Claim Missing Document
Check
Articles

Found 23 Documents
Search

OPTIMASI PARAMETER BUKAAN DAN PENGAKU DIAGONAL PADA BALOK KASTELA YANG TERTUMPU LATERAL Erwin Sanjaya; Bambang Suryoatmono
Jurnal Ilmiah Teknik Sipil Jurnal Ilmiah Teknik Sipil, Vol. 24, No. 1, Januari 2020
Publisher : Department of Civil Engineering, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (814.257 KB) | DOI: 10.24843/JITS.2020.v24.i01.p05

Abstract

Gaya geser pada umumnya berkontribusi besar dalam menyebabkan kegagalan balok kastela sehingga dibutuhkan pengaku diagonal pada bukaan. Optimisasi dilakukan dengan menvariasikan dimensi bukaan dan pengaku diagonal. Metode elemen hingga digunakan untuk analisis nonlinear. Tujuan studi ini adalah membandingkan hasil analisis numerik balok kastela tanpa pengaku diagonal dengan prosedur desain yang terdapat pada Steel Design Guide 31, AISC 2016. Selain itu, perilaku nonlinear yang meliputi beban kritis dan distribusi tegangan Von Mises balok kastela dengan dan tanpa pengaku diagonal dipelajari untuk mendapatkan dimensi bukaan dan pengaku diagonal yang optimum. Nilai optimum pada studi ini meliputi kekakuan awal (Ki), kekuatan (wmax), dan daktilitas (m) struktur. Hasil studi menunjukkan prosedur desain AISC dapat memprediksi lokasi tegangan maksimum dengan akurat dan menghasilkan kekuatan ultimit balok yang lebih konservatif dibandingkan dengan hasil numerik. Pada balok kastela tanpa pengaku diagonal, model yang optimum adalah model CB60-1 (wnstmax = 56,16 kN/m) dan CB45-1 (mnst = 3,06) dengan rata-rata kekakuan awal 5,78 kN/m. Sedangkan model yang optimum pada balok kastela dengan pengaku diagonal adalah CB45-33 (Ksti = 6,99 kN/m/m), CB60-11 (wstmax = 67,53 kN/m), dan CB60-24 (mst = 2,79). Jadi, penggunaan pengaku diagonal efektif dalam meningkatkan kekakuan awal dan kekuatan struktur, tetapi mengurangi daktilitas struktur.
PENELITIAN EKSPERIMENTAL KUAT LELEH LENTUR (Fyb) BAUT Yosafat Aji Pranata Bambang Suryoatmono Johannes Adhijoso Tjondro
Jurnal Teknik Sipil Vol. 12 No. 2 (2013)
Publisher : Program Studi Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (256.509 KB) | DOI: 10.24002/jts.v12i2.607

Abstract

Baut adalah suatu batang silinder atau tabung dengan alur heliks pada permukaannya, dengan penggunaan utamanya adalah sebagai pengikat (fastener) untuk menahan dua atau lebih obyek bersama. Salah satu manfaat penting baut berkaitan dengan perencanaan struktur bangunan gedung dan jembatan, khususnya struktur dengan bahan material kayu, yaitu sebagai alat sambung mekanik. Salah satu parameter sifat mekanis yang digunakan dalam perencanaan sambungan yaitu kuat leleh lentur (Fyb). Dalam peraturan kayu Amerika Serikat NDS 2012 telah tersedia persamaan untuk memprediksi besarnya Fyb, sedangkan dalam draft peraturan kayu Indonesia terbaru (RSNI 201x) belum tersedia panduan untuk menentukan besarnya nilai Fyb. Dalam makalah ilmiah ini disampaikan hasil penelitian eksperimental kuat leleh lentur baut, khususnya untuk baut yang ada di pasaran Indonesia. Diameter baut yang dibahas terbatas yaitu 8 mm, 10 mm, dan 12 mm. Total benda uji  yang digunakan sebanyak 16 benda uji. Metode pengujian menggunakan pedoman ASTM F1575 dengan metode three point loading. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai kuat leleh lentur (rata-rata) semakin kecil apabila diameter baut semakin besar, yaitu Fyb  untuk baut 8 mm sebesar 1121,40 MPa dengan C.O.V sebesar 4,23 %, untuk baut 10 mm sebesar 642,19 MPa (C.O.V 4,80 %), dan untuk baut 12 mm sebesar 631,76 MPa (C.O.V 1,24 %). Secara umum, kurva hubungan antara tegangan-regangan hasil uji lentur baut tersebut menunjukkan tren berbentuk bilinier.
ACACIA GLULAM WOOD EXTERIOR BEAM-COLUMN CONNECTION WITH ANGLES AND STEEL ROD SYSTEM Djoni Simanta; Bambang Suryoatmono; Johannes Adhijoso Tjondro
MEKANIKA Vol. 1 No. 1 (2016)
Publisher : MEKANIKA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Two models of acacia glulam wood exterior beam-column connections with angles and steel rod system under monotonic static loads were tested and analyzed. The variation of the specimen was number of rod and thickness of angles attached at the beam. The behavior of each model under static loading, maximum displacement, maximum moment, rotational stiffness and ductility were observed. M9B1 type connections have more flexible than M9B2 type connections. The behavior of connection was depened on number of bearing steel rods at the beam, wood quality and thickness of the angles.
NON-LINIER COMPRESSION STRESS-STRAIN CURVE MODEL FOR HARDWOOD Adhijoso Tjondro; Bambang Suryoatmono; Iswandi Imran
MEKANIKA Vol. 1 No. 1 (2016)
Publisher : MEKANIKA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Non-linier compression stress-strain relationship was derived from experimental investigation of 144 small clear specimens of three Indonesian hardwood species, namely Acacia, Meranti and Kruing. Both compression parallel to the grain and compression perpendicular to the grain were tested. The stress-strain curve consists of linier-elastic line until proportional limit and bi-linier curve. Stress-strain curve parameters for compression parallel to the grain, such as elastic modulus, post-elastic modulus, proportional limit, ultimate stress and post-elastic strain limit were derived based on the specific gravity. And also stress-strain curve parameters for compression perpendicular to the grain, such as elastic modulus, post-elastic modulus and proportional limit were derived based on the specific gravity and the angle between stress direction and tangential axis direction. Compression strength perpendicular to the grain in tangential direction was found much lower than compression strength perpendicular to the grain in radial direction.
Rasio Modulus Penampang Elastik Balok Kayu Laminasi-Baut Yosafat Aji Pranata; Bambang Suryoatmono; Johannes Adhijoso Tjondro
Jurnal Teknik Sipil Vol 19 No 3 (2012)
Publisher : Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/jts.2012.19.3.4

