Siti Murtiningsih
Universitas Gadjah Mada Yogyakarta

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

REFLEKSI KONSEP KETUHANAN AGAMA KRISTEN DAN AGAMA ISLAM DALAM PANDANGAN FILSAFAT PERENIAL Milton Thorman Pardosi; Siti Murtiningsih
Jurnal Filsafat Indonesia Vol. 1 No. 3 (2018)
Publisher : Undiksha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jfi.v1i3.16130

Abstract

Agama Kristen dan Agama Islam adalah dua agama yang diturunkan oleh Allah, keturunan Abraham dan memiliki Kitab Suci yang diwahyukan Allah.  Keduanya sama-sama mempercayai Allah Yang Maha Esa, Sang Pencipta.  Tujuan penulisan ini untuk memahami konsep ketuhanan agama Kristen dan Islam dan memahami refleksi ketuhanan kedua agama tersebut dalam Filsafat Perenial.  Dalam pemahaman agama Kristen, Allah itu Esa yang merujuk kepada kualitatif.  Sementara kata Allah bukanlah nama Oknum yang disembah melainkan gelar karena kata “Allah” juga digunakan baik kepada sesembahan Bangsa Israel dan Non-Israel.  Salah satu nama Allah dalam Alkitab adalah Yahweh.  Sementara dalam pemahaman agama Islam, konsep Allah adalah Esa merupakan salah satu rukun iman (Tauhid) dan ini merujuk kepada kuantitatif.  Konsep Esa ini adalah monoteisme murni, di mana Tuhan bukan hanya jumlahnya Esa melainkan sifatnya pun Esa.  Perbedaan pemahaman ketuhanan kedua agama tersebut dapat dilihat melalui Filsafat Perenial di mana Filsafat Perenial merupakan metafisika yang mengakui realitas Ilahi yang substansial bagi dunia benda, hidup dan pikiran.  Filsafat Perenial memberikan analog tentang Tuhan seperti cahaya matahari yang satu dan ketika ditangkap oleh prisma memunculkan beraneka macam warna.  Itu sebabnya Filsafat Perenial melakukan dua pendekatan yaitu: Eksoteris yang berfungsi sebagai dasar pijakan pemahaman tentang Tuhan berdasarkan perkataan Tuhan tentang dirinya melalui wahyu; Pendekatan Esoterik adalah pemahaman langsung tentang Tuhan melalui penyatuan seluruh potensi kemanusiaan yang dikenal sebagai “jalan” mistik.  Kesimpulannya, agama Kristen dan agama Islam adalah menyembah Allah yang sama yaitu Allah Yang Maha Esa, Sang Pencipta (Esoterik).  Kedua, kata Esa, dalam pemahaman agama Kristen berarti kualitatif sementara dalam Agama Islam berarti kuantitaf (Eksoterik).  Ketiga, kata Allah dipahami berbeda, yang satu sebagai gelar, namun bagi yang satu sebagai nama (Eksoterik).    Kata Kunci: Perenial, Allah, Esa
Konsep Brahmān Dalam Muṇḍaka Upaniṣad Dan Relevansinya Terhadap Multikulturalisme Di Indonesia Puspo Renan Joyo; Siti Murtiningsih; Sindung Tjahyadi
Jurnal Penelitian Agama Hindu Special Issue Budaya dan Pendidikan
Publisher : Jayapangus Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (366.327 KB)

Abstract

This paper examines two issues, which are the concept of Brahmān in the Muṇḍaka Upaniṣad from theological and philosophical studies; and the relevance of the concept of Brahmān and multiculturalism in Indonesia. The first study is a theological study to examine the concept of Brahmān based on beliefs that are supported by the truth of the scriptures, while a philosophical study is to understand the concept of Brahman from the aspect of rationality or reason. The philosophical approach is divided into three arguments, namely; ontological, cosmological, and morality. The second study is to find the relevance of the concept of Brahmān, both from a theological and philosophical perspective towards multiculturalism in Indonesia. The results of the study are to provide insight of the concept of Brahmān as well as its values that are relevant to the discourse on Indonesian multiculturalism and its challenges. This study applied a factual historical research model regarding texts with material objects of the Brahmān concept in the Muṇḍaka Upaniṣad. The main data of this study was the Muṇḍaka Upaniṣad, by Radhakrishan. The data was obtained through library research and then processed using an interactive model through the stages of data condensation, data display, drawing, and verifying conclusions. This study used interpretation and description data analysis. The results of this study indicate that Brahmān is the only reality, the highest, and absolute. There are two aspects of Brahmān, the Nirguṇa (transcendent-impersonal) and Saguṇa (immanent-personal) aspects. The concept of Brahmān in the Muṇḍaka Upaniṣad and multiculturalism has relevance and is in the same spirit.