J.M. Joko Priyono Santoso
Program Studi S1 Arsitektur, Fakultas Teknik, Universitas Tarumanagara

Published : 19 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 19 Documents
Search

RUANG KERAGAMAN BERBASIS SOSIOKULTURAL, KAWASAN MUARA BARU Jennifer Jennifer; J.M. Joko Priyono Santoso
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 2, No 2 (2020): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v2i2.8608

Abstract

Muara Baru is one of the largest slums area in Jakarta. At first, this area wasn’t full of houses. But since late 1980s, development of industrial area in Muara Baru increase rapidly, the number of urbanizations has gone up. And the density in this area became very high. This has a huge impact on society in their daily lives, and this will create exclusion social between individuals. One of the ways to eliminate the exclusion social is increase the socio- culture asset, because there’s needs for investation development of peoples in Muara Baru. So the project that will be built is aiming the people of the Muara Baru area can improve the quality of individual performance The method of research used in this project is descriptive method and comparative method. The result of this research is “Diversity Socioculture Space, Muara Baru”. The main program in this project is social and education with socioculture concept, like having weekly culture bazzar. So the results of this design are aimed at the community, so that they can eliminate the sense of social exclusivity between individuals, and from the formation of productive individuals, so they will improve Muara Baru area. Keywords:  open architecture; slums; sociocultural; social exclusion AbstrakMuara Baru merupakan salah kawasan terkumuh di Jakarta, padahal awalnya kawasan ini belum dipenuhi oleh permukiman. Namun semenjak terjadinya perkembangan pada kawasan industri pada akhir tahun 1980-an di Muara Baru, tingkat urbanisasi menjadi meningkat, sehingga kepadatan pada kawasan ini juga menjadi sangat tinggi. Hal ini sangat berdampak kepada masyarakat dalam aktivitas sehari-harinya, yaitu terciptanya eksklusi sosial antar masyarakat. Salah satu untuk menghilangkan rasa eksklusi sosial masyarakat Muara Baru adalah dengan cara meningkatkan modal sosiokulturalnya, karena itu perlu adanya investasi sosiokultural dalam pengembangan masyarakat Muara Baru. Sehingga perancangan bertujuan agar masyarakat kawasan Muara Baru dapat meningkatkan kualitas performa individu. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah Metode Deskritif dan Metode Komparatif. Dari hasil penelitian ini, hasil yang diusulkan adalah “Ruang Keragaman Berbasis Sosiokultural”, Kawasan Muara Baru. Program utamanya adalah sosial dan edukasi dalam basis sosiokultural, seperti adanya bazar kebudayaan mingguan. Hasil perancangan ini ditujukan untuk masyarakat, agar mereka dapat menghilangkan rasa eksklusi sosial, sehingga terbentuknya individu yang lebih produktif,dan perlahan mereka akan meningkatkan kawasan Muara Baru).
TEMPAT SANTAI DI BLOK M Ricky Setiadi; J.M. Joko Priyono Santoso
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 2, No 2 (2020): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v2i2.8600

