Suwandi Supatra
Program Studi S1 Arsitektur, Fakultas Teknik, Universitas Tarumanagara

Published : 27 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 27 Documents
Search

PERANCANGAN RUANG PUBLIK KREATIF SEBAGAI REGENERASI RUKO “9 WALK BINTARO” DENGAN PENDEKATAN URBAN ACUPUNCTURE Wanetta Reyna Ballinan; Suwandi Supatra
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 4 No. 2 (2022): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v4i2.22137

Abstract

The “9 Walk” Shophouse area was once a small part of Bintaro Jaya The Professional’s City which is known as a culinary center at the gathering point of its residents (Sector 9). This area is experiencing degradation of physical structure (several damaged buildings), social space (loss of attractor), mental (collective memory) and is also affected by the Covid 19 pandemic which has made the area increasingly quiet, while the surrounding conditions are still very lively. So from this issue, the 'energy' of the “9 Walk” Shophouse area is slowly disappearing.“9 Walk” Shophouse has an urgency to be addressed through urban acupuncture, which is essentially a focused intervention on a small scale that is expected to have the capacity to regenerate a dead or damaged part of urban space (degraded area). With the urban acupuncture strategy, “9 Walk” Shophouse which was once a culinary center and hangout place especially for its local residents, can be regenerated and restored by being converted into a creative public space. In a creative public space, a creative character and other like-minded communities can gather, reminisce about areas that were once famous, can exchange ideas, inspire and get inspired, and can be used as a place to start a local business. The architectural concept puts forward technology and contextual environment. Keywords:  contextual; creative public space; regeneration; urban acupuncture Abstrak Kawasan Ruko 9 Walk dulunya merupakan bagian kecil dari Kota Mandiri Bintaro Jaya yang dikenal sebagai pusat kuliner pada titik berkumpul nya penduduk (Sektor 9). Kawasan ini mengalami degradasi struktur fisik (beberapa bangunan rusak), ruang sosial (attractor), mental (memori kolektif) dan juga terdampak pandemi Covid 19 yang menjadikan kawasan semakin sepi, sedangkan kondisi di sekitarnya masih sangat hidup. Maka dari isu tersebut, 'energi' pada titik kawasan Ruko 9 Walk perlahan menghilang. Ruko 9 Walk memiliki urgensi untuk ditanggapi melalui akupunktur perkotaan, yang pada dasarnya merupakan intervensi terfokus pada skala kecil yang diharapkan akan memiliki kapasitas untuk meregenerasi bagian dari ruang perkotaan yang mati atau rusak (terdegradasi). Dengan strategi urban acupuncture, Ruko 9 Walk yang dulunya merupakan pusat kuliner dan tempat hangout terutama untuk para penduduk lokal, dapat diregenerasi dengan dialihfungsikan menjadi ruang publik yang kreatif. Pada ruang publik yang kreatif pelaku-pelaku kreatif dan masyarakat lainnya dapat berkumpul, mengingat kembali kawasan yang dulu terkenal, dapat bertukar ide, menginspirasi dan mendapat inspirasi, serta dapat dijadikan tempat untuk memulai bisnis. Konsep arsitekturalnya mengedepankan teknologi dan kontekstual lingkungan.
HUNIAN KELAS MENENGAH DENGAN FASILITAS PENJUALAN ONDERDIL MOBIL DI KARANG ANYAR Vinshen Cristian; Suwandi Supatra
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 4 No. 2 (2022): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v4i2.22138

