This study examines teachers’ understanding and implementation of religious moderation in Madrasah Aliyah (MA) Sejahtera Pare Kediri. Although previous research has widely discussed intolerance and radical tendencies in Indonesian schools, limited studies have explored how teachers in specific madrasah contexts internalize and apply the principles of religious moderation in daily pedagogical practice. This study addresses that gap by assessing both the conceptual grasp and practical enactment of moderation among teachers. A mixed-methods sequential explanatory design was employed. Quantitative data were collected from 15 teachers using a 20-item Likert scale questionnaire and analyzed through descriptive statistics using SPSS 26. Qualitative data were obtained through semi-structured interviews, observations, and documentation, and analyzed using data reduction, data display, and conclusion drawing. The findings show that all teachers demonstrate a very high level of understanding and practice of religious m ABSTRAK Penelitian ini mengkaji pemahaman dan implementasi moderasi beragama pada guru di Madrasah Aliyah (MA) Sejahtera Pare Kediri. Meskipun berbagai studi sebelumnya telah membahas intoleransi dan kecenderungan radikal di sekolah-sekolah Indonesia, masih sedikit penelitian yang menelaah bagaimana guru dalam konteks madrasah tertentu menginternalisasi dan menerapkan prinsip moderasi beragama dalam praktik pedagogis sehari-hari. Penelitian ini mengisi kesenjangan tersebut dengan menilai pemahaman konseptual dan penerapan praktis moderasi oleh para guru. Desain penelitian yang digunakan adalah mixed methods sequential explanatory. Data kuantitatif dikumpulkan dari 15 guru melalui kuesioner Likert 20 butir dan dianalisis menggunakan statistik deskriptif melalui SPSS 26. Data kualitatif diperoleh melalui wawancara semi‑terstruktur, observasi, dan dokumentasi, kemudian dianalisis melalui reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa seluruh guru memiliki tingkat pemahaman dan praktik moderasi beragama yang sangat tinggi. Terdapat tiga temuan utama. Pertama, guru secara konsisten mengintegrasikan nilai moderasi seperti toleransi, keadilan, dan keseimbangan dalam kegiatan pembelajaran dan interaksi sosial. Kedua, komitmen kebangsaan, kerja sama antaragama, dan sikap anti‑kekerasan tercermin kuat dalam respons mereka. Ketiga, budaya institusi dan dukungan kepemimpinan berperan signifikan dalam memperkuat keberlanjutan praktik moderasi.