J.M. Joko Priyono Santoso
Program Studi S1 Arsitektur, Fakultas Teknik, Universitas Tarumanagara

Published : 19 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 19 Documents
Search

REVITALISASI AREA POLDER TAWANG SEBAGAI UPAYA MENGHIDUPKAN KEMBALI KAWASAN KOTA LAMA SEMARANG Madeline Venda Adhitya; Stephanus Huwae; J.M. Joko Priyono Santoso
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 4 No. 2 (2022): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v4i2.22037

Abstract

The Old Town of Semarang, which is nicknamed Little Netherland, is a relic area of ​​the Dutch colonial era where in ancient times it was the center of government, offices and trade with its location surrounded by canals. This area has architectural values ​​of cultural heritage, but the management of the Dutch colonial buildings around Tawang station is still largely unused, damaged, and abandoned. The Tawang Polder area in the Old Town area of ​​Semarang, Indonesia, is one of the parts that is experiencing degradation, because a series of Cultural Conservation buildings on Jalan Merak are not maintained and have not been revitalized, become an area prone to waterlogging, and is also known as a gloomy area (red light). /Prostitution). Therefore, the Tawang polder area deserves to be revitalized using the urban acupuncture method. The goal is to help repair and revive the Semarang Old Town Area. Community development is used as the basis for the concept of designing using the Urban Acupuncture method. In the process of searching for data, it is done by tracing, especially for physical data. Community Development theory is expected to find patterns and spatial arrangements that can accommodate culinary tourism. The results achieved can find spaces with large dimensions that are able to accommodate various patterns of activity and participation from flood disasters. Architectural results using the Community Development theory are able to improve the regional economy while maintaining the cultural heritage of the Old City of Semarang. Keywords : Cultural heritage; Semarang Old Town; Tawang Polder; Revitalization Abstrak Kota Lama Semarang yang mendapat julukan Little Netherland merupakan kawasan peninggalan masa pemerintahan kolonial Belanda dimana zaman dahulu merupakan kawasan pusat pemerintahan, perkantoran dan perdagangan dengan lokasinya dikelilingi kanal-kanal. Kawasan ini memiliki nilai arsitektur cagar budaya, namun tata kelola bangunan kolonial Belanda di sekitar stasiun Tawang masih banyak yang tidak dimanfaatkan, rusak, dan terbengkalai. Area Polder Tawang pada Kawasan Kota Lama Semarang, Indonesia, menjadi salah satu bagian yang mengalami degradasi, karena sederet bangunan Cagar Budaya di Jalan Merak yang tidak terawat dan belum di Revitalisasi, menjadi area rawan tergenang air, dan juga terkenal sebagai area suram (red light/Prostitusi). Oleh karena itu, pada area polder tawang ini layak diRevitalisasi dengan metode urban acupuncture. Tujuannya untuk membantu memperbaiki dan menghidupkan kembali Kawasan Kota Lama Semarang. Community development dijadikan sebagai basis konsep dalam merancang yang menggunakan metode Urban Acupuncture. Dalam proses pencarian data dilakukan dengan cara tracing khususnya untuk data-data fisik. Teori Community Development diharapkan dapat menemukan pola dan penataan ruang yang mampu menampung wisata kuliner. Hasil yang dicapai dapat menemukan ruang-ruang dengan dimensi besar yang mampu menampung berbagai macam pola aktivitas dan perantisipasi dari bencana banjir. Hasil Arsitektur menggunakan teori Community Development mampu meningkatkan perekonomian kawasan sekaligus mempertahankan warisan budaya Kota Lama Semarang.
PENGADAAN DESTINASI WISATA EDUKASI DAN RUANG TERBUKA SEBAGAI UPAYA OPTIMALISASI WISATA KOTA TUA Michelle Quinsa Tanudjaja; J.M. Joko Priyono Santoso
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 4 No. 2 (2022): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v4i2.22057