Abstract

Uncontrolled population growth have become one of the major affecting factors towards the well being of society. The uncontrolled population growth is disproportionate with the wellbeing [A1] of society, especially to own a housing unit in Jakarta. This makes it so that lower class citizens have decided to settle in the slums as an alternative for housing. The slums are a part of the city that have been neglected from the overall city planning and construction with the environment conditions that have been degrading physically, socially, and economically with a growing population density and unkempt facilities. Karang Anyar have been one of the areas with a high population density in which the majority of the dwellings have been designed without considering other supporting facilities and spaces. Besides that, there have been many problems found in the surrounding area that also have an effect towards the well being of the surrounding society, one of which is the low income of the people living there where most of them work as laborers and car auto parts merchants. The absence of the needed facilities to trade have forced them to sell their products in illegal areas such as on the sidewalk. As time goes, the peddlers are eventually evicted from selling in the illegal area which causes their overall income to decrease. This leads to the growth of criminal activities and the decrease of the well being in Karang Anyar. This research is made to identify the characteristics of the slums in Kelurahan Karang Anyar, Sawah Besar District, Central Jakarta and to produce a vertical housing design that is habitable for the people there to affect the area positively and providing a central auto parts dealership for the people of Karang Anyar and the wider area of Jakarta.For the method used in making observations and analysis of the area, namely by using the secondary method. Keywords: DKI Jakarta; Eviction; Kelurahan Karang Anyar; Population Density; Vertical Housing Abstrak Pesatnya pertumbuhan penduduk menjadi salah satu permasalahan yang berdampak pada kesejahteraan masyarakat. Pertumbuhan penduduk yang begitu pesat dan tidak diseimbangkan dengan kesejahteraan masyarakat terutama untuk memiliki hunian khususnya di kawasan Jakarta. Akibatnya muncul permukiman kumuh yang menjadi salah satu jalan alternatif agar masyarakat menengah kebawah memiliki hunian. Permukiman kumuh merupakan kawasan yang cenderung terabaikan yang mengalami penurunan kualitas sosial budaya, ekonomi, penurunan kualitas fisik dan sarana prasarana yang buruk. Karang Anyar menjadi salah satu daerah pemukiman padat penduduk yang mayoritas huniannya didirikan tanpa memikirkan ruang dan fasilitas penunjang bagi hunian. Selain itu banyak sekali permasalahan di kawasan Karang Anyar yang tentu saja berdampak pada kesejahteraan masyarakat sekitar salah satunya adalah tingkat pendapatan penduduk yang rendah dimana sebagian besar penduduk bekerja sebagai buruh dan pedagang onderdil mobil. Namun tidak adanya fasilitas berdagang yang memadai memaksa mereka berjualan di area ilegal seperti di atas trotoar jalan. Seiring berjalanya waktu para pedagang kaki lima mengalami penggusuran karena berjualan di area ilegal. Akibatnya pendapatan masyarakat Karang Anyar menjadi berkurang. Akibatnya terjadi degradasi tindakan kriminal dan berkurangnya tingkat kesejahteraan di kawasan Karang Anyar. Tujuan dari adanya penulisan [A1] ini adalah mengidentifikasi karakteristik permukiman kumuh Kelurahan Karang Anyar Kecamatan Sawah Besar Jakarta Pusat kemudian menghasilkan rancangan hunian vertikal yang layak bagi masyarakat serta rancangan area niaga pusat onderdil mobil demi memberikan dampak kesejahteraan yang baik terhadap masyarakat dan membantu menggerakan perekonomian masyarakat Karang Anyar. Untuk metode yang digunakan dalam melakukan pengamatan yaitu dengan menggunakan metode sekunder dalam melakukan pengamatan dan analisis kawasan.
PERANCANGAN HUNIAN VERTIKAL DENGAN FASILITAS “INDUSTRI KECIL KONVEKSI” UNTUK MENGURANGI KEPADATAN PENDUDUK DI KELURAHAN JEMBATAN BESI Yongky Heryanto Wijaya; Suwandi Supatra
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 4 No. 2 (2022): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v4i2.22141

