Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

PERBAIKAN GENETIK ANGGREK ALAM Vanda spp MELALUI PERSILANGAN INTERSPESIFIK DALAM MENDUKUNG PERKEMBANGAN ANGGREK DI INDONESIA Hartati, Sri; Sumijati, Sumijati; Pardono, Pardono; Cahyono, Ongko
Caraka Tani - Jurnal Ilmu Ilmu Pertanian Vol 29, No 1 (2014): Articles in Press
Publisher : Caraka Tani - Jurnal Ilmu Ilmu Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Upaya peningkatan mutu genetik Anggrek memiliki kendala pada teknik persilangan dan perbanyakan biji hasil persilangan. Penelitian  bertujuan untuk: (1) mendapatkan teknik persilangan yang dapat menghasilkan biji dengan tingkat fertilitas tinggi, (2) untuk mendapatkan  hibrida baru yang memiliki keunggulan karakter pada bunga. Penelitian dilakukan di Pusat Konservasi Tumbuhan Kebon Raya LIPI Bogor .Penelitian merupakan persilangan interspesifik yaitu ♀Vanda celebica x ♂ Vanda tricolor,♀Vanda celebica x ♂Vanda dearei, ♀Vanda celebica x ♂Vanda insignis. Dan persilangan resiprok (kebalikan) yaitu ♀ Vanda tricolor x ♂ Vanda celebica,  ♀ Vanda dearei x  ♂Vanda celebica, ♀ Vanda insignis x ♂Vanda celebicaPersilangan dilakukan dengan cara menyilangkan tetua terpilih sebagai tetua jantan atau betina. Kegiatan meliputi karakterisasi tetua, persilangan, panen, penyebaran biji, Penyebaran biji dan transfer dilakukan secara aseptik di laboratorium kultur jaringan. Pengamatan meliputi keberhasilan persilangan, saat terbentuk buah, masak buah, dan terbentuk protokorm.      Dari penelitian dihasilkan 5 seri silangan sampai terbentuk protokorm yaitu Vanda dearei x Vanda Celebica, Vanda celebica x Vanda dearei, Vanda insignis x Vanda celebica, Vanda celebica x Vanda insignis, Vanda  celebica x Vanda tricolor. Keberhasilan persilangan 33%-100%, Waktu yang diperlukan untuk masaknya biji bervariasi antara 122-262 hari, lama berkecambah  16-23 hari.
PEMBIAKAN ZAMIO MENGGUNAKAN SETEK DAUN PADA BERBAGAI MEDIA, TARAF CAHAYA, DAN KONSENTRASI IBA Sugijono, Sugijono; Sumijati, Sumijati
Caraka Tani: Journal of Sustainable Agriculture Vol 24, No 1 (2009): March
Publisher : Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2298.842 KB) | DOI: 10.20961/carakatani.v24i1.14018

Abstract

Ornamental plant mainly indoor kind like zamio was isteresting for human. The interesting increase year by year. Easy in maintaining of crop and can be propagated by leaf are more interesting. Crop propagation by leaf will be generate high number of new plants but the plant IBA growth regulation treatment. The research was conducted at open garden of Bussiness Incubator, University of Sebelas Maret Surakarta (98 m above see level) from July untill September 2008. The research contains two experiments there are arrange inn split pot factorial design respectively. For the first experiment the mainplot is light intensity (25, 50 and 75%) and subplot is IBA concentration (0, 100, 200 and 300 ppm). The second experiment the mainplot is light intensity (25, 50 and 75%) and subplot is crop media composition (ash from husk+sand+compost, ash from husk+powder of coconut fiber+compost, and charcoal from husk+powder of coconut fiber+compost). So there are (from the two experiments) 12 combination treatment, each of combination was replicated three times. The yield of research show that: there are no interaction between light intensity and IBA concentration also between light intensity and media composition. The respon of zamio leaf cutting to the light intensity on the number and length of roots following positive lineary model but on the high of bud following negative lineary model especially at 18 weeks after planting (wap). The respon of zamio leaf cutting to the IBA concentration occur at 24 wap following positive lineary model. The media composition no significantly influence to the cutting growth.
Antropomorfi k dan Zoomorfik dalam Seni Rupa Suku Bangsa Sumba Timur Sumijati Sumijati
Humaniora No 9 (1998)
Publisher : Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1785.219 KB) | DOI: 10.22146/jh.2054

