Claim Missing Document
Check
Articles

Found 14 Documents
Search

SISTEM PENGENDALIAN MANAJEMEN DALAM GEREJA: STUDI KASUS GEREJA DI KOTA YOGYAKARTA Robert Setio; Wirawan Endro Dwi Radianto
Jurnal Riset Manajemen dan Bisnis Vol 2, No 1 (2007): Jurnal Riset Manjemen dan Bisnis
Publisher : Fakultas Bisnis UKDW

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21460/jrmb.2007.21.104

Abstract

Research on management controlling has been focusing on profit-oriented enterprise, while the non-profit one is often disregarded. Church, is considered to be an example of non-profit organization with the specialty on the legally religious activities. Since the non-profit goal sometimes difficult to detennine, it is neccesary for churches to control their managerial activities by implementing management conffolling system.This research is aimed to exarnine the existence of management controlling system at churches. Moreover, it will also examine the difference of such system amongst churches especially based on their member siZe - and governance. The result shows there is no difference of management controlling system based on member size. On the contrary, the system differences exist on church governanceKata kunci: Sistem pengendalian, gereja, pengendalian intern
Ambiguitas, Interkulturalitas, Dan Hibriditas Relasional Dalam Relasi Antara Israel Dan Bangsa-Bangsa Lain Robert Setio
DISKURSUS - JURNAL FILSAFAT DAN TEOLOGI STF DRIYARKARA Vol. 13 No. 1 (2014): Diskursus - Jurnal Filsafat dan Teologi STF Driyarkara
Publisher : STF Driyarkara - Diskursus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (125.993 KB) | DOI: 10.36383/diskursus.v13i1.91

Abstract

Abstrak: Artikel ini merupakan analisis terhadap hubungan antara Israel dan bangsa-bangsa lainnya dengan menggunakan pemikiran tentang “liyan.” Dalam masyarakat multikultural kehadiran liyan tidak terhindarkan dan menuntut tanggapan yang sungguh-sungguh. Keadaan ini pada gilirannya akan menciptakan ambiguitas, sebagaimana yang dialami oleh Israel. Penemuan arkeologis akhir-akhir ini membuktikan bahwa hubungan antara Israel dengan bangsa-bangsa lain ternyata tidak seperti yang dilukiskan oleh Alkitab. Israel bukanlah sebuah bangsa yang pada suatu masa datang ke Kanaan yang sudah berpenduduk, tetapi mereka muncul secara bertahap dari antara bangsa Kanaan sendiri. Maka, Israel memiliki banyak kesamaan dengan bangsa-bangsa lain itu. Pada pihak lain, Israel juga menumbuhkan sebuah ideologi yang lama-kelamaan akan membentuk mereka menjadi sebuah bangsa. Telah disarankan agar hubungan antara Israel dengan bangsa-bangsa lain itu dipandang sebagai hubungan interkultural. Meskipun pandangan itu masuk akal, namun penulis hendak mengajukan cara pandang lain. Cara pandang itu adalah hibriditas relasional. Dalam pandangan ini, Israel dilihat sebagai sebuah bangsa yang bersifat hibrid, namun bukan dalam arti yang statis. Hibriditas di sini dipandang sebagai sebuah keadaan yang menuntut tanggapan aktif. Dengan kata lain, kesamaan dan perbedaan antara Israel dengan bangsa-bangsa lainnya tidak boleh dianggap sebagai sebuah kondisi yang sudah jadi melainkan terus-menerus dalam proses pembentukan. Kata-kata kunci: Liyan, ambiguitas, budaya, interkultural, agama, kesamaan, perbedaan, hibriditas relasional. Abstract: This article will analyze the relationship between Israel and other nations using the concept of “the other.” In a multicultural society, the presence of the other is unavoidable and demands a serious response. This, however, creates ambiguity, as experienced by Israel. Recent archeological findings have proven that the relationship between Israel and other nations mentioned in the Bible was unlike the description provided by the Bible. Israel was not a separate nation that came into an already occupied land of Canaan, but rather, it gradually emerged as agroup from within the people of the land. Therefore, it can be expected that this nation shared many similarities with its cohabitants. On the other hand, it also developed a distinctive ideology which over time formed Israel as a separate nation. It has been suggested to consider the relationship between Israel and the others through the lens of interculturality. This article proposes another perspective, that is, a relational hybridity. From this perspective, Israel is seen as a hybrid nation. The hybridity is understood as a state of life, but, as one that always demands an active response. In other words, it is a process continously evolving. Keywords: The other, ambiguity, intercultural, religion, similarity, difference, hybridity, relational
Persilangan antara Iman dan Ilmu dalam Pandangan Jemaat tentang Kerasukan Roh dan Eksorsisme di GKI Gejayan Ratna Indah Widhiastuty; Robert Setio
Fidei: Jurnal Teologi Sistematika dan Praktika Vol 5, No 2 (2022): Desember 2022
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Tawangmangu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34081/fidei.v5i1.313

