Claim Missing Document
Check
Articles

Found 8 Documents
Search

PELAKSANAAN KONSELING INDIVIDUAL DALAM MENANGGULANGI DEKADENSI MORAL SISWA DI SMK MIFTAHUL ULUM LESONG LAOK BATUMARMAR PAMEKASAN Hasmiati Amanda; Muhammad Jamaluddin
Edu Consilium : Jurnal Bimbingan dan Konseling Pendidikan Islam Vol. 1 No. 1 (2020)
Publisher : State Islamic Institute of Madura.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.1905/ec.v1i1.2931

Abstract

Penelitian ini dilatar belakangi sebagian karena penulis ingin mengetahui sejauh mana pelaksanaan konseling individual dalam menanggulangi dekadensi moral siswa. Dimana pelaksanaan bimbingan dan konseling merupakan salah satu komponen dari pendidikan, mengingat bahwa bimbingan dan konseling adalah suatu kegiatan bantuan dan tuntunan yang diberikan kepada individu pada umumnya, dan siswa khususnya di sekolah dalam rangka meningkatkan mutunya. Hal ini sangat relevan jika dilihat dari perumusan bahwa pendidikan itu merupakan usaha sadar yang bertujuan untuk mengembangkan kepribadian dan potensi-potensi (bakat, minat dan kemampuan). Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dan jenis penelitiannya adalah deskriptif. Teknik yang digunakan dalam prosedur pengumpulan data ialah wawancara, observasi dan dokumentasi. Sedangkan dalam pengecekan keabsahan data peneliti melakukannya berdasarkan derajat kepercayaan yang meliputi perpanjangan keikutsertaan, ketekunan pengamatan, dan triangulasi. Bentuk-bentuk dekadensi moral siswa di SMK Miftahul Ulum Lesong Laok yaitu : pertama Bolos sekolah. kedua Perkelahian antar siswa. ketiga Kebut-kebutan. keempat Alpha (tidak masuk sekolah tanpa keterangan). Dalam pelaksanaan konseling individual dalam menanggukangi dekadensi moral siswa di SMK Miftahul Ulum Lesong Laok yaitu meliputi beberapa tahapan pertama Tahap perencanaan, melalui identifikasi masalah siswa, menentukan waktu pelaksanaan, dan menyiapkan tempat penyelenggaraan layananan. kedua Pelaksanaan, hal yang dilakukan guru BK pada tahap pelaksanaan yaitu membahas masalah siswa, pengentasan masalah siswa dan memantapkan siswa dalam pengentasan masalah. ketiga Melakukan evaluasi jangka pendek yaitu: menganalisis hasil evaluasi. Faktor-faktor yang menyebabkan dekadensi moral siswa yaitu pertama Kurangnya kontroling dari orang tua. kedua Kemajuan teknologi yang menyebabkan siswa terjerumus ke hal-hal yang negatif. ketiga Pengaruh lingkungan.
IMPLEMENTASI KONSELING RATIONAL EMOTIF BEHAVIOR THERAPY UNTUK MENGUBAH MINDSET NEGATIF SISWA Kholidatul Mutmainah; Muhammad Jamaluddin
Edu Consilium : Jurnal Bimbingan dan Konseling Pendidikan Islam Vol. 1 No. 2 (2020)
Publisher : State Islamic Institute of Madura.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19105/ec.v1i2.3779

