Claim Missing Document
Check
Articles

CULTURE SHOCK MAHASISWA PAPUA DI UNIVERSITAS KRISTEN SATYA WACANA SALATIGA Valentino Agung P. A. Kelegun; Ratriana Y.E. Kusumiati
JISOS: JURNAL ILMU SOSIAL Vol. 2 No. 4: Mei 2023
Publisher : Bajang Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk meninjau Culture Shock pada mahasiswa Papua di Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) dari jenis kelamin, daerah asal, kemampuan berbahasa Indonesia dan sosial ekonomi (Pendapatan orang tua). Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode komparatif dengan analisis data kuantitatif uji independent sample t-test. Responden penelitian ini adalah 102 mahasiswa Papua yang berkuliah di UKSW, dengan teknik purposive sampling. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan yang signifikan pada culture shock yang dialami oleh mahasiswa Papua di UKSW dari jenis kelamin, daerah asal, kemampuan berbahasa Indonesia dan sosial ekonomi
Hubungan antara Grit dengan Subjective Well-Being pada Guru Honorer Ester Hestiningsih; Ratriana Y. E. Kusumiati
Jurnal Bimbingan dan Konseling Indonesia Vol 7 No 2 (2022): Jurnal Bimbingan dan Konseling Indonesia
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jurnal_bk.v7i2.1066

Abstract

This study aims to determine the relationship between grit and subjective well-being in honorary teachers. The hypothesis proposed is that there is a significant positive relationship between grit and subjective well-being in honorary teachers. The research subjects were 87 people. Data collection used the grit scale compiled by Duckworth (2009), the Satisfaction With Life Scale (SWLS) compiled by Diener, Emomons, Larsen, & Griffin (1985), and The Scale of Positive and Negative Experience (SPANE) compiled by Diener (2009). Data analysis using Pearson product moment correlation method. The results showed that there was a significant positive relationship between grit and subjective well-being (rxy = 0.421; p<0.05). This means that the higher the grit level, the higher the subjective well-being of honorary teachers, and vice versa.
Gambaran Harga Diri Wanita Dewasa Awal Yang Mengalami Fatherless Akibat Perceraian Orang Tua Regina Vironica Wendi; Ratriana Yuliastuti Endang Kusmiati
Jurnal Bimbingan dan Konseling Indonesia Vol 7 No 3 (2022): Jurnal Bimbingan dan Konseling Indonesia
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jurnal_bk.v7i3.1459

Abstract

Abstract: Early-adolescent women who experience fatherless feel different from other adult women who have complete families. This study aims to describe the self-esteem of early adult women who experience fatherless. The subjects in this study were early adult women, totaling 3 people, experiencing fatherless due to divorce, 18-25 years old, domiciled in Salatiga city or Semarang regency, experiencing fatherless from an early age, and living with their mother. This study uses a qualitative phenomenological approach using structured interviews and observation. The results of this study indicate that other aspects that affect self-esteem besides virtue, power, significance, and competence are religiosity, family environment, and social environment. Keywords: self esteem, fatherless, early-adolescent women. Abstrak: Seringkali wanita dewasa awal yang mengalami fatherless merasa berbeda dengan wanita dewasa lainnya yang memiliki keluarga utuh. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan Gambaran Harga diri Wanita Dewasa Awal Yang Mengalami Fatherless, dimana subjek dalam penelitian ini adalah wanita dewasa awal yang berjumlah 3 orang, mengalami fatherless karena perceraian, berusia 18-25 tahun, berdomisili di kota Salatiga atau Kabupaten Semarang, Mengalami Fatherless Sejak Usia Dini, dan tinggal dengan ibu. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif fenomenologi dengan menggunakan wawancara terstruktur serta observasi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa aspek lain yang mempengaruhi harga diri selain virtue, power, significance, dan competence yaitu religiusitas, lingkungan keluarga, serta lingkungan sosial. Kata Kunci: harga diri, fatherless, wanita dewasa awal.
Perbedaan Kepuasan Pernikahan pada Pasangan yang Menjalani Hubungan Jarak Jauh Ditinjau dari Keberadaan Anak Elizabeth Hana Permatahati Mongdong; Ratriana Y.E. Kusumiati
Philanthropy: Journal of Psychology Vol. 7 No. 1 (2023)
Publisher : Faculty of Psychology, Universitas Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26623/philanthropy.v7i1.5238

