Claim Missing Document
Check
Articles

Found 13 Documents
Search
Journal : IMAJI

GREEN CITY HOTEL DI SEMARANG Sasongko, Enggar; Wijayanti, Wijayanti; Sudarwanto, Budi
IMAJI Vol 1, No 3 (2012): IMAJI
Publisher : IMAJI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (4314.478 KB)

Abstract

Perkembangan sektor ekonomi di Kota Semarang tak lepas dari lokasi Kota Semarang yang berada pada jalur penghubung dua kota besar di Indonesia yaitu Jakarta dan Surabaya. Kota Semarang yang juga merupakan Ibu Kota Provinsi Jawa Tengah juga mempengaruhi perkembangan sektor ekonomi. Dengan berkembangnya sektor perekonomian di Kota Semarang, maka berdampak juga dengan jumlah kunjungan wisatawan baik untuk tujuan bisnis maupun rekreasi. Dengan bertambahnya jumlah wisatawan yang berkunjung ke Kota Semarang, maka dibutuhkan bangunan komersial yang dapat mengakomodasi kebutuhan wisatawan khususnya dalam hal hunian sementara yaitu hotel. Hotel yang direncanakan merupakan City Hotel karena berlokasi di pusat kota dan dekat dengan area bisnis maupun tempat wisata.Kajian yang dilakukan adalah dengan mempelajari pengertian tentang hotel, pengertian City Hotel, Karakteristik City Hotel, pengelolaan hotel, kebutuhan dan pengelompokkan ruang hotel, dan studi banding beberapa City Hotel di Semarang. Dilakukan juga pembahasan tentang konsep perancangan hotel dengan penekanan desain Green Arsitektur.Lokasi yang digunakan untuk perancangan “Green City Hotel di Semarang” ini berada di pusat kota dan dekat dengan area bisnis dan tempat wisata di Semarang. Tapak yang dipilih berada di Jalan Imam Bonjol Semarang karena berada di pusat kota dan dapat dengan mudah dicapai. Selain itu, tapak ini juga berada di BWK I yang difokuskan untuk perkantoran, perdagangan dan jasa (Perda Kota Semarang No. 14 Tahun 2011 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Semarang Tahun 2011-2031).Penekanan desain yang diterapkan adalah Green Arsitektur. Prinsip-prinsip dan sifat-sifat bangunan berkonsep Green Arsitektur diterapkan dalam perancangan City Hotel agar dapat mengurangi penggunaan sumber daya yang tidak terbarukan.
SOLO CONVENTION HALL Lestari, Ayudia Kanthi; Sudarwanto, Budi; Setyowati, Erni
IMAJI Vol 1, No 2 (2012): IMAJI
Publisher : IMAJI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1405.079 KB)

