Claim Missing Document
Check
Articles

Found 9 Documents
Search

Analysis of Social, Economic and Environmental Impacts on Village Communities Household Life after Mangrove Ecotourism Existence in Nira Nusa Village, Maurole District, Ende Regency Patricius Marianus Botha; Yosefina Itu
Budapest International Research and Critics Institute-Journal (BIRCI-Journal) Vol 5, No 4 (2022): Budapest International Research and Critics Institute November
Publisher : Budapest International Research and Critics University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33258/birci.v5i4.7220

Abstract

The development process in various sectors will certainly be accompanied by the emergence of impacts that can be in the form of positive and negative impacts. The results showed that in the Nira Nusa village community, the condition of mangrove tourism which was relatively short in age had a serious effect on the spirit of tourism management for the local community. The condition of tourism which began to be neglected after being hit by a hurricane in 2021 made the entrepreneurial spirit of the local community gloomy and could even be said to be no longer growing. In many of the data summarized by the researcher, there are several things that are sampled as part of the percentage of the impact, both positive and negative impacts. First, on environmental conditions, that the people of Nira Nusa village when managing the tour slowly began to realize and understand the cleanliness of their environment both in the internal scope of the house and outside the household or in the house area. This awareness is built slowly because some visitors accidentally enter their homes and ask for a temporary ride to ask for some necessities or shopping for something. Cleanliness then becomes important research in their tourism development. This condition certainly did not last long due to the lata attitude of the community, namely the spirit that was driven by the mere profit factor. After the presence of Ecotourism in the midst of the community, the spirit remains and even continues to exist because there is a positive value but on the other hand, researchers also found that this power does not last long due to the impact of damaged tourism, minimal visitors and damaged tourist facilities have an impact on their enthusiasm for entrepreneurship. Again Garbage is then left alone, the yard of the house is not properly organized anymore, and environmental cleanliness is not a routine agenda that is programmed in joint activities. In addition to the environmental impact, it is also seen from the social impact and economic impact. From the observations and analysis made, the researcher found two important things in the social field.
Co-Creation of Public Service Innovation for Marginalized Groups in The Underdeveloped Regions Nova Yulanda Putri Sipahutar; Metha Claudia Agatha Silitonga; Tyas Wahyu Fadhila; Rahayu Eka Putri; Yosefina Itu
JURNAL ILMU SOSIAL Volume 21, Issue 2, Year 2022
Publisher : Faculty of Social and Political Sciences, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jis.21.2.2022.201-222

Abstract

Marginalized groups in underdeveloped regions still experience difficulties accessing public services. Co-creation of public service innovation is urgent to solve limited resources for providing public services to marginalized groups. This article aims to describe and analyze the type, influential actors, and influential factors of the co-creation of public service innovation for marginalized groups. This study applied a qualitative descriptive method with the research locus in the local governments of North Lombok Regency, Tojo Una-Una Regency, and Sorong Regency. Data were collected using in-depth interviews and FGD. North Lombok Regency was considered to have the most varied actors since they involved farmers group, trainers, non-governmental organizations, and the private sector to support the local government in co-initiating, co-designing, and co-implementing their innovations. Meanwhile, the Local Government of Tojo Una-Una Regency and Sorong Regency only involved the community in designing and implementing innovations. Further, the results of this study show that influential factors from several perspectives. From the government’s perspective, the local governments did not reflect the risk-averse but have shown an open attitude to co-creation. From the citizens’ perspective, concerns about the economic and health conditions of the marginalized people around them were their main motivation to participate in providing public services. Local governments should broaden the participation of actors to accelerate the target achievement.
Faktor-Faktor Penghambat Pengelolan Dana Desa di Kecamatan Ende, Kabupaten Ende, NTT Itu, Yosefina
Syntax Literate Jurnal Ilmiah Indonesia
Publisher : CV. Ridwan Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (209.076 KB) | DOI: 10.36418/syntax-literate.v6i1.4754