Abstract

Jakarta Old Town, jakarta, Indonesia, is one of the domestic and foreign tourism destinations, that should be full of dynamic and potential to be developed into one of Jakarta’s heritage education tourisms. In reality, according to the questionnaire, tourists are more drawn to visiting other tourist destinations like Ancol (Jakartabay). This is caused by the views of the public who judge museums to be old haunted builings and boring because the lack of interesting programs and unfriendly facilities provided for pedestrians. To increase tourist’s interest, using the urban acupunture method, as a step to fixing Jakarta Old Town. That is to add more modern attraction programs such as rest areas and culinary spots, not forgetting the contextual history of the area while also being instagenic, a trend which people likes to upload their daily life on social media. Using literature studies, field survey and questionnaire, collected accurate data. The analysis and synthetic process is done to find programs along with the best location to be made into an acupunture point. The location of the site is included in the Old City area, that was once included in Batavia wall, famous for it’s colonial style buildings. Guidelines from provincial government regarding the develoment of Jakarta Old Town, making this area a cultural heritage tourism destination and educational tourism. Project presenting a function compatible to these provisions. The outcome of this project is a Batavia acculturation cultural education tourism destination, a rest area, and performance area with promenade beside Ciliwung River. This project is meant to become a generator in the area, while also become a tourist attractor from outside the area. With an architectural style that juxtaposes Dutch colonial architecture and modern. Modern Architecture aims to remind the imperialism characteristics into architecture. Accompanied by the proposed changes to the trafic system and the main modes of transportation in the area. Keywords:  urban acupunture; Jakarta Old Town; Education Tourism; Jakarta Tourism; Cultural Tourism Abstrak Kota Tua Jakarta, Indonesia merupakan salah satu destinasi wisata domestik dan mancanegara, yang seharusnya penuh dengan dinamika dan potensi untuk dikembangkan menjadi salah satu heritage education tourism Jakarta. Kenyataannya bedasarkan kuisioner, wisatawan lebih tertarik untuk mengunjungi destinasi wisata lainnya seperti Ancol (Jakartabay). Hal ini disebabkan oleh pandangan masyarakat yang menilai museum sebagai bangunan tua angker dan membosankan karena kurangnya program yang menarik dan kurang bersahabatnya fasilitas pedestrian. Demi meningkatkan minat wisatawan, digunakan metode akupunktur perkotaan, sebagai langkah perbaikan Kota Tua Jakarta.  Yaitu menyuntikan program atraksi yang lebih moderen seperti area peristirahatan dan kuliner,  tanpa melupakan sejarah kontekstual kawasan dan sekaligus instagenic yang merupakan tren masyarakat yang suka mengunggah kesehariannya ke media sosial. Menggunakan studi literatur, survey, kuisioner dikumpulkan data yang akurat. Proses analisis sintesis dilakukan untuk menemukan program serta lokasi yang tepat untuk titik akupunktur. Lokasi tapak termasuk dalam kawasan Kota Tua yang dulu termasuk dalam tembok Batavia, terkenal dengan gaya bangunan kolonialnya. Guidelines dari pemprov terkait pengembangan Kawasan Kota Tua Jakarta, menjadikan kawasan ini sebuah destinasi wisata cagar budaya dan wisata edukasi. Proyek menghadirkan fungsi yang sejalan dengan ketentuan tersebut. Hasil akhir dari proyek ini adalah destinasi wisata budaya Batavia, tempat peristirahatan, serta area pertunjukan dengan promade disisi Sungai Ciliwung. Proyek ini dimaksudkan menjadi generator dalam kawasan, sekaligus menjadi atraktor wisatawan dari luar kawasan. Gaya arsitektur yang menyandingkan arsitektur Kolonial Belanda dan moderen. Arsitektur moderen bertujuan untuk mengingatkan kembali karakteristik imperialisme ke dalam arsitektur. Disertai dengan usulan perubahan sistem lalu lintas dan moda transportasi utama dalam kawasan.
ORION ONE: MENGHIDUPKAN KEMBALI PLAZA DENGAN REVITALISASI DAN URBAN AKUPUNTUR Matthew Matthew; J.M. Joko Priyono Santoso
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 4 No. 2 (2022): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v4i2.22071