Abstract

Adanya simbol dalam masyarakat dapat digunakan sebagai sarana melakukan interaksi (Polama, 1984). lnteraksi itu dapat terjadi antara manusia dengan manusia atau antara manusia dengan mahluk halus atau roh nenek moyang. lnteraksi antara manusia dengan roh nenek moyang terus dibina karena roh nenek moyang diyakini dapat mendatanqkan kesuburan dan berkah bagi  keturunan-keturunannya. Keyakinan itu sesuai dengan pendapat Peursen (1976) yang menyatakan bahwa simbol dapal membuka pandangan yang transeden karena simbol dapat menunjukkan kekuatan yang berada di luar diri manusia. Simbol berwujud antropomorfik dan zoomortik dalam 111 kehidupan Suku Bangsa Sumba Timur divisualisasikan dalam seninya, seni lukis, seni pahat, maupun dalam seni patung secara naturalistis dan didistilisasi. Uraian di atas menimbulkan beberapa permasalahan, di antaranya adalah: faktor-faktor yang menyebabkan figur antropomorfik dan zoomorfik banyak divisualisasikan dalam seni rupa Sumba Timur dan kuat bertahan terhadap arus modemlsasisehingga lestari sampai kini.Sesuai dengan masalah yang diajukan maka kajian in; bertujuan untuk mengungkapkan faktor-faktor yang menyebabkan antropomorfik dan zoomorfik banyak dipilih sebagai objek dalam seni rupa, terutama seni kriya, seni lukis, seni pahat, dan seni patung, serta kuat bertahan hingga lestari sampai kini.
STUDI TENTANG Aspergilus flavus DAN AFLATOKSIN PADA TAHAP BUDIDAYA KACANG TANAH DARI BEBERAPA LOKASI LAHAN KERING DI KABUPATEN KARANGANYAR Sumijati Sumijati
Sains Tanah - Jurnal Ilmu Tanah dan Agroklimatologi Vol 6, No 2 (2009)
Publisher : Faculty of Agriculture, Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15608/stjssa.v6i2.56

Abstract

Title : The Study of Aspergilus flavus  and Aflatoxin in Peanut Culture on Selected Dry-Land Fields at Karanganyar District. The study was aimed at: 1) Obtaining the data of Aspergilus flavus and Aflatoxin existence in soil and peanut pod of selected dry-land fields at Karanganyar district; 2) Observing the correlation between soil characteristics and the existence of Aspergilus flavus and Aflatoxin. This research was a comparative descriptive experiment, which was conducted from May to November, 2008. The method was by surveying five sub-districts of dry-land fields included: 1) Tasikmadu; 2) Karanganyar; 3) Mojogedang; 4) Jumantono, and 5) Jaten. The observation parameters were consisted of main variables (A. flavus in soil, A. flavus in peanut pod and aflatoxin in peanut pod) and sub-main variables (pH, organic C, total N, soil moisture content and peanut pod’s moisture content). The mean test was then employed to process the obtained data after the laboratory analysis, followed with correlation test to determine the interaction between main and sub-main variables. The results showed that all the selected locations were infected with A. flavus, with the highest population in soil was in the Jaten sub-district (143 cfu.g-1 soil) and the highest population in peanut pod was in the Jumantono sub-district (50.67 cfu.g-1 pod). None of the peanut pods were infected with aflatoxin. Total N, carbon C, pH and soil moisture influenced the existence of A. flavus in soil and peanut pod. Keywords: Aflatoxin, Aspergilus flavus, peanut