Claim Missing Document
Check
Articles

Relationship Between Emotional Maturity And Self-Esteem In Adolescents At The Orphanage Leony Rahmawati; Ratriana Yuliastuti Endang Kusumiati
G-Couns: Jurnal Bimbingan dan Konseling Vol. 9 No. 1 (2024): Desember 2024. G-Couns: Jurnal Bimbingan dan Konseling
Publisher : Universitas PGRI Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31316/gcouns.v9i1.5981

Abstract

Adolescence is often called a period of rebellion, because of emotional turmoil, withdrawal, and various problems in various environments. Emotional maturity influences a teenager's development, helping them manage their emotions and increase their self-esteem. This research examines the relationship between emotional maturity and self-esteem in adolescents at the Salatiga orphanage. The method used was quantitative with a correlational analysis design with 150 participants from 5 nursing homes in Salatiga using random sampling techniques. The measuring instruments used were the Emotional Maturity Scale (EMS)(α = 0.75) and the self-liking and self-competence questionnaires (SLCS) scale (α = 0.94). The data analysis method uses the product moment correlation test from Karl Pearson. The hypothesis test results of the Pearson correlation value are -0.243 with a significance value = 0.001 (p < 0.05). The results show a significant negative relationship between emotional maturity and self-esteem in adolescents at the Salatiga orphanage. Keywords: emotional maturity, pride, adolescent, orphanage
Self-esteem and Resilience Among Students Affected by Toxic Relationships Cindy Priscila Pantjo’u; Ratriana Yuliastuti Endang Kusumiati
G-Couns: Jurnal Bimbingan dan Konseling Vol. 8 No. 3 (2024): Agustus 2024. G-Couns: Jurnal Bimbingan dan Konseling
Publisher : Universitas PGRI Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31316/gcouns.v8i3.6007

Abstract

The research aims to determine the levels of self-esteem and resilience among university students who are victims of toxic relationships throughout Indonesia. This study is of a quantitative nature. The research subjects consisted of 207 students who have experienced toxic relationships. Subjects were asked to fill out an Informed Consent form as part of the research protocol. The results indicate that self-esteem is not high in cases of toxic relationships; instead, it negatively affects resilience in students involved in toxic relationships. The conclusion of the study is that the hypothesis is rejected, meaning there is no relationship between self-esteem and resilience. Keywords: self-esteem, resilience, university students who are victims of toxic relationship
Hubungan Antara Kepuasan Pernikahan Dengan Intensi Berselingkuh Pada Pasangan Yang Menjalani Long Distance Relationship (LDR) Primasari Oktaviani Purnawan; Ratriana Yuliastuti Endang Kusumiati
G-Couns: Jurnal Bimbingan dan Konseling Vol. 8 No. 3 (2024): Agustus 2024. G-Couns: Jurnal Bimbingan dan Konseling
Publisher : Universitas PGRI Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31316/gcouns.v8i3.6084

Abstract

Pasangan yang menjalani hubungan Long-Distance Relationship (LDR) tidaklah mudah, mereka harus berhadapan dengan berbagai tantangan dalam menjalani perannya dalam berumah tangga. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui dan melihat apakah terdapat hubungan negatif antara kepuasan pernikahan dengan intensi berselingkuh pada pasangan yang menjalani LDR. Metode yang digunakan yaitu kuantitatif dengan desain korelasional. Terdapat 80 responden yang menjadi partisipan penelitian dengan menggunakan teknik aksidental sampling. Metode analisis data yang digunakan adalah uji korelasi Spearman's Rho. Hasil dari penelitian ini adalah terdapat hubungan negatif dengan tingkat signifikansi sangat lemah antara kepuasan pernikahan dan intensi berselingkuh dengan nilai (r = -0,579 dan sig. = 0,000). Hal ini menunjukkan bahwa kepuasan pernikahan menjadi salah satu faktor yang berhubungan dengan rendahnya intensi berselingkuh pada pasangan yang menjalani LDR. Implikasi dari penelitian ini diharapkan pasangan yang menjalani LDR dapat meningkatkan kepuasan pernikahan agar mampu memenuhi perannya dalam berumah tangga. Kata kunci: kepuasan pernikahan, intensi berselingkuh, pasangan LDR
Hubungan Antara Dukungan Keluarga Dengan Tingkat Kecemasan Mahasiswa Yang Sedang Mengerjakan Skripsi Bagus Wicaksono; Ratriana Yuliastuti Endang Kusumiati
G-Couns: Jurnal Bimbingan dan Konseling Vol. 8 No. 3 (2024): Agustus 2024. G-Couns: Jurnal Bimbingan dan Konseling
Publisher : Universitas PGRI Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31316/gcouns.v8i3.6109

