Pieter L. Suling
Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi Manado

Published : 29 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 29 Documents
Search

Gambaran Pengetahuan dan Sikap terhadap Infeksi Menular Seksual pada Remaja di SMA Frater Don Bosco Manado Pandjaitan, Marini C.; Niode, Nurdjannah J.; Suling, Pieter L.
e-CliniC Vol 5, No 2 (2017): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.5.2.2017.18281

Abstract

Abstract: Sexually transmitted infections are diseases that are commonly transmitted through sexual contact. Sexually transmitted infections are a major problem in communities that represent a huge economic burden for health care systems. The incidence of sexually transmitted infections in adolescents is still relatively high. This is due to the knowledge and attitude towards sexually transmitted infections of adolescents which are still not good. This study was aimed to determine the level of knowledge and attitude towards sexually transmitted infections among adolescents at SMA Frater Don Bosco (senior high school) Manado. This was a descriptive study with a cross sectional design study conducted on 100 adolescents. The results showed that 50% of respondents had good knowledge and 71% of respondents had good attitude towards sexually transmitted infections. Conclusion: The majority of respondents had good category of knowledge and attitude towards sexually transmitted infections.Keywords: sexually transmitted infection, adolescent, attitude, knowledge Abstrak: Infeksi menular seksual (IMS) adalah penyakit yang umumnya ditularkan melalui kontak seksual. Infeksi menular seksual merupakan masalah besar dalam masyarakat yang menimbulkan beban ekonomi besar terhadap sistem pelayanan kesehatan. Angka kejadian IMS pada remaja masih tergolong tinggi. Hal ini disebabkan oleh pengetahuan dan sikap remaja yang masih belum baik terhadap IMS. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat pengetahuan dan sikap terhadap IMS pada remaja di SMA Frater Don Bosco Manado. Jenis penelitian ialah deskriptif dengan desain potong lintang yang dilakukan pada 100 remaja SMA. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden yaitu sebesar 50% memiliki pengetahuan dengan kategori baik dan sebesar 71% memiliki sikap dengan kategori baik terhadap IMS. Simpulan: Mayoritas responden memiliki tingkat pengetahuan maupun sikap tergolong baik terhadap infeksi menular seksual.Kata kunci: infeksi menular seksual, remaja, sikap, pengetahuan
GAMBARAN KELUHAN DI RONGGA MULUT PADA PENGGUNA OBAT ANTIHIPERTENSI DI POLIKLINIK PENYAKIT DALAM RUMAH SAKIT TINGKAT III ROBERT WOLTER MONGISIDI MANADO Tambuwun, Priscilia G. J.; Suling, Pieter L.; Mintjelungan, Christy N.
e-GiGi Vol 3, No 2 (2015): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.3.2.2015.8761

Abstract

Abstract: Hypertension is a condition with an increased blood pressure above normal. Treatment of hypertension is proved to be very effective and widely available but some side effects inter alia in the oral cavity cannot be avoided. This study aimed to obtain the oral complaints of hypertensive outpatients at the Internal Department of Robert Wolter Mongisidi Hospital Manado. This was a descriptive cross sectional study. The results showed that of the 30 respondents there were more females (60%) than males (40%). The most frequent age group was 56-60 years (20% males and 26,6% females), and the most frequent antihypertensive agent was amlodipine (80%). The oral complaints were as follows: xerostomia (80%), swollen gums (16,67%), and stomatitis aphtous recurrent (3,33%).Keywords: hypertension, antihypertensive agents, oral complaints.Abstrak: Hipertensi adalah suatu keadaan dimana terjadi peningkatan tekanan darah di atas normal. Pengobatan hipertensi terbukti sangat efektif dan tersedia luas, namun beberapa efek samping akibat penggunaan obat hipertensi antara lain pada rongga mulut tidak dapat dihindari. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran keluhan di rongga mulut pengguna obat antihipertensi rawat jalan di Poliklinik Penyakit Dalam Rumah Sakit Tingkat III Robert Wolter Mongisidi Manado. Penelitian ini bersifat deskriptif dengan dessain potong lintang. Responden penelitian berjumlah 30 orang. Hasil penelitian memperlihatkan jenis kelamin perempuan (60%) lebih banyak dari laki-laki (40%); usia responden terbanyak 56-60 tahun (46,67%); dan obat antihipertensi yang tersering digunakan ialah amlodipine (80%). Keluhan rongga mulut yang dialami responden ialah xerostomia (80%), gingiva bengkak (16,7%), dan sariawan (3,3%).Kata kunci: hipertensi, obat antihipertensi, keluhan rongga mulut
Nilai pH Saliva pada Buruh Perokok di Pelabuhan Bitung Syukri, Dwi M.; Suling, Pieter L.; Mintjelungan, Christy N.
e-GiGi Vol 6, No 2 (2018): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.6.2.2018.20457