Abstract

Blok M region is part of the DKI Jakarta which never stops its activities. This is because Blok M is one of the business and office areas where work is dominated by traders and employees to provide primary and secondary daily life. As a result of the high levels of activity is stress level growing in the Blok M region. Another problem that causes stress levels in the Blok M area is that the surrounding buildings are unhealthy. A building is either lacking in light and in air, causing tedium, boredom, and depression as a result of minimum the open space. Therefore, the need an area for a relaxation, recreation, and socialization which stately privacy, can slip in and out of here safely and comfortably without certain restrictions. The goal was to relax the thought and energy of each individual in the Blok M region. The study using two methods of both primary and secondary data collection and comparative methods. The research result suggests a third place in Blok M in response to the conditions and issues. It is proposed in the building with the application of biopihilic design of open and green space and a related activity program that is expected to help reduce someone's stress levels a sa result of daily activities in the Blok M region. A major program of this project is foot bathtub, theme onsen, temper clinic, sleeping areas, viewing areas, and the coffee shop which is divided into some space that aims to bridge the social activity that can reach people with no boundaries in the Blok M region. Keywords:  stress; relaxing; recreation AbstrakKawasan Blok M yang merupakan bagian dari DKI Jakarta yang tidak pernah berhenti aktivitasnya. Hal ini dikarenakan kawasan Blok M salah satu kawasan perniagaan dan perkantoran yang dominasi pekerjaannya adalah pedagang dan karyawan guna memenuhi kehidupan sehari-hari baik primer dan sekunder. Akibat dari padatnya aktivitas timbulah tingkat stress pada kawasan Blok M. Permasalahan lain yang mengakibatkan tingkat stres meningkat di kawasan Blok M adalah  padatnya bangunan sekitar yang tidak sehat. Bangunan sekitar kurang adanya cahaya maupun udara yang masuk, menyebabkan rasa jenuh, bosan, dan tertekan akibat ruang terbuka yang minim. Oleh karena itu dibutuhkannya area bersifat relaksasi, rekreasi, dan sosialisasi yang sifatnya publik namun privasi, dapat keluar-masuk secara aman dan nyaman tanpa adanya batasan-batasan tertentu. Tujuannya untuk merelaksasi pikiran dan tenaga setiap individu yang berada di kawasan Blok M. Penelitian ini menggunakan dua metode yakni metode pengumpulan data baik secara primer dan sekunder serta metode komparatif. Dari hasil penelitian maka di usulkan sebuah third place di kawasan Blok M dalam menanggapi kondisi dan isu tersebut. Diusulkan dalam bangunan adanya penerapan biopihilic design berupa ruang terbuka dan hijau serta program  kegiatan berkaitan yang diharapkan dapat membantu mengurangi tingkat stres pada seseorang sebagai akibat dari aktivitas yang dilakukan setiap hari di kawasan Blok M. Program utama dalam proyek ini yaitu berupa foot bathtub, theme onsen, temper clinic, area tidur, area nonton, dan coffee shop yang terbagi beberapa ruang yang bertujuan untuk mewadahi aktivtias sosial yang dapat merangkul masyarakat tanpa adanya batasan tertentu di kawasan Blok M.
KAJIAN MENGENAI PROYEK RUANG KERJA KREATIF UNTUK MILENIAL Chandra Tanamas; J.M. Joko Priyono Santoso
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 1, No 2 (2019): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v1i2.4491

Abstract

The creative industry in Indonesia is getting special attention from the government because it can create independent and productive human resources. Therefore, the creative industry has experienced significant development, but the competition between freelancers will be increasingly stringent, while the millennial generation who are just starting out will find it difficult to expand their business. The creative industry is currently filled with millennials that have characteristics that are different from previous generations. Millennials have high leadership and flexibility so they want to hold and take full responsibility for the projects they work on. The method used in the design is qualitative and comparative descriptive with pattern language which is more applied to the formation of programs so that the programs produced are in accordance with the workings and behavior of the millennial generation, but do not override previous generations. The area chosen is West Jakarta, more precisely the District of Kebon Jeruk, hoping that the Kebon Jeruk Subdistrict which is intended as Service City has a work space for the creative industry community by providing learning space and space to develop creativity. Therefore, Creative Hub is a means for millennial generations as freelancers working in the creative industry sector who want to pour their creativity and start a business. In this creative hub there are programs that can help freelancers and are equipped with supporting facilities such as offices, co-working, exhibition rooms and workshops. In addition, this creative hub is also able to become an educational recreation room about the creative industry and the gathering center for creative craftsmen. Through this Creative Hub, it can generate new jobs that are independent for millennial generations as freelancers, and can gain connections and hone skills.Abstrak Industri kreatif di Indonesia sedang mendapatkan perhatian khusus oleh pemerintah karena dapat menciptakan sumber daya manusia yang mandiri dan produktif. Maka dari itu, industri kreatif mengalami perkembangan yang signifikan, tetapi persaingan antar freelancer akan semakin ketat, sedangkan generasi milenial yang baru memulai akan kesulitan untuk mengembangkan usahanya. Industri kreatif saat ini dipenuhi oleh generasi milenial yang memiliki karakteristik yang berbeda dengan generasi – generasi sebelumnya. Generasi milenial memiliki sifat leadership dan fleksibilitas yang tinggi sehingga ingin memegang dan tanggung jawab penuh terhadap proyek yang mereka kerjakan. Metode yang digunakan dalam perancangan adalah metode deskriptif kualitatif dan deskriptif komparatif dengan pattern language yang lebih diterapkan pada pembentukan program sehingga program yang dihasilkan sesuai dengan cara kerja dan perilaku generasi milenial, tetapi tidak mengesampingkan generasi – generasi sebelumnya. Daerah yang dipilih adalah Jakarta Barat, lebih tepatnya Kecamatan Kebon Jeruk, harapannya Kecamatan Kebon Jeruk yang ditujukan sebagai Service City memiliki ruang kerja untuk para komunitas industri kreatif dengan memberikan ruang pembelajaran dan ruang mengembangkan kreatifitas. Oleh sebab itu, Creative Hub merupakan sebuah sarana bagi generasi milenial sebagai freelancer yang bekerja pada sektor industri kreatif yang ingin menuangkan kreativitasnya dan memulai usaha. Dalam creative hub ini terdapat program yang dapat membantu freelancer dan dilengkapi dengan fasilitas penunjang seperti, kantor sewa, co – working, ruang pameran, dan workshop. Selain itu, creative hub ini juga mampu menjadi ruang rekreasi edukasi tentang industri kreatif dan pusat berkumpulnya pengrajin kreatif. Melalui Creative Hub ini, dapat menghasilkan lapangan kerja baru yang mandiri bagi generasi milenial sebagai freelancer, serta dapat memperoleh koneksi dan mengasah kemampuan.
KAJIAN PERANCANGAN ARENA OLAHRAGA ELEKTRONIK Thea Amelia; J.M. Joko Priyono Santoso
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 1, No 2 (2019): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v1i2.4502