Abstract

Indonesia is a country with a very high population density, especially in some of the major metropolitan cities which can cause problems relating to limited land use. One of these cities with a high population growth is Jakarta, especially in Tambora District, Kelurahan Jembatan Besi where this area has a high level of population density. Some areas in this district consist of highly populated villages where the majority of people depend on industrial works, especially convectional works in their own homes as a source of income. The high-density villages in the Kelurahan Jembatan Besi have been degraded by unmaintained environment by the surrounding communities which causes most housing to be uninhabitable. The method used during the design process is to collect secondary data from journals, articles, books, and other online media. Besides collecting data, Urban Acupuncture is also implemented in this project by designing a vertical housing structure which can also provide facilities for convectional works. The concept used in this design is Adaptable Space which provides each room with some added flexibility. From the data gathered, the found architectural design solution by implementing Urban Acupuncture is done by combining each housing unit with a proper convectional workspace to maximize land use as efficient and effective as possible while maintaining the project's sustainability to help combat the highly growing population density. Keywords: Urban Acupuncture; Kelurahan Jembatan Besi; Population Density; Convection; Vertical Housing Abstrak Indonesia merupakan negara yang memiliki tingkat kepadatan penduduk yang tinggi, terutama di beberapa kota-kota besar dan metropolitan yang dapat menyebabkan masalah keterbatasan terhadap ketersediaan lahan. Salah satu kota besar yang mengalami masalah pertambahan penduduk yang tinggi adalah kota DKI Jakarta, terutama di kawasan Kecamatan tambora, Kelurahan Jembatan Besi, dimana daerah ini memiliki tingkat kepadatan penduduk yang tinggi. Beberapa daerah di Kelurahan Jembatan Besi merupakan kawasan kampung padat penduduk, yang pekerjaan terbanyak di daerah tersebut adalah pekerjaan industri rumahan konveksi. Kawasan perkampungan padat di Kelurahan Jembatan Besi mengalami degradasi yang disebabkan akibat lingkungan yang tidak dirawat dengan baik oleh masyarakat sekitar, sehingga menyebabkan kebanyakan perumahan warga menjadi tidak layak untuk dihuni. Metode yang digunakan adalah dengan cara mengumpulkan data secara sekunder, dimana proses pengumpulan data bersumber dari jurnal, artikel, buku, dan media online. Selain pengumpulan data, Pendekatan Urban Akupunktur dilakukan dengan cara perancangan hunian vertikal yang menyediakan fasilitas untuk pekerjaan konveksi. Konsep yang digunakan adalah Adaptable Space, dimana memberikan fleksibilitas dalam ruangan. Melalui kajian yang telah dilakukan, solusi desain arsitektur menggunakan pendekatan Urban Acupuncture, dengan cara merancang “rumah susun”, yang menggabungkan unit hunian sebagai tempat tinggal dan usaha konveksi sebagai tempat kerja yang layak bagi masyarakat, untuk memaksimalkan fungsi lahan secara efektif dan efisien, serta memberikan efek berkelanjutan untuk mengatasi masalah kepadatan penduduk yang terus meningkat.
FASILITAS PENGOLAHAN DAUR ULANG SAMPAH DI TANAH MERAH JAKARTA DENGAN FASILITAS EDUKASI Bimo Dwi Hannanto; Suwandi Supatra
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 4 No. 2 (2022): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v4i2.22142