Abstract

Abstract: Saliva is a complex fluid composed of a mixture of major and minor salivary glands in the oral cavity. The role of saliva is as a protective base between the lining of the oral cavity and toxins. Smoking can affect the physiological function of saliva because smoking destroys molecules in saliva that are useful in protecting the oral cavity, therefore, lack of sensitivity and changes in the sense receptor of taste occur. Saliva acidity setting includes protein, bicarbonate, and phosphate systems. This study was aimed to determine the salivary pH of the habitual smokers among the laborers at Bitung Port. This was an observational descriptive study using a cross sectional design. Respondents were 30 laborers (males and females) who were habitual smokers, aged 18-45 years old obtained by using purposive sampling technique. The results showed that 13 respondents (43.3%) had normal salivary pH (pH 6.4-7) and 17 respondents (56.7%) had basic salivary pH (pH >7). The average pH of all respondents was 7.18. Conclusion: Laborers who were habitual smokers at Bitung port had normal or basic salivary pH.Keywords: salivary pH, laborers, habitual smokers Abstrak: Saliva merupakan cairan mulut yang kompleks terdiri dari campuran sekresi kelenjar saliva mayor dan minor di dalam rongga mulut dan berperan sebagai pelindung basa antara lapisan mulut dan toksin. Saliva memiliki kemampuan dalam pengaturan derajat keasaman yang berperan penting dalam menjaga nilai pH di lingkungan mulut seseorang. Merokok dapat memengaruhi fisiologi saliva karena merokok dapat menghancurkan molekul dalam saliva yang berguna dalam melindungi rongga mulut sehingga akan menyebabkan kurangnya sensitivitas dan perubahan reseptor dari indra perasa. Pengaturan keasaman saliva meliputi sistem protein, bikarbonat, dan fosfat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pH saliva pada buruh perokok di pelabuhan Bitung. Jenis penelitian ialah deskriptif observasional dengan menggunakan desain potong lintang. Subjek penelitian ini ialah buruh perokok di pelabuhan Bitung dengan jenis kelamin laki-laki dan perempuan berusia 18-45 tahun. Terdapat 30 responden yang diperoleh dengan mengunakan teknik purposive sampling. Hasil penelitian mendapatkan bahwa 13 responden (43,3%) dengan pH saliva normal (pH berkisar 6,4-7), dan 17 responden (56,7%) dengan pH basa (pH >7). Nilai rerata pH responden sebesar 7,18. Simpulan: Buruh perokok di pelabuhan Bitung memiliki pH saliva normal atau basa.Kata kunci: pH saliva, buruh, perokok
GAMBARAN STOMATITIS AFTOSA REKUREN DAN STRES PADA NARAPIDANA DI LEMBAGA PEMASYARAKATAN KELAS II B BITUNG Junhar, Melky G.; Suling, Pieter L.; Supit, Aurelia S. R.
e-GiGi Vol 3, No 1 (2015): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.3.1.2015.6453