Abstract

Developing sports is characterized by the emergence of new sports, one of them is esports which also developing every year. The competition has been held at the 2018 Asian Games, however the venue has not been used specifically for esports. Therefore, the design of the esports arena is the answer and also the typical building that is present and marks the millennial generation of its time. Literature studies were conducted on millennial generation, behaviour of millennial, millennial era, building types and esports to find out more about the design of the esports arena. The methods used are data collection method, primary and secondary, quantitative and qualitative descriptive method, interaction method, comparative method, analytical and synthesis method, graphical method, experimental method conducted with theoritical studies, matrix studies, space studies, space characteristics studies, precedent studies, site studies and surveys, and mass compositions studies. The study resulted program area and capacity, site design, concepts, forms of mass composition, and schematic spatial principles (floor plan). Based on the methods and studies conducted, the conclusion is esports arena designed, in accordance with the theme "Dear Millennials, Dialogue between Type and Behavior" and programs in the form of esports arena, esports training rooms, plaza and cafeteria are programs that address spatial relationships between building types, millennial behavior and millenial era, as well as the design and concept of a centralized form, contrast, the existence of a plaza as a central space, technology space experience, and adaptive to the cyber theme responds to the influence of millennial behaviors and challenges. AbstrakOlahraga berkembang ditandai dengan munculnya cabang olahraga baru, salah satunya ialah esports yang juga sedang mengalami perkembangan tiap tahunnya. Kompetisinya pernah diselenggarakan pada Asian Games 2018, namun tempat penyelenggaraannya belum difungsikan secara khusus untuk esports. Oleh karena itu, perancangan esports arena menjadi jawaban dan merupakan bangunan khas milenial yang hadir dan menandai adanya generasi milenial pada zamannya. Kajian literatur dilakukan mengenai generasi milenial, perilaku milenial, nilai kesejamanan (milenial), tipe bangunan, dan esports untuk mengetahui lebih dalam mengenai perancangan esports arena. Metode yang digunakan adalah metode pengumpulan data, primer maupun sekunder, metode deskriptif kuantitatif maupun kualitatif, metode interaksi, metode komparatif, metode analisis dan sintesis, metode grafis, dan metode eksperimental yang dilakukan dengan studi kajian teori, studi matriks, studi ruang gerak, studi karakteristik ruang, studi preseden, studi dan survei tapak, dan studi gubahan massa. Studi tersebut menghasilkan luasan program dan kapasitasnya, rancangan tapak, konsep, bentuk gubahan massa, dan prinsip skematik keruangan (denah). Berdasarkan metode dan studi yang dilakukan, kesimpulannya ialah Esports Arena yang dirancang di Petojo Selatan, Jakarta Pusat, sesuai dengan tema “Dear Millennials, Dialogue Between Type and Behavior” dan program berupa esports arena, ruang latihan esports, plaza dan cafetaria merupakan program yang menjawab hubungan keruangan antara tipe bangunan, perilaku dan kesejamanan milenial, serta perancangan dan konsep bentuk yang memusat, kontras, adanya plaza sebagai ruang tengah, pengalaman ruang penuh teknologi dan menyesuaikan dengan tema cyber menjawab pengaruh dari perilaku dan tantangan kesejamanan milenial.
KAJIAN PERANCANGAN PASAR MILENIAL: PASAR YANG MERESPON PERILAKU MILENIAL Rudy Lim; J.M. Joko Priyono Santoso
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 1, No 2 (2019): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v1i2.4516