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengubah mindset negatif siswa terhadap guru bimbingan dan konseling seperti guru bimbingan dan konseling yang di nilai sebagai polisi sekolah, dengan menjadikan MA. Sumber Bungur Pakong Pamekasan sebagai fokus penelitian. Ada tiga fokus yang menjadi kajian utama dalam penelitian ini, yaitu: 1. Bagaimana mindset negatif siswa di MA. Sumber Bungur Pakong Pamekasan. 2. Bagaiamana pelaksanaan konseling REBT untuk mengubah mindset negative siswa kepada guru bimbingan dan konseling di MA. Sumber Bungur Pakong Pamekasan. 3. Dampak konseling REBT terhadap siswa di MA. SumberBungur Pakong Pamekasan. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dan teknik analisis data yang digunakan adalah Descriptif Analysis. Untuk memperoleh data,maka digunakan beberapa teknik pengumpulan data yaitu wawancara semi terstruktur, observasi non partisipan dan dokumentasi. Setelah data terkumpul, dilakukan beberapa upaya meliputi reduksi data (data reduction), paparan data (data display), dan penarikan kesimpulan dan verifikasi (conclusion drawing/ verifying). Selanjutnya, demi menjamin validitas dan keabsahan data yang diperoleh, maka dilakukan teknik triangulasi yang meliputi teknik triangulasi sumber dan teknik triangulasi metode. Berdasarkan analisis yang dilakukan, hasil penelitian tentang implementasi konseling REBT untuk mengubah mindset negatif siswa di MA.Sumber Bungur Pakong Pamekasan: hasil dari penyebaran angket oleh guru bimbingan dan konseling kepada siswa bhawa minset negative siswa di MA. Sumber Bungur Pakong Pamekasan 1. Beberapa siswa cenderung mempunyai mindset negative terhadap guru bimbingan dan konseling. 2. Ada beberapa siswa yang menganggap bahwa guru bimbingan dan konseling di MA. Sumber Bungur sebagai polisi sekolah 3. Ada juga salah satu siswa yang berbeda pendapat dengan siswa yang lain. Siswa disini tidak menganggap guru bimbingan dan konseling di MA. Sumber Bungur sebagai polisi sekolah siswa ini menganggap guru bimbingan dan konseling sebagai teman curhat yang bisa diajak sharing ketika ada masalah. Pelaksanaan layanan konseling REBT untuk mengubah mindset negatif siswa. Sebelum guru bimbingan dan konseling memberikan layanan konseling REBT guru bimbingan dan konseling hendaknya : 1. Membaca do’a sebelum memulai konseling, 2. Mencairkan suasana supaya suasana tidak tegang dan sisa tidak merasa dirinya sdang diintrogasi, 3. Membuat hubungan baikdengan klien/siswa seperti menanyakan kabar, hobbi dan keadaan 4. Lalu memulai layanan konseling dengan tenang. Dampak konseling REBT terhadap mindset negative siswa di MA. Sumber Bungur Pakong Pamekasan. 1. siswa yang telah di berikan layanan konseling REBT pelanggarannya sudah mulai berkurang, 2. Siswa jarang di panggil ke ruang bimbingan dan konseling, 3. Munculnya kesadaran diri pada siswa.
Pre-Experimental Design Bimbingan Kelompok dengan Teknik Assertive Training dalam Peningkatan Keterampilan Komunikasi Siswa di SMK Kesehatan Nusantara Sri Rizqi Wahyuningrum; Anggi Pratama Putri; Muhammad Jamaluddin
NUANSA: Jurnal Penelitian Ilmu Sosial dan Keagamaan Islam Vol. 18 No. 1 (2021)
Publisher : Research Institute and Community Engagement of IAIN MADURA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19105/nuansa.v18i1.4242

Abstract

Group guidance services are a way of providing assistance to counselees/students through group activities. In the implementation of group services, group dynamics must be created to foster a sense of belonging in the group. The method in this research was bytreatment in which was used a pre-experimental design. The design used was a one-group pre-test post-test design. Assertive training counselors try to give courage to clients in overcoming difficulties with others. Therefore this research resulted in the effectiveness of group guidance (assertive training) to improve student communication skills at SMK Kesehatan Nusantara. Pre-experimental design is a new method used to find the effect of treatment on others under controlled conditions. Based on the results of the paired sample t test analysis, it is known that the P value of 0,014 is less than α=0,05, so there is a significant difference between the pre-test and post-test mean results. This is supported by the t value of -2,853 greater than t table 2,16. The result of testing the correlation value of 0,937 proves that there is a strong correlation between group guidance services (assertive training techniques) in improving communication skills. (Layanan bimbingan kelompok merupakan salah satu cara pemberian bantuan yang dilakukan oleh konselor kepada konseli/siswa melalui kegiatan kelompok. Pelaksanaan layanan kelompok, dinamika kelompok harus tercipta untuk menumbuhkan rasa saling memiliki dalam kelompok. Assertive training konselor berusaha memberikan keberanian kepada klien dalam mengatasi kesulitan terhadap orang lain. Metode dalam penelitian ini menggunakan rancangan pre-experimentalyang di dalamnya ada perlakuan (treatment). Desain yang digunakan adalah one-group pre-test post-test design. Oleh karenanya penelitian ini menghasilkan keefektivan bimbingan kelompok (teknik assertive training) untuk meningkatkan keterampilan komunikasi siswa di SMK Kesehatan Nusantara. Rancangan pre-experimental designmerupakan metode baru yang digunakan untuk mencari pengaruh perlakuan terhadap yang lain dalam kondisi yang terkendalikan. Berdasarkan hasil analisa uji paired sample t test diketahui bahwa nilai P sebesar 0,014 kurang dari 0,05 maka ada perbedaan yang bermakna dari hasil rata-rata pre-test dan post-test. Hal ini didukunh dengan nilai t hitung -2,853 lebih besar dari t tabel 2,16dan memiliki makna terdapat pengaruh bimbingan kelompok (teknik assertive training) terhadap keterampilan komunikasi siswa di SMK Kesehatan Nusantara.Hasil pengujian nilai korelasi sebesar 0,937 membuktikan adanya korelasi yang kuat antara layanan bimbingan kelompok (teknik assertive training) dalam meningkatkan keterampilan komunikasi.)
Islamic Worldview and Mental Health Strengthening in Islamic Educational Tradition Muhammad Jamaluddin; Kholili Hasib; M. Ardiansyah
Edu Consilium : Jurnal Bimbingan dan Konseling Pendidikan Islam Vol. 7 No. 1 (2026): Februari
Publisher : Universitas Islam Negeri Madura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19105/ec.v7i1.22140