Abstract

Abstrak. Balok laminasi dapat menjadi alternatif pengganti kayu utuh, karena memberikan keuntungan yaitu dapat difabrikasi dengan bentang sesuai kebutuhan dan membuat penampang kayu yang lebih besar. Tujuan penelitian ini adalah menemukan persamaan empiris rasio modulus penampang elastik balok kayu laminasi-baut. Rasio modulus penampang elastik yaitu rasio antara modulus penampang elastik balok laminasi terhadap balok utuh. Ruang lingkup penelitian yaitu sistem laminasi secara horisontal, kayu Indonesia dengan berat jenis berkisar 0,4-0,8 yaitu meranti merah (shorea spp), keruing (dipterocarpus spp), dan akasia mangium, penampang balok prismatis, penelitian dilakukan secara eksperimental di laboratorium dan numerikal metode elemen hingga nonlinier. Parameter yang dibahas adalah jenis kayu, ukuran baut, jumlah baris baut, dan jarak baut. Balok mempunyai bentang 3 meter dan disusun oleh 4 lamina. Model tegangan-regangan kayu untuk simulasi numerikal berdasarkan kriteria plastisitas Hill, model tegangan-regangan baut menggunakan model elastoplastik. Kesimpulan yang diperoleh yaitu tren kurva hubungan beban-lendutan balok kayu laminasi-baut adalah berbentuk bilinier, persamaan empiris rasio modulus penampang elastik merupakan fungsi dari jenis kayu, diameter baut, dan rasio jumlah baris terhadap jarak baut. Rasio modulus penampang elastik dapat digunakan untuk memprediksi kuat lentur balok laminasi pada beban batas proporsional. Abstract. Laminated beam can be an alternative for solid timber, because it provides the advantage that it can be fabricated with a needed-span and a bigger cross section. The purpose of this research is to obtain an empirical equation of the bolt-laminated timber beam elastic section modulus ratio. Elastic section modulus ratio is elastic section modulus ratio between laminated and solid beams. Scope of this research are horizontally laminated system, Indonesian timber with specific grafity ranged 0.4-0.8 which are red meranti (shorea spp), keruing (dipterocarpus spp), and acacia mangium, prismatic beam section, experimental test in laboratorium and numerical simulation using nonlinear finite element method. The parameters discussed are timber type, bolt diameter, number of row, and spacing. Beam has a 3-meter span and arranged by 4 laminae. Timber stress-strain model for numerical simulation based on Hill plasticity, bolt stress-strain model is elasto-plastic. Results obtained are beam load-displacement curve trend is bilinear, the elastic section modulus ratio equation are the fuction of timber type, bolt diameter, and number of row against bolt spacing ratio. The elastic section modulus ratio can be used to predict the bending strength at the proportional limit.
Kekuatan Tekan Sejajar Serat dan Tegak Lurus Serat Kayu Ulin (Eusideroxylon Zwageri) Yosafat Aji Pranata; Bambang Suryoatmono
Jurnal Teknik Sipil Vol 21 No 1 (2014)
Publisher : Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/jts.2014.21.1.2