Abstract

Plaza Orion was originally a cinema building, Cinema Orion was built in the 1920 by the Dutch. Now the cinema building has been converted into an electronic shop building, still using its original name, namely Plaza Orion. After the riots, most of the electronic merchants migrated to several places and what can be seen is the Mangga Dua electronic area. Plaza Orion is a physically and functionally degraded building, even though the area and location can be a support for Plaza Orion itself. The problem that will be overcome is to revive Plaza Orion functionally and adapt to its environment in the flooded area so that it can come back to life and can become a cornerstone to support the surrounding area in terms of the advancement of electronic technology. The main objective of this final project is to restore the glory of Plaza Orion in terms of facilities, quality and number of visitors by using qualitative and comparative methods. So that Plaza Orion can become a supporter of the sector area of technology and electronics advancement. By keeping abreast of the times in adapting to online learning. There must be an injection of revitalization based on urban acupuncture at Plaza Orion so that it can come back to life and can become a center for the advancement of electronic technology and become a supporter of nearby area as well as for the Glodok community and surrounding areas. By using a revitalization method based on urban acupuncture, it provides an opportunity to revive Plaza Orion. Keywords: Electronic; Revitalization; Technology; Urban acupuncture Abstrak Plaza Orion awalnya merupakan gedung bioskop, Cinema Orion yang dibangun tahun 1920-an oleh Belanda. Sekarang gedung bioskop itu berubah fungsi menjadi gedung pertokoan elektronik, masih menggunakan nama awalnya, yaitu Plaza Orion. Setelah kejadian kerusuhan sebagian besar dari pedagang elektronik melakukan migrasi kebeberapa tempat dan yang dapat dilihat seperti area elektronik mangga dua. Plaza Orion merupakan bangunan yang terdegratasi secara fisik dan fungsi, padahal area kawasan dan lokasi dapat menjadi sebuah pendukung dari Plaza Orion sendiri. Permasalahan yang akan diatasi adalah membangkitkan kembali Plaza Orion secara fungsi dan beradaptasi degan lingkunganya yang berada diwilayah banjir agar dapat menjadi hidup kembali serta dapat menjadi penjuru untuk mendukung area sekitarnya dari segi bidang kemajuan teknologi elektronik. Tujuan utama dari tugas akhir ini untuk mengembalikan kejayaan dari Plaza Orion dari segi fasilitas, kualitas serta jumlah pengunjung dengan menggunakan metode kualitatif dan kompartif. Agar Plaza orion dapat menjadi pendukung dari area sektor dari bidang kemajuan teknologi dan elektronik. Dengan memegang mengikuti perkembangan zaman dalam beradaptasi dengan pembelajan online. Harus adanya suntikan revitalisasi didasari urban akupuntur pada Plaza Orion agar dapat menjadi hidup kembali serta dapat menjadi pusat kemajuan teknologi elektronik dan menjadi pendukung area sekitarnya serta untuk untuk wilayah masyarakat Glodok dan sekitar area wilayahnya. Dengan menggunakan metode revitalisasi yang didasari dengan urban akupuntur memberikan peluang untuk membangkitkan Plaza Orion.
GALERI SENI SEBAGAI INTERVENSI TERHADAP JAKARTA KOTA LAMA Joseph Mulia; J.M. Joko Priyono Santoso
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 4 No. 2 (2022): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v4i2.22073

