Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

BENTUK, MAKNA, DAN FUNGSI IDIOM DALAM BAHASA BATAK TOBA Immanuel Silaban; Mulyadi .
Jurnal Education and Development Vol 8 No 1 (2020): Vol.8.No.1.2020
Publisher : Institut Pendidikan Tapanuli Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (611.45 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bentuk, jenis, makna, dan fungsi idiom yang terkandung dalam bahasa Batak Toba. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif, dan bentuk penelitian kualitatif. Data dalam penelitian ini adalah cerita percakapan yang mengandung idiom dalam bahasa Batak Toba. Sumber data penelitian ini adalah percakapan yang diucapkan oleh pembicara. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan teknik percakapan,wawancara, dan teknik rekaman. Berdasarkan hasil analisis data dapat ditemukan bentuk idiom bahasa Batak Toba yang berasal dari percakapan dalam bentuk gabungan kata. Jenis idiom dibagi menjadi dua, yaitu idiom penuh, dan idiom parsial. Arti idiom adalah makna yang menyimpang dari unsur makna leksikal konstituen dalam konteks kalimat. Fungsi idiom terkait erat dengan penggunaan idiom yaitu untuk memberikan nasihat, sindiran, dan memberikan pengajaran.
Pengembangan Destinasi Agrowisata di Desa Tipang dengan Memanfaatkan Kearifan Lokal Sebagai Daya Tarik Wisata Desa Tipang Open Gerhard Siahaan; Immanuel Silaban
Journal of Social Interactions and Humanities Vol. 1 No. 2 (2022): July 2022
Publisher : PT FORMOSA CENDEKIA GLOBAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (369.601 KB) | DOI: 10.55927/jsih.v1i2.842

Abstract

This study aims to explain and find strategies and implementations of developing agro-tourism destinations in Tipang Village by utilizing local wisdom as a tourist attraction in Tipang Village. Tipang Village is one of the tourist areas located in Humbang Hasunduta Regency, known by tourists because it has the stunning natural beauty of Lake Toba and also a number of traditional Batak cultural sites. The location of the agro-tourism area of ​​Tipang Village is very potential to be developed because it is close to the panorama of Lake Toba, coupled with the many natural and cultural tourist attractions that lie within it, becoming a special attraction for tourists. This study uses a qualitative approach that seeks to explain phenomena based on field facts. Strategy and implementation of tourism ideas Development of agro-tourism destinations in Tipang Village by utilizing local wisdom as a tourist attraction in Tipang Village so that there is an increase in tourist visits and implementation of increasing tourism potentials that can be developed in Humbang Hasundutan Regency which is one of the potential agrotourism in North Sumatra.
SIMBOL DAN MAKNA FILOSOFIS DALAM ARSITEKTUR RUMAH BOLON ETNIK BATAK SIMALUNGUN: KAJIAN SEMIOTIKA Roma Hotni Uhur Purba; Immanuel Silaban; Tioara Monika Simarmata; Jefri Harniko Pasaribu; Immanuel Bintang Cristopher Batubara
Jurnal Basataka (JBT) Vol. 8 No. 2 (2025): Desember 2025
Publisher : Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Balikpapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36277/basataka.v8i2.1015

Abstract

Arsitektur tradisional merupakan warisan budaya yang menyimpan nilai filosofis, simbolis, dan sosial suatu masyarakat. Rumah Bolon etnik Batak Simalungun tidak hanya berfungsi sebagai tempat tinggal, tetapi juga sebagai representasi identitas, kosmologi, serta pandangan hidup masyarakat pendukungnya. Penelitian ini bertujuan mengungkap simbol dan makna filosofis dalam arsitektur Rumah Bolon dengan menggunakan pendekatan semiotika Roland Barthes. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan teknik pengumpulan data berupa observasi lapangan, wawancara mendalam dengan tokoh adat dan masyarakat, serta studi pustaka. Data dianalisis melalui model semiotika Barthes yang membedakan makna denotatif, konotatif, dan mitos. Triangulasi sumber dan metode digunakan untuk menjamin keabsahan data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa setiap elemen Rumah Bolon memiliki simbolisme yang kuat. Bentuk atap menyerupai perahu melambangkan perjalanan hidup, tiang penyangga menandakan keteguhan dan prinsip habonaron do bona, tangga dan pintu masuk kecil mengajarkan kerendahan hati, sementara ukiran serta warna melambangkan kesuburan, keberanian, dan kekuatan spiritual. Tata ruang rumah mencerminkan solidaritas sosial, keterbukaan, dan kebersamaan. Selain itu, Rumah Bolon merepresentasikan kosmologi tiga dunia: dunia atas (spiritual), dunia tengah (manusia), dan dunia bawah (alam hewan dan roh pelindung). Kesimpulannya, Rumah Bolon merupakan teks budaya yang menyimpan nilai-nilai filosofis penting, seperti harmoni dengan alam, solidaritas sosial, dan penghormatan terhadap leluhur. Nilai tersebut masih relevan di era modern, sehingga pelestarian tidak hanya menekankan aspek fisik, tetapi juga makna simbolisnya. Revitalisasi makna Rumah Bolon dapat memperkuat identitas budaya masyarakat Simalungun sekaligus menjadi inspirasi dalam pengembangan arsitektur kontemporer berbasis kearifan lokal.
PELESTARIAN BAHASA BATAK TOBA DI ERA GLOBALISASI : KAJIAN ANTROPOLINGUISTIK Yohana Dwikartika Hutabarat; Immanuel Silaban; Castia Stephani Sinaga; Eldawati Limbong; Dani Maichel Gultom; Robert Sibarani
Jurnal Basataka (JBT) Vol. 8 No. 2 (2025): Desember 2025
Publisher : Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Balikpapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36277/basataka.v8i2.1162

Abstract

Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh globalisasi terhadap penggunaan bahasa Batak Toba, mengidentifikasi faktor sosial-budaya yang memengaruhi vitalitasnya, dan merumuskan strategi pelestarian yang efektif. Menggunakan pendekatan etnografi dengan observasi partisipatif dan studi dokumentasi, penelitian menemukan adanya pergeseran bahasa yang signifikan.Globalisasi melalui media digital dan pendidikan formal mendorong dominasi Bahasa Indonesia di kalangan generasi muda, terutama di wilayah urban. Anak muda cenderung melihat bahasa daerah "kurang praktis," dan hanya menggunakannya dalam konteks informal atau adat. Fenomena ini menunjukkan adanya diglossia dan penurunan penggunaan lisan yang kontras dengan kekuatan bahasa dalam dokumentasi tradisional (adat dan gereja).Faktor kunci pelestarian meliputi peran keluarga sebagai ruang transmisi bahasa, dan sikap positif terhadap identitas etnis. Strategi pelestarian yang paling efektif adalah pendekatan hibrid, menggabungkan digitalisasi (aplikasi, kamus digital, gamifikasi, konten kreatif) dan revitalisasi tradisi (penggunaan bahasa dalam upacara adat dan kurikulum lokal), didukung oleh kolaborasi komunitas dan kebijakan pemerintah. Penelitian ini berkontribusi pada literatur antropolinguistik dan menawarkan rekomendasi praktis untuk menjaga kesinambungan bahasa Batak Toba sebagai warisan budaya di era modern.