Abstract

The problem of waste is a serious matter in Indonesia because the amount is already excessive. Most of the current waste is plastic waste that comes from households. Currently, Indonesia is an upper-middle class country, which means it is capable of becoming an independent industrial country. Previously, Indonesia had always imported waste as industrial raw material. It makes the waste problem even worse in Indonesia. Waste management in Indonesia is not managed sustainably. This has caused the Bantargebang TPA as a waste disposal site for DKI Jakarta to run out of land. Therefore, urban acupuncture is used as a method for selecting locations that have the most waste problems. The location of Tanah Merah in North Jakarta is the main focus, due to the degradation of the Tanah Merah TPS which makes the surrounding area unproductive. The existence of this problem gave the idea of ​​​​designing "Facilities for Recycling into Energy and Maggot Cultivation". Where the design aims to accommodate processing in the Tanah Merah TPS area to be used as energy and also to make animal feed from processing with the maggot method. Keyword: energy; maggot; recycle; urban acupuncture; waste Abstrak Permasalahan sampah menjadi hal serius di indonesia dikarenakan jumlah yang sudah berlebihan. Sampah terbanyak saat ini merupakan sampah plastik yang berasal dari rumah tangga. Saat ini Indonesia merupakan Negara Kelas Menengah Atas yang berarti mampu menjadi negara industri mandiri. Sebelumnya Indonesia selalu melakukan impor sampah sebagai bahan baku industri. Hal ini yang membuat semakin parahnya masalah sampah di Indonesia. Pengelolaan sampah di Indonesia tidak dikelola secara berkelanjutan. Hal ini yang menyebabkan TPA Bantargebang sebagai pembuangan sampah DKI Jakarta kehabisan lahan. Oleh karenanya akupunktur perkotaan digunakan sebagai metode untuk pemilihan lokasi yang memiliki permasalahan sampah terbanyak. Lokasi Tanah Merah di Jakarta Utara menjadi penitikan utama, dikarenakan adanya degradasi pada TPS Tanah Merah yang membuat kawasan sekitar menjadi tidak produktif. Adanya permasalahan ini memberikan gagasan perancangan “Fasilitas Daur Ulang Menjadi Energi dan Budidaya Maggot”. Dimana rancangan bertujuan untuk mewadahi pengolahan di wilayah TPS Tanah Merah untuk dijadikan energi dan juga menjadikan pakan ternak dari pengolahan dengan metode maggot.
PUSAT KOMUNITAS BAGI LANSIA KALANGAN MENENGAH KEATAS Alvian Tan; Suwandi Supatra
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 5 No. 2 (2023): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v5i2.24207

Abstract

Currently, 500 million people worldwide with an average age of 60 are suffering from depression in old age. In the year of 2000, there were 22.3 million elderly people in Indonesia with a life expectancy of 65 to 75 years. By 2020, with a life expectancy of 70 to 75 years, it increased by 11.09 percent (more than 29.12 million) and is projected to reach 1.2 billion by 2025. This research aims to provide design ideas for the elderly to feel comfortable and content by accommodating their needs for a community center for the elderly. This study was conducted using qualitative descriptive research method and design method based on phenomena. Through this research, it can be concluded that the design of a community center with a healing environment concept can be an alternative that helps the elderly overcome depression by applying the principles of a healing environment, which include determining appropriate programs for the elderly, such as a functional senior park, walking garden, communal area, creativity space, doctor's consultation room, health clinic, and open area designed with the principles of a healing environment, including independence, consciousness, connectedness, purpose, physical activities, and restorative elements. By creating an environment of a community center for the elderly, a sense of togetherness is fostered through interactions among the elderly, preventing depression caused by loneliness, which impacts both physical and psychological health. Keywords: community centre; depression; elderly Abstrak Saat ini, 500 juta orang di seluruh dunia dengan usia rata-rata 60 tahun menderita depresi di usia tua. Pada tahun 2000, terdapat 22,3 juta lansia di Indonesia dengan harapan hidup 65 sampai 75 tahun. Pada tahun 2020, dengan angka harapan hidup 70-75 tahun, meningkat menjadi 11,09 persen (29,12 juta lebih) dan diperkirakan mencapai 1,2 miliar pada tahun 2025. Penelitian ini bertujuan untuk memberikan ide perancangan untuk para lansia agar para lansia betah dan nyaman dengan mewadahi kebutuhan akan pusat komunitas para lansia. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode penelitian kualitatif deskriptif serta metode desain berdasarkan fenomena. Melalui penelitian ini dapat disimpulkan bahwa perancangan pusat komunitas dengan konsep healing environment dapat menjadi alternatif yang mampu membantu lansia dalam mengatasi depresi dengan menerapkan prinsip prinsip healing environment yang mencakup penentuan program yang sesuai dengan lansia, di antaranya functional senior park, walking garden, area komunal, creativity space, ruang konsultasi dokter, health clinic, dan open area yang dirancang dengan prinsip-prinsip healing environment, meliputi independence, consciousness, connectedness, purpose, physical activities, dan restorative. Dengan menciptakan lingkungan pusat komunitas lansia, tercipta rasa kebersamaan melalui interaksi orang lanjut usia dengan sebayanya supaya bisa terhindar dari depresi karena kesepian yang berdampak pada kesehatan fisik maupun psikis.
RUANG TERAPI SENI BAGI PENYANDANG DISABILITAS TUNADAKSA Julio Anderson; Suwandi Supatra
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 5 No. 2 (2023): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v5i2.24208