Abstract

Abstract: Prisoners are individuals who have been convicted of crimes and were sentenced to prison so they lost their freedom. Lost of freedom can cause stress. Stress is the ability of a person to survive under pressure without causing disturbance. Recurrent aphthous stomatitis (RAS) is a manifestation in the oral cavity which is usually triggered by some predisposing factors such as stress. This study aimed to describe recurrent aphthous stomatitis and stress among prisoners in prison class IIB Bitung. This study was cross-sectional with total sampling method. All prisoners who had experienced recurrent aphtous stomatitis (RAS) while in prison class IIB Bitung. The results showed that among the 56 respondents there were 53 male respondents (94.64%) and 3 female respondents (5.36%); 19 (33.93%) got mild stress, 18 (32.14%) moderate stress, 16 (28.58%) severe stress, and 3 (5.35%) very severe stress.Keywords: prisoner, stress, recurrent aphthous stomatitis (RAS)Abstrak: Narapidana adalah individu yang telah terbukti melakukan tindak pidana dan kemudian oleh pengadilan dijatuhi hukuman atau pidana serta kehilangan kebebasan. Kehilangan kebebasan menimbulkan terjadinya stres pada narapidana. Stres merupakan kemampuan individu untuk bertahan dalam menghadapi berbagai tekanan tanpa mengakibatkan gangguan. Stomatitis aftosa rekuren (SAR) merupakan manifestasi yang timbul dalam rongga mulut yang biasanya dipicu oleh beberapa faktor predisposisi, salah satunya stres. Tujuan penelitian yaitu mengetahui gambaran stomatitis aftosa rekuren dan stres pada narapidana di Lembaga Pemasyarakatan (LP) Kelas IIB Bitung. Jenis penelitian ini menggunakan desain potong lintang. Semua narapidana yang pernah mengalami Stomatitis Aftosa Rekuren (SAR) saat berada di Lembaga Pemasyarakatan kelas II B Bitung. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 56 responden terdapat 53 responden berjenis kelamin laki-laki (94,64%) dan terdapat 3 responden berjenis kelamin perempuan (5,36%). Hasil pengukuran stres menunjukkan bahwa dari 56 responden 19 responden (33,93%) mengalami tingkat stres ringan, 18 responden (32,14%) mengalami tingkat stres sedang, 16 responden (28,58%) mengalami tingkat stres berat dan 3 responden (5,35%) mengalami tingkat stres sangat berat.Kata kunci: narapidana, stres, stomatitis aftosa rekuren.
GAMBARAN KEBIASAAN MEROKOK DAN LEUKOEDEMA PADA MAHASISWA PAPUA DI MANADO Enoch, Elda Y.; Suling, Pieter L.; Supit, Aurelia S. R.
e-GiGi Vol 3, No 1 (2015): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.3.1.2015.6402