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi dan mendeskripsikan faktor-faktor yang menghambat pengelolaan keuangan dana desa di Desa Ruku Ramba, Desa Nembo Ramba, Desa Waja Kea Jaya dan Desa Tonggopapa, Kecamatan Ende, Kabupaten Ende, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Manfaat penelitian ini diharapkan dapat menjadi masukan bagi pemerintah dan masyarakat desa dalam mengelola dan memanfaatkan dana desa serta sebagai dasar kebijakan pengelolaan dana desa untuk mengatasi kendala dalam pengelolaan desa dan desa. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif kualitatif dengan pendekatan purposive sampling. Jenis data adalah data primer dengan responden adalah Kepala Desa, Sekretaris Desa, Kabag Pembangunan, Ketua RT dan Masyarakat Desa. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini adalah wawancara, observasi dan dokumentasi. Teknik dan analisis data yang digunakan adalah triangulasi, peer debriefing dengan mengacu pada catatan hasil yang ditemukan di lokasi sasaran penelitian. Berdasarkan hasil penelitian disimpulkan bahwa masih banyak kendala yaitu kendala dalam pengelolaan dana desa di lokasi penelitian diantaranya kendala sumber daya, kebijakan penganggaran, dan partisipasi. Ketiga hambatan tersebut dominan ditemukan di empat desa sasaran penelitian. Kendala sumber daya umumnya berasal dari pihak pengelola dan masyarakat, kebijakan anggaran terkait alokasi dan pengaturan regulasi yang bersifat restriktif, serta kurangnya partisipasi masyarakat dan aparatur dalam semua tahapan pengelolaan dana desa.
PKM PENDAMPINGAN TATA KELOLA PENGORGANISASIAN KELOMPOK DALAM UPAYA RESTORASI MANGROVE BERSAMA KELOMPOK SINAR LAUT DI DESA WATUKAMBA KECAMATAN MAUROLE KABUPATEN ENDE Patricius Marianus Botha; Yosefina Itu; Claudia Saputri Mawar; Hilarius J Mbeing; Wemprimus Ngaji Nai; Maria Fatima Ria
Community Development Journal : Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 4 No. 2 (2023): Volume 4 Nomor 2 Tahun 2023
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/cdj.v4i2.14818

Abstract

Kelompok “Sinar Laut” di Desa Watukamba, Kecamatan Maurole, Kabupaten Ende, NTT yang memiliki semangat konservasi hutan mangrove. Berangkat dari keprihatinan terhadap masyarakat setempat akan hutan bakau di Desa Watukamba yang dalam situasi kritis dengan tingkat kerapatan rendah. Kelompok “Sinar Laut”sebagai kelompok konservasi telah berjuang untuk memperbaiki masalah hutan mangrove dengan menanam dan merawat mangrove di daerah mereka namun disisi lain mereka mengalami permasalahan tata kelola organisasi kelompok seperti: (a) pemahaman tata kerja organisasi, (b). Konsep kemandirian organisasi dalam menyusun program ketika mendapatkan dukungan dana dari pihak lain, (c). Kurang mampu membangun kesadaran kritis masyarakat sekitarnya mengenai pentingnya hutan bakau, (d). Kurang mampu mendorong dan mengembangkan organisasi sebagai alat dalam memperjuangkan solusi atas masalah-masalah yang dihadapi. Kelompok “Sinar Laut” telah melakukan usaha-usaha yang mengarah kepada perbaikan keadaan hutan bakau dalam kapasitas rendah dengan menanam anakan mangrove secara langsung tanpa melalui sebuah proses pembelajaran yang benar seperti proses sosialisasi, proses pengembangbiakan dan proses pengawasan. Kegiatan PKM mitra yang didanai Badan Pengelola Dana Lingkungan Hidup (BPDLH) melalui Program Dana Kesejahteraan dan Ekonomi Keberlanjutan Masyarakat Adat dan Komunitas Lokal (DANA TERRA) ini dilakukan bersama kelompok “Sinar Laut”. Pendampingan kepada kelompok “Sinar Laut” bersasar pada permasalahan-permasalahan yang dialami yakni tata kelola pengorganiasasian kelompok restorasi dan pengembangan potensi hutan bakau. Tim PKM Kemitraan bersama kelompok “Sinar Laut” berusaha memprakarsai PKM tata kelola organisasi kelompok dalam mendukung restorasi bakau yang berorientasi mendorong dan melindungi masyarakat Desa Watukamba dari berbagai dampak langsung dan tidak langsung. Dua solusi yang ditawarkan antara lain: (1) Pendampingan mitra terkait tata kelola pengorganisasian kelompok masyarakat menuju kelompok yang mandiri. (2). Pendampingan mitra terkait aksi penanaman bakau sebagai bentuk praktik nyata. PKM kemitraan ini menggunakan pendekatan berbasis kelompok masyarakat. Keterlibatan anggota kelompok adalah hal fundamental dalam program kemitraan ini. Kegiatan pendampingan juga melibatkan pemerintah desa setempat serta pemangku kepentingan terkait penyerbarluasan isu dan peningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya bakau.
Strategi Pemulihan Ekonomi Pasca Bencana Alam Seroja Sebagai Bentuk Resiliensi Itu, Yosefina; Dalima, Viktoria; Bate, Nikolaus
Journal of Education Research Vol. 5 No. 3 (2024)
Publisher : Perkumpulan Pengelola Jurnal PAUD Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37985/jer.v5i3.1318

