Suwandi Supatra
Program Studi S1 Arsitektur, Fakultas Teknik, Universitas Tarumanagara

Published : 27 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 27 Documents
Search

FASILITAS KESEHATAN MENTAL DI TANGERANG SELATAN Garreth Malcolm Rolland; Suwandi Supatra
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 4, No 1 (2022): APRIL 2022
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v4i1.16860

Abstract

Jakarta is a city with very rapid population growth, so that Jakarta is a busy, dense, and bustling city. As a result of the existing busyness causes people's health to decline due to lack of exercise. Green open space is getting less and less, as if it doesn't provide a place for people to breathe. Meanwhile, there is a close relationship between space and public health, and how the role of architecture in helping a person's healing process, as well as maintaining the physical and mental health of the community. This study aims to produce a concept and design of a fitness facility building that can assist the community in preventing health decline and overcoming mental fatigue due to busy daily activities. By using a biophilic design approach and incorporating the concept of tourism into a fitness facility, the design will emphasize the connectivity between the environment, buildings and humans both directly and indirectly. So that it can attract people's interest to exercise and help overcome people's mental fatigue. Low-calorie restaurants at the fitness facilities here also play a role in helping to maintain the nutritional balance of the community, because to achieve a healthy and fit lifestyle it must be balanced with a healthy and regular diet. The low-calorie restaurant is surrounded by small gazebos, each of which is used as a food-making process in the low-calorie restaurant. Starting from planting hydroponic vegetables, then washing them, then taking them to the gazebo of the cooking room. There is also a packaging area and a hydroponic vegetable sales area. In addition, there is also a fishing area that aims to release the stress of its users. Keywords: Fitness Facility; Green Open Environment; Public Space; Healthy Life TravelAbstrakJakarta merupakan kota yang pertumbuhan penduduknya sangat pesat, sehingga Jakarta menjadi kota yang sibuk, padat, dan ramai. Akibat kesibukan yang ada menyebabkan kesehatan masyarakat menurun akibat kurang berolahraga. Ruang terbuka hijau pun kian lama semakin berkurang, seakan tidak menyediakan tempat bagi masyarakat untuk bernafas. Sementara itu terdapat kaitan erat antara ruang dan kesehatan masyarakat, dan bagaimana peran arsitektur dalam membantu proses penyembuhan seseorang, serta menjaga kesehatan jasmani maupun kesehatan mental masyarakatnya. Studi ini bertujuan menghasilkan suatu konsep dan rancangan bangunan fasilitas kebugaran yang dapat membantu masyarakat dalam mencegah penurunan kesehatan dan mengatasi lelah mental akibat kesibukan aktivitas sehari-hari. Dengan menggunakan pendekatan biophilic design serta menggabungkan konsep wisata ke dalam fasilitas kebugaran, desain akan menekankan konektivitas antara lingkungan, bangunan dan manusia baik secara langsung dan tidak langsung. Sehingga dapat menarik minat masyarakat untuk berolahraga serta membantu mengatasi lelah mental masyarakat. Restoran rendah kalori pada fasilitas kebugaran disini juga berperan dalam membantu menjaga keseimbangan gizi masyarakat, karena untuk mencapai pola hidup sehat dan bugar harus diimbangi dengan pola makan yang sehat dan teratur. Restoran rendah kalori dikelilingi oleh gazebo-gazebo kecil yang masing-masing gazebo tersebut difungsikan sebagai proses pembuatan makanan yang ada pada restoran rendah kalori tersebut. Mulai dari penanaman sayur hidroponik, kemudian di cuci, lalu dibawa menuju gazebo ruang masak. Terdapat pula area packaging dan area penjualan sayur hidroponik. Selain itu juga terdapat area pemancingan yang bertujuan untuk melepaskan stress penggunanya.
HUB KREATIF AUDIO DAN VISUAL DI KEBAYORAN BARU Yoshua Triwisnu Haryanto; Suwandi Supatra
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 2, No 2 (2020): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v2i2.8606