Abstract

The market began to lose its physical form due to the emergence of the online market, which was caused by the behavior of millennials who demanded everything to be instant. The online market is not always good because there are many problems caused by the online market, such as quality goods fraud, cybercrime cases such as online account hijacking, goods security that is not guaranteed in the shipping process, and many others. The various problems posed by the online market are caused by a lack of direct interaction with the product or seller, so it can be concluded that the market still requires physical form.The method used to answer this issue begins with the process of collecting data on millennial habits and the issues that arise are mainly due to market developments. Then the matrix method is used to connect the data that has been collected until the results are obtained with diverse answers. Lastly, various massing experiments and concepts were carried out to create more options and develop more designs. Through this method the results are in the form of interactive programs that provide a different experience for the millennials so that the millennials will be interested in experiencing the space formed by the millennial market. The design experiment method also produces a form that gives identity to the environment around the site that lacks landmarks. The conclusion of this project is the Millennial Market: "Markets that respond to millennial behavior" along with programs in the form of traditional markets, digital gallery menus, e-clothing stores, food markets and gyms. These programs are programs that answer all millennial interactive needs, and prove that the millennials still need physical space. AbstrakPasar mulai kehilangan bentuk fisiknya akibat kemunculan pasar online, yang disebabkan oleh perilaku millennial yang menuntut segalanya serba instant. Pasar online tidak selamanya baik karena banyak masalah yang ditimbulkan oleh pasar online, seperti penipuan kualitas barang, kasus cybercrime seperti pembajakan akun online, keamanan barang yang kurang terjamin dalam proses pengiriman, dan masih banyak lainnya. Berbagai masalah yang ditimbulkan pasar online tersebut disebabkan kurangnya interaksi langsung dengan produk atau penjual, sehingga dapat disimpulkan bahwa pasar masih membutuhkan bentuk fisik. Metode yang dipakai untuk menjawab issue ini berawal dari proses pengumpulan data mengenai kebiasaan millennial dan issue yang ditimbulkannya terutama terhadap perkembangan pasar. Kemudian metode matriks digunakan untuk menghubungkan data-data yang telah dikumpulkan sampai didapatkan hasil dengan jawaban yang beragam. Terakhir dilakukan berbagai eksperimen massing beserta konsepnya sehingga tercipta berbagai opsi dan pengembangan desain yang lebih. Melalui metode tersebut dicapai hasil berupa program-program interaktif yang memberikan pengalaman berbeda bagi millennial sehingga millennial akan tertarik untuk mengalami ruang yang dibentuk oleh pasar millennial. Metode eksperimen desain juga menghasilkan sebuah bentuk yang memberikan identitas kepada lingkungan sekitar site yang kekurangan landmark. Kesimpulan dari proyek ini adalah Pasar Millennial: “Pasar yang merespon perilaku millennial” beserta program-program didalamnya yang berupa traditional market, menu digital gallery, e-clothing store, food market dan gym. Program-program tersebut merupakan program yang menjawab segala kebutuhan interaktif millennial, dan membuktikan bahwa millennial masih membutuhkan ruang fisik.
SARANA OLAHRAGA INTERAKTIF DI JATINEGARA Natasha Monica; J.M. Joko Priyono Santoso
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 2, No 2 (2020): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v2i2.8551