Abstract

Abstrak. Kayu Ulin (Eusideroxylon Zwageri) termasuk salah satu kayu dengan kekuatan tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan kekuatan tekan sejajar serat dan tegak lurus serat kayu Ulin dengan pengujian eksperimental. Hasil yang diperoleh adalah kekuatan tekan sejajar serat pada beban proporsional sebesar 50,53 MPa (deviasi standar 11,35 MPa dan koefisien variasi 22,47%), kekuatan tekan sejajar serat pada beban ultimit 55,64 MPa (deviasi standar 11,17 MPa dan koefisien variasi 20,07%), kekuatan tekan tegak lurus serat pada beban proporsional sebesar 20,26 MPa (deviasi standar 2,10 MPa dan koefisien variasi 10,31%), dan kekuatan tekan tegak lurus serat pada beban ultimit 29,74 MPa (deviasi standar 4,62 MPa dan koefisien variasi 15,52%). Modulus elastisitas tekan sejajar serat yang diperoleh sebesar 10155,05 MPa, dan modulus plastisitas tekan sejajar serat sebesar 1317,83 MPa. Modulus Elastisitas tekan sejajar serat yang diperoleh sebesar 1381,84 MPa, dan  modulus plastisitas tekan tegak lurus serat sebesar 195,77 MPa. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan ilmiah untuk basis data sifat mekanika kayu Indonesia dan khususnya untuk perencanaan komponen struktur tekan dan lentur.Abstract. Ulin (Eusideroxylon Zwageri) is one of wood species with high strength. This study aims to obtain the compressive strength parallel and perpendicular to the grain carry by experimental tests. The result obtained are the compressive strength parallel to the grain at proportional load 50.53 MPa (standard deviation 11.35 and coefficient of variation 22,47%), the compressive strength parallel to the grain at ultimate load 55.64 MPa (standard deviation 11.17 and cov 20,07%), the compressive strength perpendicular to the grain at proportional load 20.36 MPa (standard deviation 2.10 MPa and cov 10,31%), and the compressive strength perpendicular to the grain at ultimate load 29.74 MPa (standard deviation 4.62 MPa and cov 15,52%). Modulus of elasticity compression parallel  to the grain obtained from this research is 10155.05 MPa, and modulus of plasticity compression parallel to the grain 1317,83 MPa. Modulus of elasticity compression perpendicular to the grain is 1381,84 MPa, and modulus of plasticity compression perpendicular to the grain is 195,77 MPa. The result is expected to contribute to general scientific databases mechanical properties of wood in Indonesia and particularly in the design of the compressive and flexural structural components.
Studi Eksperimental Batang Tekan Baja Canai Dingin Diperkaku Sebagian Arif Sandjaya; Bambang Suryoatmono
Jurnal Teknik Sipil Vol 25 No 1 (2018)
Publisher : Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/jts.2018.25.1.3

Abstract

Abstrak Struktur baja canai dingin saat ini populer digunakan karena ringan, mudah digunakan, dan cepat dalam konstruksi. Kelemahan struktur baja canai dingin adalah tekuk lokal yang disebabkan tipisnya elemen penampang. Hal tersebut menyebabkan kegagalan struktur terjadi sebelum mencapai kapasitas beban tertinggi. Dalam penelitian ini, dua buah profil baja canai dingin yang disusun bersama pada bagian punggung dengan punggung sebagai batang tekan akan ditambahkan pengaku dengan tiga pola penempatan berbeda untuk meningkatkan ketahanan terhadap tekuk lokal. Hasil pengujian menunjukkan ketahanan terhadap tekuk lokal meningkat akibat berkurangnya panjang tekuk kritis sedangkan cara menempatkan pengaku tidak memberikan berpengaruh. Korelasi hasil kekuatan tekan antara perbedaan penempatan pengaku secara eksperimental diverifikasi menggunakan SNI 7971:2013 dan analisis elemen hingga.AbstractThe cold formed steel structure is currently popularly used because it is lightweight, easy to use, and fast in construction. The weakness of cold formed steel structures is the local buckling caused by the thinness of the cross-sectional elements. This causes structural failure occurs before it reaches the highest load capacity. In this study, two cold formed steel profiles arranged together on back to back as compression member will be added stiffeners with three different placement patterns to improve local buckling resistance. The test results showed increased resistance to local buckling due to the reduced length of the critical buckling while the way of placing stiffeners not give effect. The correlation of compressive strengths between experimental confinement placement differences was verified using SNI 7971: 2013 and finite element analysis. 
Analisis Nonlinear Pengaruh Lokasi dan Panjang Pengaku Longitudinal Terhadap Lipat Web Balok Baja Fenita Adina Santoso; Bambang Suryoatmono
Jurnal Aplikasi Teknik Sipil Vol 17, No 2 (2019)
Publisher : Departemen Teknik Infrastruktur Sipil Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (416.931 KB) | DOI: 10.12962/j2579-891X.v17i2.5268