Abstract

The Kota Tua area, Tamansari District, West Jakarta is an area that is famous for its history. This area is not developing in the current era of modernization, thus making this area unattractive to visitors. To revive this area, it is necessary to intervene using the conservation conservation concept which aims to preserve the culture that has existed for a long time. The intervention was carried out by including a program of art galleries, educational areas, garden areas (public). To achieve success, data collection is carried out in the form of primary data such as site surveys, taking pictures from Google Maps and secondary data such as from journals, government publications and books. Next, an analysis process is carried out such as the needs in the area and the objectives to be achieved such as the preservation of the area contained in the form of buildings, historical items, paintings, sculptures and others, in addition to adding functions such as modern galleries that can attract attention. visitors to visit the building because it can be seen from the data that a modern gallery is a function that is currently developing. The analysis process results in art galleries dominating a larger space than other programs because their functions are in accordance with the objectives and can also solve problems. The final result of the intervention will only reach its maximum value if all systems in the Kota Tua area can be properly integrated. Keywords: Modernization; Regional Development; Urban Heritage; Visitors Abstrak Kawasan Kota Tua Kecamatan Tamansari, Jakarta Barat merupakan kawasan yang terkenal akan sejarahnya. Kawasan ini tidak berkembang di era modernisasi saat ini, sehingga membuat kawasan ini tidak diminati pengunjung. Untuk menghidupkan kawasan ini perlu dilakukan intervensi dengan menggunakan konsep konservasi preservasi yang bertujuan untuk melestarikan budaya yang sudah lama ada. Intervensi dilakukan dengan memasukkan program galeri seni rupa, area edukasi, area taman (publik). Untuk mencapai keberhasilan dilakukan pendataan dalam bentuk data primer seperti survei lokasi tapak,  pengambilan gambar dari google maps dan sekunder seperti dari jurnal, publikasi pemerintah maupun buku. selanjutnya dilakukan proses analisis seperti kebutuhan dalam kawasan tersebut dan tujuan yang akan dicapai seperti pelestarian kawasan yang tertuang dalam bentuk bangunan, barang-barang bersejarah, lukisan-lukisan, patung dan yang lain-lainnya, selain itu penambahan fungsi seperti galeri modern yang dapat menarik perhatian pengunjung untuk mengunjungi bangunan tersebut karena terlihat dari data juga galeri modern merupakan suatu fungsi yang sedang berkembang saat ini. Proses analisis menghasilkan galeri seni rupa mendominasi ruang lebih besar dibanding program-program lainnya dikarenakan fungsi yang sesuai dengan tujuan dan juga dapat menyelesaikan masalah. Hasil akhir intervensi baru akan mencapai nilai maksimal apabila seluruh sistem di dalam Kawasan Kota Tua dapat terintegrasi dengan baik.
PERENCANAAN FASILITAS PENUNJANG PADA KAWASAN KULINER PASAR LAMA KOTA TANGERANG Syana Aulia Maharani Rachman; J.M. Joko Priyono Santoso
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 4 No. 2 (2022): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v4i2.22074

