Claim Missing Document
Check
Articles

Found 27 Documents
Search

Pengaruh dan Tantangan Bernyanyi Secara Pragmatis Terhadap Hasil Pengekspresian Karya Paduan Suara Perry Rumengan; Dinar Hartati
Psalmoz : A Journal of Creative and Study of Church Music Vol. 4 No. 1 (2023): Psalmoz : Januari 2023
Publisher : Program Studi Musik Gereja, Fakultas Seni dan Ilmu Sosial Keagamaan, IAKN Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51667/jpsalmoz.v4i1.1184

Abstract

Artikel ini ingin mendeskripsikan tentang pengaruh dan tantangan bernyanyi secara pragmatis, khususnya menyangkut teknis pengekspresian. Hal ini merupakan hasil riset terhadap sejumlah penyanyi dengan menggunakan pendekatan fisika kuantum maupun psikolopgi musik. Dengan metode deskripsi kualitatif ditemukan, bahwa bernyanyi, baik secara pragmatis, maupun estetis memilik dampak dalam proses pengekspresian.
Proses Kreatifitas dalam Penciptaan Musik Masamper (Tinjauan Kualitatif Pengalaman Pencipta Masamper, Samuel Takatelide) Latuni, Glenie; Rumengan, Perry
Syntax Literate Jurnal Ilmiah Indonesia
Publisher : CV. Ridwan Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (216.306 KB) | DOI: 10.36418/syntax-literate.v6i5.2727