Abstract

Fighting becomes a problem in social life, which can be categorized as juvenile delinquency. The issue of juvenile delinquency in society is currently increasing, this causes unrest in the community. The environment, place of residence, and friends in relationships have a big influence on the formation of identity and self-development. Juvenile delinquency needs to be addressed and prevention efforts need to be done, this is necessary to avoid wider impacts that can threaten the security of the community. By using juvenile delinquency theory according to Dr. Kartini Kartono in examining the forms of juvenile delinquency and the prevention of juvenile delinquency. Researchers used the Dis-programming design method for combining several programs according to community needs. Keywords: juvenile deliquency; third placeAbstrak Tawuran menjadi sebuah permasalahan yang ada di kehidupan sosial, yang dapat  dikategorikan sebagai kenakalan remaja. Isu kenakalan remaja pada masyarakat saat ini semakin bertambah, hal ini menyebabkan keresahan pada masyarakat. Lingkungan, tempat tinggal, dan teman dalam pergaulan berpengaruh besar dalam pembentukkan jati  diri  serta perkembangan diri. Kenakalan remaja perlu ditangani serta perlu dilakukan upaya pencegahan, hal ini diperlukan untuk menghindari dampak yang lebih luas yang dapat mengancam keamanan masyarakat. Dengan menggunakan teori kenakalan remaja menurut Dr. Kartini Kartono dalam meneliti bentuk kenakalan remaja dan penanggulangan kenakalan remaja. Peneliti menggunakan metode perancangan Dis-programming untuk penggabungan beberapa program sesuai kebutuhan masyarakat.  
RUANG PENYEMBUHAN UNTUK EFEK FISIK DARI KECANDUAN INTERNET Clarin Sukri; J.M. Joko Priyono Santoso
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 1, No 2 (2019): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v1i2.4522

Abstract

The existence of the internet today changes individual behavior in many aspects that not only have a positive impact but also have a negative impact on its users. The rise of internet abuse that occurs causes syndromes such as internet addiction and diseases that attack the individual's physique. Therefore a container for dealing with the physical effects of internet addiction in millennial adolescents becomes necessary. Container which also provides psychological support to individuals. The site is in the area with the most millennial growth and also with consideration of function utilization, the chosen site is Semanan, Kalideres, West Jakarta. The design method used is descriptive qualitative and experimental methods in designing where experiments are conducted by incorporating aspects of suitable architectural design in the project and synthesis analysis to find out the best architectural design strategies that can optimize the program of healing room facilities for victims of internet addiction. Thus the design recommendations chosen were the application of healing gardens and architectural healing to the design of "healing rooms for the physical effects of internet addiction" which would be linked to the physical healing process not only for healing for internet addict patients but also maintaining the comfort of all individuals in in it from nurses who work to the management staff. AbstrakKeberadaan internet saat ini mengubah prilaku individu dalam banyak aspek yang tidak hanya memberi dampak positif tapi juga menimbulkan dampak negatif bagi para penggunanya. Maraknya penyalahgunaan internet yang terjadi menimbulkan sindrom-sindrom seperti kecanduan internet dan penyakit-penyakit yang menyerang fisik individu tersebut. Maka dari itu sebuah wadah untuk mengatasi efek fisik dari kecanduan internet pada remaja milenial ini menjadi perlu. Wadah yang juga memberi dukungan secara psikologi pada individu. Tapak berada di daerah dengan tumbuh kembang milenial terbanyak juga dengan pertimbangan pemanfaatan fungsi maka tapak terpilih adalah kawasan Semanan, Kalideres, Jakarta Barat. Metode perancangan yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dan metode eksperimental dalam mendesain dimana dilakukan percobaan-percobaan dengan memasukkan aspek desain arsitektuk yang cocok dalam proyek dan analisis sintesis untuk mengetahui strategi desain arsitektur terbaik yang dapat mengoptimalkan program fasilitas ruang penyembuhan bagi para korban kecanduan internet. Dengan demikian rekomendasi desain yang dipilih adalah penerapan healing garden dan healing arsitektur pada rancangan “ruang penyembuhan untuk efek fisik dari kecanduan internet” yang akan dikaitkan dengan proses penyembuhan fisik tidak hanya guna penyembuhan bagi para pasien pecandu internet namun juga menjaga kenyamanan semua individu yang ada di dalamnya dari para perawat yang bekerja hingga para staff pengelola.
REVOLUSI PASAR INDUK GEDEBAGE DENGAN PERANCANGAN RUANG KREATIF PUBLIK DALAM MEMAJUKAN PASAR TRADISIONAL SEBAGAI PUSAT GAYA HIDUP SEIRING PERKEMBANGAN ZAMAN Alexander Nikolas Tanata Harleeputra; Stephanus Huwae; J.M. Joko Priyono Santoso
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 4 No. 2 (2022): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v4i2.21914