Abstract

The culinary area of Pasar Lama Tangerang city has potential to be a City Tourist icon. Located in the middle city, and the transport is easy to reach. But culinary tours are very crowded and are not yet supported by social facilities according to their role. The comfort of visitors and traders is still very low, the visitors do not have a seat, and it is difficult to find parking, the lack of green land (park) due to land density. Supporting facilities are very needed in the form of arrangement of buildings and land using urban methods. acupuncture Daily architectural design methods are also used, and the analysis process is carried out to find what the Region needs. Containers as the main material that gives the impression of Tangerang as an industrial city, the use is also lifting the sustainable concept. The containers are selected because the components are module, and in accordance with the size of the module in the space, adjust the capacity adjustment to the residents and consider the human scale for each room. The concept of corridors and clusters are applied in Culinary Areas. The design obtained to achieve comfort by using containers is not maximal if they do not help with other systems structure. The results use containers that will provide a large enough space for design development and can be applied to market function or others that have the same problem. Keywords:   Container Materials; Culinary tours ; Pasar Lama Tangerang City culinary area; Supporting facilities; Urban Acupuncture Abstrak Kawasan kuliner Pasar Lama Kota Tangerang sangat berpotensi untuk dijadikan Ikon wisata Kota. Lokasinya yang berada di tengah kota, dan transportasi yang mudah untuk mencapai kawasan. Namun wisata kuliner sangat crowded dan belum didukung dengan fasilitas sosial sesuai perannya. Kenyamanan pengunjung dan para pedagang masih sangat rendah, para pengunjung tidak memiliki tempat duduk, serta sulit mencari parkir, minimnya lahan hijau (taman) karena kepadatan lahan. Fasilitas penunjang sangat dibutuhkan dalam bentuk penataan bangunan dan lahan dengan menggunakan metode urban akupuntur. Metode desain arsitektur keseharian juga digunakan, dan dilakukan proses analisis untuk menemukan apa yang dibutuhkan Kawasan. Kontainer sebagai material utama yang memberi kesan ciri khas Tangerang sebagai kota industri, pemanfaatannya juga mengangkat konsep sustainable. Kontainer dipilih karena komponennya bersifat modular, dan sesuai ukuran modul pada ruang, dilakukan penyesuaian kapasitas pada penghuninya serta mempertimbangkan skala manusia untuk ukuran setiap ruangan. Konsep koridor dan cluster diterapkan di dalam penataan Kawasan kuliner. Desain yang diperoleh untuk mencapai kenyamanan dengan menggunakan container tidak maksimal jika tidak dibantu dengan sistem struktur yang lain. Dari hasil pemanfaatan kontainer yang akan memberikan ruang yang cukup luas untuk pengembangan desain dan bisa diterapkan pada fungsi pasar atau lainnya yang memiliki problematik sama.
RENGHUB: MEMPERBARUI BANGUNAN MATI FUNGSI DI AREA MRT LEBAK BULUS GRAB Ayala Jayanegara Widjanarko; J.M. Joko Priyono Santoso
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 5 No. 1 (2023): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v5i1.22599

Abstract

The construction of the flyover and Lebak Bulus Grab MRT Station, along the Jakarta-Bogor street, South Jakarta, has had an impact in the form of the death of trade and other activities (the Friday market area, football community, and the Lebak Bulus bus transit area), especially around the station area. MRT. Physical deterioration and activity on these sections must be injected with activity in the hope of being able to restore the dynamics of life, such as building Renghub. Aims to update the function of a dead building. The method used is descriptive qualitative by making direct observations in the field. Data can be obtained by utilizing what is already there (secondary data) and searching for new data (primary data). The results achieved are in the form of interaction activities between MRT users and other means of transportation, which are accommodated in a building with the characteristics of the past, Lebak Bulus and Friday markets. The results achieved still require development in other sectors which in the end can synergize with Renghub, and be able to restore environmental dynamics to the way they were before. Keywords: MRT; mass rapid transit;  death of activities; deterioration; update the function Abstrak Pembangunan jalan layang dan Stasiun MRT Lebak Bulus Grab, di sepanjang jalan Jakarta-Bogor Lebak Bulus, Jakarta Selatan, memberikan dampak dalam bentuk matinya aktivitas perdagangan dan aktivitas lain (area pasar jumat, komunitas bola, dan area transit bus Lebak Bulus) khususnya di sekitar area stasiun MRT. Disebabkan terjadinya degradasi fisik dan aktivitas pada ruas tersebut maka harus disuntikan program dengan harapan mampu mengembalikan dinamika kehidupan, seperti membangun Renghub. Bertujuan untuk memperbaiki fungsi bangunan yang sudah mati. Metode yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan menyandingkan antara data dan konsep Urban Acupuncture. Data dapat diperoleh dengan melakukan pengamatan di lapangan secara langsung, apa yang sudah ada (data sekunder) dan pencarian data baru (data primer). Hasil yang dicapai dalam bentuk aktivitas interaksi antar pengguna MRT dan alat transportasi lain, yang ditampung dalam sebuah bangunan dengan karakter masa lalu Lebak Bulus dan Pasar Jumat dengan memasukan konsep arsitektur berkelanjutan. Untuk mencapai hasil yang sempurna masih diperlukan pengembangan pada sektor-sektor lain yang pada akhirnya dapat bersinergi dengan Renghub, dan mampu mengembalikan dinamika lingkungan yang berkembang.  
PROTOTIPE FASILITAS PELATIHAN KEWIRAUSAHAAN CENGKEH DI PERKEBUNAN JAMBELAER Indika Kamara Putra; J.M. Joko Priyono Santoso
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 5 No. 2 (2023): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v5i2.24194