Abstract

Abstract. Long-distance relationship are common on these day. Based on the latest data from the Central Statistics Agency for 2015 in Indonesia, especially in the North Sulawesi province there were 35.851.00 individuals who migrated outside the region and lived separately from their families. This condition makes couples who are in long-distance relationship may had diverse experience about their marital life satisfaction. Therefore, this study aims to examine the difference in marital satisfaction of couples who have long-distance relationships in terms of child presence. This study will use a comparative quantitative method with snowball sampling. There were 87 participants (44 have children and 43 have no children) involved in the study of husband/wife in ethnic Minahasa. The scale used is the ENRICH Marital Satisfaction Scale (EMS) by Fowers and Olson (1993). The results of the independent sample t-test were 0.524 (p>0.05), that means there was no difference in marital satisfaction for couples who had long-distance relationships, both those who already had children and those who did not have children.Keywords:, Marital Satisfaction, Long Distance Relationship, Child PresenceAbstrak. Pernikahan jarak jauh banyak ditemui pada zaman modern seperti saat ini. Di Indonesia, khususnya di provinsi Sulawesi Utara berdasarkan data terbaru Badan Pusat Statistik 2015 sebanyak 35.851.00 jiwa individu yang melakukan migrasi ke luar daerah dan hidup terpisah dengan keluarga. Kondisi ini membuat pasangan yang menjalani hubungan jarak jauh merasakan kepuasan pernikahan yang berbeda. Maka dari itu, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah ada perbedaan kepuasan pernikahan pada pasangan yang menjalani hubungan jarak jauh ditinjau dari keberadaan anak. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif komparatif dengan snowball sampling. Partisipan merupakan suami/istri masyarakat suku Minahasa, Sulawesi Utara sebanyak 87 orang (44 orang memiliki anak dan 43 orang belum memiliki anak). Skala yang digunakan yaitu ENRICH Marital Satisfaction Scale (EMS) oleh Fowers dan Olson (1993). Didapatkan hasil independent sample t-test adalah 0,524 (p>0,05) artinya tidak terdapat perbedaan kepuasan pernikahan pada pasangan yang menjalani hubungan jarak jauh baik yang sudah memiliki anak dan yang belum memiliki anak.Kata kunci: Kepuasan Pernikahan, Hubungan Jarak Jauh, Keberadaan Anak
Hubungan Psychological Capital Dan Orientasi Kewirausahaan Pada Millenial Yang Berwirausaha Di Kota Tomohon Natasya Gloria Pangkey; Ratriana Yuliastuti Endang Kusmiati
Jurnal Pendidikan dan Konseling (JPDK) Vol. 5 No. 2 (2023): Jurnal Pendidikan dan Konseling
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jpdk.v5i2.12588

