Claim Missing Document
Check
Articles

Found 16 Documents
Search

GAMBARAN KEPUASAN PASIEN BPJS TERHADAP PELAYANAN RAWAT JALAN DI RUMAH SAKIT UMUM DAERAH PROF. DR. H. ALOEI SABOE KOTA GORONTALO Lianti Tui; Sabirin B. Syukur; Fadli Syamsudin
JURNAL RISET RUMPUN ILMU KESEHATAN Vol. 2 No. 1 (2023): April : Jurnal Riset Rumpun Ilmu Kesehatan
Publisher : Pusat riset dan Inovasi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55606/jurrikes.v2i1.911

Abstract

BPJS sangat bermanfaat bagi masyarakat salah satunya sebagai pelayanan kesehatan medis di fasilitas kesehatan. Pelayanan kesehatan yang disediakan oleh rumah sakit salah satunya pelayanan rawat jalan. Pelayanan rawat jalan menjadi salah satu pelayanan yang mendapat penilaian secara instan dari pasien, sehingga kepuasan pasien akan langsung dirasakan saat itu juga. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kepuasan pasien BPJS terhadap pelayanan rawat jalan. Desain penelitian ini deskriptif kuantitatif untuk mengetahui gambaran 5 dimensi yaitu responsivines, reliability, assurance, tangible, dan empathy. Pengambilan sampel menggunakan teknik Simple Random Sampling dengan 100 responden. Pengumpulan data menggunakan lembar kuesioner. Hasil penelitian yang didapatkan ini menunjukkan nilai kepuasan baik dengan jumlah responden 89 dan Kepuasan cukup dengan jumlah 11 responden dari 100 sampel yang ditentukan. Hasil penelitian pada 5 dimensi yaitu tangible terdapat 93 responden berkepuasan baik dan 7 responden berkepuasan cukup, pada reliability terdapat 92 responden berkepuasan baik dan 8 responden berkepuasan cukup, pada ketanggapan terdapat 91 responden berkepuasan baik dan 9 responden yang berkepuasan cukup, pada asuransi jaminan terdapat 96 responden berkepuasan baik dan 4 responden berkepuasan cukup, pada empaty terdapat 94 responden berkepuasan baik dan 6 responden berkepuasan cukup. Kesimpulannya kepuasan baik ini didapatkan dari pelayanan baik dan maksimal yang telah diberikan oleh para tenaga keshatan sehingga pasien BPJS merasa puas terhadap pelayanan yang ada.
Suitability water quality parameters for Eucheuma cottonii culture at Majene Waters Arbit, Nur Indah Sari; Lestari, Dian; Erwin, Erwin; Carong, Supajo Razasli; Syamsudin, Fadli; Mannan, Abdul; Thabrani, Mulihartati
Depik Jurnal Ilmu Ilmu Perairan, Pesisir, dan Perikanan Vol 13, No 2 (2024): AUGUST 2024
Publisher : Faculty of Marine and Fisheries, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.13170/depik.13.2.35688

Abstract

Seaweed cultivation in Majene Regency, West Sulawesi, has not experienced significant development as in neighboring Polewali Mandar and Mamuju Regency. This can be seen from the absence of active seaweed cultivation activities in Majene Regency. The aim of this research is to assess the physical and chemical aspects of water to determine the suitability of locations for cultivating Eucheuma cottonii seaweed in Majene waters. The method used to measure ecological suitability included parameters such as temperature, salinity, dissolved oxygen (DO), pH, phosphate, nitrate and salinity. Subsequently, the data is scored to determine suitability classes: suitable (S1) with values ranging from 37 to 48, moderately suitable (S2) with values between 36 and 25 and non sultable (S3)/N) with value 25. The results showed that after applying weighting and scoring, locations such as East Banggae, Pamboang 1, Tubo Sendana, and Sendana 2 showed suitable scoring result with scores of 39, 39, 40, and 40. While locations such as Pamboang 2, Pamboang 3, Malunda, and Sendana 1 showed moderately suitable scoring results with scores of 33, 33, 34 and 36. Majene waters have potential areas for seaweed cultivation based on classes S1 (suitable) and S2 (moderately suitable).Keywords:SeaweedMajene WatersLocation SuitabilityWater QualityAquaculture
Variabilitas KloroCHLOROPHYLL-A VARIABILITY IN RELATION TO LEMURU FISH (Sardinella lemuru) CATCHING SEASON IN THE BALI STRAITfil-a Kaitannya Dengan Musim Penangkapan Ikan Lemuru (Sardinella lemuru) di Selat Bali Syamsudin, Fadli; Fadhilah, Rizal; Syamsuddin, Mega Laksmini
Jurnal Perikanan Unram Vol 15 No 2 (2025): JURNAL PERIKANAN
Publisher : Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/jp.v15i2.1428

