Koeswinarning Sigit
Unknown Affiliation

Published : 5 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

Beberapa Aspek Makro dan Mikroanatomi otak tikus (Rattus sp.) yang mengalami hipotiroid Nurhidayat Said; Ita Djuwita; Koeswinarning Sigit
Hemera Zoa Vol. 77 No. 1 (1995): Jurnal Hemera Zoa
Publisher : Hemera Zoa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (541.713 KB)

Abstract

Perlakuan hipotiroidosme maternal dan fetal pada tikus sampai berurnur 10 minggu, memberikan dampak pada perkembangan somatis dan otak. Secara kuantitatif, hasil penelitian ini menunjukkan penurunan bobot tubuh dan otak, volume otak. Berdasarkan berat relatif otak terhadap bobot tubuh, pertumbuhan otak tetap menjadi prioritas dalam keadaan hipotiroidisme. Beberapa parameter mikroskopik, menunjukkan penurunan tebal korteks, kepadatan serabut syaraf subkortikal, dia metersel syaraf korteks dan hipokampus juga jumlah sel syaraf dan penunjang pada korteks serebri.
Berbagai tipe Bangun Anatomi Hati Kancil (Tragulus sp.) Koeswinarning Sigit
Hemera Zoa Vol. 77 No. 2 (1995): Jurnal Hemera Zoa
Publisher : Hemera Zoa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (707.137 KB)

Abstract

Telah diteliti anatomi hati 9 ekor kancil Indonesia yang terdiri dari 2 ekor Tragulus javanicus dan 7 ekor Tr napu. Dari penelitian ini ditemukan 4 tipe hati. Tipe pertama, satupreparat, hati yang tidak mempunyai processus caudatus dan processus papillaris. Tipe kedua, 3 preparat, yaitu mempunyai processus caudatus yang tumbuh subur dan processus papillaris berujung runcing. Tipe ketiga, 3 preparat, mempunyai processus caudatus dan processus papillaris yang menghadap ke abomasum dan melengkung ke arah lobus kiri. Tipe keempat, tidak mempunyai processus caudatus tetapi mempunyai processus papillaris yang mengapit duodenum pada processus quadratus. Keempat tipe hati ini tidak sesuai dengan spesies kancil yang diteiti, bahkan 2 ekor Tr. javanicus yang diteliti mempunyai tipe hati berbeda. Karena itu perlu diteiiti lebih lanjut tentang subspesies atau spesies kancil di Indonesia, tidak hanya berdasar kepada ukuran tungkai, berat badan, warna bulu dan garis punggung saja, tetapi juga dilengkapi dengan pengamatan anatomi organ, analisis protein dan teknik lain yang mendukung. 
Neurogliosis in Foetal Cerebrum of Rat (Rattus norvegicus) Originated From Hypothyroid Mother Koeswinarning Sigit
Media Veteriner Vol. 4 No. 2 (1997): Media Veteriner
Publisher : Media Veteriner

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1378.941 KB)

Abstract

Pengamatan atas korteks serebri dan kepadatan populasi jaringan otak telah dilakukan terhadap serebrum fetus tikus (Rattus norveg;cus) dari induk hipotiroid, hasil induksi dengan tiourea 0,6 % dalam air minum. Sampai dengan umur kebuntingan 14 hari tidak diperoleh perubahan. Penipisan korteks serebri dan peningkatan kepadatan populasi jaringan otak secara nyata terjadi pada umur fetus hari ke 18, 21 dan neonatal (P
Kajian Imunohistokimia Perkembangan Bentuk Neuron Atekolaminergik Pada Area Postrema Monyet Ekor Panjang (Macaca fascicularis)= Morphological Development of Catecholaminergic Neurons in the Area Postrema of Long-tailed.. Tri Wahyu Pangestiningsih; Koeswinarning Sigit; Dondin Sajuthi; Nurhidayat .
Jurnal Sain Veteriner Vol 24, No 1 (2006): JUNI
Publisher : Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gadjah Mada bekerjasama dengan PB PDHI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2980.906 KB) | DOI: 10.22146/jsv.354