Abstract

Kerasukan dan eksorsisme merupakan fenomena yang lekat dengan kehidupan masyarakat (Indonesia).  Sebagai bagian dari masyarakat, gereja juga tidak asing dengan fenomena tersebut.  Tulisan ini akan mengangkat bagaimana sebuah gereja, dalam hal ini, Gereja Kristen Indonesia (GKI) Gejayan, Yogyakarta menanggapi fenomena tersebut. Pertanyaan penelitian yang diajukan dalam tulisan ini adalah bagaimana tanggapan terhadap kerasukan dan eksorsisme di GKI Gejayan memperlihatkan kedudukan dari ilmu pengetahuan dan iman di mata jemaat. Penelitian yang digunakan oleh penulis adalah penelitian kualitatif dengan menggunakan metode wawancara secara tertutup dan terbuka. Wawancara tertutup berupa pertanyaan-pertanyaan yang disodorkan kepada para peserta wawancara. Sedangkan wawancara terbuka dilakukan dengan mendalami lebih jauh jawaban atau tanggapan peserta untuk mendapatkan poin-poin yang masih belum muncul dalam pertanyaan-pertanyaan yang diajukan. Temuan yang diperoleh adalah dalam menghadapi kerasukan dan eksorsisme diperlukan kombinasi pendekatan antara iman dan ilmu.
Menafsir Metafora Dalam Kitab Hosea: Historis Kritis, Feminis, dan Ideologis Robert Setio
GEMA TEOLOGIKA: Jurnal Teologi Kontekstual dan Filsafat Keilahian Vol. 2 No. 2 (2017): Gema Teologika: Jurnal Teologi Kontekstual dan Filsafat Keilahian
Publisher : Faculty of Theology Duta Wacana Christian University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21460/gema.2017.22.292

Abstract

Abstract The book of Hosea is one among a few books in the First Testament that gives rise to the diversity of interpretations. The text contains some language problems which prevent clear meaning. Its use of pornographic imagery as metaphor for the wrong doers has also provoked disagreements among the interpreters. Scholars throughout the ages have tried to look for the best way to receive the disturbing metaphor. By relating the Book with some historical circumstances, the metaphor is understood as representation of an historical reality, namely, the unfit leadership of the Israelite and Judahite communities. According to this interpretation, the use of sexual imagery should not bother the readers as it merely serves to convey the harsh criticism towards the community leaders who brought the society into chaos. However, feminist interpreters do not agree with such kind of interpretation. In their view, unravelling the ideology that allows such the use of metaphor that denigrate woman is the main task of interpretation. Their criticism has opened our eyes of how ideology plays siginificant roles in the production of the Book. The story of Hosea and Gomer should not be taken for granted as it results from a certain way of thinking. The view of the writer of the Book, for the feminitsts, is strongly misogynistic that it deserves severe criticism. While criticizing the gender imbalance view of the Book, the feminists seem to forget the main purpose of the metaphor. This writing wants to show that the metaphor is actually intended to alarm the worst socio-political situation. The blame of the socio-political turbulences is put on the shoulder of those whose view differs from that of the writer's. While blaming the opponents, the Book urges the acceptance of a dreamed society of the ideal.   Abstrak Kitab Hosea adalah salah satu dari kitab-kitab dalam Perjanjian Pertama yang menimbulkan kepelbagaian dalam penafsiran. Teks Hosea mengandung permasalahan bahasa yang mencegah kejelasan makna. Pemakaian gambaran pornografi sebagai metafora bagi mereka yang bersalah juga telah menimbulkan perbedaan pendapat di antara para penafsir. Para ahli dari berbagai zaman telah berusaha mengatasi persoalan-persoalan tersebut. Dengan menghubungkan teks dengan situasi-situasi sejarah, metafora dalam Kitab Hosea dijelaskan sebagai gambaran akan suatu realita sejarah, yaitu para pemimpin Israel dan Yehuda, yang dianggap tidak becus. Menurut model penafsiran yang seperti ini, pemakaian gambaran-gambaran seksual tidak harus mengganggu pembaca karena hal tersebut hanya digunakan sebagai sebuah kritik yang keras terhadap para pemimpin yang dianggap telah menyebabkan kekacauan dalam masyarakat. Tetapi, para penafsir feminis tidak setuju dengan argumentasi tersebut. Bagi mereka, tugas utama penafsiran adalah menguak ideologi yang membuat pemakaian metafora yang merendahkan perempuan itu dianggap sebagai hal biasa saja. Kritik para feminis tersebut membuka mata kita tentang bagaimana ideologi sangat berperan dalam pembuatan Kitab Hosea. Kisah Hosea dan Gomer tidak dapat dianggap sebagai hal yang biasa. Pandangan yang ada dalam Kitab Hosea memperlihatkan sikap misoginis yang perlu dikritik. Tetapi, pada saat melontarkan kritik terhadap pandangan yang tidak seimbang secara gender dari Kitab Hosea, para penafsir feminis justru melupakan tujuan utama dari metafora yang digunakan oleh kitab itu. Tulisan ini hendak memperlihatkan bahwa metafora tersebut bertujuan memperlihatkan sebuah keadaan sosial-politik yang kacau. Kekacauan ini kemudian diletakkan penyebabnya di atas pundak orang-orang yang berseberangan pandangan dengan penulis Kitab Hosea. Sembari melontarkan kesalahan pada para lawan, Kitab Hosea juga mendesakkan sebuah model masyarakat impian yang ideal.