Claim Missing Document
Check
Articles

Found 15 Documents
Search

TATA GUNA LAHAN JLS UNTUK PENYELAMATAN TNMB KABUPATEN JEMBER DAN BANYUWANGI DENGAN METODE IRAP Taufan Abadi; Irawati Irawati
Prosiding Seminar Nasional Sains dan Teknologi Terapan Inovasi Teknologi Infrastruktur Berwawasan Lingkungan
Publisher : Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Metode IRAP (Integrated Rural Accesbility Planning)  merupakan metode pendekatan langsung kepada masyarakat. Dengan melihat langsung kondisi aksesbilitas/mobilisasi masyarakat dilapangan dan wawancara (quiseoner) akan diperoleh data yang akurat. Pembangunan Jalan Lintas Selatan (JLS) disekitar kawasan Taman Nasional Meru Betiri (TNMB) Kabupaten Jember dan Banyuwangi akan merubah tata guna lahan dan memberi dampak pada masyarakat sekitar kawasan dan didalam TNMB. Penelitian Tahun I (kawasan diluar TNMB):a. Jalur JLS tidak memasuki kawasan TNMB, b. skala prioritas jalur JLS dan Jalan pendukung (jalan sirip), yaitu Kecamatan Silo (IA=8.9375), Kalibaru (IA=6.4875) dan Tempurejo  (IA=6.1375). Untuk sektor perekonomian (SDA) tertinggi adalah Kec.Kalibaru (IA=9.816667),Silo (IA=9.466667) dan Tempurejo  (IA=8.766667).  Untuk tahun II (didalam TNMB) : sektor transportasi yaitu Dusun Sukamade(IA=12,312),Dusun Bandialit (IA=10,287) Krajan/Rajegwesi (IA=8,78). Pada Sektor perekonomian atau potensi (SDA) untuk  nilai Indeks Aksesibilitas (IA) tertinggi adalah Dusun Krajan/Rajegwesi (IA=13,25),Bandialit (IA=12,68), dan Sukamade (IA=12,366). Semakin tinggi nilai Indeks Aksesibilitas (IA) sektor transportasi menyatakan semakin sulit aksesibilitas/mobilitas suatu wilayah. Semakin tinggi.(IA) pada  sektor perekonomian (SDA) menyatakan semakin baik aksesibilitas suatu wilayah dengan dikategorikan sebagai wilayah dengan tingkat pencapaian pelayanan tinggi, atau sebaliknya. Kesimpulan pada ketiga dusun diatas, memerlukan jalan yang baik, Puskesmas, los pasar dan PLN. Impian masyarakat menikmati kemerdekaan terbentur oleh peraturan dan perundangan yang mengatur Taman Nasional.
Analisis Perbandingan Harga Satuan Galian Tanah Mekanis Menggunakan Permen-PUPR Tahun 2022 Dan 2016 Setiyo Ferdi Yanuar; Nanang Saiful Rizal; Taufan Abadi
HEXAGON Vol 7, No 1 (2022): HEXAGON
Publisher : Universitas Muhammadiyah Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32528/hgn.v7i1.7738

Abstract

Work Unit Price Analysis or commonly referred to as AHSP calculation of the cost of labor, materials and equipment to get the unit price for a certain type of work. Over time, the coefficient on the AHSP has changed. This is because the world of construction is always experiencing developments in the technology applied. This development can include in terms of materials, work aids, and technology used in heavy equipment used to assist work in the world of civil engineering.The last regulation used in the calculation of AHSP is PERMEN-PUPR no. 28 of 2016. On January 5, 2022, PERMEN-PUPR no. 1 of 2022 was stipulated as a substitute for the basis for calculating AHSP. In the new regulation, many coefficients have been changed both in terms of labor, materials, and tools. With the change in the coefficient in the new regulation, it makes the price of mechanical earth excavation cheaper, which makes construction players complain about this. So it is necessary to do an analyst to compare the unit price with direct costs in the field.Based on the results of calculations and observations, the unit price for mechanical earth excavation based on the 2016 PERMEN is Rp. 22,465.00, based on the 2022 PERMEN is Rp. 11,314.00, while based on direct observations in the field, the direct costs incurred are Rp. 8,042.00.
Dampak Rumah Sakit Bina Sehat Terhadap Karakteristik Pertemuan Jalan Simpang Tiga Dan Beberapa Alternatif Solusinya: Studi Kasus : Jl. Sentot Prawirodirdjo - Jl. Jayanegara Ahmad Rusaidi; Taufan Abadi; Noor Salim
National Multidisciplinary Sciences Vol. 1 No. 6 (2022): Proceedings SENSEI 2021
Publisher : Universitas Muhammadiyah Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (615.674 KB) | DOI: 10.32528/nms.v1i6.234