Abstract

rea postrema merupakan sepasang penonjolan ke dorsal pada bagian kaudal medula oblongata yang berbatasan dengan ventrikel IV. Area ini berperan sebagai chemoreceptor trigger zone (CTZ) pada proses muntah yang juga melibatkan neuron katekolaminergik (neuron KA). Pada kemoterapi penderita kanker, fungsi AP sebagai CTZ diupayakan untuk ditekan agar tidal( ada refleks muntah pada pasien. Dalam rangka lebih memahami neuron KA tersebut, dalam penelitian ini dilakukan pengamatan perkembangan bentuk neuron KA di area postrema (AP) monyet ekor panjang (MEP) mulai fetus (F) umur 40 sampai anak (P) umur 105 hari secara imunohistokimia menggunakan antibodi terhadap enzim tirosin hidroksilase (TH). Hasil penelitian memperlihatkan neuron KA di medula oblongata belwn terlihat pada F40, dan bare dijumpai pada F55 di daerah bakal AP, bentuk bulat dengan inti besar dengan sitoplasma sedikit yang merupakan ciri perkembangan awal bentuk neuron. Prosesus sitoplasma yang pendek pada mulai ditemukan pada F85, dan neuron KA di AP berubah menjadi bipolar pada F100 yang merupakan tanda perkembangan menengah bentuk neuron. Dengan bertambahnya umur, prosesus sitoplasma neuron KA bipolar bertambah panjang yang merupakan ciri tingkat perkembangan bentuk akhir dan ditemukan dominan di AP pada P105. Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa neuron KA di AP pada MEP berada dalam stadium perkembangan bentuk awal dan menengah selama masa prenatal, dan stadium perkembangan lanjut menuju ke perkembangan akhir terjadi pada masa postnatal.
aman Imunohistokimia Perkembangan Bentuk Neuron Atekolaminergik Pada Area Postrema Monyet Ekor Panjang (Macaca fascicularis)= Morphological Development of Catecholaminergic Neurons in the Area Postrema of Long-tailed .. Tri Wahyu Pangestiningsih; Koeswinarning Sigit; Dondin Sajuthi; Nurhidayat .; Douglas M. Bowden
Jurnal Sain Veteriner Vol 24, No 1 (2006): JUNI
Publisher : Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gadjah Mada bekerjasama dengan PB PDHI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2980.906 KB) | DOI: 10.22146/jsv.355

Abstract

Area postrema merupakan sepasang penonjolan ke dorsal pada bagian kaudal medula oblongata yang berbatasan dengan ventrikel IV. Area ini berperan sebagai chemoreceptor trigger zone (CTZ) pada proses muntah yang juga melibatkan neuron katekolaminergik (neuron KA). Pada kemoterapi penderita kanker, fungsi AP sebagai CTZ diupayakan untuk ditekan agar tidal( ada refleks muntah pada pasien. Dalam rangka lebih memahami neuron KA tersebut, dalam penelitian ini dilakukan pengamatan perkembangan bentuk neuron KA di area postrema (AP) monyet ekor panjang (MEP) mulai fetus (F) umur 40 sampai anak (P) umur 105 hari secara imunohistokimia menggunakan antibodi terhadap enzim tirosin hidroksilase (TH). Hasil penelitian memperlihatkan neuron KA di medula oblongata belwn terlihat pada F40, dan bare dijumpai pada F55 di daerah bakal AP, bentuk bulat dengan inti besar dengan sitoplasma sedikit yang merupakan ciri perkembangan awal bentuk neuron. Prosesus sitoplasma yang pendek pada mulai ditemukan pada F85, dan neuron KA di AP berubah menjadi bipolar pada F100 yang merupakan tanda perkembangan menengah bentuk neuron. Dengan bertambahnya umur, prosesus sitoplasma neuron KA bipolar bertambah panjang yang merupakan ciri tingkat perkembangan bentuk akhir dan ditemukan dominan di AP pada P105. Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa neuron KA di AP pada MEP berada dalam stadium perkembangan bentuk awal dan menengah selama masa prenatal, dan stadium perkembangan lanjut menuju ke perkembangan akhir terjadi pada masa postnatal.