Abstract

Jakarta, which is the center of the national economy, is facing Bonus Demographic and Industry Revolution 4.0 phenomenons. If both of these phenomena are well managed they will bring positive impacts to Indonesia, especially Jakarta. However these phenomenons threaten workers with repetitive types of works and civils at their productive age. The creative industry is one example of an unrepetitive work, and still needs development. This project aims to create social interaction space within the district of Kebayoran Baru via audio and visual arts. And in helping to develop and prepare communities to face challenges in the creative industry. In conducting this research, the methods used are: First, the descriptive method of conducting literature studies, observations, and documentation. Secondly, the metaphor method is metaphorizing Wayang Theater into a physical form of architecture. Keywords: Creative Industries; Industry Revolution 4.0; Productive Age; SocializationAbstrakJakarta yang menjadi pusat perekonomian negara sedang mengalami Bonus Demografi dan Revolusi Industri 4.0. Di mana jika kedua fenomena ini dikelola dengan baik maka akan membawa dampak positif bagi Indonesia, terutama Jakarta. Namun hal ini mengancam para pekerja dengan jenis pekerjaan yang repetitif dan para penduduk di usia produktif. Industri kreatif merupakan salah satu contoh dari pekerjaan yang tidak repetitif, dan masih butuh pengembangan di bidang tersebut. Proyek ini bertujuan agar terciptanya ruang interaksi sosial di dalam Kecamatan Kebayoran Baru dalam wadah seni audio dan visual. Serta dalam membantu mengembangkan dan menyiapkan masyarakat dalam menghadapi tantangan dalam industri kreatif. Dalam melakukan penelitian ini, metode yang digunakan adalah: pertama, metode deskriptif yaitu melakukan studi literatur, observasi, dan dokumentasi. Kedua, metode metafora yaitu mengibaratkan Teater Wayang menjadi bentuk fisik arsitektur.
WADAH SOSIAL : OLAHRAGA DAN KETERAMPILAN Riando Agustian; Suwandi Supatra
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 2, No 1 (2020): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v2i1.6766

Abstract

The need for third place increased based on an increase in the number of necessities of life and economic growth which resulted in the community only focusing on finding a higher income than before, which caused an increase in stress levels. This is also made worse by the lack of social facilities that can be used by the community to socialize. Therefore the writer wants to try to make a third place for the community around the chosen location. The chosen location is on Jalan Kayu Putih Raya which is a residential area for most industrial workers in the Pulo Gadung industrial area. The choice of location chosen was also based on the results of the field survey which showed that there was still a lack of means for the community to get free entertainment and a place to gather and socialize among the people. In designing this project, the writer also included macro, mezo, and micro site analysis in the consideration of making this project. So that the resulting project can be in accordance with the surrounding environment. In determining the program, the authors also include the results of the questionnaire as a consideration in determining the right program for the community around the project. In the end this project can be designed by the writer with data collected from around the project location and is expected to be used optimally by the surrounding community.AbstrakKebutuhan akan tempat ketiga (third place) semakin meningkat yang didasari oleh peningkatan angka kebutuhan hidup dan pertumbuhan ekonomi yang mengakibatkan masyarakat hanya terfokus untuk mencari pendapatan yang lebih tinggi dari sebelumnya, sehingga menimbulkan tingket stress yang meningkat. Hal ini juga diperburuk dengan sedikitnya sarana sosial yang dapat digunakan oleh masayarakat sebagai wada bersosialisasi.  Oleh sebab itu penulis ingin mencoba untuk menciptakan tempat ketiga (third place) bagi masyarakat disekitar lokasi terpilih. Lokasi yang terpilih adalah di jalan Kayu Putih Raya yang merupakan kawasan perumahan bagi sebagian besar pekerja industri yang ada pada kawasan industri Pulo Gadung. Pemilihan lokasi terpilih juga didasari oleh hasil survei lapangan yang menunjukan masih minimnya sarana bagi masyarakat untuk dapat mendapatkan hiburan yang bersifat tidak berbayar dan tempat untuk berkumpul dan bersosialisasi antar masyarakat. Dalam mendesain proyek ini penulis juga turut serta memasukan analisa tapak secara makro, mezo, dan mikro kedalam pertimbangan pembuatan projek ini. Sehingga projek yang dihasilkan dapat sesuai dengan lingkungan sekitar. Dalam menentukan program penulis juga memasukan hasil kuesioner dalam pertimbangan dalam menentukan program yang tepat bagi masyarakat pada sekitar proyek. Pada akhirnya projek ini dapat didesain oleh penulis dengan data-data yang dikumpulan dari sekitar lokasi proyek dan diharapkan dapat digunakan secara maksimal oleh masyarakat sekitar. 
KOMUNITAS SOSIAL “SIGER” DI LAMPUNG Hiskia Given Stehan; Suwandi Supatra
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 3, No 1 (2021): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v3i1.10758