Abstract

Starting from the issues faced by a group of young people from Jambelaer village, Sukabumi, who are seeking work in the city with only junior high school and vocational school diplomas. Some of these youths claim that their fathers were former successful clove entrepreneurs in their village, but went bankrupt due to limited facilities, sales access, and knowledge about clove farming. The farming methods and facilities used by the villagers are still very conventional and highly dependent on weather conditions, resulting in declining harvest yields and selling prices that no longer cover their expenses. Moreover, the farmers lack sufficient knowledge about clove plant care and how to optimize production from clove harvests. As a result, the young farmers have shifted to seeking work in the city, and their clove plantations in the village have been left neglected, as they are considered to have lost their value. This has become a problem because if they are no longer dependent on their natural resources, over time, the importance of clove farming may be forgotten. This project takes the clove plants in their village as the subject of empathy and aims to revitalize clove farming as the main source of income for the village. Therefore, they need a facility for learning and education about clove farming, as well as a processing facility to process their harvests without being too dependent on weather conditions. The proposed architectural solution in this case is a prototype, a building for educational and learning facilities dedicated to everything about clove farming, along with a processing facility. This prototype will be built in the location of the clove plantations owned by the villagers. The "fill in" method will be used, filling in empty areas without significantly cutting down existing clove trees, using locally available building materials from the village to minimize costs and, at the same time, aiming to increase the awareness of the village's youth regarding the richness of their local resources. Keywords: architecture; awareness; clove; empathy; education Abstrak Berangkat dari permasalahan sekelompok anak muda asal kampung Jambelaer, Sukabumi, yang mencari kerja di kota dan hanya berbekal ijazah SMP dan SMK, padahal beberapa anak mengaku ayahnya adalah bekas seorang pengusaha cengkeh yang dulu sukses dikampungnya, tetapi bangkrut karena keterbatasan fasilitas, akses jual dan pengetahuan tentang cengkeh. Metode dan fasilitas yang digunakan para petani kampung tersebut masih sangat konvensional dan sangat tergantung dengan cuaca, akibatnya hasil panen terus menurun dan harga jual sudah tidak menutupi modal mereka. Petani kampung tersebut juga tidak dibekali pengetahuan yang cukup tentang perawatan tanaman cengkeh dan bagaimana mengoptimalkan produksi dari hasil panen cengkeh. Karena hal itu maka para petani beralih mencari kerja ke kota dan kebun cengkeh di kampung mereka dibiarkan terlantar begitu saja karena dianggap sudah tidak memiliki value bagi mereka. Hal ini menjadi masalah karena jika mereka sudah tidak bergantung akan alamnya maka lama kelamaan cengkeh akan dilupakan. Proyek ini menjadikan tanaman cengkeh pada kampung mereka sebagai subjek empati dan mencoba mengangkat kembali tanaman cengkeh sebagai penghasilan utama kampung tersebut. Untuk itu, mereka membutuhkan sebuah fasilitas pembelajaran, pendidikan dan juga pengolahan cengkeh. Solusi arsitektural pada kasus ini merupakan prototype, sebuah bangunan fasilitas pendidikan dan pembelajaran segala hal tentang cengkeh, juga fasilitas pengolahan untuk memproses hasil panen mereka tanpa terlalu tergantung dengan keadaan cuaca. Prototype ini akan dibangun pada lokasi kebun cengkeh warga kampung Jambelaer. Dengan metode fill in, mengisi area kosong tanpa banyak menebang pohon cengkeh yang sudah ada dengan pemakaian material bangunan yang mudah ditemukan pada area kampung mereka untuk meminimalisir biaya dan juga bertujuan untuk meningkatkan kepedulian para pemuda kampung tersebut akan kekayaan sumberdaya kampung mereka.
PENYEMBUHAN DAN PERBAIKAN MORAL WANITA PENGHIBUR Jodi Adam; J.M. Joko Priyono Santoso
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 5 No. 2 (2023): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v5i2.24203

