INDRO SULISTYANTO
Unknown Affiliation

Published : 26 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 26 Documents
Search

PENATAAN RUANG TERBUKA HIJAU (RTH) PADA KAWASAN RUMAH PEMOTONGAN HEWAN (RPH) SAMARINDA SEBAGAI UPAYA TERCIPTANYA KAWASAN HIJAU PADA KORIDOR BANDARA SEI SIRING SAMARINDA INDRO SULISTYANTO
Jurnal Teknik Sipil dan Arsitektur Vol. 15 No. 19 (2014): JURNAL TEKNIK SIPIL DAN ARSITEKTUR
Publisher : Fakultas Teknik Universitas Tunas Pembangunan Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kedudukan RTH akan menjadi penentu keseimbangan lingkungan hidup dan lingkungan binaan. Pada sisi lain rencana tata ruang menjadi landasan dalam mengantisipasi pesatnya perkembangan ruang-ruang terbangun, yang harus diikuti dengan kebijakan penyediaan ruang terbuka. Pada dasarnya perkembangan beberapa kawasan di Kota Samarinda yang karena kondisi dan potensi yang dimiliki perlu direncanakan arah dan bentuk penataan RTH-nya. Dengan demikian perkembangan tata ruang hijau di masing kawasan yang ada pada Kota Samarinda perlu didukung oleh arahan, kebijakan, dan keinginan yang kuat untuk dapat diwujudkan. Pada sisi lain perkembangan pemanfaatan ruang terbangun yang tidak terkendali dengan mengabaikan fungsi dan peran keberadaan ruang terbuka (hijau), akan berakibat pada semakin turunnya efisiensi penggunaan ruang dan lahan yang ada, dan kualitas kehidupan pada kawasan yang bersangkutan. Pada akhirnya berbagai kondisi tersebut terakumulasi dan akan memberi dampak pada beberapa kawasan pendukung di sekitarnya, sehingga menganggu kelangsungan perkembangan kawasan secara menyeluruh, baik yang berujud terganggunya kegiatan fungsional maupun aktivitas yang berlangsung di dalamnya. Koridor yang menghubungkan Kota Samarinda dengan Bandara Sei Siring, pada saatnya akan berkembang sebagai suatu kawasan prestisius dengan tingkat pemanfaatan lahan yang tinggi. Perlu antisipasi sejak awal agar tetap terjaga keseimbangan antara ruang terbuka dengan ruang terbangun. Kawasan yang saat ini diperuntukkan untuk pembangunan RPH, merupakan kawasan stretegis yang bisa di kembangkan sebagai RTH, mengingat fungsi arsitektural dan estetika yang diemban, maupun potensi yang bisa dikembangkan sebagai ikon Kota Samarinda di masa mendatang.