Abstract

Kewirausahaan menjadi pilihan alternatif generasi millenial untuk mengembangkan karirnya. Dengan berwirausaha individu tidak hanya membantu diri sendiri, namun juga membantu orang lain dengan menciptakan lapangan kerja. Dalam mengelola suatu usaha harus disertai dengan keyakinan dalam melakukan pekerjaan, harapan positif untuk keberhasilan saat ini dan masa depan, harapan untuk sukses, serta kemampuan untuk bertahan dan maju dalam menghadapi masalah yang dalam Psikologi disebut dengan Psychological Capital. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji secara ilmiah hubungan antara Psychological Capital dengan Orientasi Kewirausahaan pada Generasi Millenial di Kota Tomohon. Metode yang digunakan yaitu kuantitatif dengan desain korelasi. Jumlah sampel dalam penelitian ini berjumlah 46 orang dengan menggunakan teknik sampel sensus atau jenuh. Data penelitian diperoleh dengan menggunakan skala Psychological Capital Questionare oleh Luthans, Youssef, & Avolio (2007) & skala Orientasi Kewirausahaan oleh Lumpkin & Dess (1996). Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada hubungan positif signifikan antara Psychological Capital dengan Orientasi Kewirausahaan pada generasi millenial yang berwirausaha di Kota Tomohon. Dengan sumbangan efektif sebesar 78%. Kata Kunci: Psychological Capital, Orientasi Kewirausahaan
Hubungan Antara Self Disclosure dengan Interpersonal Trust pada Pasangan Dewasa Awal yang Menjalani Long Distance Relationship (LDR) Alvina Tri Septiani; Ratriana Yuliastuti Endang Kusumiati
As-Syar'i: Jurnal Bimbingan & Konseling Keluarga Vol 6 No 1 (2024): As-Syar’i: Jurnal Bimbingan & Konseling Keluarga
Publisher : Fakultas Syariah IAIN Laa Roiba Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47467/as.v6i1.5601

Abstract

Long distance relationship (LDR) is a form of romantic relationship where two people are separated by physical distance which makes it difficult for both to establish closeness within a certain period. Of course, living in a long-distance relationship is not an easy thing if there is no self-disclosure and interpersonal trust in the relationship. Openness is one of the factors that play an important role in forming interpersonal trust. Openness arises because of the trust between partners and this encourages them to feel comfortable in sharing all kinds of information about themselves to their partners. The purpose of this study is to determine the relationship between self-disclosure and interpersonal trust in early adult couples who undergo long-distance relationships. This study uses a correlational quantitative approach with 120 respondents. The sampling technique in this study used accidental sampling. The results of the correlation coefficient analysis obtained are 0.837 and the significance value of the correlation r is 0.000 (p <0.05). The effective contribution between self-disclosure and interpersonal trust is 70%. So it can be concluded that there is a positive relationship between self-disclosure and interpersonal trust, meaning that the higher the self-disclosure, the higher the level of interpersonal trust in early adult couples who undergo long-distance relationships, and vice versa
NEUROTICISM TRAIT PERSONALITY, SOCIAL SUPPORT, DAN RESILIENSI AKADEMIK MAHASISWA DI MASA PANDEMI COVID-19 Ratriana Yuliastuti Endang Kusumiati; Arthur Huwae
Jurnal Psikologi Vol 14, No 1 (2021)
Publisher : Universitas Gunadarma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35760/psi.2021.v14i1.3684

Abstract

Perkembangan pendidikan di era digital yang juga beriringan dengan hadirnya wabah COVID-19, menyebabkan terjadinya pergeseran pembelajaran melalui sistem luring ke daring dengan begitu cepat tanpa adanya persiapan yang kuat. Keadaan ini menghasilkan gejolak mental bagi mahasiswa, sehingga mengalami ketidakberdayaan untuk dapat beradaptasi dengan perubahan yang ada. Maka dari itu, penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh neuroticism trait personality dan social support terhadap resiliensi akademik mahasiswa di masa pandemi COVID-19. Metode yang digunakan adalah kuantitatif regresi berganda. Partisipan yang dilibatkan sebanyak 427 mahasiswa, dengan menggunakan teknik convenience sampling. Skala yang digunakan terdiri dari skala resiliensi akademik, skala neuroticism trait personality, dan skala social support. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat pengaruh neuroticism trait personality dan social support terhadap resiliensi akademik mahasiswa. Untuk tetap memiliki mental yang sehat dalam menempuh studi, maka individu mampu untuk bangkit dan beradaptasi terhadap situasi pandemi COVID-19 yang sangat krusial, dengan terus melatih dan membentuk kepribadian yang sehat lewat stabilitas emosi, dan selalu mencari serta mendapatkan dukungan yang penuh dari lingkungan keluarga, teman, dan orang-orang terdekat yang berharga bagi individu.
Dampak Kekerasan Seksual di Ranah Domestik terhadap Perkembangan Remaja Fita Kumalasari; Ratriana Y. E. Kusumiati
Jurnal Ilmiah Psikologi MIND SET Vol 14 No 01 (2023): Juni
Publisher : Fakultas Psikologi Universitas Pancasila