Abstract

People with disabilities are often seen as class two in everyday life. They are often hampered from accessing public buildings due to inadequate accessibility of space and supporting facilities. They are also often discriminated against and negatively stigmatized because of their physical limitations, which in turn causes them to not get the same rights and life opportunities as other normal human beings. This ultimately causes stress and mental disorders in persons with disabilities, especially physical impairment. To overcome this, people with disabilities need to take medication or therapy to maintain and improve their mental health. One of many other therapy methods that can be done to overcome these problems is art therapy. Using art as a healing medium, it is hoped that it can reduce stress and become a place for people with disabilities to express and develop their abilities. The research method used is a descriptive qualitative method that begins with observing the phenomena of persons with disabilities such as their daily lives, conditions, and needs in-depth based on standards and space requirements. And then equipped with supporting theory and related precedent studies. This research will later produce a design parameter for disability-friendly art galleries, especially for the physically disabled with an art therapy program to address their mental health problems. Keywords:  accesibility; art therapy; physical impairment Abstrak Penyandang disabilitas sering kali dianggap sebagai masyarakat golongan dua dalam kehidupan sehari-hari. Mereka sering kali terhambat untuk mengakses bangunan-bangunan publik karena masalah aksesibilitas ruang dan fasilitas pendukung yang tidak memadai. Mereka juga sering kali mendapat diskriminasi dan stigma negatif karena keterbatasan fisik mereka, yang akhirnya menyebabkan mereka tidak mendapatkan hak dan kesempatan hidup yang sama seperti manusia normal lainnya. Hal ini akhirnya menyebabkan stress dan ganguan mental pada penyandang disabilitas, khususnya tunadaksa. Untuk mengatasi hal ini, penyandang disabilitas tunadaksa perlu melakukan pengobatan atau terapi untuk menjaga dan meningkatkan kesehatan mental mereka. Salah satu bentuk terapi yang bisa digunakan untuk mengatasi masalah tersebut adalah terapi seni. Dengan menggunakan seni sebagai sarana penyembuhan, tujuannya adalah untuk mengurangi tingkat stres dan memberikan wadah bagi penyandang disabilitas tunadaksa untuk berekspresi dan mengembangkan potensi mereka. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif yang dimulai dengan pengamatan menyeluruh terhadap fenomena penyandang disabilitas, termasuk kehidupan sehari-hari, kondisi mereka, dan kebutuhan yang mendalam. Penelitian ini didasarkan pada standar dan kebutuhan ruang gerak serta dilengkapi dengan teori pendukung dan studi sebelumnya yang relevan. Hasil penelitian ini akan menciptakan parameter desain untuk bangunan galeri seni yang ramah disabilitas, khususnya untuk penyandang tunadaksa, dengan program terapi seni untuk mengatasi masalah kesehatan mental mereka.
RUANG HUNIAN DAN KREATIF ANAK-ANAK YATIM PIATU Gavin Hanli Lim; Suwandi Supatra
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 5 No. 2 (2023): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v5i2.24209

