengembangan kawasan tidak ada peningkatan dan timbulnya banyak ruang-ruang negatif dan tidak efisien dalam pemanfaatan ruang pada kawasan Manggarai. Salah satu isu utama yaitu permukiman kumuh yang terbangun di bantaran sungai dan sisi jalur kereta api menyebabkan kurang memadainya ruang luar maupun dalam Kawasan Manggarai. Metode perancangan yang digunakan adalah “kontekstual” yang diterapkan dengan pendekatan kontekstual yang terjadi pada Kawasan Manggarai. Sebagai kesimpulan , proyek akan berupa sebuah mixed-used building yang didalamnya terdapat program aktivitas hunian secara vertikal dan menghadirkan ruang transit moda transportasi dengan menerapkan adanya suasana ruang mengkarakterisasi lokalitas dari kawasan Manggarai. Perancangan Transit Hub dirancang dengan adanya mengimplikasikan aspek karakterisasi Kawasan dan hemat energi serta mampu memudahkan masyarakat dalam aktivitas.