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35814/mindset.v14i01.4130

Abstract

The protection of children from sexual abuse, both within the family and society, is a fundamental right that must be guaranteed. The phenomenon of domestic sexual violence committed by family members indicates a lack of protection and security for children to grow and develop. The impact of such experiences can be detrimental to a child's development in the present and potentially dangerous in the future. This study aims to comprehensively describe the impact of domestic sexual violence and to discuss inhibiting and supportive factors in the recovery process. A qualitative phenomenological method with an Interpretative Phenomenology Analysis (IPA) approach was used in this study. The researcher conducted semi-structured interviews with an epoche attitude as the basis for answering the research objectives. Participants were purposively selected, and two female participants aged 10-19 years who experienced sexual violence by family members were obtained. The study found that there are psychological impacts that disrupt adolescent development in cognitive, emotional, physical, and social aspects. Additionally, there are post-traumatic symptoms, social factors that worsen the impact of sexual violence, and supportive factors that aid in the recovery process. The study also discovered a new finding: the lack of sexual education and power relations as contributing factors to domestic sexual violence.
The Relationship Between Self-Confidence and Social Interaction in Adolescents from Divorced Families in Manado City Zefanya Jennifer Lasut; Ratriana Yuliastuti Endang Kusumiati
Jurnal Indonesia Sosial Sains Vol. 5 No. 05 (2024): Jurnal Indonesia Sosial Sains
Publisher : CV. Publikasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59141/jiss.v5i05.1126

Abstract

A broken home is a family condition that experiences a split due to a problem that results in quarrels about divorce. A broken home greatly impacts the process of child development in social interaction. Children, especially in adolescence, are an important segment of life in the individual development cycle and require interaction with others in the process of self-discovery, so self-confidence is needed. This study aims to determine the relationship between self-confidence and social interaction in adolescents from divorced families. Participants in this study were 77 adolescents from divorced families in Manado City with an age range of 13–18 years. The sampling technique used in this study was purposive sampling. Data were collected using the self-confidence scale compiled by Lauster (2012) and the social interaction scale developed by Winslow et al.. The results of this study showed a significant positive relationship between self-confidence and social interaction, with a correlation of r = 0.477 and a significance of 0.000 (p<0.05). This means that the higher the self-confidence, the higher the social interaction.
Fear of Intimacy Pada Dewasa Awal Dengan Orang Tua Yang Melakukan Kekerasan Dalam Rumah Tangga Sisilia Karina Pertiwi; Ratriana Yuliastuti Endang Kusumiati
G-Couns: Jurnal Bimbingan dan Konseling Vol. 8 No. 2 (2024): April 2024. G-Couns: Jurnal Bimbingan dan Konseling
Publisher : Universitas PGRI Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31316/gcouns.v8i2.5562

Abstract

Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan fenomenologi menggunakan wawancara dan observasi. Tujuan penelitian yaitu mengetahui gambaran fear of intimacy pada dewasa awal dengan orang tua yang melakukan KDRT. Partisipan dalam penelitian ini merupakan dewasa awal yang belum menikah berusia 18-30 tahun, memiliki riwayat kedua orang tua yang pernah atau masih melakukan KDRT, pernah atau sedang menjalani hubungan romantis. Hasil dari penelitian ini menunjukkan gambaran pada dewasa awal ketika menyaksikan secara langsung kekerasan dalam rumah tangga, baik dari respon yang mereka munculkan hingga pengambilan keputusan saat menjalin hubungan dengan lawan jenis kedepannya. Dari hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa dari pengalaman menyaksikan KDRT secara langsung dan dengan durasi berulang berdampak pada munculnya fear of intimacy pada dewasa awal, terlihat dari adanya hubungan antar partisipan terkait aspek hubungan romantis meskipun memiliki latar belakang keluarga yang berbeda. Kata kunci: fear of intimacy, dewasa awal, KDRT