Abstract

Abstract: Smoking is a common habit, which have destructive impact. Smoking can cause negative impact either systemically or locally and cause changes to soft tissue within the mouth cavity like leukoedema. The purpose of this study is to get an overview of the smoking habit and the leukoedema of Papuan students in Manado. This study is a descriptive study using the cross-sectional study approach. Sample is taken using total sampling technique, where fourty five students is used as the sample of the study. The results of the study shows the smoking habits and leukoedema of Papuan students in Manado. It is found that among the sample, up to (51,1%) of the students with smoking habit are mostly at the age of 23th, with age range between 21-25 years old. The period of smoking is mostly between 1-5 years, which involve 22 respondents (48,9%). The smoking frequency is typically around 1-10 cigarette a day, which involve 21 respondents (46,7%). Out of 45 respondents, there are 41 respondents (91,1%) having leukoedema within their mouth cavity, which is found in the cheek mucosa. Conclusion: Smoking habit occurs mostly between the range of 1 to 5 years and leukoedema lesions is typically found in the cheek mucosa.Keywords: smoking habit, leukoedemaAbstrak: Kebiasaan merokok, merupakan kebiasaan yang bersifat umum dan memiliki daya rusak yang tinggi. Merokok dapat menimbulkan efek negatif baik secara sistemik maupun lokal dan menyebabkan perubahan jaringan lunak dalam rongga mulut seperti leukoedema. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui gambaran kebiasaan merokok dan leukoedema pada mahasiswa Papua di Manado. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan pendekatan cross sectional study. Teknik pengambilan sampel yang digunakan ialah total sampling, dimana jumlah sampel dalam penelitian ini sebanyak 45 orang. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa gambaran kebiasaan merokok dan leukoedema pada mahasiswa Papua di Manado. Sampel yang paling banyak, sebanyak (51,1%) mahasiswa yang mempunyai kebiasaan merokok berdasarkan usia sebanyak 23 responden, pada rentang usia 21-25 tahun. Lamanya merokok terbanyak 1-5 tahun, sebanyak 22 responden (48,9%). Frekuensi merokok terbanyak 1-10 batang rokok sehari, sebanyak 21 responden (46,7%). Dari 45 responden, ada 41 responden (91,1%) yang memiliki leukoedema dalam rongga mulutnya yang terdapat pada mukosa pipi. Simpulan: Kebiasaan merokok terjadi paling banyak berada di rentang 1-5 tahun dan lesi leukoedema paling banyak ditemukan di mukosa pipi.Kata kunci: kebiasaan merokok, leukoedema
Gangguan Kelenjar Keringat Apokrin: Bromhidrosis dan Kromhidrosis Setiawan, Stanley; Suling, Pieter L.
Jurnal Biomedik : JBM Vol 10, No 2 (2018): JURNAL BIOMEDIK : JBM
Publisher : UNIVERSITAS SAM RATULANGI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/jbm.10.2.2018.20084

Abstract

Abstract: Apocrine gland is one of the sweat glands in humans. This gland is considered as a gland that causes odor. Primary abnormalities in the apocrine glands are bromhidrosis and chromhidrosis. Bromhidrosis is a state of abnormal or offensive body odor due to the secretion of apocrine sweat glands lies in the armpit, scalp, soles of the feet, fingers, and genital. Chromhidrois is a fairly rare condition, characterized by the secretion of colored sweat from the pigmented apocrine glands that usually present in the armpits and face. In general, management of bromhidrosis and chromhidrosis including non-medicamentous, medica-mentous, and surgery shows satisfying result.Keywords: apocrine bromhidrosis and apocrine chromhidrosisAbstrak: Kelenjar apokrin merupakan salah satu kelenjar keringat pada manusia, dan kelenjar ini dianggap sebagai kelenjar yang menyebabkan bau badan. Kelainan primer pada kelenjar apokrin yaitu apokrin bromhidrosis dan apokrin kromhidrosis. Bromhidrosis adalah keadaan bau badan seseorang yang berlebihan dari normal akibat sekresi kelenjar keringat apokrin yang terletak di ketiak, kulit kepala, telapak kaki, sela-sela jari, dan genital. Kromhidrohis merupakan keadaan yang cukup jarang ditemukan, ditandai dengan sekresi keringat dari kelenjar apokrin yang berwarna, biasanya terdapat pada ketiak dan wajah. Secara umum penatalaksanaan bromhidrosis dan apokrin kromhidrosis meliputi nonmedikamentosa, medikamentosa, dan pembedahan memperlihatkan hasil yang memuaskan.Kata kunci: apokrin bromhidrosis, apokrin kromhidrosis
TUBEROUS SKLEROSIS PADA ANAK Ayamiseba, Sandra; Suling, Pieter L.
JURNAL BIOMEDIK : JBM Vol 7, No 3 (2015): JURNAL BIOMEDIK : JBM Suplemen
Publisher : UNIVERSITAS SAM RATULANGI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/jbm.7.3.2015.10444