Abstract

Penelitian ini denga judul: Strategi Pemulihan Ekonomi Pasca Bencana Alam Seroja Tahun dua ribu dua satu Pada Masyarakat Desa Were II, Kecamatan Golewa Selatan, Kabupaten Ngada. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis strategi pemulihan ekonomi pasca bencana alam seroja tahun duaribu dua satu. Teori yang digunakan yaitu teori Bottom Up dengan menggunakan tiga indikator. Metode kerja pasca bencana alam seroja. Pola hidup pasca bencana alam seroja. Manajemen keuangan atau ekonomi pasca bencana alam seroja. Untuk mengolah data analisis penelitian ini, peneliti menggunakan metode pendekatan kualitatif guna menggambarkan peristiwa yang dialami di lapangan dan peneliti mendapatkan informasi dan data yang akurat dari narasumber dengan memakai teknik dokumentasi dan wawancara. Hasil riset memaparkan bahwasanya dalam strategi pemulihan ekonomi masyarakat Desa Were II dengan bekerja sebagai, buruh tani, buruh bangunan, mengiris moke, usaha kue, melakukan pekerjaan sebagai asisten rumah tangga. Kegiatan mereka lakukan ini bertujuan agar bisa mencukupi keperluan hidup mereka sehari-hari guna menambah penghasilan mereka. Perubahan pola hidup pasca bencana alam seroja, pola hidup masyarakat dapat diartikan dengan perubahan sosial karena masyarakat mengalami kesulitan dan mulai berpikir maju. Pola hidup tersusun atas kebiasaan yang dipakai guna mencari nafkah dan mencukupi kebutuhan sehari-hari keluarga. Perubahan gaya hidup tersebut ialah masyarakat Desa Were II kesulitan dalam memenuhi kebutuhan hidup seperti kebutuhan anak sekolah makan dan lain-lain. Untuk memenuhi kebutuhan tersebut mereka harus meminjam uang di beberapa koperasi harian, tetangga sekitar dan ada juga yang harus menggadaikan BPKB motor ke pegadaian dalam jangka waktu yang lama. Dalam strategi pemulihan ekonomi adanya cara pengelolaan uang untuk kelangsungan hidup masyarakat. Seperti dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari masyarakat harus lebih berhemat dan harus mengatur uang tersebut sebaik mungkin dalam hal pengeluaran masyarakat harus mendahulukan hal yang lebih penting dalam mencukupi keperluan hidup sehari-hari sebagaimana membeli minyak, beras, serta kebutuhan anak sekolah
Penguatan Kapasistas melalui Pengorganisasian Kelompok Peduli Mangrove dalam Upaya Mitigasi Bencana Wilayah Pesisir di Desa Tendakinde Kecamatan Wolowae Kabupaten Nagekeo Itu, Yosefina; Botha, Patrisius Marianus; Toulwala, Richardus B.; Yoli, Prinando Peka; Inda, Maria Kamelia
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 8 No. 1 (2024): April 2024
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jptam.v8i1.14093

