Ketut Suwitra
Subdepartment of Nephrology & Hypertension Department of Medicine, Udayana University, Bali,

Published : 19 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search
Journal : Medicina

Korelasi stadiumacute kidney injurydengankadar fosfat serum Suardana, I Ketut; Kandarini, Yenny; Suwitra, Ketut
Medicina Vol 47 No 3 (2016): September 2016
Publisher : Medicina

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (89.254 KB)

Abstract

Hiperfosfatemia telah diketahui terjadi pada penyakit ginjal kronis (PGK). Terdapat hubungan linear antaraperburukan laju filtrasi glomerolus (LFG) dan peningkatan kadar fosfat serum pada PGK. Padaacute kidney injury(AKI) hubungan tersebut belum jelas. Beberapa penelitian pendahuluan melaporkan adanya peningkatan kadar fosfatserum pada pasien AKI. Tujuanpenelitian ini adalah mencari korelasi antara stadium AKI dan kadar fosfat serum.Dilakukanpenelitianpotonglintangdi RSUP Sanglah dari bulanJuni sampai Agustus2015 denganbesarsampel 53orang dipilihsecaraconsecutive sampling. Sampel yang memenuhikriteriadimintakankesediannyaberpartisipasidenganmenandatanganiinformed consent.Stadium AKI menggunakan kriteriadariKidneyDiseaseImprovingGlobalOutcome(KDIGO) tahun 2012, yaitu berdasarkan parameter kreatinin serum dan produksi urin.Kadar fosfat serumdiperiksa dengan metodemolibdate UVdi Laboratorium Prodia Denpasar. Hubungan stadiumAKI dan kadarfosfatserum dianalisis denganmenggunakan uji korelasi Spearman.Dari 53 pasienAKIterdiri dari 33(62,3%)orang pria,rerata umur 42(SB10,8)tahun.Berdasarkan kriteria KDIGO 2012 didapatkan 25 (47,2%) pasien AKI stadium 1, 12(22,6%) pasien AKI stadium 2 serta 16 (30,2%) pasien AKI stadium 3. Rerata kadar fosfat serum sebesar 4,7(SB2,10)mg/dl. Rerata kadar fosfat serum pada AKI tadium 1 sebesar 3,7(SB1,00)mg/dl, pada AKI stadium 2 sebesar4,6(SB1,20)mg/dl serta pada AKI stadium3 sebesar 6,5(SB2,70)mg/dl. Terdapat korelasi yang bermakna antarastadium AKIdankadarfosfat serum(r= 0,52,P<0,001).[MEDICINA.2016;50(3):17-22]. Hyperphosphatemia has been recognized in chronic kidney disease (CKD). There is linear correlation betweendecreased glomerular filtration rate (GFR) and increased serum phosphate level in CKD patients. This correlationisnot clear in acute kidney injury (AKI). Previous studies report that there is increasing of serum phosphate level inpatients with AKI.This study wasaimedto assess the correlation betweenseverity of AKIandserum phosphate level.Across-sectional study was performedat Sanglah Hospital from JunetoAugust 2015. Fiftythree patients wereselected with consecutive sampling technique. Eligiblesamples were requested for participation by signed informedconsent. Severity of AKI was defined byKidneyDiseaseImprovingGlobal Outcome(KDIGO) criteria2012, basedon serum creatinin and urine output. Serum phosphate level was measured usingmolibdate UVat Prodia laboratoryDenpasar.Correlationbetween severity of AKI and serumphosphate levelwas performed using spearman correlation.Thirty tree(62.3%) out of53samplesweremale, themean of age was42(SD10.8) years. Twenty five(47.2%)sampleswere categorized AKI stage I, 12samples(22.6%)stage 2  and16samples(30.2%)stage 3. Meanphosphatelevelwas4.7(SD2.10)mg/dl. Meanphophate levelwas3.7(SD1.00)mg/dlin AKI stage 1,4.6(SD1.20)mg/dlinAKI stage 2 and6.5(SD2.70)mg/dlin AKI stage 3. There wassignificantcorrelation between severity of AKI andserum phosphate levelhad been showed by this study (r = 0.52,P<0.001).[MEDICINA.2016;50(3):17-22].
kognitif, MMSE, hemoglobin, hemodialisis reguler Wiradharma, Ketut Gede; Suwitra, Ketut; Widiana, I Gede Raka
Medicina Vol 47 No 3 (2016): September 2016
Publisher : Medicina

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (306.685 KB)

Abstract

Gangguan fungsi kognitif merupakan masalah umum pada penyandang hemodialisis (HD) reguler. Belum jelas adanya kaitan antara penurunan kadar hemoglobin (Hb) dengan terjadinya penurunan fungsi kognitif pada penyandang HD reguler. Penelitian ini bertujuan mengetahui korelasi antara kadar Hb dan fungsi kognitif pada penyandang HD reguler di Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Sanglah Denpasar. Penelitian berupa studi potong lintang analitik. Kriteria inklusi ialah penyandang HD reguler di RSUP Sanglah hingga Juli 2013, berusia 18-80 tahun, pendidikan minimal sekolah dasar atau sederajat, mengerti bahasa indonesia, bisa membaca dan menulis, kooperatif, dan bersedia ikut dalam penelitian. Kriteria eksklusi ialah dalam kondisi penurunan kesadaran akut, gangguan penglihatan atau pendengaran, riwayat stroke, trauma kepala, epilepsi, dan penggunaan obat penenang. Dari 56 sampel, karakteristik data didapatkan pria sebanyak 37 orang (66,1%) dan wanita 19 orang (33,9%), rerata umur (simpang baku/SB) 47,8 (14,3) tahun, lama HD (lama minimum-maksimum) 19,5 (4-131) bulan, kadar Hb (SB) 9,5 (2,02) g/dl, nilai mini mental state examination (MMSE) (nilai minimum-maksimum) 27,5 (19-30). Analisis dengan korelasi Spearman, antara kadar Hb dan MMSE didapatkan nilai r=0,13 dan P=0,18. Disimpulkan bahwa terdapat korelasi lemah tidak bermakna antara kadar Hb dan fungsi kognitif pada penyandang HD reguler di RSUP Sanglah.
COMPARISON OF GLOMERULAR FILTRATION RATE AND CHRONIC KIDNEY DISEASE PREVALENCE USING COCKCROFT-GAULT(C-G) AND MODIFICATION OF DIET IN RENAL DISEASE (MDRD FOR CHINESE FORMULA AMONG BALINESE POPULATION Widiana, I Gde Raka; Suwitra, Ketut
Medicina Vol 45 No 3 (2014): September 2014
Publisher : Medicina