Abstract

Basically, humans are not far from all kinds of things that are related to social matters, both personally and in groups, and have been around for centuries, which have been summarized or adhered to by the traditions that characterize humans in a place. However, over time, the early traditions became lost and replaced in the form of global modernization which indirectly changed the form of early social activities. Because of this shift in social activities, the relationship with the community at the top level shifted slightly because the traditional relationship also shifted. It is the problem that has arisen as a result of this shift that causes human dwelling begin to change. Therefore, the aim of this result is to fuse social problems between the community at the top level and the surrounding community with modern forms within the scope of traditions which are the source of social life. Because within the scope of the people of Lampung, the unifier of the community is the symbol of Siger which will be the center of the design results.Keyword: Dwelling; Humans; Modernization; Siger; Traditions Abstrak Manusia pada dasarnya tidak jauh dari segala macam hal yang bersangkutan pada hal sosial, baik secara personal dan kelompok, dan sudah ada sejak dari abad lama yang dirangkum atau dianut secara adat tradisi yang menjadi ciri khas manusia di suatu tempat.  Namun seiring berjalannya waktu, tradisi awal menjadi menghilang tergantikan dalam bentuk modernisasi dari global yang secara tidak langsung mengganti bentuk kegiatan sosial awal. Karena adanya pergeseran kegiatan sosial tersebut, maka hubungan dengan masyarakat dengan tingkat atas sedikit bergeser karena hubungan tradisi yang juga bergeser. Masalah yang timbul akibat pergesaran inilah yang membuat bentuk berhuni manusia mulai berubah. Maka dari itu, tujuan dari hasil ini untuk melebur masalah sosial antara masyarakat dengan tingkat teratas maupun masyarakat sekitarnya dengan bentuk yang modern dalam lingkup adat tradisi yang menjadi sumber kehidupan bersosial. Karena dalam lingkup masyarakat Lampung, maka sebagai pemersatu masyarakat adalah berlambang Siger yang akan menjadi pusat dari hasil perancangan.
PENGHIBURAN DALAM RUANG KESENDIRIAN Gita Atika; Suwandi Supatra
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 3, No 1 (2021): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v3i1.10734

Abstract

In 2020, the Corona Virus is attracting the world's attention. Various fields have been affected by the Covid-19 pandemic, thus affecting the mental health of people who are affected or not. The phenomenon that humans experience in this pandemic is a kind of detachment or removal from reality. Depression, anxiety, aggression, poor self-esteem, stress and decreased sexual arousal, these symptoms are negative mood conditions and this is not good if there is no treatment. The title of the design that will be discussed is Solace in Solitude Space. To improve a low mood requires small changes in one's own life, namely the solitude space. In solitude, people disconnect from the outside and connect to the internal. This mindset seems to spark creativity and inner strength, it helps people get to know themselves better and map their lives in an authentic way. Solitude has the potential as an answer to negative mood states. The method used in this design is cognitive-style and salutogenic approach which translates the Five Senses with Dwelling as a concept in design and produces an area of solitude through the Five Senses. The location was in an area close to the university, namely Daan Mogot Mandiri University, because students had the highest levels of depression and anxiety. The project is located on 2 sites adjacent to the distribution of residential and pavilion functions. Residential as a solitude area with private zoning and pavilions as supporting solitude areas with general zoning. Keywords:  Lima Panca Indra; Negative Mood; Solitude Abstrak Pada tahun 2020, Virus Corona menyita perhatian dunia. Berbagai macam bidang terkena dampak oleh pandemi Covid-19, hingga mempengaruhi kesehatan mental masyarakat baik yang terkena atau yang tidak. Fenomena yang dialami manusia pada pandemi ini semacam detachment atau penghapusan dari kenyataan.  Kondisi depression, anxiety, aggression, poor self-esteem, stress dan penurunan sexual arousal, gejala-gejala tersebut merupakan kondisi mood negatif (Negative Mood) dan hal ini tidak baik bila tidak ada penanganan. Judul perancangan yang akan dibahas yaitu Penghiburan dalam Ruangan Kesendirian. Untuk meningkatkan suasana hati yang rendah perlu perubahan kecil dalam kehidupan diri yaitu dengan ruang kesendirian. Dalam kesendirian, orang memutuskan koneksi ke luar dan terhubung ke internal. Pola pikir ini tampaknya memicu kreativitas dan kekuatan batin seseorang, hal ini membantu orang mengenal diri sendiri lebih baik dan memetakan kehidupannya dengan cara yang otentik. Kesendirian berpotensi sebagai jawaban pada keadaan mood negatif. Metode yang digunakan dalam perancangan ini adalah cognitive-style dan pendekatan salutogenic yang menerjemahkan Lima Panca Indra dengan Dwelling sebagai konsep pada perancangan dan menghasilkan area kesendirian melalui Lima Panca Indra. Lokasi berada di area dekat dengan universitas, yaitu Universitas Mandiri Daan Mogot, dikarenakan mahasiswa memiliki tingkat depresi dan kecemasan paling tinggi. Proyek terdapat di 2 tapak yang bersebelahan dengan pembagian fungsi hunian dan paviliun. Hunian sebagai tempat area kesendirian dengan zonasi privat dan paviliun sebagai penunjang area kesendirian dengan zonasi umum.
PEMAKAMAN VERTIKAL SEBAGAI TIPOLOGI BARU Sri Arta Utami Nofitasari; Suwandi Supatra
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 4, No 1 (2022): APRIL 2022
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v4i1.16895