Abstract

Dengan meningkatnya kegiatan masyarakat di kota Jember dari tahun ke tahun, baik yang datang dari luar maupun dalam kota Jember sendiri menyebabkan pergerakan di daerah kota Jember semakin bertambah pesat. Adanya Rumah Sakit Bina Sehat di Jl. Jayanegara dan Jl. Sentot Prawirodirdjo Kecamatan Kaliwates Kabupaten Jember merupakan salah satu peningkatan dari kegiatan masyarakat. Dengan adanya kegiatan ini akan mengakibatkan bertambahnya beban dan volume lalulintas sehingga berdampak terhadap kelancaran lalulintas. Perhitungan ini mengacu pada peraturan PKJI 2014. Dari perhitungan yang diperoleh didapat kesimpulan yaitu, Kondisi arus lalu lintas simpang tak bersinyal (DJ) Tahun 2021 Jl. Jayanegara = 0,610 Jl. Sentot Prawirodirdjo = 0.450 ( Barat) dan = 0,432 ( Timur ). Dan arus lalu lintas 10 tahun dengan tingkat pertumbuhan 5% diperoleh derajat kejenuhan (DJ) Jl. Jayanegara sebesar = 0,641. Jl. Sentot Prawirodirdjo = 0,473 ( Barat) dan = 0,469 ( Timur ) . Kondisi arus lalulintas simpang untuk 10 tahun. DJ Simpang = 1,610. Panjang Antrian = 13,714 m. Tundaan = 5,044 det/kend. Alternatif pengaturan 10 tahun pada simpang dengan analisa hambatan samping, dengan DJ = 1,610. alternatif kedua diberlakukannya Alat Pemberi Isyarat Lalu Lintas (APIIL) sehingga tundaan simpang rata-rata = 5,044 det/skr. Pelebaran simpang didapat pergeseran horizontal (ES) = 2,07 m. Dengan jumlah 6 lampu pada 6 titik pada simpang dan jarak per 5 m.Untuk mengurangi volume kendaraan di Jl. Jayanegara diperlukan pengalihan atau perubahan arus lalu lintas.
Evaluasi Sistem Jaringan Drainase Kawasan Kelurahan Kotakulon Kecamatan Bondowoso Kabupaten Bondowoso Muhammad Iswantoro; Noor Salim; Taufan Abadi
National Multidisciplinary Sciences Vol. 1 No. 6 (2022): Proceedings SENSEI 2021
Publisher : Universitas Muhammadiyah Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (431.762 KB) | DOI: 10.32528/nms.v1i6.235

Abstract

Kondisi drainase di kawasan Kelurahan Kotakulon Kecamatan Bondowoso Kabupaten Bondowoso saat hujan terjadi genangan khususnya yang berada diruas Jalan Diponegoro Kelurahan Kotakulon Kecamatan Bondowoso Kabupaten Bondowoso, genangan akan mengganggu pengguna jalan untuk melakukan aktivitas. Berdasarakan hasil analisa dengan kala ulang 10 tahun, dari 18 saluran yang ditinjau, diketahui ada 12 saluran yang mampu menampung debit banjir dan 6 saluran tidak dapat menampung debit banjir. Sistem drainase pada Kelurahan Kotakulon termasuk di kriteria baik dengan bobot penilaian 66,64 %. Ada 2 alternatif yang digunakan pada penelitian ini yaitu dengan perubahan dimensi dan memberi sudetan untuk mengurangi debit banjir ke lokasi genangan. Sehingga setelah di lakukan perubahan sistem maka kriteria kinerja dengan memperoleh nilai 100% dengan kriteria sangat baik yaitu saluran bisa menampung debit dan tidak ada permasalahan seperti sampah, dimensi saluran, vegetasi
PENINGKATAN KEMAMPUAN MASYARAKAT MENGOLAH SAMPAH MENJADI PUPUK ORGANIK DENGAN TEKNOLOGI TAKAKURA Abadi Sanosra; Iskandar Umarie; Taufan Abadi; Eko Budi Satoto; Nanang Saiful Rizal; Erna Ipak Rahmawati; Nely Ana Mufarida; Muhtar Muhtar; Amri Gunasti
SELAPARANG: Jurnal Pengabdian Masyarakat Berkemajuan Vol 7, No 3 (2023): September
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jpmb.v7i3.15312