Abstract

Lipat web di tumpuan balok adalah tekuk web yang disebabkan reaksi vertikal tumpuan yang disalurkan oleh flens bawah ke web. Pengaku longitudinal sering digunakan untuk mencegah lipat web. Tujuan penelitian ini adalah mendapatkan lokasi dan panjang pengaku longitudinal yang optimum. Penelitian ini menggunakan analisis elemen hingga dan memperhitungkan kenonlinearan material dan efek orde kedua. Analisis terdiri dari analisis tekuk linear dan nonlinear. Modus tekuk pertama analisis linear digunakan sebagai ketidaksempurnaan awal dalam analisis tekuk nonlinear. Lokasi dan panjang pengaku longitudinal divariasikan untuk mendapatkan kekuatan lipat web. Dengan menggunakan analisis regresi bertatar, persamaan untuk memprediksi kekuatan lipat web didapatkan. Lokasi vertikal dan panjang pengaku longitudinal yang optimum didapatkan yaitu 0,32 tinggi web diukur dari atas flens bawah dan 0,62 setengah bentang balok.
Non-Linear Buckling Analysis of Axially Loaded Column with Non-Prismatic I-Section Adrian Pramudita Dharma; Bambang Suryoatmono
Journal of the Civil Engineering Forum Vol. 5 No. 3 (September 2019)
Publisher : Department of Civil and Environmental Engineering, Faculty of Engineering, UGM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (301.7 KB) | DOI: 10.22146/jcef.47607

Abstract

In order to use material efficiently, non-prismatic column sections are frequently employed. Tapered-web column cross-sections are commonly used, and design guides of such sections are available. In this study, various web-and-flange-tapered column sections were analysed numerically using finite element method to obtain each buckling load assuming the material as elastic-perfectly plastic material. For each non-prismatic column, the analysis was also performed assuming the column is prismatic using average cross-section with the same length and boundary conditions. Buckling load of the prismatic columns were obtained using equation provided by AISC 360-16. This study proposes a multiplier that can be applied to the buckling load of a prismatic column with an average cross-section to acquire the buckling load of the corresponding non-prismatic column. The multiplier proposed in this study depends on three variables, namely the depth tapered ratio, width tapered ratio, and slenderness ratio of the prismatic section. The equation that uses those three variables to obtain the multiplier is obtained using regression of the finite element results with a coefficient of determination of 0.96.
Analisis Tidak Langsung Pada Desain Terhadap Stabilitas Struktur Gedung Baja Suryoatmono, Bambang; Tumena, Fedora Marleen
MEDIA KOMUNIKASI TEKNIK SIPIL Volume 29, Nomor 1, JULI 2023
Publisher : Department of Civil Engineering, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/mkts.v29i1.50473

Abstract

Ada tiga metode yang tercantum di dalam AISC 360-16 Specification for Structural Steel Buildings untuk desain terhadap stabilitas, yaitu: Metode Analisis Langsung (DAM), Metode Panjang Efektif (ELM), dan Metode Analisis Orde Pertama (FOM). DAM merupakan metode yang diunggulkan oleh AISC. Berdasarkan metode tersebut, Rafael Sabelli mengusulkan metode lain, yaitu Metode Analisis Tidak Langsung (IAM). IAM merupakan metode yang baru dan belum banyak digunakan, serta belum masuk di dalam AISC 360-16. Kajian ini dilakukan dalam rangka melakukan studi penggunaan IAM dan membandingkan hasil analisisnya dengan DAM. Dengan menggunakan perangkat lunak analisis struktur nonlinear, dilakukan desain dan analisis terhadap stabilitas gedung baja delapan tingkat yang mengalami beban mati, beban hidup, dan beban angin. IAM memberikan pendekatan dengan sebuah faktor sederhana yang disebut B3 untuk mengatasi inelastisitas komponen struktur, ketidaksempurnaan komponen struktur, dan ketidakpastian dalam kekakuan komponen struktur. Dari studi yang telah dilakukan, hasil analisis menggunakan IAM menunjukkan hasil yang tidak jauh berbeda dengan DAM, dalam hal rasio demand-to-capacity, dengan IAM lebih konservatif dibandingkan dengan DAM. Penggunaan IAM dapat mempermudah proses desain tanpa mempengaruhi desain dalam hal ekonomi.