Abstract

The Gedebage Main Market in Bandung has experienced degradation both physically and in the number of visitors or traders as time goes by. Various lifestyle changes can be felt, has been adjusted to the convenience obtained. It was recorded that in 2018, there are 1.000 trading rooms available at the Gedebage Main Market, only 500 were filled and it’s continued to reduce (Palau, E. 2021). Among the 500 inhabited trading rooms, there are still groceries and similar stalls in the traditional market cluster. In fact, with its status as a main market, it has a very important role for daily people’s need in Bandung. Physically, the existing buildings area have decreased, inculding the lack of management awareness. Therefore, a complete revolution is needed considering the potential on the surrounding area, such as Bandung whom famous for its fashion products. By using the theory of Organic Architecture to design creative public spaces as a solution in revolutionizing the Gedebage Main Market and making it as a “center of public lifestyle”. The method that used is qualitative and descriptive Thus, the “Neo-Gedebage” revolution became effective and efficient, resulting in traditional market that became a space that communities can carry out their daily activities. The results of Organic Architecture in the form of the “Neo-Gedebage” Market are able to distribute visitors according to the various lifestyle. Keywords: Lifestyle; Public Creative Hub; Revolution; Traditional Market Abstrak Pasar Induk Gedebage di Kota Bandung telah mengalami penurunan baik secara fisik maupun jumlah pengunjung ataupun pedagang seiring perkembangan zaman. Berbagai perubahan gaya hidup dapat dirasakan, menyesuaikan dengan kemudahan yang didapatkan. Tercatat pada tahun 2018 dari 1.000 ruang dagang yang tersedia pada Pasar Induk Gedebage, hanya 500-600 ruang dagang yang terisi dan terus menurun (Palau, E. 2021). Diantara 500 ruang dagang yang terhuni, masih terdapat kios basah dan sejenis dalam rumpun pasar tradisional. Padahal dengan statusnya sebagai pasar induk membuat peranannya sangat penting terhadap kehidupan masyarakat di Kota Bandung. Secara fisik, bangunan eksisting kawasan sudah mengalami penurunan termasuk kurangnya kepedulian pengelola. Oleh karena itu, diperlukan adanya revolusi menyeluruh mengingat potensi yang ada, seperti Kota Bandung sebagai kota yang terkenal dengan hasil fashion. Dengan menggunakan teori Arsitektur Organik untuk merancang ruang kreatif publik, menjadi solusi dalam merevolusi Pasar Induk Gedebage dan menjadikannya sebagai “pusat gaya hidup masyarakat”. Sehingga metode yang digunakan merupakan metode kualitatif dan deskriptif. Dengan demikian, Revolusi Pasar Induk Gedebage menjadi efektif dan tepat guna, menghasilkan pasar tradisional yang tidak hanya menjadi pusat kegiatan transaksional saja, namun juga menjadi wadah masyarakat dalam melakukan kegiatan sehari-hari. Hasil Arsitektur Organik dalam bentuk Pasar “Neo-Gedebage” mampu mendistribusikan pengunjung sesuai dengan gaya hidup masing-masing masyarakat.
KEBERADAAN PASAR TRADISIONAL SINDANG, KOJA SEBAGAI WADAH RUANG PUBLIK BAGI MASYARAKAT SEKITARNYA Alvin Tandy Harison; Stephanus Huwae; J.M. Joko Priyono Santoso
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 4 No. 2 (2022): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v4i2.22021