Abstract

Pengorganisasian kelompok merupakan upaya untuk mengatasi persoalan yang dihadapi masyarakat pada umumnya. Pengorganisasian sebagai bagian dari penegakan hukum. Oleh karena itu, pemberdayaan dapat dilaksanakan dengan pendekatan yang tepat agar tidak terjadi penolakan dari masyarakat itu sendiri. Salah satu upaya penegakan dan peningkatan kapasitas adalah dengan pengorganisasian Kelompok Peduli Mangrove di Desa Tendakinde, Kecamatan Wolowae, Kabupaten Nagekeo. Di Desa Tendakinde terdapat kelompok Peduli Mangrove. Hasil observasi menunjukkan bahwa anggota kelompok Peduli Mangrove memiliki semangat terhadap pelestarian alam khususnya pengelolaan ekosisitem mangrove pesisir, namun kelompok tersebut menghadapi kendala dalam pengembangan dan pemberdayaan anggota kelompok. Program pengorganisasian kelompok merupakan salah satu solusi yang tepat bagi Kelompok Peduli Mngrove di Desa Tendakinde. Kelompok Peduli Mangrove memiliki passion terhadap knservasi namun kelompok tersebut kesulitan dalam memberdayakan kelompok agar memiliki pemahaman yang sama dalam kelompok, dan berharap akan memiliki struktur organisasi yang jelas sehingga setiap anggota kelompok dapat menajalankan tugasnya sesuai dengan peran dan tanggung jawabnya. Upaya tersebut mendorong peningkatan kesejahteraan masyarakat pesisir sebagai alternatif pengembangan penghidupan masyarakat. Organisasi kelompok ini berharap dapat membantu memenuhi kebutuhan individu, kelompok dan masyarakat luas dalam menentukan pilihan serta kepedulian dalam memelihara lingkungan hidup termasuk akses terhadap pekerjaan, kegiatan sosial dan sumber daya lainnya seperti pembibitan mangrove yang merupakan salah satu sumber pendapatan kelompok.
Penanaman 6.000 Anakan Mangrove untuk Kelestarian Alam di Desa TendaKinde, Kecamatan Wolowae, Kabupaten Nagekeo Botha, Patricius Marianus; Toulwala, Richardus Beda; Itu, Yosefina
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 8 No. 1 (2024): April 2024
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jptam.v8i1.14293