Abstract

Lemuru fish (Sardinella lemuru) is one of the main commodities in the waters of the Bali Strait. As a dynamic water environment, oceanographic conditions in the Bali Strait affect the high and low production of lemuru fish. Upwelling influences the presence of lemuru fish at various times of the year, causing changes in chlorophyll-a concentration. This study aims to evaluate the association between chlorophyll-a levels and the lemuru fishing season in the Bali Strait. The data used are chlorophyll-a image data and lemuru fish catch data spanning nine years (2014–2022). Chlorophyll-a data were visualized both temporally and spatially. Meanwhile, the catch data was transformed into CPUE values. The season index is used to determine the lemuru fishing season. The northwest season has the highest average CPUE (5,219 - 6,244 kg/trip), whereas the southeast season has the lowest CPUE (2700 - 5,590 kg/trip). Chlorophyll-a concentrations are highest in the southeast through the second transition season (1 - 1.5 mg/m3), and lowest in the northwest season (0.2 - 0.3 mg/m). The histogram illustrates that the largest CPUE acquisition occurs when chlorophyll-a concentration is low (<0.2 mg/m3). According to the fishing season index (IMP) of Sardinella lemuru fish, the highest fishing season time is in December (158.49%) and the lowest is in May (49.39%). The fishing season occurs when chlorophyll-a concentrations are low.
Suitability water quality parameters for Eucheuma cottonii culture at Majene Waters Arbit, Nur Indah Sari; Lestari, Dian; Erwin, Erwin; Carong, Supajo Razasli; Syamsudin, Fadli; Mannan, Abdul; Thabrani, Mulihartati
Depik Jurnal Ilmu Ilmu Perairan, Pesisir, dan Perikanan Vol 13, No 2 (2024): AUGUST 2024
Publisher : Faculty of Marine and Fisheries, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.13170/depik.13.2.35688

Abstract

Seaweed cultivation in Majene Regency, West Sulawesi, has not experienced significant development as in neighboring Polewali Mandar and Mamuju Regency. This can be seen from the absence of active seaweed cultivation activities in Majene Regency. The aim of this research is to assess the physical and chemical aspects of water to determine the suitability of locations for cultivating Eucheuma cottonii seaweed in Majene waters. The method used to measure ecological suitability included parameters such as temperature, salinity, dissolved oxygen (DO), pH, phosphate, nitrate and salinity. Subsequently, the data is scored to determine suitability classes: suitable (S1) with values ranging from 37 to 48, moderately suitable (S2) with values between 36 and 25 and non sultable (S3)/N) with value 25. The results showed that after applying weighting and scoring, locations such as East Banggae, Pamboang 1, Tubo Sendana, and Sendana 2 showed suitable scoring result with scores of 39, 39, 40, and 40. While locations such as Pamboang 2, Pamboang 3, Malunda, and Sendana 1 showed moderately suitable scoring results with scores of 33, 33, 34 and 36. Majene waters have potential areas for seaweed cultivation based on classes S1 (suitable) and S2 (moderately suitable).Keywords:SeaweedMajene WatersLocation SuitabilityWater QualityAquaculture
ANALISIS RISIKO MULTI BAHAYA DAN OPSI PENGELOLAAN PESISIR DI KECAMATAN CIDAUN KABUPATEN CIANJUR Azzahra, Raisya; Syamsudin, Fadli; Subiyanto, Subiyanto
JURNAL GEOLOGI KELAUTAN Vol 23, No 1 (2025)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32693/jgk.23.1.2025.923