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara dukungan keluarga dengan tingkat kecemasan. Penelitian dilakukan terhadap 78 mahasiswa akhir program sarjana fakultas psikologi angkatan 2020 yang sedang menempuh tugas akhir atau skripsi dan diperoleh melalui teknik simple random sampling. Penelitian ini menggunakan instrumen Hamilton Anxiety Rating Scale (HARS) untuk mengukur tingkat kecemasan dan Perceived Social Support Family (PSS-Fa) untuk mengukur dukungan keluarga yang dianalisis menggunakan uji Spearman. Hasil penelitian diperoleh nilai koefisien r = -0,360 dan p = 0,001 (p < 0,05), menunjukkan bahwa ada hubungan negatif yang signifikan antara dukungan keluarga dengan tingkat kecemasan. Semakin tinggi dukungan keluarga maka semakin rendah tingkat kecemasan. Sebaliknya, semakin rendah dukungan keluarga maka semakin tinggi tingkat kecemasan. Kesimpulan dalam penelitian ini bahwa terdapat hubungan negatif yang signifikan antara dukungan keluarga dengan tingkat kecemasan pada mahasiswa yang sedang mengerjakan skripsi angkatan 2020 Fakultas Psikologi Universitas Kristen Satya Wacana. Kata kunci: dukungan keluarga, kecemasan, mahasiswa, skripsi
Gambaran Fear of Intimacy pada Dewasa Awal yang Berasal dari Keluarga Bercerai Kezia Hana Situmorang; Ratriana Yuliastuti Endang Kusumiati
G-Couns: Jurnal Bimbingan dan Konseling Vol. 9 No. 1 (2024): Desember 2024. G-Couns: Jurnal Bimbingan dan Konseling
Publisher : Universitas PGRI Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31316/gcouns.v9i1.6260

Abstract

Penelitian ini dilakukan untuk mengeksplorasi fear of intimacy yang dialami individu yang berasal dari keluarga bercerai. Metode penelitian adalah penelitian kualitatif dengan desain studi kasus. Partisipan yang terlibat sebanyak satu orang. Hasil analisis data menemukan bahwa fear of intimacy yang dialami partisipan berupa kesulitan menceritakan masalah, kekhawatiran akan hubungan pernikahan, kurang nyaman dengan keterbukaan pasangan, kesulitan mengekspresikan perhatian, kesulitan menjaga komitmen, dan kurang dapat memercayai pasangan. Analisis data juga menemukan sumber dari fear of intimacy berupa perceraian orang tua, pola asuh orang tua, prinsip yang berbeda dari pasangan, status hubungan, ketidaksetiaan pasangan, dan pasangan kurang responsif. Fear of intimacy yang dialami partisipan secara tidak langsung menimbulkan konflik dalam hubungan, ketidakpuasan hubungan, dan kelelahan fisik. Berdasarkan penelitian ini, disarankan untuk menggunakan layanan bantuan tenaga profesional dalam menghadapi fear of intimacy dan bagi orang tua untuk menjaga hubungan yang harmonis dan pola asuh yang intim dengan anak. Kata kunci: fear of intimacy, perceraian orang tua, studi kasus
Cinta Pertama Jadi Luka : Dinamika Pemaafan Pada Perempuan Dewasa Muda Yang Ayahnya Berselingkuh Manullang, Arta Sari; Kusumiati , Ratriana Yuliastuti Endang
Economics and Digital Business Review Vol. 6 No. 1 (2025): Agustus - January
Publisher : STIE Amkop Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Indonesia memiliki tingkat perceraian yang tinggi bahkan tertinggi ke-3 di dunia, untuk kasus "fatherless" menempati peringkat ke-7 di Asia. Dampak perceraian ini sangat signifikan terhadap psikologis anak, terutama dalam hal kemampuan mereka untuk memaafkan. Survei mengungkapkan bahwa 73% dari 20 anak yang mengalami perceraian belum bisa memaafkan orang tua mereka, dengan dewasa muda menjadi kelompok yang paling sulit untuk menerima perpisahan tersebut. Penelitian ini meneliti dinamika pemaafan pada perempuan yang ayahnya berselingkuh, mengidentifikasi aspek, motivasi serta faktor-faktor yang memengaruhi pemaafan, Menggunakan metode kualitatif dengan wawancara mendalam terhadap tiga partisipan, hasil menunjukkan bahwa adanya persamaan dinamika partisipan dalam proses pemaafan pada perempuan yang ayahnya berselingkuh. Ketiga partisipan mengalami proses pemaafan yang berlangsung secara bertahap, proses pemaafan memiliki empat fase yang saling berkaitan, yaitu fase pengungkapan, fase keputusan, fase tindakan, dan fase pendalaman. Kata Kunci: fatherless, perceraian, pemaafan, perempuan
Hubungan Antara Toxic Parenting Dengan Relationship Commitment Pada Dewasa Awal Hutapea, Yohana; Kusumiati, Ratriana Yuliastuti Endang
YUME : Journal of Management Vol 8, No 1.1
Publisher : Pascasarjana STIE Amkop Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37531/yum.v8i1.8180