Abstract

A cemetery is the final resting place of the deceased. Death is part of the land of the dead. Death is one of the phases in the cycle of human life that all humans will face and experience. Death is one part of the process of human life. Death is a process that cannot be avoided by humans, humans who are born in the world will eventually leave the world. All living things believe that one day they will die. Humans cannot determine when they are born and when they will die. There are several ways of burial such as cremation, recommission, the burial of the grave, and others. But over time the land for burial has run out. Therefore, vertical burial facilities are Designed as a new typology and are expected to answer the problem of lack of burial land. The city of Jakarta is one of the cities that have limited land in Indonesia. A limited land is a form of increasing population in the city of Jakarta. The population continues to increase in proportion to the need for land for burials. Indonesia officially recognizes the existence of 6 Indonesian religions, this affects the way people have funerals with religious funerals. The funeral that is usually carried out is a funeral based on religion. The Design method used is by conducting a literature study; Literature Review; Area Analysis; Site Investigation; data collection and study of precedents. The results of the writing can be concluded that vertical burial is effective in overcoming the problem of shortage of burial land. Keywords: Burial; Death; Religious Architecture; Typology; Vertical AbstrakPemakaman adalah tempat peristirahatan terakhir orang yang sudah meninggal. Meninggal yaitu bagian dari kematian, Kematian merupakan fase dalam siklus kehidupan manusia yang pasti akan dihadapi dan dialami oleh seluruh manusia. Kematian merupakan salah satu bagian dari proses kehidupan manusia. Kematian adalah proses yang tidak bisa dihindari oleh manusia, manusia dilahirkan di dunia pada akhirnya akan meninggalkan dunia. Semua makhluk hidup percaya bahwa suatu hari mereka akan mati. Manusia tidak memiliki kemampuan untuk menentukan kapan dia lahir dan kapan mereka akan mati. Ada beberapa cara pemakaman seperti kremasi, resomasi, pemakaman kubur dan lainnya. Namun seiring waktu lahan untuk pemakaman telah habis. Maka, dirancang fasilitas pemakaman vertikal sebagai tipologi baru dan diharapkan menjawab permasalahan kurangnya lahan pemakaman. Kota Jakarta merupakan salah satu kota yang mengalami keterbatasan lahan di Indonesia. Keterbatasan lahan adalah bentuk dari peningkatan jumlah penduduk di Kota Jakarta.  Jumlah penduduk terus meningkat sebanding dengan kebutuhan lahan untuk pemakaman. Indonesia secara resmi mengakui adanya 6 agama Indonesia, ini mempengaruhi cara pemakaman masyarakat dengan pemakaman agama. Pemakaman yang biasa dilakukan adalah pemakaman berdasarkan agama. Metode perancangan yang digunakan adalah dengan melakukan studi Literatur; Kajian Literatur; Analisa Kawasan; Investigasi Tapak; pengumpulan data dan studi preseden. Hasil dari penulisan dapat disimpulkan bahwa pemakaman vertikal efektif dalam mengatasi masalah kekurangan lahan pemakaman.
RUANG SENI DAN KULINER JALANAN DI SENEN Andrean Hermanto; Suwandi Supatra
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 2, No 1 (2020): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v2i1.6759