Abstract

Restorasi terhadap hutan mangrove yang telah terdegradasi tidak mudah dilakukan, karena disamping membutuhkan biaya yang besar dan tenaga, juga dibutuhkan waktu yang lama. Mukherjee et al. (2014) membagi restorasi hutan mangrove berdasarkan waktu, yaitu jangka panjang (>20 tahun) dan jangka pendek (20 tahun. Untuk itu, sebelum terjadi kerusakan yang lebih besar terhadap kawasan hutan mangrove, maka perlu dilakukan usaha restorasi. Masyarakat lokal yang hidup di wilayah pesisir merupakan ujung tombak dalam melakukan restorasi hutan mangrove. Disamping mereka membutuhkan keberadaan hutan mangrove yang lestari untuk memenuhi kebutuhan, mereka juga memiliki kearifan lokal yang telah teruji sekian lama dalam menjaga keberlanjutan kawasan tersebut. Menurut Eddy et al. (2016) masyarakat lokal yang mengandalkan sumber daya hutan mangrove untuk kehidupannya memiliki pengetahuan botani dan ekologi tentang hutan mereka. Mengingat penyebab utama kerusakan ekosistem hutan mangrove adalah karena pengaruh antropogenik, maka sudah selayaknya peran serta masyarakat lokal sangat diperlukan dalam upaya restorasi hutan mangrove yang telah terdegradasi. Kegiatan PKM mitra dilakukan bersama kelompok “Peduli Mangrove”. Pendampingan kepada kelompok “Peduli Mangrove” akan bersasar pada permasalahan-permasalahan yang dialami yakni tata kelola pengorganiasasian kelompok, restorasi serta pengembangan potensi hutan bakau. Tim PKM Kemitraan bersama kelompok “Peduli Mangrove” akan berusaha memprakarsai PKM tata kelola organisasi kelompok dalam mendukung restorasi bakau yang berorientasi mendorong dan melindungi masyarakat Desa Tindekinde dari berbagai dampak langsung dan tidak langsung. Dua solusi yang ditawarkan antara lain: (1) Pendampingan mitra terkait tata kelola pengorganisasi kelompok masyarakat menuju kelompok yang mandiri termasuk pengembangan dempot pembibitan mangrove. (2). Pendampingan mitra terkait akasi penanaman bakau sebagai bentuk praktik nyata. Artikel ini membahas upaya restorasi melalui pengabdian kepada masyarakat (PKM) di Desa Tendakinde, Kecamatan Wolowae, Kabupaten Nagekeo. Dengan dukungan pendanaan dari Dana TERRA yang merupakan program Kerjasama antara BPDLH dan Ford Foundation dengan tujuan Meningkatkan Ketahanan dan Kesejahteraan Masyarakat dalam upaya mendukung Pemerintah Indonesia untuk mencapai target NDC 2030 dan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) dengan memberikan dukungan keuangan kepada masyarakat adat atau kelompok masyarakat yang tinggal di kawasan hutan sekitarnya untuk membantu mereka mengembangkan praktik pembangkitan pendapatan berkelanjutan yang melindungi hutan dan pada saat yang sama mengurangi kemiskinan.Kegiatan PKM yang dilakukan berupa penanaman 6.000 anakan mangrove di Teluk Kaburea, Desa TendaKinde, Kecamatan Wolowae, Kabupaten Nagekeo, pada tanggal 24 Januari 2024. Program ini melibatkan partisipasi aktif masyarakat dan seluruh pemangku kepentingan. Melalui kerjasama antara pemerintah, organisasi non-profit, dan masyarakat lokal, program PKM ini bertujuan untuk menciptakan kesadaran kolektif dalam menjaga kelestarian ekosistem mangrove. Langkah-langkah konkret ini penting dalam menjaga keanekaragaman hayati laut dan mendukung kesejahteraan masyarakat setempat, sambil menjaga keseimbangan ekosistem pesisir secara berkelanjutan.
Strategi Pemulihan Ekonomi Pasca Bencana Alam Seroja Sebagai Bentuk Resiliensi Itu, Yosefina; Dalima, Viktoria; Bate, Nikolaus
Journal of Education Research Vol. 5 No. 3 (2024)
Publisher : Perkumpulan Pengelola Jurnal PAUD Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37985/jer.v5i3.1318