Abstract

which plays an important role as a facility for Koja District. However, the condition continues to experience degradation, causing a decrease in public interest in visiting. The location of Sindang Market which is close to flats and dense settlements as well as the existence of an environmental road on the side of Sindang Market creates a slum and closed impression which becomes a problem but can be a potential to develop Sindang Market. The locality approach is carried out with the aim of being able to consider the condition of the community and the surrounding environment as well as its influence on the re-design process of Sindang Market. The application of the concept of Javanese traditional buildings into a design concept in order to maintain the values ​​of the surrounding community and the application of connectivity between spaces. The collection of primary data and secondary data in the form of physical and non-physical data with qualitative methods. Sindang Market is expected to become a comfortable public space container and can maximize its function as a market and public space so that it can become an economic center and also become a center for the activities of the surrounding community with the aim of being able to revive Sindang Market. The re-design process with a locality approach is carried out so that Sindang Market can become an appropriate market for the surrounding community to support urban and surrounding space activities. Keywords: Degradation; Sindang Market; Public Space Abstrak Pasar Sindang merupakan salah satu pasar tradisional di Kecamatan Koja, Jakarta Utara, Indonesia, yang memegang peran penting sebagai fasilitas bagi Kecamatan Koja. Namun kondisinya yang terus mengalami degradasi, menyebabkan menurunnya minat masyarakat berkunjung. Letak Pasar Sindang yang dekat dengan rusunawa dan pemukiman padat serta keberadaan jalan lingkungan pada sisi Pasar Sindang menciptakan kesan kumuh dan tertutup menjadi suatu permasalahan namun dapat menjadi potensi untuk mengembangkan Pasar Sindang. Pendekatan lokalitas dilakukan bertujuan untuk dapat mempertimbangkan kondisi masyarakat dan lingkungan sekitarnya serta pengaruhnya terhadap proses re-desain Pasar Sindang. Penerapan konsep bangunan adat Jawa menjadi konsep desain agar mempertahankan nilai – nilai masyarakat sekitar serta penerapan keterhubungan antar ruang. Pengumpulan data primer dan data sekunder berupa data fisik dan nonfisik dengan metode kualitatif. Pasar Sindang diharapkan dapat menjadi sebuah wadah ruang publik yang nyaman serta dapat memaksimalkan fungsinya sebagai pasar dan ruang publik sehingga dapat menjadi suatu pusat perekonomian dan juga menjadi pusat terjadinya aktivitas masyarakat sekitar dengan tujuan untuk dapat menghidupkan kembali Pasar Sindang. Proses re-desain dengan pendekatan lokalitas dilakukan agar Pasar Sindang dapat menjadi pasar yang tepat guna bagi masyarakat sekitar sehingga dapat menjadi mendukung aktivitas ruang kota dan sekitarnya.
PEMBARUAN KAWASAN PAJAK IKAN LAMA WILAYAH KESAWAN MEDAN BARAT Gerardo Valentino Wijaya; Stephanus Huwae; J.M. Joko Priyono Santoso
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 4 No. 2 (2022): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v4i2.22029

Abstract

The area in the old city of Medan often cannot be claimed as an economic driver, even though at its time it was a source of economy and tourism. The fish market area (Pajak Ikan Lama) in Medan is one of the areas in the old city of Medan which is experiencing physical and social degradation. This can be seen from the many old buildings that have been abandoned and only become piles of garbage, lots of irregular traders, as well as being a dead area at night because there are no more community activities that make the area prone to crime. It is necessary to update the composition of the building and add other functions to revive the Pajak Ikan Lama Area and it is hoped that it can become a comfortable public space container and maximise its function as a market and public space. Urban acupuncture is one of the design methods used to find problem points and their relationship to the surrounding environment. The method used is to look for data related to the existing condition of the Pajak Ikan Lama Area and also to look for potentials that can be proposed so that the Pajak Ikan Lama Area can become a public space that can fulfil its function as a market, other commercial activities, and public space to the fullest. Keywords: Pajak Ikan Lama; Revitalisation; Public Area Abstrak Kawasan di kota tua Medan seringkali tidak dapat diklaim sebagai penggerak perekonomian walaupun pada masanya merupakan sumber perekonomian dan pariwisata. Kawasan pasar ikan (Pajak Ikan Lama) Medan merupakan salah satu kawasan di kota tua Medan yang mengalami degradasi secara fisik maupun sosial. Hal ini dapat dilihat dari banyak bangunan tua yang sudah ditinggalkan dan hanya menjadi tempat tumpukan sampah, banyak pedagang-pedagang yang tidak beraturan, serta menjadi kawasan mati pada malam hari akibat sudah tidak ada aktivitas masyarakat yang menjadikan kawasan tersebut rawan kejahatan. Perlu adanya pembaruan komposisi bangunan serta penambahan fungsi untuk menghidupkan kembali Pajak Ikan lama dan diharapkan dapat menjadi sebuah wadah ruang publik yang nyaman serta memaksimalkan fungsinya sebagai pasar dan ruang publik. Urban acupuncture menjadi salah satu metode desain yang dilakukan untuk menemukan titik permasalahan dan hubungannya pada lingkungan sekitar. Metode yang dilakukan adalah dengan mencari data terkait kondisi eksisting Pajak Ikan Lama dan potensi yang dapat diusulkan sehingga Pajak Ikan Lama dapat menjadi sebuah ruang publik yang dapat memenuhi fungsinya sebagai pasar, akitivitas komersial, serta ruang publik secara maksimal.