Abstract

Abstract: Tuberous sclerosis (TS) is an autosomal dominant disease associated with mutation of one of two different genes, TSC1 or TSC2. The typical clinical picture of TS cases is skin lesions, mental retardation, and epilepsy. According to the consensus of TS alliance, the US National Tuberous Sclerosis Association, in July 1998, the diagnostic criteria of TS are based on major and minor symptoms: two major symptoms, or one major and two minor symptoms. The management of the skin disorders such as angiofibroma with a cosmetic purpose can be done by using electrocauterization, dermabrasion, and excision. The prognosis depends on the systemic involvement. We reported a case of a male, aged 7 years, with 2 major symptoms of TS: facial angiofibroma that spreaded to his neck and back, and hypomelanotic macula on his back. The histopathological examination showed subepithelial keratosis associated with fibrocollagen tissue and teleangiectasis in the stroma, atrophy of sebacceous glands, without any malignancy. Conclusion: In this case, the diagnosis of tuberous sclerosis was based on anamnesis, clinical picture (two major symptoms), and histopathological examination. Electrocauterization could not be performed because the patient was incooperative. The prognosis was quo ad vitam, quo ad functionam, quo ad sanationam: dubia.Keywords: tuberous sclerosis, multiple hyperpigmented noduleAbstrak: Tuberous sklerosis (TS) merupakan suatu penyakit autosomal dominan yang dihubungkan dengan mutasi satu dari dua gen yang berbeda, yaitu TSC1 atau TSC2. Gambaran klinis yang khas pada kasus ini ialah lesi kulit, retardasi mental, dan epilepsi. Berdasarkan konsensus aliansi US National Tuberous Sclerosis Association pada Juli 1998 dirumuskan kriteria diagnostik berdasarkan adanya gejala mayor dan minor, yaitu dua gejala mayor; atau satu gejala mayor dan dua gejala minor. Prinsip pengobatan untuk kelainan kulit berupa angiofibroma dengan tujuan kosmetik yaitu dengan elektrokauter, dermabrasi, dan eksisi. Prognosis tergantung pada keterlibatan sistemik. Pada kasus ini ditemukan 2 gejala mayor yaitu angiofibroma pada wajah yang menyebar ke leher dan punggung serta makula hipomelanotik pada punggung. Pemeriksaan histopatologik jaringan menunjukkan hiperkeratosis subepitelial di lapisan epidermis. Tampak stroma jaringan ikat fibrokolagen dengan pelebaran pembuluh darah kapiler, kelenjar sebaseus atrofi, dan tidak didapatkan tanda-tanda keganasan. Simpulan: Pada kasus ini, diagnosis TS ditegakkan berdasarkan anamnesis, gambaran klinis (2 gejala mayor), dan pemeriksaan histopatologik. Penatalaksanaan dengan elektrokauter tidak dapat dilakukan karena pasien tidak kooperatif. Prognosis tergantung gejala klinis, quo ad vitam, quo ad functionam, quo ad sanationam: dubia.Kata kunci: tuberous sklerosis, nodul hiperpigmentasi multipel
Onikomikosis Kandida yang Diterapi dengan Itrakonazol Dosis Denyut Mamuaja, Enricco H.; Susanti, Ratna I.; Suling, Pieter L.; Kapantow, Grace M.
Jurnal Biomedik : JBM Vol 9, No 3 (2017): JURNAL BIOMEDIK : JBM
Publisher : UNIVERSITAS SAM RATULANGI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/jbm.9.3.2017.17340