Abstract

As Urbanization blooms, related problems, especially those that affect community relations, become a 'hot topic' in developing projects based on 'Third Place'. The erosion of the community and its community often with the development of urbanization identified as Social Segregation becomes an interesting problem to be discussed by sociologists. The focus of the issue raised in this project is "How to create a Third Place in Senen area." The location of the project is in the Senen, precisely on Jl. Stasiun Senen, Jakarta Pusat which is one of the popular shopping centers in Jakarta. The site was located between commercial centers, housing, and transportation facilities with high pedestrian mobility. The purpose of this project is to create a "Third Place" which is a link between homes and offices where residents of Senen can come and spend their free time, and provide the facilities needed by the city, especially around the project site as a link between public transportation modes (Senen terminal and Senen station) with regional facilities and restore the image of the senen area which is an area that is thick with arts and food. The research methodology carried out in this project began by finding the facilities / programs needed by the community around the site, which also aims to resolve problems in the area. then proceed with identifying, and bringing back / restoring the characteristics that lost in this area (in this case, art), then proceed with the process of designing a facility that will produce the area and organization of space in this project. Abstrak Seiring berkembangnya Urbanisasi, masalah yang terkait, khususnya yang berdampak pada hubungan masyarakat, menjadi  'topik  hangat' dalam pengembangan proyek berbasis “Third Place”. Tergerusnya komunitas dan wadahnya sering dengan perkembangan urbanisasi yang diidentifikasi sebagai Segregasi Sosial menjadi sebuah  masalah yang menarik untuk dibahas oleh para sosiolog. Fokus isu yang diangkat dalam proyek ini adalah “Bagaimana menciptakan “Third Place” di kawasan Senen’. Lokasi proyek berada di Kawasan Senen tepatnya di Jl. Stasiun Senen, Jakarta Pusat yang merupakan salah satu pusat perbelanjaan di jakarta. Lokasi tapak berada di antara pusat komersil, perumahan, dan sarana transportasi dengan mobilitas pedestrian yang tinggi. Tujuan dari proyek ini adalah menciptakan sebuah “Third Place” yang menjadi penghubung diantara rumah dan kantor dimana warga Senen dapat datang dan menghabiskan waktu luang mereka, serta memberikan fasilitas yang dibutuhkan oleh kota, terutama disekitar tapak proyek sebagai penghubung antara moda transportasi publik (terminal dan stasiun) dengan fasilitas kawasan serta mengembalikan citra kawasan senen yang merupakan daerah yang kental dengan kesenian dan makanan. Metode penelitian yang dilakukan dalam proyek ini dimulai dengan menemukan fasilitas / program yang dibutuhkan oleh masyarakat sekitar tapak,yang juga bertujuan untuk menyelesaikan masalah dari kawasan tersebut. kemudian dilanjutkan dengan mengidentifikasi, danmemunculkan kembali / merestorasi ciri khas kawasan yang hilang (dalam kasus ini adalah kesenian), lalu dilanjutkan dengan proses mendesain fasilitas yang akan menghasilkan besaran dan organisasi ruang dalam proyek ini.
PENGHIJAUAN SEBAGAI TERAPI PENYEMBUHAN UNTUK ORANG DENGAN GANGGUAN MENTAL Welly Welly; Suwandi Supatra
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 1, No 2 (2019): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v1i2.4429