Abstract

Globalization has brought many significant changes and impacts to the world, both positive and negative. On the one hand, globalization has brought technological advances and information that enable access to faster and easier information and communication, as well as increasing international trade and foreign investments that can drive economic growth. On the other hand, globalization is also potentially exacerbating the social and economic disparity between strong and weak countries, as well as strengthening the influence of multinational forces and global organizations to make decisions that can affect human life. And free association is one of the effects of globalization itself. Promiscuity is a social phenomenon with such a variety of forms as murder, alcoholic beverages, smoking, brawling, and sexual promiscuity. Casual sex is one form of free association and the effects of casual sex: premature marriage, abortion, and HIV. HIV is a very lethal impact. The spread of HIV is free of the three factors: female entertainers, drug use, and poor dipper. Female entertainers are a form of sexual promiscuity. On the other hand, a lack of empathy for society leads to mental, psychological and biological problems for prostitutes. In this regard, empathy for female entertainers also plays a key role in promoting more inclusive and friendly social changes for individuals involved in tuna. In building empathy for female comforters, society needs to treat them with respect, tolerance, and understanding. Thus, it is hoped that a more inclusive and friendly social environment will be created for all individuals in society, through architecture. The project employs methods of juhani pallasmaa's theory "an architecture of seven sense" and "the eyes of the skin: architecture and sense" and through data collecting from BPS's internal media, e.book, surveys, interviews and semisters, and analysis of the needs of the surrounding communities. It is to be expected that empathy remains and remains until recently, with a design consistent with the characteristics of empathy. Keywords:  Free association, Sex workers, Rehabilitation Abstrak Globalisasi telah membawa banyak perubahan dan dampak signifikan bagi dunia, baik positif maupun negatif. Di satu sisi, globalisasi telah membawa kemajuan teknologi dan informasi yang memungkinkan akses informasi dan komunikasi yang lebih cepat dan mudah, serta meningkatkan perdagangan internasional dan investasi asing yang dapat mendorong pertumbuhan ekonomi. Di sisi lain, globalisasi juga berpotensi memperburuk kesenjangan sosial dan ekonomi antara negara-negara yang kuat dan lemah, serta memperkuat pengaruh kekuatan multinasional dan organisasi global dalam mengambil keputusan yang dapat mempengaruhi kehidupan manusia. Dan pergaulan bebas salah satu dampak dari globalisasi itu sendiri. Pergaulan bebas adalah fenomena sosial memiliki beragam bentuk seperti : pembunuhan, minuman berakohol, merokok, tawuran, dan sex bebas. Sex bebas salah satu bentuk pergaulan bebas dan dampak dari sex bebas adalah: pernikahan dini, aborsi, dan hiv. Hiv adalah dampak yang sangat mematikan. Penyebaran hiv di sebebkan dari tiga faktor yaitu : tuna Susila, penggunaan narkotika suntik, dan pendudduk miskin. Tuna Susila salah satu bentuk korban dari sex bebas. Di sisi lain kurangnya empati terhadap masyarakat sehingga menimbulkan masalah mental, psikologis dan biologis pada tuna Susila. Dalam hal ini, empati terhadap tuna susila juga berperan penting dalam mempromosikan perubahan sosial yang lebih inklusif dan ramah bagi individu yang terlibat dalam tuna susila. Dalam membangun empati terhadap tuna susila, masyarakat perlu memperlakukan mereka dengan penuh rasa hormat, toleransi, dan pengertian. Dengan begitu, diharapkan akan tercipta lingkungan sosial yang lebih inklusif dan ramah bagi semua individu dalam masyarakat, melalui arsitektur. Proyek ini menggunakan metode dari teori Juhani Pallasmaa “An architecture of seven sense” dan “The eyes of the skin: architecture and sense” dan melalui pengumpulan data dari BPS DKI Jakarta, jurnal ilmiah, e-book, survei, wawancara dan kuisioner, serta analisis kebutuhan masyarakat sekitar. Dengan ini diharapkan rasa empati tetap terasa dan terjaga sampai kapanpun, dengan desain sesuai dengan karakteristik empati.
FASILITAS BELAJAR WIRAUSAHA DAN KERAJINAN TANGAN UNTUK MANTAN PEGAWAI GERBANG TOL Jeremy Ariandi Setyolisdianto; J.M. Joko Priyono Santoso
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 5 No. 2 (2023): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v5i2.24204