Abstract

As of September 2021, the Ministry of Social Affairs received reports that the number of orphans had reached 28 thousand people which was caused by the main impact, namely Covid-19. The DKI Jakarta Provincial Government held a meeting and stated openly about the number of people who died of more than 13 thousand people and resulted in 9 thousand children in Jakarta becoming orphans or orphans. As orphans who are also affected by Covid-19, some have received assistance and have foster parents. But this does not mean that the problem has been solved. In terms of empathy with the suffering of orphans, emotional contagion will evoke an intense state within oneself, just as someone who is experiencing distress by softening the boundaries between himself and others. Modern empathetic architectural design focuses on design that engages the community. An understanding of how the built environment will have an impact on social change. Establish design with past and future societies in a close relationship. Orphans are included in the category of vulnerable children or children who need special protection (children in need of special protection). They are said to be neglected because their basic needs are not met spiritually, physically, or socially. The Covid-19 pandemic has had a huge impact on all sectors of life. The death toll from the corona virus is still falling to this day. Orphans often have stunted physical growth due to their inadequate nutritional needs. In addition to psychological barriers, orphans also experience emotional barriers. In healthy families, children will fear that their parents "disappear" in their lives. Orphans need a place where they can feel love and prosperity. This container adjusts to the daily life of orphans and ergonomics so that it can provide a sense of comfort and security with assurance. With containers and programs that are in accordance with activities, activities and needs, it is hoped that orphans can be free from feelings of loneliness, mental illness, depression and be replaced by a sense of family, live healthy and smart, and be wiser. Orphans need a place where they can feel love and prosperity. This container adjusts to the daily life of orphans and ergonomics so that it can provide a sense of comfort and security with assurance. With containers and programs that are in accordance with activities, activities and needs, it is hoped that orphans can be free from feelings of loneliness, mental illness, depression and be replaced by a sense of family, live healthy and smart, and be wiser. Keywords: empathy; empathy architecture; orphans; psychological Abstrak Hingga September 2021, Kementerian Sosial menerima laporan bahwa jumlah anak yatim piatu mencapai 28 ribu orang yang disebabkan oleh dampak utamanya yaitu Covid-19. Pemprov DKI Jakarta mengadakan rapat serta menyatakan secara terbuka tentang jumlah orang yang meninggal lebih dari 13 ribu jiwa dan mengakibatkan 9 ribu anak di Jakarta menjadi yatim atau yatim piatu. Sebagai anak yatim piatu yang juga terdampak covid-19 sebagian telah mendapatkan bantuan serta mempunyai orang tua asuh. Tetapi ini bukannya berarti bahwa persoalan telah selesai. Dalam empati kaitannya dengan kesusahan anak-anak yatim piatu, maka penularan emosi akan membangkitkan keadaan intens dalam diri seperti halnya seseorang yang mendapatkan kesusahan dengan cara memperlembut batasan antara dirinya dengan orang lain. Desain arsitektur empati modern memfokuskan pada desain yang melibatkan komunitas. Pemahaman bagaimana lingkungan bangunan akan memiliki dampak pada perubahan sosial. Menjalin desain dengan masyarakat masa lalu dan masa depan dalam suatu hubungan yang erat. Anak yatim piatu termasuk kategori anak rawan atau anak-anak yang membutuhkan perlindungan khusus (children in need of special protection). Mereka dikatakan terlantar karena tidak terpenuhi kebutuhan dasarnya baik secara rohani, jasmani, maupun sosial. Pandemi Covid-19 telah berdampak sangat besar dalam seluruh sektor kehidupan. Korban jiwa akibat virus corona itu pun masih terus berjatuhan hingga saat ini. Anak yatim piatu sering terhambat pertumbuhan fisiknya karena kebutuhan gizi yang kurang. Selain hambatan psikologis, anak-anak yatim piatu juga mengalami hambatan emosional. Dalam keluarga yang sehat, anak-anak akan merasa takut apabila orang tua mereka "menghilang" dalam kehidupan mereka. Anak-anak yatim piatu membutuhkan sebuah wadah dimana dirinya dapat merasakan kasih sayang dan sejahtera. Wadah ini menyesuaikan dengan keseharian anak-anak yatim piatu dan ergonomi agar dapat memberikan rasa nyaman dan aman dengan terjamin. Dengan wadah serta program yang sesuai dengan kegiatan, aktivitas dan kebutuhan diharapkan anak-anak yatim piatu dapat bebas dari rasa kesepian, penyakit mental, depresi dan digantikan menjadi rasa kekeluargaan, hidup sehat dan pintar, dan lebih bijaksana.