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menyingkap latar kreativitas lahirnya Musik Masamper dalam masyarakat dengan merefleksi pengalaman seorang pencipta dan musisi Samuel Takatelide kreator musik Masamper. Dengan metode Kualitatif dan teknik wawancara, serta observasi data-data ini dikumpulkan. Paradigma Pendidikan menjadi dasar pendekatan penelitian ini. Analisis terhadap individu pencipta, hasil karya, proses penciptaan, serta faktor pendorong pencipta pada masyarakat sekitar pencipta menjadi objek kajian peneliti dalam membedah latar kehidupan Penciptanya. Samuel Takatelide dipilih sebagai respondend sekaligus objek peneltiian dengan dasar pemahaman akan besarnya kontribusinya dalam penciptaan dan popularitas eksistensi Masamper di Indonesia. Hasil yang didapati bahwa kreatifitas dihasilkan melalui suatu proses melalui pendidikan di rumah tangga (Pendidikan Informal), pendidikan di sekolah (pendidikan formal), dan pendidikan di masyarakat, (pendidikan non formal). Yang paling menonjol adalah proses keterlibatan musikal melalui kehidupan di rumah tangga, aktifitas Seni di Gereja, Sanggar Seni, serta dorongan pencipta untuk mengikuti berbagai kegiatan lomba dari Pemerintah dan Gereja.
MUSIK DALAM SENI TARI JAJAR (SARANA PEWARTAAN KABAR BAIK ALLAH DALAM LINGKUP GEREJA KATOLIK DI KEUSKUPAN MANADO) Valentino Ruku Wodong; Perry Rumengan
KOMPETENSI Vol. 3 No. 1 (2023): KOMPETENSI: Jurnal Ilmiah Bahasa dan Seni
Publisher : Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui struktur musik dalam tari Jajar serta peran tari Jajar dalam proses penyebaran kabar baik kepada Gereja Katolik di Keuskupan Manado sehingga kabar baik Tuhan menjadi lebih banyak. dan lebih diterima, dihayati, ditanamkan, dan dipraktikkan dalam kehidupan gereja dan masyarakat. Dalam penelitian ini penulis menggunakan metode kualitatif, sehingga data-data penyajian dalam karya tulis ini berasal dari naskah, wawancara, catatan lapangan, foto, videotape, dokumen pribadi, pengalaman pribadi, catatan atau memo, jurnal, artikel, buku dan dokumen resmi lainnya. Dalam teknik pengumpulan data dilakukan observasi lapangan, wawancara, dokumentasi, perekaman serta studi pustaka. Adapun batasan teori dalam penelitian ini terdiri dari landasan teologis, landasan liturgis, landasan antropologis kultural, landasan historis dan landasan psikologis.Tari Jajar menjadi salah satu sarana Gereja untuk mewartakan Kerajaan Allah di tengah kehidupan masyarakat setempat. Hal ini dikarenakan beberapa lirik dan syair dalam lagu Tari Jajar diambil dari ayat Kitab Suci dan juga sebagai ungkapan iman untuk mempersatukan, memperkokoh dan menumbuhkan kebersamaan Orang Muda Katolik dalam Kasih Kristus. Inilah yang dinamakan proses Inkulturasi-kontekstual, yakni proses masuknya, penanaman, pemahaman, peresapan, penghayatan Injil atau sabda Allah, atau kabar baik Allah melalui konteks budaya setempat. Dari hasil penelitian ini, penulis menemukan bahwa seni Tari Jajar benar-benar sudah menjadi milik dan mendarah daging dalam diri Gereja secara khusus orang muda Katolik. Oleh sebab itu, seni Tari Jajar sangat relevan dan kuat untuk dijadikan sebagai sarana pewartaan serta memperkuat kepercayaan dan iman Katolik serta pilar penting di dalam Gereja. Selain itu juga, seni Tari Jajar menjadi pilar penopang yang kokoh bagi lestarinya iman dalam Gereja Katolik sekaligus dalam budaya Minahasa berserta nilai yang dikandungnya.
MUSIK KEMBANG GITAR DI DESA SENDANGAN KECAMATAN KAKAS Egill Lombogia; Perry Rumengan; Franklyn Dumais
KOMPETENSI Vol. 3 No. 02 (2023): KOMPETENSI: Jurnal Bahasa dan Seni
Publisher : Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan memberikan uraian mengenai Musik Kembang Gitar di Desa Sendangan Kakas Kabupaten Minahasa. Penelitian ini adalah bentuk penelitian analitis deskriptif mengenai keberadaan dan struktur Musik Kembang Gitar di Desa Sendangan Kecamatan Kakas. Terkait dengan keberadaan Musik Kembang Gitar di Desa Sendangan Kecamatan Kakas, diuraikan hal-hal yang bersifat historis, kaitannya dengan kondisi atau keadaan masyarakat di Desa Sendangan Kecamatan Kakas, sedangkan kajian mengenai struktur adalah telaah mengenai struktur dan elemen-elemen Musik Kembang Gitar di Desa Sendangan Kecamatan Kakas dalam perspektif musikologi. Melalui hasil penelitian diketahui bahwa, di Desa Sendangan, Kecamatan Kakas, dikenal 3 bentuk permainan Kembang Gitar yaitu Hawayen (Hawaian), Saparua (Los Bas, dan Rosmarik (Rosemary) yang terletak pada scordatura dan alternate tuning yang berbeda dengan gitar standar ataupun gitar Klasik, dimana ketiga bentuk permainan Kembang Gitar ini memiliki prinsip dan teknik yang sama dengan permainan Gitar Makaaruyen dalam hal penjarian dan teknik memetik gitar (tyrando). Tangga nada yang digunakan adalah A Mayor, D mayor, F Mayor dengan scordatura yang berbeda untuk D mayor dan F mayor, sedangkan untuk A Mayor tidak dilakukan scordatura. Penalaan senar menggunakan kemampuan mendengar secara musikal berdasarkan ketegangan jenis senar. Progres akor dalam harmoni musik Kembang Gitar di Desa Sendangan Kecamatan Kakas tidak mengenal status akor, dan hanya menyebutkan istilah 1, 2, 3 dan 4. Penyebutan 1 untuk Tonika, 2 untuk Dominan dan 3 untuk Subdominant, dan 4 untuk Supertonika. Teknik permainan melodi pada musik Kembang Gitar adalah fingerstyle yang dimainkan dengan teknik petik tyrando. Instrumen utama yang digunakan adalah jenis folk guitar atau gitar klasik. Akor-akor dari permainan musik Kembang Gitar menggunakan istilah 1, 2, 3 dan 4, berdasarkan bentuk dan posisi jari tangan kiri.
IMPROVISASI BERBAGAI STYLE DALAM PERMAINAN GITAR BASS OLEH RICHARD JUTTA RINUGA Jestrindah Resanly Rembet; Perry Rumengan
KOMPETENSI Vol. 3 No. 5 (2023): KOMPETENSI: Jurnal Bahasa dan Seni
Publisher : Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan berbagai jenis dan teknik improvisasi yang dalam permainan gitar bass oleh Richard Jutta Rinuga. Penelitian ini juga menedeskripsikan implikasi dari improvasi permainan bass tersebut dalam beberapa style musik sehingga dapat menghasilkan permainan musik variatif. Penelitian ini disusun dengan menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif di mana data-datanya dikumpulkan melalui observasi dan wawancara kepada narasumber serta dokumentasi. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa improvisasi berbagai style dalam permainan gitar bass dapat dilakukan dengan menerapkan berbagai pinsip dan teknik variatif dengan mengikuti ketukan drum. Penerapan beberapa prinsip dan teknik tersebut dapat dilakukakan dengan memperbanyak waktu dalam latihan dan mencari referensi yang relevan pada para pemain profesional. Dalam melakukan improvisasi, pemain gitar bass harus bisa menguasai beberapa teknik penunjang seperti ghostnotes dan kecepatan jari. Ada banyak bagian yang mengharuskan pemain gitar bass untuk bisa mengikuti ketukan kick drum dan snare drum yang harus dilakukan secara bersamaan.
MUSIK BATONG PADA LANGKA LIPU DI DESA POSOSLALONGO, KECAMATAN BANGGAI TENGAH, KABUPATEN BANGGAI LAUT Aloysius Totuuk; Perry Rumengan; Franklin E. Dumais; R. A. Dinar Sri Hartati
KOMPETENSI Vol. 3 No. 5 (2023): KOMPETENSI: Jurnal Bahasa dan Seni
Publisher : Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan struktur, penggunaan instrumen dan peranan musik Batong sebagai iringan Langka Lipu di desa Pososlalongo, Kecamatan Banggai Tengah, Kabupaten Banggai Laut. Dalam penelitian ini, penulis menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan kualitatif, di mana data dalam penelitian berasal dari studi pustaka, observasi lapangan, wawancara, dan dokumentasi (pencatatan, pengambilan foto, perekaman audio dan video). Data yang diperoleh dianalisis dengan pendekatan musikologi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa musik Batong, sebagai genre dalam bentuk ansambel musik tradisional suku Banggai, terdiri dari Gong Besar, Gong Sedang, Tutuung, dan Bobolon yang berfungsi untuk mengiring Langka Lipu yang menggunakan ritme Kanjar dengan tempo yang cepat. Musik Batong sebagai musik iringan pada Langka Lipu merupakan salah satu alat musik tradisional suku Banggai yang menjadi kebanggaan masyarakat setempat khususnya masyarakat yang ada di desa Pososlalongo. Musik Batong memiliki peran yang sangat penting pada Langka Lipu, karena musik Batong dapat menamba energi kepada setiap pesilat Langka Lipu. Bukan hanya sebagai penamba energi, tetapi musik Batong juga berperan sebagai sarana informasi bagi masyarakat agar mengetahuai bahwa sedang dilaksanakan pertunjukan Langka Lipu.
Nyanyian Karema Dokumentasi Van Kol Pembuka Tabir Asal Usul Leluhur Orang Minahasa Perry Rumengan; Dinar Sri Hartati
Clef : Jurnal Musik dan Pendidikan Musik Vol. 4 No. 1 (2023)
Publisher : Program Studi Pendidikan Musik Gereja IAKN Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51667/cjmpm.v4i1.1392

