- Subiyanto
Program Studi Manajemen Sumberdaya Perairan, Jurusan Perikanan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Published : 12 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 12 Documents
Search

HUBUNGAN ANTARA KELIMPAHAN EPIFAUNA DASAR DENGAN TINGKATAN KERAPATAN LAMUN YANG BERBEDA DI PULAU PANJANG DAN TELUK AWUR JEPARA Setyawati, Yolanda; Subiyanto, -; Ruswahyuni, -
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Volume 3, Nomor 4, Tahun 2014
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (558.846 KB)

Abstract

Perairan Teluk Awur dan Pulau Panjang terletak di Kabupaten Jepara yang memiliki keanekaragaman ekosistem perairan, antara lain ekosistem lamun. Kondisi dari ekosistem lamun dikedua lokasi tersebut akan mempengaruhi tingkat kerapatan dan selanjutnya akan mempengaruhi epifauna yang hidup didalamnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan tingkat kerapatan lamun yang berbeda dengan kelimpahan epifauna dasardi kawasan Pulau Panjang dan Teluk Awur Jepara. Pelaksanaan penelitian dilakukan pada bulan Maret 2014 di perairan pantai Pulau Panjang dan Teluk Awur. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah studi kasus yang bersifat deskriptif berdasarkan 3 kerapatan yang berbeda, yaitu kerapatan jarang, sedang dan padat. Pengambilan sampel epifauna dilakukan dengan pengambilan substrat dasar pada setiap tingkat kerapatan lamun pada 9 titik yang masing-masing 1m x 1m, selanjutnya sampel disaring dengan saringan ukuran mesh size 1mm x 1mm lalu disimpan dalam botol sampel dan diberi formalin 4% selanjutnya sampel epifauna dibawa ke laboraturium untuk diidentifikasi. Hasil penelitian menunjukkan terdapat 5 jenis lamun yang ditemukan di Pulau Panjang yaitu Thalassia sp, Cymodocea sp, Enhallus sp, Halodulle sp dan Sryngodium sp. dan 4 jenis di Teluk Awur yaitu Thalassia sp, Cymodocea sp, Enhallus sp, Halophila sp. Kelimpahan epifauna dikerapatan lamun padat, sedang dan jarang 176, 193 dan 241 individu/m2 berturut-turut di Pulau Panjang. Sedangkan kelimpahan epifauna di Teluk Awur sebanyak 162, 177 dan 213 individu/m2 di Kerapatan jarang, sedang dan padat berturut-turut. Hasil analisa statistik menunjukkan hubungan positif antara kerapatan lamun dengan kelimpahan epifauna dengan r = 0,969 di Pulau Panjang dan 0,976 di Teluk Awur. Teluk Awur and Panjang Island which is located in Jepara, has a diversity of ecosystems such as seagrass. Conditions of seagrass ecosystems in both locations will affect the level of density epifauna who live there. The purpose of the research was to know the relationship between density level of different seagrass in Panjang Island and Teluk Awur, Jepara. The reseach has been done in March 2014. The method used was case study and the data will analyzed descriptive based on 3 different densities level  i.e : sparse, medium and dense. Epifauna was collected by taking substrate from 9 point from kuadrant transek 1mx1m at every level density of seagrass. The sample collected then was filtered with 1x1mm a filter mesh size and stored in 4 % formalin. Epifauna collected were brought to the laboratory to be identified. The results showed that there were 5 types of sea grass found on Panjang Island and 4 type in Teluk Awur were Thalassia sp., Cymodocea sp., Enhallus sp, Halodulle sp and Sryngodium sp, while in Teluk Awur were Thalassia sp, Cymodocea sp, Enhallus sp, Halophila sp. The abundance of epifauna in dense, medium, and sparse were 241, 193, and 176 ind/m2 respectively in Pulau Panjang. while the abundance of epifauna in Teluk Awur was 162, 177 and 213 individual/m2 were collected from sparse, medium and dense density, respectively. The statistical analysis showed that there were positive correlation between level densities of seagrass and the abundance of epifauna the higher, the density the more epifauna were obtained with r = 0.969 at Panjang Island and 0.976 at Teluk Awur. 
KELIMPAHAN ZOOPLANKTON KRUSTASEA BERDASARKAN FASE BULAN DI PERAIRAN PANTAI JEPARA, KABUPATEN JEPARA Aji, Wahyu Permana; Subiyanto, -; Muskananfola, Max Rudolf
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Volume 3, Nomor 3, Tahun 2014
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (519.692 KB)