Abstract

Good mental health is a dream for everyone. Someone who has a mental health can enjoy daily life so that he can have healthy relationships with others. Conversely, people with mental disorders will have emotional control disorders that can ultimately lead to bad behavior. Until now, the community in general still has a negative stigma towards people with mental illness, causing many of them to be treated badly. Therefore, in helping reduce and overcome the high number of people with mental disorders, A rehabilitation center is needed that can effectively restore mental states, one of which is the ecopsychology method of therapeutic gardens that brings the idea of connection with nature as the main focus in healing. The use of plants and garden-related activities can be used to improve welfare. Activities may include digging soil, planting seeds, weeding the garden, and cutting leaves. This activity can be recommended in cases of stress, fatigue, substance abuse, as well as in cases of social isolation. It is hoped that the Project of Greeneny as a Healing Therapy for People with Mental Disorders can cure people with mental disorders as a whole so that they can live their lives like ordinary people. Abstrak Kesehatan Mental yang baik merupakan idaman bagi setiap orang. Seseorang yang memiliki mental sehat dapat menikmati kehidupan sehari hari sehingga dapat mempunyai hubungan sehat dengan orang lain. Sebaliknya orang dengan gangguan mental akan memiliki gangguan kendali emosi yang pada akhirnya bisa mengarah pada perilaku buruk. Hingga saat ini masyarakat pada umumnya masih memiliki stigma negatif pada pengidap penyakit mental hingga menyebabkan banyak diantara mereka yang diperlakukan secara buruk. Oleh karena itu, dalam membantu mengurangi dan mengatasi tingginya angka pengidap gangguan mental, Diperlukan sebuah wadah rehabilitasi yang dapat secara efektif merestorasi keadaan mental salah satunya dengan metode ecopsychology taman terapi yang membawa gagasan koneksi dengan alam sebagai fokus utama dalam  penyembuhan.Penggunaan tanaman dan kegiatan terkait kebun dapat digunakan untuk meningkatkan kesejahteraan. Kegiatan mungkin termasuk menggali tanah, menanam bibit, menyiangi taman, dan memotong daun. Kegiatan ini dapat direkomendasikan dalam kasus stres, kelelahan, penyalahgunaan zat, serta dalam kasus isolasi sosial. Diharapkan proyek Penghijauan Sebagai Terapi Penyembuhan Untuk Orang Dengan Gangguan Mental  dapat menyembuhkan para pengidap gangguan mental secara keseluruhan sehingga mereka dapat menjalani kehidupan seperti orang  biasa.
PUSAT PERAWATAN PSIKOLOGIS UNTUK PEKERJA DI LINGKUNGAN BISING – KAWASAN JABABEKA Juan Vinandy; Suwandi Supatra
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 3, No 2 (2021): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v3i2.12441

Abstract

The increase in industrialization today cannot be separated from the improvement of modern technology. The mechanization of work in various industrial sectors is increasingly advanced and the types of work that use muscle strength have gradually been replaced by machine strength because they can cope with tough work. However, in many industries there has never been a completely automated industry. As a consequence, manual activities are still being carried out in various workplaces side by side with industrial machines. In fact, the acceleration of existing technology is still not balanced with the ability of the workforce to handle it, so the role of Hiperkes and Work Safety is needed in it. Environmental factors such as noise, namely the sound that is not harmonious with the intensity of the incident, is one of the factors that affect workers in doing work so that it will affect work productivity. The impact that affects the use of machines on the health of workers is noise which causes hearing loss (deafness), psychological disorders (feeling uncomfortable), physiological disorders (increased blood pressure and pulse). Architecture should be able to help by presenting a building that functions as health promotion (promotive), disease prevention (preventive), disease healing (curative), and health restoration (rehabilitative). The presence of a program with a bbiophilic design aims to provide assistance to workers, protect workers from health problems arising from work and the work environment, improve health, provide medication and care as well as rehabilitation. Keywords:  factory worker ; mental health ; psychological.AbstrakPeningkatan industrialisasi saat ini tidak dapat dipisahkan dengan peningkatan teknologi modern. Pemanfaatan teknologi untuk mengatasi pekerjaan berat di berbagai sektor industri semakin maju dan jenis pekerjaan yang menggunakan kekuatan otot berangsur diganti dengan kekuatan mesin. Meskipun demikian pada berbagai industri belum pernah terjadi industri dengan otomasi sempurna (completely automated). Sebagai konsekuensinya adalah kegiatan manual di berbagai tempat kerja berdampingan dengan mesin industri masih banyak dilakukan. Nyatanya percepatan teknologi yang ada masih belum seimbang dengan kemampuan tenaga kerja yang menanganinya, sehingga peran Higiene perusahaan dan Kesehatan kerja (hiperkes) dan Keselamatan kerja sangat diperlukan didalamnya. Faktor lingkungan seperti kebisingan yaitu suara yang tidak harmonis dengan intensitas pada kejadian adalah salah satu faktor yang berpengaruh terhadap produktivitas pekerjaan. Dampak yang berpengaruh dari penggunaan mesin terhadap kesehatan pekerja  adalah kebisingan yang mengakibatkan gangguan pada pendengaran (ketulian),  gangguan psikologis (merasa  tidak  nyaman), gangguan  fisiologis (peningkatan  tekanan darah dan nadi).  Arsitektur seharusnya dapat membantu dengan menghadirkan suatu bangunan yang berfungsi sebagai peningkatan kesehatan (promotif), pencegahan penyakit (preventif), penyembuhan penyakit (kuratif), dan pemulihan kesehatan (rehabilitatif). Penghadiran program dengan desain biofilik bertujuan untuk memberi bantuan kepada tenaga kerja, melindungi tenaga kerja dari gangguan kesehatan yang timbul dari pekerjaan dan lingkungan kerja, meningkatkan kesehatan, memberi pengobatan dan perawatan serta rehabilitas.
PASAR KREATIF KULINER Ashila Ashara Amalia; Suwandi Supatra
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 2, No 2 (2020): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v2i2.8613