Abstract

Artikel ini mendeskripsikan tentang asal leluhur orang Minahasa, melalui kajian terhadap Nyanyian Karema dokumentasi Van Kol. Nyanyian ini dikaji melalui pendekatan Etnomusikologi ditunjang dengan pendekatan linguistik dan historis dengan metode kualitatif. Dari nyanyian ini terungkap, bahwa leluhur orang Minahasa berasal dari Tiongkok yang kehadirannya tak sengaja akibat pengungsian dari perang yang menimpa Tiga Negeri dalam dinasti Han sekitar abad ke-3.
METODE PENGAJARAN BIOLA NOLDI WENAS BAGI ANAK USIA DINI (6-8 TAHUN) Ralf Sorongan; Perry Rumengan; Franklin Dumais
KOMPETENSI Vol. 3 No. 6 (2023): KOMPETENSI: Jurnal Ilmiah Bahasa dan Seni
Publisher : Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan metode pengajaran biola Noldi Wenas bagi anak usia dini (6-8 tahun). Subjek dalam penelitian ini adalah Noldi Wenas sendiri sebagai guru biola. Penelitian ini adalah penelitian deskriptif kualitatif. Data diperoleh melalui observasi langsung kepada Noldi Wenas, dan wawancara hanya dengan Noldi Wenas sendiri, serta dokumentasi yang berupa foto-foto Noldi Wenas menunjukkan metodenya. Data dianalisis dengan teknik analisis deskriptif kualitatif. Hasil Penelitian metode pengajaran biola Noldi Wenas Bagi anak usia dini (6-8 Tahun) adalah mempunyai 11 tahap dalam pengajarannya, yaitu: (1) Pengenalan alat musik biola, (2) Cara memegang biola, (3) Cara memegang bow, (4) Cara menggesek di strings, (5) Memperkenalkan nada di ke 4 strings. (6) Memperkenalkan nomor jari, (7) Not balok open strings, (8) Menekan strings biola, (7) Mengenal pembagian menggesek bow (8) Mengenal letak not balok dan ketukannya, (9) Pembagian bow, (10) belajar lagu “twinkle-twinkle little star”, dan (11) materi dilanjutkan dengan buku “A Tune a day by C. Paul Herfurth”. Dalam metode pengajaran Noldi Wenas, terdapat juga pendekatan yang dilakukan dalam pengajaran untuk menunjang keberhasilan dari pengajarannya.
KEBERADAAN MUSIK DANA-DANA DI KAMPUNG JAWA TONDANO Veronika Injilia Lontaan; Perry Rumengan; Sri Sunarmi
KOMPETENSI Vol. 3 No. 7 (2023): KOMPETENSI: Jurnal Ilmiah Bahasa dan Seni
Publisher : Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53682/kompetensi.v3i7.6378