REVITALISASI SITUS MASJID KAUMAN-PLERET SEBAGAI UPAYA REKONSTRUKSI KEHIDUPAN RELIGI PADA ZAMAN KERAJAAN MATARAM ISLAM INDRO SULISTYANTO
Jurnal Teknik Sipil dan Arsitektur Vol. 19 No. 23 (2016): JURNAL TEKNIK SIPIL DAN ARSITEKTUR
Publisher : Fakultas Teknik Universitas Tunas Pembangunan Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Masjid Kauman-Pleret merupakan salah satu tempat bersejarah  yang memilikinilai  penting  ilmu  arkeologi.  Sebagai  cabang  ilmu  pengetahuan  tujuan    arkeologiantara  lain  adalah  melakukan  rekonstruksi  kehidupan  manusia  pada  masa  lampau.Keberhasilan mengkisahkan kembali kehidupan atau peristiwa yang terjadi pada masalampau  sangat  ditentukan  oleh  keberadaan  artefak  dan  sumber  informasi  lainnya.Kecanggihan  metodologi    sebaik  apapun  tidak  akan  mampu  menghasilkan  suaturekonstruksi sejarah, tanpa ketersediaan data.Sebagaimana  yang  terjadi  dalam  beberapa lingkungan  di  mana  terdapat  bendadan  atau  bangunan  cagar  budaya,  yang  tidak  atau  belum  mampu  memberi  implikasilangsung  secara  ekonomi,  cenderung  belum dikelola  secara  baik, kondisi  ini  terjadikarena sebagian  peraturan tentang  pengelolaannya masih  bersifat  peraturan  secaraumum,   sehingga   belum   mampu   berfungsi   sebagai   alat   pengendali   pada   tingkatoperasional  di  lapangan.  Oleh  karena  itu  upaya  penanganannya  tidak  mungkin  dapatdilaksanakan tanpa melalui peraturan yang mampu menjangkau ke arah pengendalianarsitektur  bangunan  secara  tiga  dimensional. Diperlukan  upaya-upaya  penataan yangmampu menjembatani pembangunan fisik di suatu lingkungan di mana terdapat bendacagar  budaya  yang  akan  dilestarikan,  sebagaimana  yang ada  pada  Situs  MasjidKauman-Pleret.Kata Kunci: Situs, Cagar Budaya, Masjid Kauman, Rekonstruksi Religi
PERAN PEMBANGUNAN PERMUKIMAN PESISIR DAN PULAU-PULAU KECIL SEBAGAI UPAYA STRATEGIS DALAM PENINGKATAN EKSISTENSI KEDAULATAN MARITIM INDONESIA Indro Sulistyanto
Jurnal Teknik Sipil dan Arsitektur Vol. 20 No. 24 (2017): JURNAL TEKNIK SIPIL DAN ARSITEKTUR
Publisher : Fakultas Teknik Universitas Tunas Pembangunan Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar belakang dilakukannya penelitian adalah terciptanya kesinambungan program, untuk mengatasi permasalahan pemanfaatan ruang yang kompleks, karena merupakan salah satu unsur utama dalam tata ruang pembangunan. Permasalahan yang terjadi  menyangkut belum tersedianya arahan dan bentuk spesifik pemanfaatan ruang, sehingga memberi pengaruh yang sangat besar bagi program pembangunan dan pengembangan pemanfaatan ruang di wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil yang yang tersebar luas di Indonesia. Adanya indikasi intervensi yang masif pemanfaatan ruang oleh asing yang cenderung mengabaikan ekosistem darat dan perairan. Tujuan jangka panjang dari kegiatan penelitian ini adalah terstrukturkannya upaya penataan dan mengantisipasi pengembangan dan pembangunan pemanfaatan ruang khususnya di wilayah pesisir, dan pulau-pulau kecil sebagai upaya strategis dalam peningkatan eksistensi kedaulatan maritim dan sumberdaya perairan Indonesia. Metodologi yang direncanakan adalah peran pengembangan pemanfaatan ruang di wilayah pesisir, dalam upaya strategis dalam peningkatan eksistensi kedaulatan maritim dan sumberdaya perairan Indonesia. Diharapkan dapat diperoleh gambaran seutuhnya dari pembangunan pemanfaatan sebagai lahan budidaya dan pariwisata sebagai upaya strategis dalam peningkatan eksistensi kedaulatan maritim dan sumberdaya perairan Indonesia. Manfaat dari penelitian ini adalah terciptanya langkah inovatif bagi pengembangan ilmu perancangan arsitektur, perencanaan kota dan wilayah, serta lingkungan.  Mengingat dominasi pemanfaatan ruangnya diharapkan pengembangan dan pembangunan pemanfaatan ruang yang berciri khas pesisir dan pulau-pulau kecil dapat didukung oleh arahan dan pengendalian yang benar untuk menghindari terganggunya kelangsungan perkembangan wilayah, baik kegiatan fungsional maupun aktivitas investasi budidaya dan pariwisata pulau-pulau kecil di dalamnya.