Abstract

Early adulthood is a crucial stage in a person's life journey. Besides being at the peak of physical condition, individuals at this age also tend to have a stable personality that does not change significantly. The family is one of the most fundamental constructs of human relationships and has a significant impact on a person's life. In a family, parenting serves as a way to raise and educate children by teaching them everything related to adult life. Toxic parenting has become a prevalent phenomenon in our society today. Toxic parenting refers to an inappropriate parenting style that can have negative impacts on children. It occurs when parents fail to treat their children according to their individual needs. Parents with toxic parenting tendencies are often unwilling to show respect, compromise, or treat their children with kindness. They believe they are always right and focus solely on their own desires without considering the needs of their children. Kata Kunci: Toxic parenting,  relationship commitment,Dewasa awal.
Hubungan Antara Kesiapan Menikah dengan Persepsi Mengenai Bimbingan Pranikah di GKJ Klasis Jakarta Bagian Timur Nugroho, Risha Aprilia Dwi; Kusumiati, Ratriana Yuliastuti Endang
Jurnal Penelitian Inovatif Vol 5 No 2 (2025): JUPIN Mei 2025
Publisher : CV Firmos

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54082/jupin.1376

Abstract

Persepsi bimbingan pranikah yaitu suatu proses pengolahan informasi yang diterima oleh panca indra mengenai pembelajaran untuk menyiapkan pasangan menuju ke jenjang pernikahan. Bimbingan pranikah bertujuan untuk membantu pasangan memahami dan juga menantang ekspektasi yang tidak realistis yang dimiliki terhadap diri sendiri dan juga hubungan mereka. Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa pertengkaran dan perselisihan menjadi faktor yang paling utama yang menyebabkan pasangan berpisah. Dari total kasus yang ada, sebanyak 251.125 perceraian dipicu oleh konflik rumah tangga yang tidak kunjung usai. Penelitian kuantitatif korelasional ini bertujuan menganalisis hubungan antara persepsi bimbingan pranikah dan kesiapan menikah pada individu yang mengikuti Bina Pra Perkawinan (BPP) di GKJ Klasis Jakarta Bagian Timur. Sampel pada penelitian ini berjumlah 23 orang yang dipilih melalui teknik sampling jenuh. Hasil penelitian menunjukkan tidak terdapat hubungan yang signifikan antara persepsi bimbingan pranikah dengan kesiapan menikah. Berdasarkan hasil penelitian, bimbingan pranikah yang diadakan harus dapat lebih bervariatif agar calon pengantin dapat mengikuti bimbingan pranikah dengan lebih baik dan siap untuk menjalani kehidupan berumah tangga.
Hubungan Antara Dukungan Sosial Dan Kesiapan Pernikahan Pada Dewasa Awal Dengan Latar Belakang Keluarga Broken Home Picauly, Viona Adinda Putri; Kusumiati, Ratriana Yuliastuti Endang
YUME : Journal of Management Vol 8, No 1 (2025)
Publisher : Pascasarjana STIE Amkop Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37531/yum.v8i1.8431

Abstract

Pernikahan merupakan salah satu fase penting dalam perkembangan individu, khususnya bagi dewasa awal. Namun, kesiapan pernikahan dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk latar belakang keluarga dan dukungan sosial yang diterima. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara dukungan sosial dan kesiapan pernikahan pada individu dewasa awal yang berasal dari keluarga broken home. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan pendekatan korelasional. Partisipan penelitian terdiri dari sejumlah individu dewasa awal yang memiliki latar belakang keluarga broken home. Pengukuran dilakukan dengan menggunakan skala dukungan sosial dan skala kesiapan pernikahan. Hasil analisis menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan yang signifikan antara dukungan sosial dan kesiapan pernikahan pada dewasa awal dengan latar belakang keluarga broken home, yang ditunjukkan oleh nilai korelasi r = -0.078 dengan signifikansi 0.402 (p > 0,05). Selain itu, hasil kategorisasi skor menunjukkan bahwa rata-rata partisipan memiliki tingkat dukungan sosial dan kesiapan pernikahan dalam kategori sedang. Temuan ini mengindikasikan bahwa faktor selain dukungan sosial kemungkinan lebih berpengaruh terhadap kesiapan pernikahan pada individu dengan latar belakang keluarga broken home. Kata Kunci: Dukungan Sosial, Kesiapan Pernikahan, Dewasa Awal, Broken Home.
The Relationship Between Self-Confidence and Social Interaction in Adolescents from Divorced Families in Manado City Zefanya Jennifer Lasut; Ratriana Yuliastuti Endang Kusumiati
Jurnal Indonesia Sosial Sains Vol. 5 No. 05 (2024): Jurnal Indonesia Sosial Sains
Publisher : CV. Publikasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59141/jiss.v5i05.1126

Abstract

A broken home is a family condition that experiences a split due to a problem that results in quarrels about divorce. A broken home greatly impacts the process of child development in social interaction. Children, especially in adolescence, are an important segment of life in the individual development cycle and require interaction with others in the process of self-discovery, so self-confidence is needed. This study aims to determine the relationship between self-confidence and social interaction in adolescents from divorced families. Participants in this study were 77 adolescents from divorced families in Manado City with an age range of 13–18 years. The sampling technique used in this study was purposive sampling. Data were collected using the self-confidence scale compiled by Lauster (2012) and the social interaction scale developed by Winslow et al.. The results of this study showed a significant positive relationship between self-confidence and social interaction, with a correlation of r = 0.477 and a significance of 0.000 (p<0.05). This means that the higher the self-confidence, the higher the social interaction.