Abstract

ABSTRAKSelama ini, warga Desa Sukogidri masih belum memiliki kepedulian untuk memproses sampah yang berasal dari kegiatan rumah tangga. Untuk mengantisipasi kelangkaan pupuk, hilangnya kesuburan tanah dalam waktu jangka panjang dan mudahnya serta murahnya penggunaan teknologi takakura, maka masyarakat Desa Sukogidri perlu diberikan edukasi mengenai pentingnya menggunakan pupuk organik serta memberikan pelatihan pembuatan sampah organik dengan metode takakura. Tujuan kegiatan ini adalah pertama, masyarakat memiliki pola pikir bahwa sampah organik dalam waktu jangka panjang dapat mempertahankan dan bahkan membuat tanah menjadi bertambah subur, sehingga masyarakat tidak tergantung lagi pada pupuk buatan. Tujuan kedua adalah agar masyarakat terampil mengolah sampah organik sisa rumah tangga dan sampah organik yang berasal dari lingkungan sekitar menjadi pupuk organik dengan teknologi takakura. Tahapan pelaksanaan kegiatan dilakukan mulai dari observasi, koordinasi lapangan, menyiapkan peralatan, menyiapkan bahan, penyuluhan penggunaan pupuk organik, praktek membuat pupuk organik, penyerahan peralatan dan bahan serta penguatan kelompok masyarakat.  Penguatan kelompok masyarakat ini dilakukan dengan cara menunjuk Koordinator Desa, Koordinator Dusun, Koordinator Dasawisma serta ketua kelompok Penilaian dilakukan dalam skala 0 sampai 100. Nilai 0 dianggap sangat tidak mampu dan nilai 100 dianggap sangat mampu. Kegiatan Program Kemitraan Masyarakat Stimulus (PKMS) ini telah memberikan dampak positif dari kategori kurang mampu menjadi mampu bagi peserta pada khususnya dan kepada masyarakat sukogidri pada umumnya dalam memahami manfaat pupuk organik maupun dalam pembuatan pupuk organik.            Kata kunci: pupuk organik; takakura; sampah organik; lahan pertanian. ABSTRACTSo far, the residents of Sukogidri Village still do not have the awareness to process waste from household activities. To anticipate the scarcity of fertiliser, the loss of soil fertility in the long term and the easy and cheap use of takakura technology, the people of Sukogidri Village need to be educated about the importance of using organic fertiliser and provide training in making organic waste using the takakura method. The objectives of this activity are first, the community has the mindset that organic waste in the long term can maintain and even make the soil more fertile, so that people are no longer dependent on artificial fertilisers. The second goal is for the community to be skilled in processing organic waste from households and organic waste from the surrounding environment into organic fertiliser with takakura technology. Stages of activity implementation were carried out starting from observation, field coordination, preparing equipment, preparing materials, counselling on the use of organic fertiliser, practice making organic fertiliser, handing over equipment and materials and strengthening community groups. The assessment was carried out on a scale of 0 to 100. A score of 0 is considered very incapable and a score of 100 is considered very capable. This Stimulus Community Partnership Program (PKMS) activity has had a positive impact from the category of less capable to capable for participants in particular and to the Sukogidri community in general in understanding the benefits of organic fertiliser and in making organic fertiliser. Keywords: organic fertiliser; takakura; organic waste; farmland