Abstract

Kecamatan Cidaun, yang terletak di pesisir Cianjur dan berbatasan langsung dengan laut lepas Samudra Hindia, ditetapkan sebagai kawasan rawan tsunami, gelombang pasang, gerakan tanah, dan banjir. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik pesisir, tingkat risiko multi bahaya pesisir, dan opsi pengelolaan pesisir yang tepat untuk pesisir Cidaun. Penelitian ini menggunakan Metode Coastal Hazard Wheels 3.0 yang dapat menganalisa risiko multi bahaya pesisir melalui 6 (enam) indikator yaitu Tata Letak Geologis (Geological Layout), Paparan Gelombang (Wave Exposure), Pasang Surut (Tidal Range), Flora/Fauna, Keseimbangan Sedimen (Sediment Balance), dan Aktivitas Iklim (Storm Climate). Hasil analisa risiko terhadap multi bahaya ini kemudian digunakan sebagai acuan dalam menentukan opsi pengelolaan pesisir yang tepat bagi wilayah Cidaun. Hasil penelitian menunjukkan 8 (delapan) Kode Klasifikasi CHW di pesisir Cidaun, yaitu PL-5, PL-7, R-1, SR-11, SR-13, SR-15, SR-9, dan TSR sehingga opsi pengelolaan pesisir yang tepat dilakukan di wilayah Pesisir Cidaun ialah Coastal Zoning, Groundwater Management, Tsunami warning system, Beach Nourishment, Dune Rehabilitation, Flood Warning System, Coastal Setback, Fluvial Sediment Management, Ecosystem Based Management.
Karakteristik Gelombang Panas Laut Di Perairan Selatan Jawa Barat Riztiawan, Alfianu Adhi; Firdaus, Hadi; Saptari, Muhammad Khairan; Djamil, Yudha Setiawan; Syamsuddin, Mega Laksmini; Syamsudin, Fadli; Sari, Qurnia Wulan
Jurnal Kelautan Vol 18, No 3: Desember (2025)
Publisher : Department of Marine Sciences, Trunojoyo University of Madura, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21107/jk.v18i3.31731

Abstract

ABSTRAKPerairan Selatan Jawa Barat merupakan wilayah dengan dinamika oseanografi yang kompleks, dipengaruhi oleh faktor regional maupun global. Kompleksitas ini membuat area tersebut sangat rentan terhadap peningkatan suhu permukaan laut akibat perubahan iklim, yang dapat memicu Gelombang Panas Laut (GPL) dan berpotensi mengganggu ekosistem laut. Studi ini menganalisis GPL di wilayah tersebut selama periode 1995-2024 menggunakan data suhu permukaan laut hasil penginderaan satelit. Parameter utama GPL (frekuensi, durasi, dan intensitas maksimum) dievaluasi secara spasial dan temporal. Hasil menunjukkan bahwa wilayah pesisir mengalami frekuensi dan intensitas GPL yang lebih tinggi, menandakan kerentanan perairan dangkal terhadap kejadian suhu ekstrem. GPL paling ekstrem terjadi pada tahun 1998, 2010, dan 2016, dengan tahun 2016 menunjukkan durasi terpanjang (35 hari) dan frekuensi tertinggi (7,28 kejadian). Intensitas maksimum tercatat pada tahun 1998 sebesar 1,89 °C, diikuti oleh tahun 2016 dan 2010. Pola temporal sangat dipengaruhi oleh variabilitas antar-tahunan, kemungkinan didorong oleh mode iklim seperti ENSO, sementara tren jangka panjang yang signifikan tidak terdeteksi. Studi ini berfokus pada parameter utama GPL dan tidak membahas faktor fisik potensial seperti fluks panas udara-laut, sirkulasi arus laut, atau gaya angin lokal. Temuan ini memberikan dasar ilmiah bagi upaya konservasi ekosistem pesisir sekaligus mendukung perumusan kebijakan perikanan tangkap yang adaptif terhadap variabilitas iklim di selatan Jawa Barat.Kata Kunci: Gelombang Panas Laut, Satelit, Suhu Permukaan LautABSTRACTThe Western Southern Java Waters are a region with complex oceanographic dynamics influenced by both regional and global factors. This complexity makes the area highly susceptible to increasing sea surface temperatures due to climate change, which can trigger Marine Heatwaves (MHWs) and potentially disrupt marine ecosystems. This study analyzed MHWs in the region over the period 1995-2024 using satellite-derived sea surface temperature data. The primary metrics of MHWs (frequency, duration, and maximum intensity) were evaluated both spatially and temporally. Results show that coastal areas experienced higher MHW frequency and intensity, indicating greater vulnerability of shallow waters to extreme temperature events. The most extreme MHWs occurred in 1998, 2010, and 2016, with 2016 exhibiting the longest duration (35 days) and highest frequency (7.28 events). Maximum intensity peaked in 1998 at 1.89 °C, followed closely by 2016 and 2010. Temporal patterns were strongly influenced by interannual variability, likely driven by climate modes such as ENSO, whereas no significant long-term trends were detected. This study focused on primary MHW metrics and did not explore  potential  physical  drivers such  as air-sea  heat flux,  ocean current circulation, or local wind forcing. These findings provide a scientific basis for coastal ecosystem conservation efforts and support the formulation of climate-adaptive fisheries management policies in southern West Java.Keywords: Marine Heatwaves, Satellite, Sea Surface Temperature