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (219.089 KB)

Abstract

Some community based study to determine the prevalence of chronic kidney disease has been conducted.It is reported that a reasonable rate of prevalence of CKD if calculated with different formula (either C-Gor MDRD). This  study  is aiming  to  compare estimated GFR and CKD prevalence determined byeitherC-G or MDRD  and the new Chinese modified MDRD formulaThis  study  analyzed  4528  subjects  from  7  areas  in Bali  Islands  including  219(4.8%)    subjects  inSembiran, 302 (6.7%), Denpasar 302 (6.7%), Nusa Ceningan 305 (6.7%), Legian282 (6.2%)  Blahbatuh3038(67.1%), Tenganan,  81(1.8%),  and  in Ubud  301(6.6%),  consisted  2217  (49%) males  and  2311(51%) females. It is found that there were a substantial differences and stepwise increase (79, 83, 86,and105 mL/min/  1.73 m2),  consecutively  of mean  of  estimated-GFR  if  calculated  by C-G, MDRD,MDRD for Chinese (if  non-Chinese), and MDRD for Chinese (if Chinese) formula. It was also foundthat differences of prevalence rate CKD using different formulas.  More than twenty percent (20.6%) ofCKD defined by estimated-GFR of 59 to 30 ml/min per 1.73m2 when were calculated by C-G,  and 6.9and 6.8 percent if were calculated by MDRD and  MDRD for Chinese (if  non-Chinese), consecutively,however, it is much lower (2.2%) using MDRD formula for Chinese (if Chinese).In conclusion, this study shows difference inmeanvalues of e GFR and  prevalence of CKD if calculatedusing  different  formulas. A  valid  formula  is  needed  for  specific  Indonesian  people.  [MEDICINA2014;45:151-155].
GAMMA-GLUTAMYL TRANSFERASE SERUM BERASOSIASI POSITIF DENGAN PENYAKIT GINJAL KRONIK. STUDI BERBASIS MASYARAKAT DI KECAMATAN BLAHBATUH GIANYAR BALI Sutarka, Nyoman; IG, Raka-Widiana; Suwitra, Ketut
Medicina Vol 45 No 2 (2014): Mei 2014
Publisher : Medicina

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (257.74 KB)

Abstract

Penyakit ginjal kronik (PGK) merupakan masalah global kesehatan masyarakat. Gamma-glutamyl transferase (ãGT) serum banyak diusulkan sebagai marker yang sensitif terhadap stres oksidatif yang diperkirakan berhubungan dengan terjadinya PGK. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui asosiasi antara ãGT serum dan PGK. Dilakukan penelitian potong lintang di Kecamatan Blahbatuh Kabupaten Gianyar Bali dengan jumlah sampel 122 orang yang dipilih secara simple proportional random sampling. Sampel yang memenuhi kriteria dimintakan kesediaannya berpartisipasi dengan menandatangani informed consent. Diagnosis PGK ditegakkan sesuai kriteria NKF-KDOQI dengan perkiraan laju filtrasi glomerulus dihitung memakai rumus MDRD. Pemeriksaan ãGT serum dengan metode enzymatic colorimetrix. Data yang terkumpul dianalisis dengan SPSS 16 for windows meliputi uji Chi-Square dan analisis regresi logistik multipel. Dari 122 subyek yang memenuhi syarat, tiga subyek menolak berpartisipasi. Sebanyak 95 subyek adalah laki-laki dan 24 perempuan dengan rerata umur 62,68 (SB 1,27) tahun. Nilai median ãGT didapatkan sebesar 21 U/L. Prevalensi PGK didapatkan sebesar 16,8%. Dari 61 subyek dengan kadar ãGT serum sama dengan nilai median atau lebih 16 diantaranya didapatkan dengan PGK sedangkan dari 58 subyek dengan kadar ãGT serum di bawah nilai median hanya empat yang didapatkan dengan PGK. Didapatkan adanya asosiasi bermakna antara ãGT serum dan PGK (P=0,005 ; OR=4,8; IK95%=1,5 sampai 15,4). Setelah dikontrol dengan variabel umur, jenis kelamin, hipertensi, dan obesitas didapatkan asosiasi ãGT serum dan PGK ini masih tetap bermakna (P=0,029; adjusted OR =4,1; IK95% =1,2 sampai 14,9).Disimpulkan ada asosiasi positif antara ãGT serum dan PGK. Asosiasi ini independen terhadap  variabel umur, jenis kelamin, hipertensi, dan obesitas. ãGT serum mungkin dapat dipakai sebagai biomarker PGK. [MEDICINA. 2014;45:73-8].