Abstract

Abstract: Candidiasis onychomycosis is a nail disorder caused by candida spp. as the most common cause in Indonesia. The first line therapy for this case is pulse dosing of itraconazole (2x200 mg/day for 7 days with 3-week interval); 2 pulse doses for finger nails and 3-4 pulse doses for toe nails. We reported a male of 60 years old with nail destruction and thickening of the thumb and ring finger of the right hand since six months ago. In the beginning, the nails appeared dull and then became yellowish, thickened, and brittled. Dermatology examination of the 1st and 4th finger of the right hand showed onycholysis, onychodistrophy, subungual hyperkeratosis, and yellowish discoloration. KOH 20% test found no long hypha with septa. Moreover, Gram staining showed no spora, budding cell, or pseudohypha. Repeated ten-day culture resulted in Candida parapsilosis. The treatment was succeded with two doses of itraconazole 2x200 mg for 7 days, with interval of 3 weeks. In this case, candidiasis onychomycosis was invasive in nails with onycholysis which looked like distal subungual onychomycosis. The growth of candida colony was fully spread in the Petri disk in 10 days, therefore, dermatophyte infection could not be excluded. Conclusion: Pulse therapy with two-dose itraconazole succedeed in the treatment of candidiasis onychomycosis of the finger nails.Kata kunci: candidiasis onychomycosis, Candida parapsilosis, itraconazole pulse therapyAbstrak: Onikomikosis kandida adalah kelainan kuku akibat infeksi candida spp. yang merupakan penyebab terbanyak di Indonesia. Penatalaksanaan utama ialah itrakonazol dosis denyut (2x200 mg/hari selama 7 hari, istirahat 3 minggu) sebanyak 2 denyut untuk kuku tangan dan 3-4 denyut untuk kuku kaki. Kami melaporkan kasus seorang laki-laki 60 tahun dengan kerusakan dan penebalan kuku ibu jari dan jari manis tangan kanan sejak sekitar 6 bulan. Awalnya kuku berwarna putih suram kemudian berubah menjadi kekuningan, menebal dan rusak. Status dermatologikus memperlihatkan kuku jari I dan jari IV tangan kanan terdapat onikolisis, onikodistrofi, hiperkeratosis subungual, dan diskolorasi kekuningan. Pada pemeriksaan KOH 20% tidak ditemukan hifa panjang bersepta; pemeriksaan Gram tidak ditemukan spora, budding cell, dan pseudohifa. Hasil biakan berulang selama 10 hari ditemukan Candida parapsilosis. Terapi berhasil dengan pemberian itrakonazol 2x200 mg selama 7 hari, istirahat 3 minggu, sebanyak 2 denyut. Onikomikosis kandida pada kasus ini tergolong invasif pada kuku yang sudah onikolisis, menyerupai onikomikosis subungual distal. Pertumbuhan koloni kandida yang cepat memenuhi cawan menyebabkan lamanya kultur hanya 10 hari sehingga kemungkinan adanya infeksi dermatofita belum dapat disingkirkan. Simpulan: Terapi itrakonazol sebanyak 2 dosis denyut memperlihatkan keberhasilan pada onikomikosis candida di jari tangan.Kata kunci: onikomikosis kandida, Candida parapsilosis, itrakonazol dosis denyut
GRANULOMA PIOGENIK MULTIPEL Lawalata, Tracy O.H.; Tjahjadi, Aris A.; Oroh, Elly E. Ch.; Suling, Pieter L.
JURNAL BIOMEDIK : JBM Vol 2, No 2 (2010): JURNAL BIOMEDIK : JBM
Publisher : UNIVERSITAS SAM RATULANGI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/jbm.2.2.2010.851