Abstract

Sebagian besar ikan di laut, khususnya pada saat stadia larva, memanfaatkan Zooplankton Krustasea sebagai makanannya. Kelimpahan Zooplankton Krustasea pada perairan, tergantung pada kondisi lingkungan dan daya rekruitmen masing-masing spesies. Pola pasang surut yang terjadi pada perairan sangat menentukan distribusi dan kelimpahan Zooplankton Krustasea yang berada pada perairan tersebut, dimana pola pasang surut sangat berhubungan dengan fase bulan. Fase bulan terdiri dari  Fase Bulan Baru, Fase Bulan Seperempat, Fase Bulan Penuh (Purnama) dan Fase Bulan Tigaperempat. Kekuatan pasang yang terjadi pada Pasang Purnama (Spring Tide) lebih besar, dibandingkan pada Pasang Perbani (Neap Tide). Hal itu disebabkan, karena adanya perbedaan pembangkit pasang surut terkait posisi bulan dan matahari terhadap bumi. Tujuan dari penelitian ini, untuk mengetahui pengaruh fase bulan terhadap kelimpahan dan komposisi Zooplankton Krustasea di Perairan Pantai Jepara. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan November-Desember 2013. Materi yang digunakan dalam penelitan adalah sampel Zooplankton Krustasea yang didapatkan di tiga lokasi penelitian yaitu Teluk Awur, Pantai Kartini dan Pulau Panjang. Metode yang digunakan dalam penelitian adalah metode deskriptif, dengan metode pengambilan sampel yaitu sistematik random sampling. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa, ditemukan empat famili dan lima genera zooplankton krustasea, yang diperoleh dari Perairan Pantai Jepara. Tiga genera yaitu Acetes, Lucifer dan Mysis terdapat dalam jumlah yang lebih melimpah, dibandingkan genus Thysanopoda dan Viatrix. Jumlah genus yang diperoleh sama di semua lokasi, namun kelimpahan individu pada masing-masing lokasi penelitian, memiliki kecenderungan dominansi dari genus yang berbeda. Kelimpahan total individu Fase Bulan Baru dan Bulan Purnama lebih kecil, dibandingkan pada fase-fase bulan lainnya. Hal tersebut dikarenakan terjadinya keterlambatan waktu pasang, sehingga Pasang Purnama (Spring Tide) terjadi pada Fase Bulan Seperempat dan Bulan Tigaperempat.Various species of fish around the world, proved to be almost all of small pelagic fish and their larvae utilize crustacean zooplankton as food. The abundance of crustacean zooplankton in the waters, depend on the condition of the aquatic environment and the power recruitment of the each species. Tidal patterns that occur in waters will determine the distribution and abundance of crustacean zooplankton residing in these waters, where the tidal pattern depend on phase of moon. Moon phase consists of the New Moon phase, Quarter Moon Phase, Full Moon Phase and Three-quarters Moon Phase. Strength of tides that occur in the Spring Tide is greater than Neap Tide. That's because of differences in tide generating force associate position of the moon and the sun to the earth.The purpose of this study was to determine the effect of moon phase on the abundance and composition of crustacean zooplankton in the Jepara Coastal Waters. This research was conducted in November-December 2013. The materials used in this study were crustacean zooplankton samples, it were obtained at three study sites, that was the Teluk Awur, Kartini Beach and Panjang Island. The method used in this research was descriptive method, with sampling method was a systematic random sampling. The results showed that there were found four families and five genera of crustacean zooplankton were collected from Jepara Coastal Waters. Three genera i.e.: Acetes, Lucifer and Mysis were found more abundance than Thysanopoda and Viatrix. The numbers of genera obtained equally in all locations, but the abundance in each study site, tended to be dominated by different genus. Total abundance of individuals at New Moon Phase and Full Moon Phase was smaller than the two others moon phases. This was caused by the delayed of the tidal time, so the spring tide occurred at Quarter Moon Phase and Three-quarter Moon Phase.