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan dan menjelaskan keberadaan musik Dana-dana di Kampung Jawa Tondano. Metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Data-data dalam penelitian ini diperoleh melalui observasi lapangan, wawancara kepada narasumber terkait, studi pustaka dan dokumentasi dalam bentuk perekaman dan pengambilan gambar. Data yang diperoleh kemudian dianalisis secara deskriptif berdasarkan aspek sejarah, keagamaan, adat istiadat dan sosial kemasyarakatan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keberadaan musik Dana-dana di Kampung Jawa Tondano mencerminkan nilai sejarah, keagamaan, adat istiadat dan sosial kemasyarakatan. Dari segi sejarah, musik ini mencerminkan perjalanan musik Dana-dana yang sudah ada sejak tahun 1882. Musik ini dibawa oleh Abdulah Asagaf di Kampung Jawa Tondano pada dirinya diasingkan oleh pihak Belanda. Dari aspek keagamaan, musik ini mencermin nilai-nilai agama Islam. Musik Dana-dana juga sering ditampilkan dalam malam Midorareni sebagai bentuk adat istiadat yang saat ini masih dilestarikan di Kampung Jawa Tondano. Dari segi sosial kemasyarakatan, musik Dana-dana dipandang sebgai hiburan dan bentuk kesenian yang ditampilkan pada berbagai acara, seperti penyambutan, pernikahan dan berbagai hari raya keagamaan Islam. Hingga saat ini, masyarakat di Kampung Jawa Tondano terus melestarikan kesenian musik Dana-dana. Hal ini terlihat dari berkembangnya kelompok dan sanggar seni untuk musik Dana-dana. Selain itu, masyarakat di Kampung Jawa Tondano terlihat antusias ketika mengantar anak-anak mereka untuk mengikuti latihan musik dana-dana.
FUNGSI MUSIK BATONG DALAM TARI BALATINDAK DESA BANGUNEMO Tommy Jordi Noosi; Perry Rumengan; Sri Sunarmi
KOMPETENSI Vol. 3 No. 8 (2023): KOMPETENSI: Jurnal Ilmiah Bahasa dan Seni
Publisher : Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53682/kompetensi.v3i8.6381

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji dan mendeskripsikan fungsi musik Batong dalam Tari Balatindak di Desa Bangunemo. Penelitian ini disusun dengan menggunakan kerangka penelitian deskriptif kualitatif. Pengumpulan data dilakaukan melalui teknik observasi, dokumentasi, dan wawancara. Subjek dalam penelitian ini adalah tokoh-tokoh seni di desa Bangunemo. Data yang diperoleh kemudian dianalisis dengan menggunakan teknik analisis data interaktif. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa musik Batong memiliki fungsi yang sangat penting dalam tari Balatindak, yaitu sebagai pengiring, pemberi irama, pemberi gambaran suasana, mempertegas ekspresi gerak, pengatur tempo, rangsangan bagi penari. Musik Batong juga memiliki fungsi penghubung dengan dengan arwah-arwah leluhur. Lebih lanjut, musik Batong juga memiliki fungsi tersendiri pada setiap gerakan tari Balatindak, yang di dalamnya ada gerakan Basomba, Kuntau dan Batabas. Selain itu musik Batong juga memiliki fungsi sebagai sarana yang mempererat persaudaraan di antar masyarakat melalui kesenian.