Claim Missing Document
Check
Articles

Found 13 Documents
Search

IMITATION AND FALSE IDENTITY Endang Suryana Priyatna
Makna: Jurnal Kajian Komunikasi, Bahasa, dan Budaya Vol. 1 No. 2 (2010): MAKNA : Jurnal Kajian Komunikasi, Bahasa dan Budaya
Publisher : Fakultas Komunikasi, Sastra, dan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33558/makna.v1i2.1058

Abstract

Dalam konteks dunia pascakolonial dan pascamodern, pertanyaan tentang (jati) diri dan identitas merupakan isu yang sangat krusial. Pertanyaan tentang siapa saya, dia, kami (kita), atau mereka merupakan pertanyaan yang sulit untuk dijawab. ‘Ketidak-keterjawaban’ini, biladilihatdari prespektif kritik pascakolonial dan pascamodern tidak terlepas dari telah tercerabutnya akar-akar identitas, originalitas, dan keutuhan diri, sebagai efek dari kolonialisasi, modernisasi, dan kapitalisme global. Dari prespektif inilah, esai ini mencoba membahas dan menunjukan bahwa konsep tentang ‘diri’ ‘kita (kami/saya)’ tidak terlepas dari konstruksi dan penarasian ‘diri’ ‘lian’ (Barat, eks-kolonial, kapitalis) terhadap ‘diri’ ‘kita’ melalui serangakaian narasi kolonialisasi/imperialisme, modernisasi, kapitalisme, dan demokrasi. Selain itu, persepsi mitos (mythical) bahwa ‘mereka’ (Barat) lebih dari ‘kita’ dan sebaliknya ‘kita’ kurang dari ‘mereka’ tidak terlepas dari narasi-narasi ini
INTERFERENSI AURAL DALAM LANSKAP KOTA: MERETAS MODERNITAS DAN KAPITALISME DALAM LANSKAP AURAL URBAN Endang Suryana Priyatna
Makna: Jurnal Kajian Komunikasi, Bahasa, dan Budaya Vol. 3 No. 2 (2018): MAKNA : Jurnal Kajian Komunikasi,Bahasa, dan Budaya
Publisher : Fakultas Komunikasi, Sastra, dan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33558/makna.v3i2.1526

Abstract

This article is a preliminary research on the study of urban soundscape, especially soundscape of City of Bekasi. Sounds and voices shaping the soundscape are analysed as cultural artefacts and products of urban cultural practices. Loudspeakers and their uses are the cultural artefact under scrutiny. This analysis owes to critical and theoretical approaches in sound studies. In its position as a preliminary research and writing, this article aims to unpack and portray the complexities of acoustic phenomena in urban space and its everyday life. The article tries to argue that urban soundscape relates to certain discourses surrounding urban cultural practices such as the discourse of modernity, consumerism, and capitalism.
Peningkatan Literasi Dasar Anak melalui Metode Storytelling dan Bedah Buku dalam Program Teras Bahasa Reza Anggriyashati Adara; Sya'baningrum Prihhartini; Novita Puspahaty; Endang Suryana Priyatna; Rido Budiman; M. Fakhran Ramadhan
JE (Journal of Empowerment) Vol. 6 No. 2 (2025): DESEMBER
Publisher : Universitas Suryakancana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35194/je.v6i2.5781

Abstract

AbstrakKemampuan literasi—yang mencakup keterampilan dalam membaca dan memahami teks—merupakan aspek penting yang harus dimiliki oleh generasi muda, terutama anak-anak. Sebagai upaya untuk meningkatkan kemampuan tersebut, diselenggarakanlah program “Teras Bahasa”. Kegiatan ini bertujuan untuk menumbuhkan budaya literasi di kalangan generasi muda sekaligus memperkenalkan bahasa Inggris kepada masyarakat. Kegiatan ini terdiri dari empat tahap; survei lapangan, perumusan kegiatan, monitoring dan evaluasi kegiatan dan penyusunan laporan kegiatan. Kegiatan ini diikuti oleh 20 peserta. Evaluasi dilakukan menggunakan survei yang terdiri dari 10 item. Hasil dari evaluasi kegiatan menunjukkan bahwa sebagian besar peserta menganggap kegiatan “Teras Bahasa” sangat berguna dan patut dilakukan secara berkala. Para peserta juga mengusulkan agar “Teras Bahasa” melibatkan kegiatan-kegiatan yang lebih bervariasi seperti bedah film atau lomba storytelling yang bisa membuat para peserta tertarik untuk berdiskusi dan membaca. Abstract  Literacy skills—which include the ability to read and understand texts—are crucial for young people, especially kids. To improve these skills, the "Teras Bahasa" program was launched. This program aims to foster a culture of literacy among young people while introducing English to the community. This event consists of four stages: field surveys, activity formulation, monitoring and evaluation, and preparation of activity reports. The evaluation was conducted using a 10-item survey. The participants were 20 children from the area. The results of the activity evaluation showed that most participants considered the "Teras Bahasa" program very useful and worth conducting regularly. Participants also suggested that "Teras Bahasa" include more varied activities, such as film reviews or storytelling competitions that can encourage the participants to discuss and read.