Abstract

ABSTRACT: Pyogenic granuloma is a benign proliferating vascular tumor of the skin and mucous membrane that follows a minor injury or infection. This tumor occurs mostly in children or young adults and can be detected as a bright red solitary papule or nodule with a diameter of 5-10 mm that grows rapidly within 1-3 weeks. The papule or nodule is often covered by a subtle collaret of scales, brittle, and easily bleeding even with minor trauma. Methods of treatment are excision, electro surgery, cryosurgery, laser, or combinations thereof, and imiquimod cream. We reported a case of a 27-year-old male who had suffered from six reddish papules on the back of his left ear for six months. It began with one milliar tumor in size then there arose five other tumors around it, rapidly growing, which easily bled within several weeks. Skin lesions were multiple pedunculated erythematous papules, tender, and 0.2-0.5 cm in diameter. Histopathological features demonstrated a pyogenic granuloma. The treatment which performed a shave excision followed by electro surgery had a satisfactory outcome. Keywords: multiple pyogenic granuloma, shave excision.  ABSTRAK : Granuloma piogenik merupakan tumor vaskuler proliferatif jinak pada kulit dan membran mukosa yang sering mengikuti suatu trauma minor atau infeksi. Tumor ini lebih sering terjadi pada anak dan dewasa muda. Lesi berupa papul atau nodul soliter berwarna merah terang dengan ukuran 5-10 mm, tumbuh cepat dalam 1-3 minggu namun rapuh, seringkali dengan koleret skuama halus dan mudah berdarah dengan trauma ringan. Terapi dapat berupa bedah eksisi, bedah listrik, bedah beku, laser atau kombinasi diantaranya, dan krim imiquimod. Kami melaporkan satu kasus granuloma piogenik multipel dan penatalaksanaannya pada seorang laki-laki berusia 27 tahun dengan enam benjolan berwarna merah pada bagian belakang telinga kiri sejak enam bulan yang lalu. Awalnya hanya berupa satu benjolan sebesar kepala jarum pentul, kemudian setelah beberapa minggu timbul lima benjolan lain disekitarnya yang cepat membesar, serta mudah berdarah. Kelainan kulit berupa papula eritem, multipel, bertangkai, teraba kenyal,  dan berdiameter 0,2?0,5 cm. Gambaran histopatologik menunjukkan suatu granuloma piogenik. Penatalaksanaan yang dilakukan dengan shave excision diikuti bedah listrik memberikan hasil yang memuaskan. Kata kunci: granuloma piogenik multipel, shave excision.
Uji Konsentrasi Hambat Minimum (KHM) Ekstrak Daun Mengkudu (Morinda citrifolia L.) terhadap Candida albicans Secara In Vitro Ramschie, Lisa; Suling, Pieter L.; Siagian, Krista V.
e-GiGi Vol 5, No 2 (2017): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.5.2.2017.17370

Abstract

Abstract: Noni (Morinda cittrifolia L.) leaves contain antraquinon, atsiri oil, saponin, tannin, alkaloid, flavonoid, polifenol, and sterol that have been proved can inhibit the growth of Candida albicans. This study was aimed to establish the minimum inhibitory concentration (MIC) of noni leaf extract against Candida abicans. This was a true experimental study with a randomized pretest-posttest control group design. We used serial dilution method with turbidimetry and spectrophotometry tests. Noni leaves were extracted by using maceration with 96% ethanol. Candida albicans fungi were obtained from Microbiology Laboratory of Faculty of Mathematics and Natural Sciences, Sam Ratulangi University. The turbidimetry test using three repetitions showed that the MIC of noni leaf extract against Candida albicans was 6.25% meanwhile the spectrophotometry test established 12.5% as the MIC of noni leaf extract. Conclusion: Minimum inhibitory concentration of noni (Morinda cittrifolia L.) leaf extract against the growth of Candida albicans was 12.5%.Keywords: noni (Morinda citrifolia L.), Candida albicans, minimum inhibitory concentration (MIC) Abstrak: Daun mengkudu (Morinda citrifolia L.) mengandung antraquinon, minyak atsiri, saponin, tannin, alkaloid, flavonoid, polifenol dan sterol yang terbukti dapat menghambat pertumbuhan Candida albicans. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan konsentrasi hambat minimum (KHM) dari ekstrak daun mengkudu terhadap Candida albicans. Jenis penelitian ialah eksperimental murni dengan randomized pretest-posttest control group design. Metode yang digunakan dalam penelitian yaitu serial dilusi dengan pengujian turbidimetri dan spektrofotometri. Daun mengkudu diekstraksi dengan metode maserasi menggunakan pelarut etanol 96%. Jamur Candida albicans diambil dari stok jamur Laboratorium Mikrobiologi Program Studi Farmasi Fakultas MIPA Universitas Sam Ratulangi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengujian turbidimetri dengan tiga kali perlakuan mendapatkan KHM pada konsentrasi 6,25% sedangkan pengujian spektrofotometri mendapatkan KHM pada konsentrasi 12,5%. Simpulan: Konsentrasi hambat minimum (KHM) ekstrak daun mengkudu (Morinda citrifolia L.) terhadap pertumbuhan Candida albicans terdapat pada konsentrasi 12,5%.Kata kunci: mengkudu (Morinda citrifolia L.), Candia albicans, konsentrasi hambat minimum (KHM)