Abstract

Mental health challenges in educational contexts require culturally sensitive interventions that align with students’ worldviews and religious values. This library research examines the relationship between Islamic worldview and mental health strengthening within Islamic educational traditions. The study employed systematic literature review methodology, analyzing peer-reviewed articles from multiple databases including PubMed, PsycINFO, and Scopus, focusing on publications from 2018-2025. Thematic analysis identified key concepts regarding Islamic worldview’s role in promoting psychological wellbeing. Results reveal three main findings: First, Islamic worldview provides robust conceptual foundations for mental health through principles of balance (mīzān), trust in Allah (tawakkul), patience (sabr), and community support (ummah). Second, Islamic educational institutions implement comprehensive mechanisms including integrated spiritual-academic programs, mentorship systems, communal learning approaches, therapeutic practices, and supportive physical environments. Third, contemporary research demonstrates significant effectiveness of Islamic worldview-based approaches in addressing culture-specific mental health challenges, with evidence showing improved treatment adherence, enhanced coping abilities, and better psychological outcomes compared to conventional interventions. The study concludes that Islamic worldview offers valuable contributions to global mental health practice through holistic frameworks that integrate spiritual, psychological, and social dimensions, providing culturally authentic and therapeutically effective approaches for Muslim students in educational contexts.
ISLAMISASI DAN INTEGRASI ILMU PENGETAHUAN DALAM PERSPEKTIF SYED MUHAMMAD NAQUIB AL-ATTAS Muhammad Jamaluddin; Kholili Hasib; M. Ardiansyah
Cognitive: Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran Vol. 3 No. 3 (2025): Desember
Publisher : CV. Jendela Gagasan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61743/cg.v3i3.159

Abstract

The phenomena of globalization and modernity have had a significant impact on the development of science and education in the Muslim world, particularly through the dominance of a secular paradigm that separates rationality from spirituality. This situation has given rise to an epistemological crisis that has led to the fragmentation of knowledge and the emergence of intellectual and spiritual identity confusion. This study aims to examine the concepts of Islamization and the integration of science from the perspective of Syed Muhammad Naquib al-Attas, highlighting their theoretical and practical implications for Islamic education. The method used is qualitative with a literature study, through the stages of source identification, literature search, selection based on relevance criteria, recording and documentation, to data organization for further analysis. The analysis is carried out descriptively-analytically and critically-comparatively to find patterns of meaning that are in harmony with the Islamic worldview. The results of the study show that the Islamization of science is interpreted as an effort to liberate knowledge from the hegemony of Western secularism, while the integration of science emphasizes the importance of uniting religion, science, and ethics with tawhid as its main foundation. This concept affirms the position of adab as the core of education, while also offering alternatives in curriculum development, policy formulation, and strategies for empowering Muslims in facing the challenges of globalization. From a theoretical perspective, this research enriches the discourse on Islamic epistemology, while in practical terms it presents an applicable framework for education that is more contextual and oriented towards the formation of civilized human beings. Thus, these findings open up new opportunities in contemporary Islamic scientific studies, especially in formulating a holistic and transformative educational paradigm.
Islamic Worldview and Mental Health Strengthening in Islamic Educational Tradition Muhammad Jamaluddin; Kholili Hasib; M. Ardiansyah
Edu Consilium : Jurnal Bimbingan dan Konseling Pendidikan Islam Vol. 7 No. 1 (2026): Februari
Publisher : Universitas Islam Negeri Madura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19105/ec.v7i1.22140