Abstract

City life itself known for the busy 24/7 with non-stop busy activities. Monotous activities carried out by city residents makes them frustrated and bored. A need for a place to let them rest for a bit, and that’s where third place is needed. Study stated that city life has problems within the physical and mental health of the residents itself. A simple entertainment such as live music or gathering over food has become their go to rest. C(reative)ulinary Market is a project with third place as the theme for the city residents. Located in Palmerah, within 3 issues detected which area morning to night activities that cause unhealthy lifestyle patterns, no bonding between communities, and no play space for children. Using the design method of dis-programming and behavioural architecture, which comebines program within different properties and examines surrounding people activities. Design concept based on broad food system in which influences for the layout and circulation. 2 program provided, creative culinary in where there’s market and food space for socializing and gather over food, and there’s also cooking class. Active and social space, there’s playground, roof garden, and park within the site. Two important program above aim to provide a place to socialize while providing education on the importance of healthy living. In addition, food brings people together.Key words: Active; City; Creative Culinary; Food; Health Abstrak Kehidupan kota dikenal dengan kehidupan arus padat 24/7. Kegiatan monoton yang dilakukan warga kota membuat masyarakat merasa bosan dan jenuh. Dibutuhkan satu tempat untuk mereka melepas penat sebentar, dan disitulah dibutuhkan third place. Studi menyebutkan bahwa kehidupan kota mempunyai masalah dengan kesehatan fisik dan mental warga kota. Hiburan sederhana, seperti live music atau sekedar makan dan kumpul bersama menjadi sasaran bagi warga kota dalam menghilangkan penat sejenak. Proyek dengan judul C(reative)ulinary Market adalah proyek rancangan bertemakan third place bagi masyarakat kota. Berlokasi di Palmerah, dengan 3 isu yaitu aktivitas padat pagi hingga malam yang menyebabkan pola gaya hidup tidak sehat, tidak ada hubungan erat antar masyarakat, dan tidak ada ruang bermain bagi anak-anak. Menggunakan metode perancangan dis-programming dan behavioural architecture, dimana mengkombinasi program dengan sifat berbeda dan juga meneliti dan mengkaji perilaku masyarakat sekitar tapak. Konsep desain bertajuk pada broad food system yang berpengaruh pada denah dan sirkulasi proyek. Program yang disediakan terdapat 2, kuliner kreatif (creative culinary) dimana terdapat market & food space guna untuk bersosialisasi dan berkumpul bersama sambil makan dan ada cooking class, ruang aktif-sosial (active and social space) terdapat playground dan roof garden serta taman di tapak. Kedua program penting di atas bertujuan untuk memberikan tempat bersosialisasi sekaligus memberikan edukasi akan pentingnya hidup sehat. Selain itu, makanan juga menyatukan antar sesama.