PATTERNS AND INDICA ARCHITECTURE STYLE AS A WEALTH OF CULTURE IN SUPPORTING SPECIAL INTEREST TOUR IN THE CITY OF YOGYAKARTA INDRO SULISTYANTO
Jurnal Teknik Sipil dan Arsitektur Vol. 21 No. 25 (2017): JURNAL TEKNIK SIPIL DAN ARSITEKTUR
Publisher : Fakultas Teknik Universitas Tunas Pembangunan Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Heritage and Cultural Heritage objects loaded with historical and cultural content have a high level of significance to be preserved. This position is reinforced by the resence of a set of legislation that is highly relevant to this need. The parent is the Law of the Republic of Indonesia Number 5 of 1992 on Heritage Objects. Mentioned in the reamble of the Act that the Heritage Preserve is important to be preserved is for the sake of maintaining local identity. For the city of Yogyakarta, it is clear that the Objects of Cultural Heritage and Heritage which became one of the forerunner of ancestral cultures, is a form of identity and a source of pride for the community that should not be eliminated. Heritage and Cultural Heritage objects need to be preserved, not just social cultural life, but also all artifacts, ’petilasan’s and objects that are left with the life of the past. Understanding of Architectural Research and some matters relating to Heritage and Cultural Heritage by architectural style need to be understood. In this research research, limited to Pattern and Style of Architecture in Indie Period which during the past period grow and develop as Heritage and Cultural Heritage objects in Yogyakarta City. Bintaran area becomes a sample of this research activity because of the development of style and pattern of Architecture of Building.
POLA DAN GAYA ARSITEKTUR TRADISIONAL SEBAGAI KEKAYAAN BUDAYA DALAM MENDUKUNG WISATA MINAT KHUSUS DI KOTA YOGYAKARTA INDRO SULISTYANTO
Jurnal Teknik Sipil dan Arsitektur Vol. 23 No. 27 (2018): JURNAL TEKNIK SIPIL DAN ARSITEKTUR
Publisher : Fakultas Teknik Universitas Tunas Pembangunan Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sudah menjadi pemahaman umum bahwa Benda Warisan Budaya dan Cagar Budaya yang sarat dengan kandungan kesejarahan dan kebudayaan memiliki tingkat signifikan yang tinggi untuk dilestarikan. Kedudukan ini dipertegas dengan hadirnya seperangkat perundang-undangan yang sangat relevan dengan keperluan ini. Yang menjadi induknya adalah Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 1992 tentang Benda Cagar Budaya. Benda Cagar Budaya penting untuk dilestarikan adalah demi terpeliharanya jati diri setempat. Bagi Kota dan Kabupaten di Yogyakarta, jelas bahwa Benda Warisan Budaya dan Cagar Budaya yang menjadi salah satu cikal bakal hasil budaya leluhur, merupakan wujud identitas dan sumber kebanggaan bagi masyarakat yang tidak boleh dihilangkan. Bukan hanya kehidupan sosial budaya saja, melainkan juga segala artifak, petilasan dan benda-benda tinggalan yang gayut dengan kehidupan Benda Warisan Budaya dan Cagar Budaya dimasa lalu. Kedudukan Karya Arsitektur Cina memberi andil yang cukup signifikan dalam ikut membentuk Benda Warisan Budaya dan Cagar Budaya yang ada di Yogyakarta yang dapat ditengarai dari keragaman elemen-elemen Arsitekturnya. Pola dan Gaya Arsitektur Tradisional sebagai Kekayaan Budaya dalam Mendukung Wisata Minat Khusus di Kota Yogyakarta dilakukan dengan penalaran yang bersifat induktif, yang mendasarkan penelitian berdasarkan pengamatan sampai dengan penyimpulan, sehingga terbentuk generalisasi empirik. Tipe kajian in menerapkan tipe penelitian eksplikatif atau deskriptif. Eksplikatif atau deskriptif, yaitu memberikan gamabaran data arkeologi yang ditemukan, baik dalam kerangka waktu, bentuk, maupun keruangan serta mengungkapkan hubungan diantara berbagai variabel penelitianPendekatan yang diterapkan dalam kajian ini adalah pendekatan dalam ilmu studi Arsitektur. Salah satu pendekatan dalam studi Arsitektur adalah pendekatan kontekstual dalam perancangan Arsitektur. Melalui kajian ini diharapkan akan diperoleh gambaran tentang Pola dan Gaya Arsitektur Tradisional sebagai Kekayaan Budaya dalam Mendukung Wisata Minat Khusus di Kota Yogyakarta, meliputi elemen Arsitektur dan tampilan Arsitekturnya.
