Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Perngaruh Berbagai Jenis Mulsa dan Pupuk Organik Cair terhadap Produksi Tanaman terong (Solanum Melongena L.) Fatmawati Fatmawati; Jamaluddin Al Afgani
Jurnal AgroSainTa: Widyaiswara Mandiri Membangun Bangsa Vol. 1 No. 2 (2017): Desember 2017 (AgroSainTa)
Publisher : Bidang Penyelenggaraan, Kelembagaan dan Ketenagaan Pelatihan - Pusat Pelatihan Pertanian - Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian - Kementerian Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh jenis mulsa dan pupukorganik cair terhadap produksi tanaman terong. Penelitian disusunberdasarkan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dalam pola faktorial yangterdiri atas dua faktor yaitu; jenis mulsa dan pupuk organik cair dengan tigaulangan. Faktor jenis mulsa terdiri atas tiga taraf yaitu; (1) Tanpa PemberianMulsa (M), (2) Pemberian mulsa kacang tanah (M), (3) Pemberian mulsajagung(M).FaktorPupukorganikcair terdiri atas empat tarafyaitu: (1)Tanpapemberian pupuk organik cair (F ), (2) Pemberian pupuk organik cair dengandosis 150 l ha (F ), (3) Pemberian pupuk organik cair dengan dosis 300 l ha(F ), (4) Pemberian pupuk organik cair dengan dosis 450 l ha (F ). Hasilpenelitian menunjukkan bahwa secara mandiri mulsa kacang tanahmemberikan pengaruh yang lebih baik dibandingkanmulsa jagung dan tanpamulsa. sedangkan secaramandiri dosis pupuk organik cair yangmemberikanpengaruh yang cukup baik adalah dosis 300 l/ha. Kombinasi perlakuanmemberikan pengaruh yang signifikan terhadap pertumbuhan dan produksitanaman terong. Produksi tertinggi pada kombinasi perlakuan mulsa kacangtanah dan pupuk organik cair dosis 300 l ha sebesar 54.604,43 kg/ha atau54,6ton/ha.
Menakar Tantangan Brigade Pangan dalam Mewujudkan Swasembada Pangan : Studi Kasus di Kabupaten Sidrap, Sulawesi Selatan Muhammad Arsyad; Andi Amran Sulaiman; Andi Nuddin; Muhammad Hatta Jamil; Abd. Haris Bahrun; Jamaluddin Al Afgani
Jurnal Penyuluhan Pertanian Vol 20 No 2 (2025)
Publisher : Politeknik Pembangunan Pertanian Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51852/3a9a7q98

Abstract

Learning from the New Order era (1970–1984), when Indonesia successfully achieved rice self-sufficiency through the Green Revolution and earned an FAO award, the government launched the Food Brigade Movement in 2023 to involve the younger generation in accelerating national food self-sufficiency. By mid-2025, the program had demonstrated notable progress in attracting young farmers to contribute to agricultural and economic development. As with any large-scale movement built within a relatively short period, several institutional aspects still require strengthening, particularly cross-sector coordination and synergy among related institutions.This research, conducted in Sidrap Regency, aims to identify and map the challenges faced by the Food Brigade in achieving food self-sufficiency. Using an expert survey and the Interpretative Structural Modeling (ISM) approach, twenty sub-elements were analyzed, and eleven were identified as key challenges. The ISM results reveal that five challenges fall into the independent sector, while six are positioned in the linkage category.The main challenges relate to policy and governance systems, including: (1) The mechanism for drafting and implementing Memorandum of Understanding (MoU) for land management still needs to be strengthened; (2) cross-sectoral coordination is not yet fully integrated; (3) some Food Brigade establishment processes still require alignment with the technical guidelines; and (4) policy and program harmonization among relevant agencies still needs to be improved