Abstract

Mental health challenges in educational contexts require culturally sensitive interventions that align with students’ worldviews and religious values. This library research examines the relationship between Islamic worldview and mental health strengthening within Islamic educational traditions. The study employed systematic literature review methodology, analyzing peer-reviewed articles from multiple databases including PubMed, PsycINFO, and Scopus, focusing on publications from 2018-2025. Thematic analysis identified key concepts regarding Islamic worldview’s role in promoting psychological wellbeing. Results reveal three main findings: First, Islamic worldview provides robust conceptual foundations for mental health through principles of balance (mīzān), trust in Allah (tawakkul), patience (sabr), and community support (ummah). Second, Islamic educational institutions implement comprehensive mechanisms including integrated spiritual-academic programs, mentorship systems, communal learning approaches, therapeutic practices, and supportive physical environments. Third, contemporary research demonstrates significant effectiveness of Islamic worldview-based approaches in addressing culture-specific mental health challenges, with evidence showing improved treatment adherence, enhanced coping abilities, and better psychological outcomes compared to conventional interventions. The study concludes that Islamic worldview offers valuable contributions to global mental health practice through holistic frameworks that integrate spiritual, psychological, and social dimensions, providing culturally authentic and therapeutically effective approaches for Muslim students in educational contexts.
Pengabdian Akademik dalam Metode Pengajaran Kitab Bulughul Maram untuk Meningkatkan Pemahaman Keagamaan Santri PP. As-Syukri Sumber Payung Muhammad Jamaluddin
Satwika: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. 6 No. 1 (2026): SATWIKA: Volume 6, Number 1, June 2026
Publisher : Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21009/satwika.060102

Abstract

Pengabdian akademik ini bertujuan meningkatkan pemahaman keagamaan santri melalui pengajaran Kitab Bulughul Maram di Pondok Pesantren As-Syukri Sumber Payung Ganding Sumenep Madura pada tanggal 1 Maret 2026 sampai tanggal 1 April 2026 . Tidak bisa dipungkiri bahwa, hadis sebagai sumber hukum Islam kedua setelah Al-Qur'an memiliki peran penting dalam menjelaskan berbagai ketentuan syariat. Kegiatan dilaksanakan dalam bentuk kajian hadis rutin mingguan yang diikuti santri tingkat MTs, MA, dan SMA. Metode yang digunakan adalah pendekatan kualitatif dengan teknik observasi langsung terhadap proses pembelajaran. Pengajaran dilakukan menggunakan metode bandongan atau wetonan, yaitu kiai membacakan, menerjemahkan, dan menjelaskan hadis-hadis dalam Kitab Bulughul Maram, sedangkan santri menyimak dan memberi makna pada teks kitab. Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan pemahaman santri terhadap hadis-hadis hukum yang berkaitan dengan ibadah dan kehidupan sehari-hari. Selain itu, kegiatan ini juga meningkatkan antusiasme belajar, kedisiplinan, dan kemampuan santri dalam memahami teks berbahasa Arab. Dengan demikian, pengajaran Kitab Bulughul Maram menjadi sarana yang efektif dalam memperkuat pemahaman keagamaan santri di lingkungan pesantren.
Strategies for Teaching Islamic Education in Higher Education Institutions in the Context of Contemporary Educational Transformation Muhammad Jamaluddin
FIKROTUNA: Jurnal Pendidikan dan Manajemen Islam Vol. 15 No. 02 (2026): FIKROTUNA: Jurnal Pendidikan dan Manajemen Islam
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Institut Agama Islam Al-Khairat Pamekasan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32806/jf.v15i02.2195

Abstract

Classical Islamic pedagogy warrants knowledge through sanad, a chain of transmission traced back to a recognized teacher; digital platforms warrant it through reach, recency, and rhetorical appeal. Lecturers in Islamic Religious Education teach where the two systems meet, in courses that assess and credential. Prior research shows religious authority online is contested and that students arrive with source hierarchies their institutions did not build, but stops at the learner; what teachers do in response is unexamined. This instrumental single-case study asks how lecturers at a State Islamic university that was elevated to university status (UIN Madura) manage competing warrants. Data came from 15 interviews (6 lecturers, 6 students, 3 program directors), 3 classroom observations, and 6 documents, analyzed using hybrid deductive–inductive thematic coding with negative-case testing. Lecturers construed the difficulty not as erroneous content but as a contest over the warrant. They responded with practices we term authority work: re-anchoring a circulating claim to a warranted chain while keeping it open, routinizing verification into a standing slot, and re-sequencing instruction so the classical text arrives as an analytic tool rather than opening doctrine. This work extends digital epistemic authority from learner to teacher. It specifies sanad as the warrant, but it strains against a value the construct does not carry: reverence-ranking of the canonical text, which some students defended as adab. Enabling and blocking conditions were social and administrative rather than technological, relocating the problem from teacher competence to institutional design.