BUILD ABILITY DAN DESIGNABILITY SEBAGAI COMPETITIVE ADVANTAGE DI ERA PERDAGANGAN BEBAS INDRO SULISTYANTO
Jurnal Teknik Sipil dan Arsitektur Vol. 24 No. 1 (2019): JURNAL TEKNIK SIPIL DAN ARSITEKTUR
Publisher : Fakultas Teknik Universitas Tunas Pembangunan Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36728/jtsa.v24i1.821

Abstract

Perdagangan bebas ditandai dengan semakin tingginya mobilitas sumberdaya manusia, modal, teknologi, dan informasi. Komoditi yang diperdagangkan tidak lagi terbatas pada barang dan jasa yang secara telanjang dapat dinikmati oleh indera manusia, berupa perangkat-perangkat keras, tetapi akan mulai merambah pada perangkat lunak atau hak cipta intelektual.Dunia jasa konstruksi dituntut untuk dapat berperan dalam bentuk upaya penanganan proses rancang-bangun secara profesional. Salah satu kendali yang dapat digunakan dalam menunjang profesi dalam rancang-bangun di bidang jasa konstruksi adalah penerapan prinsip-prinsip perancangan dan pelaksanaan pembangunan dalam kesatuan proses membangun . Kegiatan rekayasa bangunan perlu kesiapan dari sejak studi kelayakan, perancangan, pengadaan barang, konstruksi, operasi dan pemeliharaan, dan lingkungan hidup-termasuk di dalamnya lingkungan binaan.Sebagai pemeran kunci dalam layanan jasa konstruksi, Arsitek merupakan salah satu tenaga ahli yang memberikan kontribusi menentukan di bidang rancang-bangun, dan diharapkan dapat secara profesional berperan pada  perancangan dan rekayasa bangunan. Kemampuan profesional ini merupakan salah satu syarat penting untuk mampu bersaing secara bebas dalam era perdagangan bebas. Wawasan Arsitek yang secara profesional mampu menghayati dan menuangkan ide-gagasannya secara runtut dalam kesatuan proses pembangunan yang sistematik, diharapkan dapat menjadi modal dalam mengikuti persaingan bebas, khususnya pada proses perancangan dan rekayasa bangunan. Ada beberapa kelemahan yang sering terjadi dalam proses rancang bangun,  berupa kurangnya wawasan Arsitek, baik dari sisi latar belakang pendidikan, pengalaman kerja, upaya pengembangan wawasan, variasi jenis pekerjaan, dan perannya dalam organisasi-profesi, yang mampu secara menyeluruh dan runtut menggunakan proses pembangunan melalui penerapan prinsip-prinsip perancangan dan rekayasa bangunan. Kondisi tersebut perlu diantisipasi, khususnya  akan semakin meningkatnya persaingan dengan layanan jasa konstruksi asing, dengan tenaga ahli yang memiliki tingkat penguasaan informasi, teknologi, dan modal yang memiliki potensi besar untuk melakukan persaingan di era perdagangan bebas. Kata kunci: Arsitek, Prinsip perancangan, Prinsip rekayasa Â