Abstract

Penelitian ini denga judul: Strategi Pemulihan Ekonomi Pasca Bencana Alam Seroja Tahun dua ribu dua satu Pada Masyarakat Desa Were II, Kecamatan Golewa Selatan, Kabupaten Ngada. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis strategi pemulihan ekonomi pasca bencana alam seroja tahun duaribu dua satu. Teori yang digunakan yaitu teori Bottom Up dengan menggunakan tiga indikator. Metode kerja pasca bencana alam seroja. Pola hidup pasca bencana alam seroja. Manajemen keuangan atau ekonomi pasca bencana alam seroja. Untuk mengolah data analisis penelitian ini, peneliti menggunakan metode pendekatan kualitatif guna menggambarkan peristiwa yang dialami di lapangan dan peneliti mendapatkan informasi dan data yang akurat dari narasumber dengan memakai teknik dokumentasi dan wawancara. Hasil riset memaparkan bahwasanya dalam strategi pemulihan ekonomi masyarakat Desa Were II dengan bekerja sebagai, buruh tani, buruh bangunan, mengiris moke, usaha kue, melakukan pekerjaan sebagai asisten rumah tangga. Kegiatan mereka lakukan ini bertujuan agar bisa mencukupi keperluan hidup mereka sehari-hari guna menambah penghasilan mereka. Perubahan pola hidup pasca bencana alam seroja, pola hidup masyarakat dapat diartikan dengan perubahan sosial karena masyarakat mengalami kesulitan dan mulai berpikir maju. Pola hidup tersusun atas kebiasaan yang dipakai guna mencari nafkah dan mencukupi kebutuhan sehari-hari keluarga. Perubahan gaya hidup tersebut ialah masyarakat Desa Were II kesulitan dalam memenuhi kebutuhan hidup seperti kebutuhan anak sekolah makan dan lain-lain. Untuk memenuhi kebutuhan tersebut mereka harus meminjam uang di beberapa koperasi harian, tetangga sekitar dan ada juga yang harus menggadaikan BPKB motor ke pegadaian dalam jangka waktu yang lama. Dalam strategi pemulihan ekonomi adanya cara pengelolaan uang untuk kelangsungan hidup masyarakat. Seperti dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari masyarakat harus lebih berhemat dan harus mengatur uang tersebut sebaik mungkin dalam hal pengeluaran masyarakat harus mendahulukan hal yang lebih penting dalam mencukupi keperluan hidup sehari-hari sebagaimana membeli minyak, beras, serta kebutuhan anak sekolah
MEMBANGUN KESADARAN PELESTARIAN MANGROVE MELALUI FGD TATA KELOLA MANGROVE Toulwala, Richardus Beda; Botha, Patricius Marianus; Itu, Yosefina
Community Development Journal : Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 5 No. 3 (2024): Volume 5 No. 3 Tahun 2024
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/cdj.v5i3.28460

Abstract

Degradasi kualitas lingkungan kini menjadi wacana penting dan mendesak. Salah satu masalah lingkungan yang mendapat perhatian publik adalah degradasi hutan mangrove. Penurunan kualitas mangrove sangat berpengaruh terhadap keseimbangan ekosistem yang hidup di sekitarnya. Fenomena degradasi hutan mangrove dapat ditemukan di kawasan teluk Kaburea, Desa Tendakinde, Kecamatan Wolowae, Kabupaten Nagekeo. Pada kawasan ini terdapat banyak pohon mangrove yang ditebang oleh oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab dan pembukaan lahan di sekitarnya. Hal ini berdampak terhadap ekosistem biota pesisir dan laut serta kehiudapan warga di kawasan ini. Terhadap kondisi hutan mangrove yang sangat memprihatin ini maka Tim Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) STPM St. Ursula menyelenggarakan Focus Group Discussion (FGD) sebagai salah satu bentuk PKM perguruan tinggi. Kegiatan FGD yang didukung oleh BPDLH melalui Dana Terra tersebut bertujuan untuk membangun kesadaran kolektif tentang perlindungan mangrove dan mendorong partisipasi publik dalam berbagai kegiatan pelestarian kawasan hutan mangrove. Kegiatan PKM dalam bentuk FGD menghasilkan beberapa hal penting yakni meningkatnya kesadaran masyarakat dalam pelestarian hutan mangrove, menemukan model pengelolaan kawasan hutan mangrove, mendapatkan gagasan dalam penyusunan Rancangan Peraturan Desa (Ranperdes) dan gerakan aksi tanam mangrove bersama. Kegiatan PKM ini membawa dampak yang signifikan baik dalam tata kelola mangrove maupun tingkat kesadaran dan partisipasi masyarakat dalam pelestarian hutan mangrove.