Claim Missing Document
Check
Articles

Found 12 Documents
Search

Avatar sebagai Aktor dalam Dramaturgi Identitas Gender di Dunia Game Roblox Ananda Putri Fitriyani Husain; Nana Sutikna; Edi Santoso
Paradigma: Jurnal Filsafat, Sains, Teknologi, dan Sosial Budaya Vol. 32 No. 1 (2026): Paradigma: Jurnal Filsafat, Sains, Teknologi, dan Sosial Budaya
Publisher : Universitas Insan Budi Utomo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33503/paradigma.v32i1.2856

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana pemain menampilkan dan mengelola identitas gender melalui avatar dalam game Roblox dengan menggunakan perspektif teori dramaturgi Erving Goffman. Dalam konteks dunia virtual, avatar berfungsi sebagai representasi diri yang dapat dimodifikasi untuk mencerminkan identitas sosial tertentu. Melalui pendekatan kualitatif dengan metode analisis semiotika dan observasi partisipatif, penelitian ini menelaah bagaimana pemain mengonstuksi kesan gender pada avatar mereka serta bagaimana interaksi sosial di ruang permainan memperkuat atau menantang stereotip gender. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa pemain Roblox memanfaatkan kebebasan kreatif dalam membangun avatar untuk menampilkan identitas gender yang cair dan perfomatif. Beberapa pemain secara sadar menggunakan avatar lintas gender sebagai bentuk eksplorai diri dan ekspresi sosial. namun, dinamika sosial dalam permainan masih menunjukan reproduksi nilai-nilai partiarkal melalui komentar, interaksi, dan struktur sosial komunitas game. Temuan ini menegaskan bahwa Roblox bukan hanya ruang bermain, tetapi juga panggung sosial digital tempat identitas gender dinegosisasikan, dipertunjukan, dan dipertarungkan.
Analisis Wacana Kritis Norman Fairclough pada Pemberitaan Isu Kekerasan Seksual di Universitas Jenderal Soedirman Dalam Detik.com Alaudin, Gholi; Wisnu Widjanarko; Nana Sutikna
Paradigma: Jurnal Filsafat, Sains, Teknologi, dan Sosial Budaya Vol. 32 No. 1 (2026): Paradigma: Jurnal Filsafat, Sains, Teknologi, dan Sosial Budaya
Publisher : Universitas Insan Budi Utomo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33503/paradigma.v32i1.2858

Abstract

Penelitian ini mengkaji pemberitaan Detik.com mengenai dugaan kekerasan seksual seorang guru besar di Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) melalui kerangka Analisis Wacana Kritis model Norman Fairclough. Data terdiri dari tiga artikel Detik: laporan awal tuduhan (“Heboh Guru Besar Unsoed Diduga Lakukan Kekerasan Seksual ke Mahasiswi”), respons rektorat (“Kata Rektorat soal Dugaan Kekerasan Seksual Guru Besar Unsoed ke Mahasiswi”), dan reaksi kampus terhadap kabar tersebut (“Saat Unsoed Diguncang Kabar Mahasiswi Jadi Korban Kekerasan Seksual Guru Besar”) (Detik.com, 24 Juli 2025). Melalui analisis tekstual, praktik wacana, dan praktik sosial-budaya, penelitian menemukan bahwa media menegaskan kontras kuasa antara pelaku akademik (“guru besar”) dan korban mahasiswa (“mahasiswi”), menggunakan modalitas kehati-hatian seperti “diduga” untuk menjaga kewaspadaan hukum sekaligus menyoroti urgensi publik. Pemberitaan memberi ruang legitimasi kepada berbagai aktor seperti mahasiswa, rektorat, dan Satgas PPKS yang menciptakan arena tuntutan moral dan institusional. Secara sosiokultural, wacana ini mencerminkan ideologi keadilan gender, akuntabilitas kampus, dan perlindungan korban, sekaligus menuntut transparansi prosedural dari institusi pendidikan tinggi. Media dalam kasus ini berfungsi tidak hanya sebagai pelapor peristiwa, tetapi juga sebagai agen moral yang mendorong transformasi budaya akademik dan struktur kuasa. Temuan penelitian menegaskan pentingnya mekanisme penanganan kekerasan seksual yang lebih kredibel dan sensitif gender serta peran media sebagai pendorong akuntabilitas institusi.