Abstract

Jawa Tengah memiliki daya tarik tersendiri yang dapat dijadikan tujuan dari agenda MICE (meeting,incentive, convention, exhibition) tetapi hal tersebut tidak didukung dengan fasilitas konvensi yangberkapasitas ribuan orang. Kota Solo berpotensi dalam sektor bisnis, perdagangan, dan potensi seni budayalokal. Hal ini dapat mendukung potensi Kota Solo sebagai kota tujuan MICE. Akhir-akhir ini juga bisnisperhotelan di Kota Solo mengalami penurunan, karena sedikitnya pertemuan-pertemuan akbar yang digelar diKota Solo. Hal ini yerjadi karena di Kota Solo belum terdapat fasilitas gedung konvensi yang berkapasitasribuan orang, sehingga saat pemilihan tuang rumah kegiatan konvensi, Kota Solo pasti dikesampingkan.Sekarang sedang dilakukan pengembangan potensi Kota Solo, saat ini merupakan saat yang tepat untukmerealisasikan dibangunnya sebuah bangunan konvensi yang berstandar internasional di Kota Solo. Kajian diawali dengan mempelajari pengertiandan hal-hal mendasar tentang gedung konvensi,standar-standar mengenai tata ruang di dalam gedung konensi, studi banding beberapa gedung konvensi diIndonesia. Dilakukan juga tinjauan mengenai lokasi gedung Solo Convention Hall dan pembahasan konsepperancangan dengan penekanan desain Arsitektur Neo-Vernakular. Selain itu juga dibahas mengenai tataruang bangunan, penampilan bangunan, struktur, serta utilitas yang dipakai dalam perancangan “SoloConvention Hall”. Konsep perancangan ditekankan Arsitektur Neo-Vernakular, yaitu konsep transformasi identitas KotaSurakarta ke dalam konsep modern, karena bangunan konvensi merupakan bangunan umum yang digunakanoleh berbagai kalangan dan unutk aktivitas modern. Konsep ini sesuai dengan spirit Kota Surakarta “Solo’s Pastas Solo’s Future”, yaitu spirit pembangunan Kota Surakarta yang tidak meninggalkan identitas masa lampaudan menjadikan karakter budaya lokal sebagai dasar pengembangan modernitas Kota Surakarta. Padabangunan ini mengambil konsep dari pendapa yang fungsinya juga sebagai tempat pertemuan bagi orangJawa. Pendapa yang berbentuk joglo merupakan bangunan dengan dominasi atap, hal tersebut menyiratkanbahwa orang Jawa mementingkan bagian kepala yaitu akal dan pikiran. Karena dengan akal dan pikiran,manusia dapat mempersiapkan diri sebaik-baiknya sebelum bertemu Tuhan (mati).
GALERI SENI PERTUNJUKAN JAWA DI SURAKARTA hidayah al amin, miftahul; Sudarwanto, Budi; wijayanti, wijayanti
IMAJI Vol 3, No 1 (2014): jurnal IMAJI - Januari 2014
Publisher : IMAJI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1466.691 KB)

Abstract

Kota Surakarta memiliki dua keraton yakni Kasunanan dan Mangkunegaran, di masa lampau kota ini tidak hanya menjadi pusat pemerintahan tetapi juga berfungsi sebagai pusat perkembangan seni dan budaya di wilayah propinsi Jawa Tengah. Posisi kota Surakarta yang demikian sentral itulah yang kemudian melahirkan ekspresi seni, terutama seni pertunjukan seperti; seni teater, musik, karawitan, tari, pendalangan, dan seni rupa baik yang bersifat modern, kontemporer maupun tradisional. Frekuensi kegiatan seni pertunjukan di Surakarta memang cukup baik, namun informasi, publikasi, dan promosi kegiatannya kurang terkoordinasi dan kurang terlihat. Oleh karena itu, tidak cukup banyak menjaring pengunjung dan konsumen, baik dari masyarakat maupun wisatawan. salah satu penyebabnya adalah kurangnya tempat mengekspresikan seni pertunjukan jawa di Surakarta. Sehingga dibutuhkan tempat/wadah yang dapat menampung para pecinta seni pertunjukan untuk mengekspresikan seni dan melestarikannya sebagai budaya daerah kota Surakarta.Kajian diawali dengan mempelajari pengertian mendasar mengenai Seni Pertunjukan Jawa, standar-standar mengenai tata ruang dalam panggung pertunjukan, studi banding beberapa tempat yang berkaitan dengan seni pertunjukan di Surakarta dan Galeri Seni Pertunjukan melalui website. Dilakukan juga tinjauan mengenai lokasi tapak yang akan digunakan dan pembahasan konsep perancangan dengan penekanan desain Arsitektur Neovernakular. Tapak yang digunakan berada di pusat kota Surakarta tepatnya di jalan Mayjen Sunaryo. Selain itu juga dibahas mengenai tata massa dan ruang bangunan, penampilan bangunan, struktur, serta utilitas yang dipakai dalam perancangan “Galeri Seni Pertunjukan Jawa Di Surakarta”.Konsep perancangan ditekankan pada desain Arsitektur Neovernakular, sebagai wujud penyesuaian bangunan di sekitar tapak. Konsep dan filosofi massa bangunan Galeri ini mengadopsi tatanan massa bangunan pada Keraton Surakarta, dengan vocal point pada atrium pertunjukan terbuka yang berada di tengah-tengah massa bangunan pendukung kegiatan utama. Bentuk massa bangunannya mengikuti pola dasar bentuk site yakni kombinasi bentuk lingkaran dan persegi panjang. Arsitektur neovernakular Galeri ini muncul pada bentuk atap dan elemen-elemen yang dipakai pada setiap massa bangunanya.