Abstract

Starting from the phenomenon of factors related to unemployment, the author refers to the factor of digitalization. The author observes the rapid technological developments worldwide. The impact can lead to human workers in offices being replaced by advanced technology-operated robots. The author conducted interviews and concluded that former toll gate workers actually want to start their own businesses. However, they face obstacles such as a lack of understanding about entrepreneurship and insufficient skills for the business they want to start, which ultimately leads them to choose unemployment since they cannot return to work in the toll gate subsidiary. Seeing the increasing developments in architecture, the author sees an opportunity to try entrepreneurship in the furniture craft field. Toll gate operators who didn't get the chance to work as staff in Jasa Marga could receive training to develop the business they want to start and also try creating their products in the provided workshop. Plastic waste has potential as another material for home decor or furniture due to its termite-resistant nature. Former toll gate employees can easily start a craft business using plastic waste, from its collection to the processing until it becomes a product. Considering the current trend where many cafes or hangout places use simple and modern furniture, it aligns with the current building concepts. Keywords: architecture; emphaty; entrepreneur; jobless Abstrak Berangkat dari fenomena faktor yang mengacu ke pengangguran, penulis mengacu pada faktor digitalisasi. Penulis melihat sekarang ini perkembangan teknologi yang melaju sangat cepat di seluruh dunia. Dan dampaknya bisa menyebabkan tenaga manusia yang tadinya bekerja di kantoran, diganti dengan tenaga robot yang menggunakan teknologi canggih. Penulis melakukan metode wawancara dan menyimpulkan bahwa mantan pekerja gerbang tol sebenarnya ingin memulai merintis berwirausaha. Dikarenakan halangan seperti tidak paham mengenai wirausaha dan tidak ada cukup skill mereka di usaha yang akan di mulainya, maka mereka akhirnya memilih untuk menganggur. Karena tidak dapatnya kembali bekerja di anak perusahaan gerbang tol tersebut. Melihat perkembangan di pembangunan arsitektur lagi meningkat, saya melihat peluang untuk mencoba pada entreprenuer craft di bidang furniture. Dimana operator-operator gerbang tol yang tidak dapat kesempatan bekerja menjadi staf di Jasa Marga bisa mendapatkan pelatihan untuk bisa berkembang di usaha yang ingin mereka buat dan dapat juga mencoba membuat suatu produknya dalam workshop yang juga disediakan di dalamnya. Sampah plastik memiliki potensi sebagai bahan lainnya untuk home decor atau furniture. Dikarenakan bahan ini sifat anti rayap. Para mantan pegawai gerbang tol bisa memulai bisnis kerajinan berbahan sampah plastik dengan mudah. Dari mulai pengumpulan sampah plastiknya dan pengolahannya hingga jadi produknya. Dilihat trend sekarang ini banyak cafe atau tempat tempat hangout banyak menggunakan bahan perabotnya yang terlihat simpel dan modern, menyesuaikan dengan konsep bangunan sekarang ini.