Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

TELAAH PROBLEM HADIS PERSPEKTIF SEKULER: SEBUAH PENGANTAR: Telaah Problem Hadis Perspektif Sekuler; Sebuah Pengantar Mohammad Muslih; Fachri Khoerudin; Amir Amir Reza
al-Afkar, Journal For Islamic Studies Vol. 5, No. 1, January 2022
Publisher : Fakultas Agama Islam Universitas Wiralodra

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1014.006 KB) | DOI: 10.31943/afkarjournal.v5i1.245

Abstract

Pembahasan mengenai hadis terus dilakukan oleh para ulama, dari mulai generasi mutaqaddimîn, mutaakhirîn sampai pada generasi kontemporer (hadîtsiyyah) pada masa sekarang.kajian mereka mengenai hadis tidak pernah lepas dari dua hal; dirâyah dan riwâyah. Kajian mengenai hadis dari sisi dirayah adalah kajian tentang asal-usul tentang kenapa dan bagaimana hadis tersebut muncul. maka jelas bahwa tujuan kritik hadis –baik matan ataupun sanad- yang dilakukan oleh para ulama terdahulu adalah untuk menjaga validitas hadis itu sendiri dari unsur-unsur lain yang bukan hadis. Sehingga muncul istilah-istilah seperti hadis sahih, hadis dhaif, hadis hasan dan hadis maudhu. Dalam artian, ada hadis yang benar-benar hadis dan dapat dipertanggung jawabkan secara ilmiah, bahkan ada juga hadis yang sebenarnya tidak bisa disebut hadis (psudou-hadis, maudhu’). Pengkategorian seperti itu adalah hasil dari kritik hadis yang dilakukan oleh para ulama sepanjang lintasan sejarah. Makalah ini menghasilkan setidaknya kita bisa menyimpulkan bahwa sasaran kritik mereka tertuju pada sumber, sanad, matan dan hadis-hadis yang ahad. Tentu kritikan tersebut tidak serta-merta dapat diterima dan dipertanggung jawabkan secara ilmiah, mengingat ada beberapa problem yang harus diluruskan ketika kegiatan kritik hadis dalam perspektif sekuler dilakukan. Dalam konteks ini, kritik tersebut dilakukan oleh orientalis dan para pengikutnya sebagaimana yang telah dijelaskan
Konsep Insan Kamil Al-Jilli Dan Tiga Elemen Sekularisme Nur Hadi Ihsan; Fachri Khoerudin; Amir Amir Reza
al-Afkar, Journal For Islamic Studies Vol. 5, No. 4, October 2022
Publisher : Fakultas Agama Islam Universitas Wiralodra

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31943/afkarjournal.v5i4.323

Abstract

Pembahasan mengenai “manusia ideal” masih sangat layak untuk dikaji.  Dalam buku insan kamil fi marifah al awakhir wa al-awail karya Abdul Karim al-jili, dalam pembahasannya menjelaskan konsep manusia ideal dengan term masing-masing. Insan Kamil merupakan sebuah cerminan dari karakter manusia yang telah memenuhi potensi dirinya, dengan tujuan untuk menemukan sebuah jalan menunju Allah Dengan menggunakan kajian pustaka dan metode diskriptif analisis dapat ditemukan bagaimana insan kamils. Dalam pandangan al-Jilli, syariat merupakan pondasi dasar untuk mencapai hakikat. Bahkan, ia mengatakan ada tiga aspek yang mesti dilewati seorang sufi, yaitu syariat, thariqat dan hakikat Hasilnya yaitu; PertamaAl-Jili dengan Insan Kamilnya lebih mengacu kepada Tuhan sebagai titik pusatnya dan Nabi Muhammad Saw sebagai citra Tuhan-Nya serta teladan bagi seluruh manusia. menjadikan Tuhan dan manusia sebagai topik utamanya. bagi Al-Jili untuk mencapai Insan Kamil manusia harus bisa ber-tajalli ilahi dan ber-taraqqi dalam kehidupannya. bagi Al-Jili untuk mencapai Insan Kamil seseorang harus menjalankan tiga tahapan; al-Bidayah, al-Tawasuth, al-Khitam. Hal ini berbeda dengan Barat  yang berpendapat  manusia sempurna merupakan “pengganti” dari eksistensi Tuhan, setelah Ia mendeklarasikan diri untuk membunuh Tuhan sebagai pengatur dunia.
Dinamika Makna Qawwām: Analisis Mufasir Perempuan terhadap Surah An-Nisā: 34 Muhammad Fajar Adyatama; Sujiat Zubaidi Saleh; Nofriyanto Nofriyanto; Fachri Khoerudin
Kalimah: Jurnal Studi Agama dan Pemikiran Islam Vol. 21 No. 2 (2023)
Publisher : Fakultas Ushuluddin, Universitas Darussalam Gontor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21111/klm.v21i2.11357

Abstract

The first part of the 34th verse of Surah An-Nisā, the verse on qawwām, explains the role of men as leaders for their wives and children. His position as the head of the family makes him responsible for providing for, protecting, nurturing and striving for the benefit of the family. However, in the early 20th century, some muslim feminists who were influenced by Western gender equality ideology rejected the interpretation of qawwām that made men the leader or head of the family. According to them, the interpretation of qawwām by classical mufassirs, the majority of whom were men, was gender biased. This article tries to review the meaning and function of qawwām in the view of female mufassirs with the aim of presenting a commensurate argument for feminist criticism of the interpretation of qawwām by classical mufassirs.  This study uses a library research approach that contains the meaning and function of qawwām from many figures, but the focus is on the interpretation of qawwām from female mufassirs. The results of this study reveal that the interpretation of female mufassirs regarding the verse on qawwām is not different from the classical mufassirs. This means that the classical mufassirs' interpretation of qawwām is not gender biased as feminists claim.