Haidar Natsir Amrullah
Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Analisis Postur Kerja dan Re-design Alat Bantu Outboard Engine pada Laboratorium dan Training Centre Reparasi Mesin Kapal Haidar Natsir Amrullah
INOVTEK POLBENG Vol 10, No 2 (2020): INOVTEK VOL 10, NO 2
Publisher : POLITEKNIK NEGERI BENGKALIS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35314/ip.v10i2.1652

Abstract

Teaching Factory merupakan konsep pembelajaran yang dicanangkan PPNS yang mengacu pada standard dan prosedur yang berlaku di industri. Konsep pembelajaran Teaching Factory tersebut dilaksanakan dengan model Dual System yaitu model pembelajaran dengan melibatkan mitra industri sebagai instruktur dan fasilitator dalam praktek yang dilakukan di PPNS. Teknik Permesinan Kapal merupakan salah satu program studi yang ada di PPNS, dengan fokus bidang keahliannya adalah pada permesinan dan sistem dalam kapal. Untuk menunjang dan meningkatkan keahlian mahasiswa Teknik Permesinan Kapal, PPNS akan menyediakan Laboratorium khusus untuk outboard engine sehingga mahasiswa dapat mempelajari secara langsung, Permasalahan utama  yang ada pada laboratorium outboard engine PPNS adalah pada aspek ergonomi. Alat bantu untuk praktikum reparasi outboard engine memiliki dimensi yang tidak sesuai dengan anthropometri tubuh operator sehingga memiliki risiko keluhan otot skeletal. penelitian ini dimulai dengan pengukuran skor RULA untuk pekerjaan reparasi Outboard Engine. Hasil skor RULA digunakan sebagai acuan penentuan dimensi alat bantu pekerjaan reparasi Outboard Engine dengan memperhatikan konsep athropometri dalam perancangan fasilitas kerja. Hasil re-design alat bantu kemudian diterapkan dan dilakukan perhitungan skor RULA setelah redesign sebagai perbandingan kondisi postur kerja sebelum dan sesudah dilakukan re-design. Postur kerja awkward pada operator memberikan beban berlebih dan berpotensi terjadi gangguan WMSDs. Hal ini ditunjukkan dari hasil skor RULA pada pekerjaan reparasi mesin sebesar 5 untuk bagian head mesin dan 6 untuk bagian blade. Redesign alat bantu outboard engine memungkinkan operator untuk bekerja dengan postur yang lebih ergonomis dengan menghilangkan gerakan jangkauan lengan terlalu  tinggi dan membungkuk. Terbukti dari hasil skor RULA setelah perbaikan turun sebesar 3 untuk bagian head mesin dan 2 untuk bagian blade.
Evaluasi dan Redesain Stasiun Kerja Pekerja Perkantoran Menggunakan Metode ROSA Pruestine Azzah Trisnawan; Haidar Natsir Amrullah; Naufa Aulia Rahma
Indonesian Journal of Multidisciplinary on Social and Technology Vol. 4 No. 3 (2026): Juli - Oktober
Publisher : PT Ilmu Data Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69693/ijmst.v4i3.11185

Abstract

Gangguan muskuloskeletal (musculoskeletal disorders) merupakan salah satu penyakit akibat kerja yang sering terjadi pada pekerja perkantoran akibat postur kerja yang tidak ergonomis, posisi duduk statis dalam waktu lama, serta penggunaan perangkat komputer secara berulang. Berdasarkan studi pendahuluan menggunakan kuesioner Gangguan Otot Rangka (GOTRAK) pada 21 pekerja di perusahaan penyedia jasa kelistrikan di Malang, Divisi Administrasi Umum dan Keuangan menunjukkan tingkat keluhan muskuloskeletal tertinggi dibandingkan divisi lainnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat risiko ergonomi pada furnitur dan stasiun kerja perkantoran menggunakan metode Rapid Office Strain Assessment (ROSA), memberikan rekomendasi perancangan ulang furnitur dan stasiun kerja yang ergonomis melalui simulasi desain, serta menilai perubahan tingkat risiko ergonomi setelah dilakukannya perancangan ulang. Metode GOTRAK digunakan sebagai studi pendahuluan untuk mengidentifikasi tingkat risiko musculoskeletal disorder, sedangkan metode ROSA digunakan untuk mengevaluasi kondisi ergonomi stasiun kerja berdasarkan komponen kursi, monitor, telepon, mouse, dan keyboard. Hasil penilaian ROSA menunjukkan bahwa stasiun kerja pekerja memiliki tingkat risiko ergonomi yang memerlukan tindakan perbaikan segera dengan skor sebesar 8 dan 6. Berdasarkan hasil evaluasi tersebut, dilakukan simulasi redesain furnitur dan stasiun kerja menggunakan prinsip ergonomi dan data antropometri pekerja menggunakan perangkat lunak CATIA. Hasil simulasi menunjukkan adanya penurunan skor ROSA menjadi 3, yang mengindikasikan berkurangnya tingkat risiko ergonomi pada stasiun kerja. Penerapan stasiun kerja yang ergonomis diharapkan dapat meningkatkan kenyamanan kerja, mengurangi potensi keluhan muskuloskeletal, serta mendukung produktivitas dan kesehatan pekerja perkantoran dalam jangka waktu yang panjang.